Selasa, 27 September 2016

Empat Hari di Thailand, Mentok di Bangkok

Setelah liburan singkat di Kuala Lumpur, aku dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Bangkok, Thailand. 

Mendengar seseorang yang ingin liburan ke Thailand, apa komentar pertama yang kamu pikirkan?
a. Ngapain? Mau operasi kelamin?
b. Titip ladyboy satu, ya!
c. AAAAK! MARIO MAURER AAAAK!

Dari bandara KLIA2 di Kuala Lumpur, kami pun mendarat di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Hal pertama yang aku lakukan setelah turun dari pesawat adalah menyapa penumpang lain yang berasal dari Thailand dengan สวัสดี ครับ atau dalam ejaan non-cacing bisa ditulis "sawadi krap". Sapaan pengganti halo/hai yang aku pelajari dari film-film asal Negeri Gajah Putih itu.

Dari Don Mueang, kami naik bus transit dengan tujuan Victory Monument karena hostel yang sudah kami pesan jauh-jauh hari lokasinya di sekitar sana. Sesampainya di Victory Monument, lanjut jalan kaki sekitar 500 meter ke At Victory Hostel. 

Sedikit review, hostel ini kamarnya bagus dan fasilitasnya lengkap. Biaya sewanya 5790 baht selama 4 hari 3 malam. Satu kamar bisa diisi oleh maksimal 6 orang dengan private bathroom.

Uwuwuw~

Jumat, 23 September 2016

Liburan Singkat ke Kuala Lumpur, Malaysia

Dari sekian banyak teori-teori di dunia, ada satu teori yang aku ingat. Teori Motivasi Prestasi atau Teori Kebutuhan dari McClelland (McClelland’s Theory of Needs). Teori ini dikembangkan oleh David McClelland bersama rekan-rekannya, entah siapa. Konsep teori ini berfokus pada tiga kebutuhan, yaitu kebutuhan pencapaian (need for achievement), kebutuhan kekuasaan (need for power), dan kebutuhan hubungan (need for affiliation).

Sampai di sini, aku langsung mau protes. Om McClelland kayaknya melupakan satu kebutuhan penting yang hakiki. Apakah itu, wahai manusia? Kebutuhan liburan (need for holiday).

KAMI BUTUH LIBURAN, OM. LIBURAN!

Mari kita lupakan paragraf pembukaan yang terkesan kritis tadi, dan fokus pada kata kunci terakhir: liburan.

Jadi... tanggal 9 September 2015, entah dapat bisikan apa, aku dan dua teman lain tahu-tahu sudah kumpul di Dunkin' Donuts. Dengan memanfaatkan sinyal wifi gratisan, malam itu kami berhasil mem-booking tiket pesawat tujuan Palembang - Kuala Lumpur - Bangkok - Kuala Lumpur - Palembang. Dengan promo tiket murah, sebenarnya aku lebih tertarik untuk liburan ke Lombok atau Bali, tapi ternyata tiket perjalanan ke luar negeri jauh lebih murah daripada perjalanan domestik. Jadilah timbul rencana ke luar negeri di tahun 2016, untuk pertama kali. Bucket-list go uncheck(ed)

Kamis, 15 September 2016

Film-Film yang Diadaptasi dari Novelnya Dennis Lehane

Mungkin belum banyak yang mengenal Dennis Lehane, terutama di ranah perbukuan tanah air. Apalagi setahuku baru satu bukunyaMystic Riveryang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. CMIIW.

Dennis Lehane atau Dennis J. Lehane adalah penulis novel asal Amerika, kelahiran 4 Agustus 1966. Selain bekerja sebagai penulis, beliau juga pernah mengajarkan materi tentang menulis fiksi di Harvard University. Sekarang ia dan keluarganya berdomisili di San Monica, California.

gambar dipinjam dari sini
 
Aku baru mengenal nama Dennis Lehane sejak menonton Shutter Island, film yang bikin merinding sekaligus bikin 'pusing' karena ceritanya yang memiliki plot twist keren. Karena itulah aku jadi penasaran dengan karyanya yang lain, terutama yang sudah diadaptasi jadi film. Sampai akhirnya kesampaian menonton semua filmnya (based on novel), dan semuanya nggak ada yang mengecewakan.

Kamis, 28 Juli 2016

Berburu Pokemon di Palembang? Tandai Lokasi Pokestops Ini!

Akhir-akhir ini, dunia sedang dihebohkan oleh permainan video game berbasis augmented reality, teknologi yang menggabungkan objek virtual dengan dunia nyata. Tentu saja kita nggak sedang membicarakan Tetris, melainkan Pokemon Go, permainan untuk perangkat mobile yang dikembangkan oleh Nintendo dan Niantic. Terlepas dari fenomena dan kontroversi yang banyak diberitakan, aplikasi Pokemon Go seolah mimpi yang jadi kenyataan bagi Generasi Y (kita yang lahir tahun 1981-1994), tentu saja karena serial anime yang identik dengan Pikachu ini adalah konsumsi kita semasa kecil dulu. Secara nggak langsung, kita sudah tumbuh bersama monster-monster unik itu.

Bagi pemain Pokemon Go atau biasa disebut Pokemon Trainer, pastilah mengenal istilah Pokestop, yaitu sebuah tempat khusus yang digunakan untuk memperoleh items dalam permainan seperti Pokeball (alat berbentuk bola merah-putih untuk menangkap pokemon), Egg (telur yang bisa menetaskan pokemon), atau Razz Berry (buah yang bisa jadi semacam bius untuk menangkap pokemon liar), dll.. Di dalam peta, Pokestop ditandai dengan penampakan kotak berwarna biru. 

Pokestops yang sudah disinggahi akan berubah warna menjadi ungu (gambar diambil dari sini)

Nah, bagi Pokemon Trainer yang berdomisili di sekitar Palembang mungkin ada yang bertanya-tanya di mana saja letak Pokestop strategis untuk berburu Pokemon, silakan simak ulasan berikut untuk memudahkan kamu melacak keberadaan para monster!

Selasa, 05 Juli 2016

Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' #5

Ada ide yang dikembangkan, ditiru sebagian, bahkan dijiplak habis-habisan. Kita termasuk golongan yang mana?

Mari kita kesampingkan dulu soal plagiarisme. Ada term lain yang sering disebut, yaitu epigonisme, berasal dari kata epigon. Di KBBI, epigon berarti orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Kata sepadan pengganti epigon adalah peniru atau pengekor. Tapi, nggak selamanya epigon itu buruk. Setiap orang pasti ada tendensi untuk menjadi epigon, mungkin yang membedakan adalah tingkatannya. Mirip-miriplah dengan tingkatan kasih, cinta, dan sayang. Syelele~

Kalau kata Sapardi Djoko Damono, dalam sastra bandingan ada 3 hal rambu-rambu yang perlu dicermati, yaitu (1) asli, (2) pinjaman, dan (3) tradisi. Asli di sini juga sering disebut orisinal. Istilah pinjaman bisa diartikan sebagai serapan. Namun, seniman sebaiknya jangan cuma jadi epigon, tapi juga membangun tradisi baru. Walaupun sebenarnya tradisi baru juga sulit untuk dimulai karena pada dasarnya kita nggak bisa nihil dari karya orang lain. 

Jadi, baru-baru ini aku dapat bahan untuk melanjutkan serial pos "sampul buku yang mirip" lagi. Kayaknya bahasan ini nggak bakal habis selama masih ada kasus serupa atau kalau masih ada kecenderungan untuk mempraktikkan cocoklogi(?)