Senin, 30 Maret 2020

Ketika membicarakan sejarah film nasional, mungkin nama yang akan terus kita ingat adalah Usmar Ismail, sebab ialah pelopor perfilman Indonesia. Setiap tanggal 30 Maret telah dicatat sebagai Hari Film Nasional untuk memperingati hari pertama proses pengambilan gambar film Darah & Doa (1950) atau Long March of Siliwangi yang disutradari olehnya. Namun, jika kita membicarakan sosok yang bisa dibilang paling berjasa melestarikan dokumentasi perjalanan film Indonesia maka nama itu pastilah Misbach Yusa Biran.

Sebut saja latah, tapi aku mulai tertarik 'mengenal' sosok beliau ketika suatu hari di tahun 2018 tidak sengaja melihat Sherina Munaf memberikan ulasan singkat setelah menuntaskan membaca buku karya Pak Misbach di akun Instagram-nya. Tentu saja buku-buku itu sudah langka, bahkan Sherina mengaku dipinjamkan koleksi buku omnya, Riri Riza. Makanya boleh dibilang mujur ketika beberapa waktu lalu aku berhasil menemukan "Keajaiban di Pasar Senen" dan "...Oh, Film" sekaligus di library Gramedia Digital.


Berkenalan dengan Pak Misbach dari buku yang ia tulis, alih-alih dari film yang ia sutradarai, rasanya memang agak canggung. Apalagi setelah tuntas membaca kedua buku tersebut, ternyata isinya bukanlah tentang film, melainkan hanya kumpulan nukilan kisah di balik aktivitas seni pembuatan film yang digeluti Misbach Yusa Biran dalam medio tahun 1950-an.

Meskipun begitu, aku terpaksa harus mengamini apa yang dikatakan Sherina dalam ulasannya bahwa Pak Misbach memang storyteller yang keren. Tulisan beliau effortlessly dan sangat jenaka. Membaca  "Keajaiban di Pasar Senen" dan "...Oh, Film" jadi terasa penting karena secara tak langsung Pak Misbach telah menangkap gelagat perfilman Indonesia dari zaman ke zaman lewat tulisannya, bahkan masih sangat relevan dibaca puluhan tahun kemudian setelah diterbitkan pertama kali pada 1971 dan 1973.

Seno Gumira Ajidarma

Lewat tulisan-tulisannya, Pak Misbach semakin mempertegas bahwa selain dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, sastrawan, hingga gelar kehormatannya sebagai juru selamat arsip film Indonesia, ia adalah pengamat yang jeli atas kehidupan para 'seniman' di Pasar Senen pada masa itu.

"Film bisa mengemban suatu pesan yang penting," kata Pak Misbach dalam potongan wawancara beliau di film dokumenter berjudul Behind the Flickering Light (The Archive) yang dirilis pada tahun 2013. Film dokumenter karya sutradara Hafiz Rancajale itu merupakan bentuk penghormatan kepada Alm. H. Misbach Yusa Biran, yang dianggap sebagai salah satu tokoh sentral dalam sinema Indonesia modern. 


Bagi Pak Misbach, arsip film adalah rekaman kehidupan modern yang paling akurat

Rasanya film tentang 'Sang Arsip' tersebut penting untuk ditonton agar mengenal lebih jauh sosok Pak Misbach sebagai tokoh kontroversial dalam pergerakan budaya dan politik Indonesia. Di situ juga dikorek sisi-sisinya yang lain sebagai salah satu pendiri Fakultas Film dan Televisi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebagai bocah nakal dari Lebak, Jawa Barat, dan juga sebagai seorang suami dan ayah.

Film itu juga mencoba membaca gagasan pengarsipan film dalam pikiran Pak Misbach yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk membangun lembaga pengarsipan film yang kita kenal dengan Sinematek Indonesia pada tahun 1975.

Riri Riza

Saat itu, ia memutuskan berhenti menjadi sutradara dan memilih untuk menjadi seorang arsiparis film. Di Sinematek, Pak Misbach menyusun dokumentasi film Indonesia sejak mula, termasuk menemukan dan menyimpan film-film lama dari awal sejarah perfilman Indonesia tahun 1920-an. Melalui pemikirannya, Sinematek Indonesia lahir dan menjadi arsip film pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran Sinematek tidak dapat dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga sebagai pelestarian ide-ide dan wacana dalam perjalanan sinema Indonesia.

_____________

Misbach Yusa Biran lahir di Rangkasbitung, Banten, 11 September 1933. Ia adalah suami dari aktris senior Nani Wijaya dan ayah kandung dari aktris muda pemeran "Ronaldowati" yang sempat jadi perbincangan hangat pada circa tahun  2004, yaitu Almh. Sukma Ayu.

Sabtu, 29 Februari 2020

Pada tahun 1971, kalangan wartawan pernah mengalami kebuntuan saat mencari padanan “relax” dalam bahasa Indonesia. Ternyata kata “santai” yang kita gunakan saat ini pertama kali dicetuskan oleh Bur Rasuanto, penanggung jawab rubrik ekonomi majalah Tempo ketika itu. Ia mengusulkan “santai” untuk padanan “relax” yang diserap dari bahasa Komering di Sumatera Selatan, kampung asal puaknya Bur.⁣

Wawasan di atas hanya secuil ihwal menarik yang kucatat setelah menamatkan kumpulan prosa nonfiksi dan reportase pertama yang dibukukan oleh Dea Anugrah, yang lebih dulu dikenal sebagai penulis fiksi cerita pendek maupun kumpulan puisi.⁣



Judul : Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Penulis : Dea Anugrah
Penerbit : Buku Mojok
Tahun terbit : 2019
Cetakan : Ketiga
Tebal : 181 hlm
ISBN : 978-602-1318-81-2


Dea Anugrah menulis puisi, kemudian cerita pendek, terutama untuk menghibur diri. Ketika buku-bukunya—Misa Arwah (2015) dan Bakat Menggonggong (2016)—terbit, dia bersiap dihajar komentar-komentar keji dan laporan penjualan yang mengenaskan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: buku-buku itu diterima dengan baik.

Buku ini adalah bunga rampai nonfiksi pertamanya. Ia membicarakan mulai dari perang sampai industri pisang, dari kesedihan kolektif sebuah bangsa hingga seni membikin senang bagian tubuh tertentu.



Minggu, 05 Januari 2020


Sebetulnya cukup sulit untuk membuat daftar film terbaik karena 1) rasanya agak mustahil untuk menonton semua film dan 2) film yang menurut orang lain terbaik pun belum tentu aku tonton. Jadi, alih-alih membuat daftar film terbaik, aku lebih senang menyebut ini sebagai daftar film favorit dan paling berkesan yang ditonton sepanjang tahun 2019. Maksudku, film yang benar-benar dirilis pada tahun yang sama.

Here are 19 of the best and most memorable movies of 2019!



19. SYNONYMS (SYNONYMES)
Seorang pemuda Israel bernama Yoav kabur dari negara asalnya demi mencari kebebasan di Prancis. Demi mengaburkan identitas aslinya, ia menolak menggunakan bahasa Ibrani dan mati-matian belajar bahasa Prancis dengan panduan sebuah kamus saku serta bantuan dua teman yang ditemuinya kemudian. Konflik nasionalisme yang disampaikan dengan sangat menyentil.




18. THE SOUVENIR
Julie, seorang mahasiswa jurusan film terlibat kisah asmara yang rumit dengan seorang pria yang lebih dewasa bernama Anthony. Dengan alur yang sangat pelan, film ini berhasil memotret transisi hidup seorang Julie dan seakan-akan ingin berpesan kepada kita untuk berhati-hati dalam memilih pasangan.




17. THE TWO POPES
Di balik ornamen religi dan tema Katolik yang diangkat, ini adalah film yang humanis dan bisa dinikmati secara universal. Lewat dialog-dialog jenaka antara dua karakter Paus dalam film ini, kita akan belajar banyak tentang ritual hingga beban-beban masa lalu yang harus ditanggung para pemuka agama berjubah di balik gedung vatikan.




16. BOOKSMART
Dua gadis remaja, Molly dan Amy ialah bintang sekolah yang populer berkat kepintaran dan prestasi akademik mereka di SMA. Namun pada saat pengumuman kelulusan, keduanya menyadari bahwa selama ini waktu mereka hanya dihabiskan untuk belajar. Sepasang sahabat itu pun akhirnya mencoba merangkum keseruan masa sekolah dalam waktu satu malam. Drama komedi coming of age yang kembali mengingatkan kita betapa pentingnya menikmati hidup dengan mencari berbagai pengalaman baru.




15. KIM JI-YOUNG, BORN 1982
Diangkat dari novel karya Cho Nam-joo, buku fiksi terlaris sepanjang masa di Korea Selatan yang sempat menjadi perbincangan hangat karena dianggap berani mengusung isu feminisme di tengah kentalnya budaya patriarki. Film drama yang mengajak kita membuka mata lewat gambaran depresi yang dialami Kim Ji-young akibat akumulasi dari tekanan praktik misoginis dalam lingkungannya.




14. FORD v FERRARI
Diadaptasi dari kisah nyata persaingan dua raksasa produsen mobil, film ini merujuk pada upaya Ford Motor Company untuk mengalahkan pesaingnya, Ferrari, di ajang Les Mans 1966. Selain memanjakan mata melalui visual balapan mobil yang tampak nyata, film ini juga dibalut dengan sentuhan drama penuh emosi yang terinspirasi dari kisah persahabatan Shelby and Miles yang diperankan dengan sangat apik oleh dua aktor papan atas, Christian Bale dan Matt Damon.



13. MIDSOMMAR
Tampaknya hanya Ari Aster yang mampu membuat film roman dibalut aspek horror-thriller yang sangat mencekam kendati didominasi latar suasana yang terang benderang di siang hari. Pengalaman menonton yang disturbing, aneh, tetapi diakhiri dengan aftertase yang memuaskan.




12. PEANUT BUTTER FALCON
Film perjalanan dengan poin pembelajaran tentang sikap peduli dan rasa empati. Mengisahkan seorang pria 22 tahun pengidap down syndrom yang mencoba mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pegulat profesional. Menghibur sekaligus menghangatkan hati.



11. DARK WATERS
Media massa pernah dihebohkan dengan kabar bahwa teflon bisa menyebabkan kanker. Film ini mencoba mengangkat kisah yang mengusik kemanusiaan itu lewat karakter seorang pengacara yang menggugat kelompok kapitalis di balik perusahaan raksasa sekelas DuPont.




10. JOJO RABBIT
Drama komedi satire berlatar belakang Perang Dunia II. Tentang bocah berumur 10 tahun berdarah Jerman, Johannes alias Jojo yang sangat terobsesi dengan Nazi sampai-sampai ia memiliki teman imajiner dalam wujud Adolf Hitler. Seperti biasa, Taika Waititi tidak pernah gagal menghadirkan tontonan yang quirky dan menghibur.



9. THE FAREWELL⁣⁣⁣⁣
Drama keluarga yang berakar pada realitas kehidupan, kematian, dan segala yang menyertainya. Sebuah keluarga besar terpaksa melakukan 'reuni' berkedok pernikahan agar bisa pulang kembali ke Cina untuk bertemu dengan seorang nenek yang disapa Nai-Nai untuk terakhir kalinya, setelah mengetahui bahwa sang nenek telah didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium 4. Film indie ini merupakan perayaan cinta keluarga yang tulus menembus bahasa, benua, dan generasi.⁣⁣⁣⁣


⁣⁣⁣⁣
8. PORTRAIT OF A LADY ON FIRE ⁣⁣⁣
Ketika seorang pelukis disewa untuk membuat potret lukisan seorang wanita bangsawan, romansa ganjil pun terjadi di antara keduanya. Drama histori asal Prancis yang membawa perspektif baru dalam sinema bertema queer. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣


7. THE LIGHTHOUSE ⁣⁣⁣⁣
Di tengah tekanan kesepian di pulau terpencil, dua pria penjaga mercusuar mulai merasa sesat akal. Drama psikologi dengan visual hitam putih dan rasio layar mendekati 1:1 yang memberi pengalaman sinematik berbeda. ⁣⁣⁣Film yang sarat ambiguitas dibalut kesan mistis.
⁣⁣⁣⁣


6. SEVENTEEN (DIECISIETE) ⁣⁣⁣⁣
Demi mencari seekor anjing terapi, seorang remaja berusia 17 tahun rela kabur dari pusat penahanan dan rehabilitasi. Film Spanyol ini mungkin berada di luar radar tontonan banyak orang, tapi dijamin ini adalah road-movie yang unik, jenaka, dan menyenangkan.⁣⁣⁣⁣


⁣⁣⁣⁣
5. JOKER⁣⁣⁣⁣
Todd Phillips berhasil menggambarkan studi karakter seorang badut hiburan bernama Arthur Fleck yang bertransformasi menjadi super-villain akibat represi dari lingkungan yang penuh perundungan. Totalitas performa Joaquin Phoenix adalah bentuk penghormatan paling tinggi untuk Joker versi Heath Ledger.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣


4. US⁣⁣⁣⁣
Memadukan genre horor dengan kritik sosial mengenai diskriminasi dan stereotip terhadap ras kulit gelap, Jordan Peele kembali menyajikan horor psikologis yang mengekor kesuksesan Get Out. Film ini banyak menumpuk pertanyaan alih-alih memberi konklusi jelas, tapi itulah sisi menariknya. Dengan banyaknya aspek yang penuh simbolis dan metaforis, film ini ingin merepresentasikan dualisme dalam kehidupan bahwa akan selalu ada hal yang persis dan saling bertentangan. ⁣⁣⁣⁣


⁣⁣⁣⁣
3. KNIVES OUT⁣⁣⁣⁣
Ide cerita, skenario, hingga akting jajaran aktor kelas A membuat film ini menjadi drama misteri pembunuhan yang sangat berkesan. Fan service untuk pencinta film bertema detektif dengan plot twist berlapis ala ratu misteri, Agatha Christie. Selamat datang, Benoit Blanc!

⁣⁣⁣⁣

2. MARRIAGE STORY ⁣⁣⁣⁣
Mengusung judul yang sangat ironis, ini adalah film tentang kisruh perceraian antara pasangan suami-istri yang harus berpisah akibat pertentangan ego yang cukup rumit. Film drama yang sebetulnya sederhana, tapi mampu menohok penonton dengan tepat sasaran. Diperankan dengan intens dan begitu emosional oleh duet Adam Driver & Scarlett Johansson.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣


1. PARASITE⁣⁣⁣⁣ (GISAENGCHUNG)
Tragicomedy dari salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Film garapan Bong Joon-ho ini berhasil menyampaikan kritik lewat kontras kelas sosial para tokohnya. Selain disampaikan dengan narasi subtil yang penuh alegoris perihal isu kapitalisme dan hierarki sosial terutama di lingkungan masyarakat Negeri Ginseng, film ini juga digarap dengan aspek teknis yang nyaris sempurna. Meskipun sedari awal film ini banyak menyuguhkan komedi situasional, pada akhirnya penonton pun akan dihadapkan dengan konklusi cerita yang membungkam tawa. Jelas sekali, ini adalah film yang sangat brilian!⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
________________________

Dari daftar film di atas, apakah ada yang termasuk film favorit kalian? Bagi pendapatmu di kolom komentar, ya!

Rabu, 30 Oktober 2019

Novel ini berangkat dari sebuah cerita horor yang sempat viral melalui thread—tweet berseri atau secara baku bisa disebut utas—di media sosial Twitter. Ditulis oleh seseorang di balik akun bernama SimpleMan.⁣⁣


Judul : KKN di Desa Penari
Penulis : Simpleman
Penerbit : Bukuné
Tahun terbit : September 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-602-220-333-9


Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat jelas oleh mata. “Mbak… kita sudah sampai di desa.”

____________

Dari kisah yang menggemparkan dunia maya, KKN di Desa Penari kini diceritakan lewat lembar-lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian-bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya.

Kamis, 26 September 2019

Sepertinya aku sudah telanjur menjadi penggemar Mitch Albom sejak beberapa tahun lalu, meski sampai saat ini belum berhasil membaca semua karyanya. The Five People You Meet in Heaven atau dalam versi terjemahannya berjudul Meniti Bianglala adalah salah satu novel favoritku. Selain menuturkan bagaimana imajinasinya tentang 'surga', dalam novel tersebut Mitch Albom juga menyinggung soal konsep kematian dengan kausalitasnya; bahwa satu aksi pada hal tertentu akan menimbulkan reaksi pada hal lain, termasuk apa yang kita perbuat di dunia akan dipertanyakan di alam baka.

The Next Person You Meet in Heaven (Orang Berikut yang Kaujumpai di Surga) ini merupakan novel sekuelnya, yang dirilis tepat 15 tahun setelah novel pertamanya terbit.


Judul : The Next Person You Meet in Heaven

Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Agustus 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 208 hlm
ISBN : 9786020630762


Lima belas tahun yang lalu, dalam bukunya The Five People You Meet in Heaven, Mitch Albom mengisahkan tentang Eddie, veteran perang yang menjadi montir di taman hiburan dan tewas setelah menyelamatkan gadis kecil bernama Annie. Perjalanan Eddie ke surga mengajarinya bahwa setiap kehidupan memiliki makna. Sekarang, dalam buku lanjutannya, Mitch Albom mengisahkan tentang Annie.

Kecelakaan yang menewaskan Eddie meninggalkan bekas mendalam pada Annie. Dia hidup berpindah-pindah dengan ibunya, Tak punya teman, berjuang untuk diterima di lingkungannya, dan dihantui sesuatu yang tak bisa diingatnya. Ketika Annie bertemu Paulo, yang dicintainya sejak kecil, dia merasa telah menemukan kebahagiaan, tetapi pada malam pernikahan mereka, terjadi kecelakaan dan Annie bertemu kembali dengan Eddie, satu dari lima orang yang akan menunjukkan padanya bahwa kehidupannya memberi arti dalam cara-cara yang tak terbayangkan olehnya selama ini.

Sendu dan indah, dengan plot tak terduga, The Next Person You Meet in Heaven mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia berkaitan, dan setiap akhir juga merupakan permulaan.

Kamis, 01 Agustus 2019

"Kerja kok sambat terus!" kata seorang teman kantor pada suatu hari yang hectic. Belakangan aku memang sering dengar dan baca istilah 'sambat' ini di Twitter, sampai-sampai ada yang bikin parodi dari buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Marchella FP pakai kata 'sambat' ini saking gandrungnya. Berbekal rasa penasaran dan tanya sana-sini, akhirnya baru paham rupanya istilah 'sambat' ini artinya mengaduh atau mengeluh. Aduh!

Aku jadi ingat, beberapa minggu lalu aku memang sering ngeluh karena kerjaan kantor lagi padat-padatnya, yang kemudian berdampak pada seringnya pulang malam kendati badan lelah dan kuantitas menguap nyaris nggak terhitung. Kebetulan teman yang biasa bantu kerjaan juga lagi cuti, jadi lengkap sudah. Alhasil setiap pulang ke rumah, bodi langsung tepar tanpa tawar-menawar.

Namun, drama persambatan ini sudah agak mereda setelah aktivitas rehat yang cukup. Apalagi rasa-rasanya stamina semakin pulih sejak mengonsumsi obat suplemen herbal, yaitu Fufang Ejiao Jiang. Namanya agak sulit dieja karena memang obatnya asal Tiongkok. Nah, kali ini aku akan review sedikit khasiat dari obat herbal ini, soalnya rekan-rekan di kantor mendadak heboh mau minta beberapa botol karena telanjur berasumsi kalau ini adalah 'obat kuat' hahaha. Sebetulnya nggak salah sih, cuma mesti diluruskan karena khasiatnya pun cukup banyak.


Selasa, 30 Juli 2019

Membicarakan Eka Kurniawan tentu tidak akan terlepas dari profesinya sebagai penulis yang melahirkan novel-novel bergengsi sekaliber Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dll.—yang setidaknya kita akan familier dengan salah satu judul tersebut kendati belum pernah membacanya. 

Jauh sebelum berkenalan dengan karya-karya fiksinya, aku lebih dulu mengenal Eka Kurniawan sebagai penulis blog yang produktif. Bahkan saat ia masih aktif hingga hengkang dari keriaan media sosial (meski sekarang masih aktif di Facebook), aku masih cukup sering mengintip jurnal pribadinya di laman ekakurniawan.com untuk sekadar membaca beberapa esai dan opininya tentang buku-buku yang baru selesai ia baca.⁣⁣
⁣⁣
Senyap yang Lebih Nyaring pun diterbitkan sebagai manifestasi dari tulisan-tulisannya di blog dalam rentang tahun 2012-2014. Berisi 107 esai yang sebagian besar membahas buku-buku bacaan, kritik, hingga pandangannya perihal wajah kesusastraan dunia; topik yang jarang kita temui dalam medium novel fiksi.⁣⁣


Judul : Senyap yang Lebih Nyaring
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Circa
Tahun terbit : April 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 352 hlm
ISBN : 978-623-90087-7-2

Setelah beberapa tahun mencoba, saya menemukan sejenis medium berkelamin ganda, pada bentuk yang kemudian berkembang: blog, sebuah ungkapan ringkas dari weblog. Di satu sisi, seperti tulisan di media cetak, ia bersifat publik. Terbuka untuk dibaca siapa saja.

Di sisi lain, seperti catatan harian atau surat, bisa juga bersifat pribadi dan personal. Apalagi mengingat bentuk ini nyaris tak memiliki sekat antara ketika ditulis dan diterbitkan: tak ada otoritas media, tak ada saringan editorial. Saya bisa memilih sendiri buku yang saya baca dan menulis sesuatu dengan cara yang saya inginkan.

Di sini saya bisa menebarkan remah-remah roti Hansel dan Gretel untuk melacak jejak-jejak bacaan saya, juga pikiran, agar mudah kembali ke sana, sekaligus memungkinkan untuk dibaca siapa pun. Siapa tahu dalam perjalanan ini saya tersesat dalam labirin bacaan tak berujung, dan kita dipertemukan di suatu tempat, untuk memulai perbincangan yang lain.

Minggu, 30 Juni 2019

Akhir pekan ini, Palembang menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan event MAXI DAY 2019. Event ini digelar untuk memperingati ulang tahun ketiga rilisnya skutik Maxi Series milik Yamaha, yaitu NMAX, XMAX, LEXI, Aerox, dan TMAX. Perayaan yang berlangsung di Benteng Kuto Besak, Palembang pada tanggal 29 Juni 2019 ini juga merupakan bagian dari rangkaian MAXI DAY 2019 yang dibuka di Cibinong, Jawa Barat pada April lalu. 

Ada banyak keseruan pada saat penyelenggaraan event tahunan ini, mulai dari promo spesial yang memungkinkan kita membeli salah satu produk Maxi Series dengan harga relatif murah daripada biasanya, kesempatan mendapat servis motor dan oli gratis, mengikuti test ride berhadiah, menonton kontes modifikasi dan rolling city (komunitas Maxi Series konvoi keliling Palembang). Selain itu, kita juga bisa ikut cek darah gratis dan selfie contest, seseruan di game station, serta menyaksikan band perform dan DJ perform.


Acara tersebut dimulai Sabtu pagi pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 22.00 WIB. Nah, pada pukul 13.00 WIB kebetulan aku dan rekan-rekan Bloger Palembang Kumpul berkesempatan mengikuti demo di salah satu booth yang meramaikan event MAXI DAY 2019, lalu kami dikenalkan dengan salah satu produk Maxi Series andalan terbaru dari Yamaha. Coba tebak apa, guys?