Senin, 28 Mei 2018


Masyarakat India punya dua agama (lainnya dianggap gaya hidup), yakni kriket dan film. Mereka sangat terikat dengan dua hal tersebut. Soal betapa pentingnya kriket bagi rakyat India, bisa dilihat dalam film Lagaan (2001). Sepak bola yang disebut-sebut sebagai olahraga paling populer di dunia, hanya mampu menempati urutan kedua di hati mereka. Menyoal film, tak perlu ditanya lagi, sebab Negara Anak Benua itu merupakan salah satu produsen film terbesar di dunia.

Aku bukan termasuk penonton yang fanatik dengan film atau segala hal yang berbau film, tapi aku senang sekali saat tahu ada penulis yang menuangkan kecintaannya terhadap film dengan sangat personal ke dalam sebuah buku–lebih-lebih kalau itu adalah film India.

Judul : Aku & Film India Melawan Dunia (Buku I) 
Penulis : Mahfud Ikhwan 
Penerbit : EA Books 
Tahun terbit : Januari 2017 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 150 hlm 
ISBN : 9786020376172

Menonton film India, membahasnya, apalagi menuliskannya adalah semacam kerelaan menjadi–meminjam judul film garapan Mehmood tahun 1996 –dushman duniya ka; sang musuh semesta.

Senin, 30 April 2018

"How can you make a movie with only one character?"

Dalam sebagian besar film, pemilihan tokoh dan karakter adalah fokus utama yang diperlukan untuk menciptakan konflik, alur, serta perkembangan cerita. Semakin banyak tokoh maka semakin kompleks pula cerita yang bisa dibangun. Namun, bukan karya seni namanya kalau harus selalu menuruti standar umum adanya komposisi tokoh protagonis, antagonis, ataupun sidekick. Sebab ada beberapa film yang hanya perlu menampilkan seminim mungkin pemain bahkan aktor yang berperan tunggal untuk menyampaikan ceritanya. Film sejenis ini sering disebut dengan istilah one-man show movie.

Walaupun terlihat ringan dan terkadang dipandang skeptis karena minim bajet, sebetulnya film-film seperti ini lebih menantang karena mempertaruhkan 'kebosanan' penonton. Selain itu juga, film dengan konsep one man, one setting bukan cuma perlu didukung oleh plot cerita yang menarik, tetapi juga oleh seorang aktor dengan kualitas tinggi atau bakat luar biasa.

Film-film di bawah ini bisa dibilang mewakili formula "one-man show" yang sukses ketika dirilis. Bukan hanya karena faktor pemainnya yang berakting bagus, tetapi juga karena ide cerita dan keseluruhan filmnya memang layak dimasukkan ke daftar tonton untuk memberikan pengalaman sinematik yang nggak biasa.


1| Tom Hanks — Cast Away (2000) 
Genre: adventure, drama, romance
Memerankan karakter sebagai Chuck Noland, karyawan FedEx yang terdampar sendirian di sebuah pulau terpencil setelah mengalami kecelakaan pesawat. Film ini bukan hanya mengisahkan tentang pria versus alam, tetapi juga tentang seorang pria yang berjuang untuk tetap waras kendati hidup sebatang kara empat tahun lamanya. Disutradarai oleh Robert Zemeckis (Forrest GumpThe Walk).

2| Sam Rockwell — Moon (2009) 
Genre: drama, mystery, sci-fi
Memainkan tokoh Sam Bell, seorang astronot yang berada di ujung masa kerjanya setelah tiga tahun ditugaskan untuk tinggal di Sarang, sebuah fasilitas di bulan yang digunakan untuk menambang energi alternatif bagi bumi. Selama tiga tahun berada di luar angkasa, ia hanya berinteraksi dengan mesin robot bernama Gerty. FIlm ini disutradarai oleh Duncan Jones (Source CodeWarcraft).

3| James Franco — 127 Hours (2010) 
Genre: adventure, drama, biography
Berdasarkan kisah nyata, James Franco berperan sebagai Aron Ralston, yang terjebak di sebuah jurang bebatuan selama 127 jam atau setara lima hari lebih, setelah mengalami kecelakaan saat berpetualang sendirian ke Blue John Canyon di Utah. Film ini disutradarai oleh Danny Boyle (Trainspotting, Slumdog Millionaire) dan diadaptasi dari buku autobiografi berjudul Between a Rock and a Hard Place.

4| Ryan Reynolds — Buried (2010) 
Genre: drama, mystery, thriller
Bermain sebagai Paul Steven Conroy, rakyat sipil Amerika yang bekerja sebagai sopir truk dan sedang bertugas di Irak, negara yang sedang mengalami konflik. Suatu hari ia terbangun dari pingsan dan mendapati dirinya dikubur hidup-hidup dalam sebuah peti kayu di dalam tanah. Sulit membayangkan bagaimana rasanya terkurung dalam ruang sempit 2 x 1 meter dan hanya dimodali sebuah BlackBerry krisis sinyal dan korek api Zippo. Sesak? Tahan dulu sebelum melihat twist ending-nya.

5| Tom Hardy — Locke (2013) 
Genre: drama
Berperan sebagai seorang mandor konstruksi bangunan bernama Ivan Locke, yang di suatu malam menyetir mobil BMW-nya sendirian dalam perjalanan dari Birmingham menuju London. Sepanjang jalan, ia terlibat percakapan dengan beberapa orang lewat sambungan telepon. Sebuah perjalanan malam yang akan mengungkap sisi lain hidupnya, termasuk hubungan dengan pekerjaan dan keluarganya.

6| Robert Redford — All is Lost (2013) 
Genre: action, adventure, drama
Memainkan peran sebagai seorang pria tua yang tiada diketahui namanya, berlayar sendirian di Samudra Hindia. Suatu ketika ia tanpa sengaja menabrak kontainer yang terapung di laut lepas, yang mengakibatkan kapal yacht-nya mengalami kebocoran. Menyadari stok makanan mulai menipis, ia mulai sadar kalau kematian sedang menantinya.

___________

Selain film-film di atas, sebetulnya aku juga tertarik untuk menyebut I Am Legend (2007), Life of Pi (2012), atau The Martian (2015), tapi agak ragu karena sepertinya para aktor di film itu nggak benar-benar bermain tunggal.

Nah, kalian ada rekomendasi film yang berkonsep serupa? Silakan tulis di kolom komentar, ya!

Sabtu, 24 Maret 2018

Sudah hampir satu bulan terakhir, aku resmi jadi pekerja penuh waktu di kantor. Rutinitas yang biasanya santai, otomatis berubah total. Saking terkurasnya waktu oleh jam kerja yang padat, jadi sekarang hampir nggak ada waktu untuk sekadar nonton film, baca buku, apalagi jalan-jalan untuk mengisi feed Instagram. Waktu libur hari Minggu pun seolah jadi momen pembalasan, mesti dimanfaatkan untuk hangout ke mana saja. Karena hampir setiap hari berkegiatan formal, pagi sampai sore pakai seragam kerja, jadi saat libur inilah satu-satunya kesempatan untuk tampil santai dengan pakaian kasual.

Omong-omong soal tampil kasual, sebetulnya aku tipe orang yang nggak suka dengan apa-apa yang terlalu ribet, termasuk dalam hal berpakaian. Jadi, setiap keluar rumah, aku lebih suka pakai outfit yang simpel. Contohnya seperti outfit yang akan kubahas dalam tulisan ini. Kebetulan paduan outfit yang aku pakai kali ini semuanya adalah produk fesyen dari salah satu brand ternama di Indonesia, Carvil.



Sampai saat ini, Carvil telah sukses menelurkan berbagai produk penunjang penampilan mulai dari alas kaki hingga berbagai produk fesyen untuk wanita, pria, dan anak–anak. Tiga item dari Carvil yang sekarang aku pakai adalah polo shirt, jeans, dan sandal footbed. Mari kita ulas satu per satu.

Polo Shirt

Salah satu baju atasan paling serbaguna yang bisa dimiliki cowok selain kemeja, tentu saja polo shirt. Kaus polo bisa dibilang pakaian musim panas yang ideal dan setidaknya harus ada dalam lemari para cowok. Karena bentuknya yang semi-formal, pakaian jenis ini dapat dipasangkan dengan bawahan model apa saja baik celana pendek atau panjang, ataupun bisa disandingkan dengan outer lain seperti sweater maupun cardigan.

Pilihanku jatuh pada Carvil Polo Shirt TOS A23 dengan bahan cotton 24s lacoste. Desain kaus polo ini sangat simpel, tanpa kantong, dan cuma ada embroidery logo kecil di bagian dada. Kaus polo dari Carvil ini hampir sama dengan kaus polo merek lain, yaitu akan terlihat fit kalau dipakai oleh mereka yang berbadan tinggi dan atletis. Untuk yang bodinya kurang atletis kayak aku dan terbiasa pakai kaus standar ukuran M maka harus sadar diri agar memilih polo shirt yang ukurannya lebih kecil, yaitu S. Tapi kalau telanjur beli polo shirt yang kombor, mungkin bisa diakali dengan cara dimasukkan ke dalam bawahan seperti jeans. Mungkin agak terlihat old school, tapi Brandon Salim aja sering pakai style yang sama kok.


Sim-fit Jeans

Jauh sebelum demam jaket denim kayak yang dipakai Dilan, bahan denim hampir selalu menjadi favorit kalangan cowok, terutama dalam bentuk jeans. Beberapa tahun yang lalu, jujur aku sempat mogok pakai jeans. Soalnya waktu bobotku naik drastis melampaui angka 70 Kg, aku mesti say goodbye ke beberapa koleksi jeans di lemari. Nggak ada yang muat lagi, bos. Jadi dengan terpaksa beralih temporer ke celana chino.

Namun, sekarang model jeans sudah banyak jenisnya, nggak melulu dad-look kayak model jadul. Salah satu alasan kenapa aku masih bertahan pakai jeans karena sekarang ada yang tipe slim-fit

Bawahan celana yang aku pakai adalah Carvil Mens Jeans Vino-LB dengan ukuran 32 (lingkar pinggang 78 cm dan panjang 101 cm). Aku suka sekali motif dan warnanya yang light-blue. Apalagi bahannya denim stretch, dengan model saku belakang yang nggak norak. Tapi masalahku selalu sama tiap beli celana. Entah kenapa selalu agak kepanjangan di bagian bawah, jadi mesti dilipat atau malah dipotong sekian senti dulu biar makin necis. 

Terlepas dari apa kamu penggemar berat jeans tipe slim-fit kayak aku atau kamu lebih suka yang tampilan boot-cut, yang jelas pasti ada celana jeans yang bisa mencintaimu dari pinggang ke bawah.


Footbed sandal

Bagian terakhir yang nggak kalah penting dari rencana untuk tampil kasual adalah pilihan alas kaki. Kalau bosan pakai sepatu, kamu bisa coba substitusi dengan Carvil Anatomic Footbed Sandal kayak yang aku pakai. 

Sama seperti sandal footbed merek lain, sandal footbed dari Carvil juga didesain khusus agar mampu menjaga kesehatan kaki. Bagian tengah dari desain sandal footbed ini dibuat menyatu, sehingga orang yang memakainya akan merasa nyaman sewaktu berdiri dan berjalan. Desain yang menonjol antara jari kaki dan telapak kaki pun dapat mengurangi kemungkinan terjungkal. Bahan insole yang lembut melindungi permukaan telapak kaki, merangsang titik akupuntur selama berjalan, sehingga mengurangi rasa lelah. 

Dengan sistem proteksi tinggi seperti yang disebut barusan, susah untuk nggak jatuh hati dengan sandal ini. Terutama juga karena tampilannya yang lumayan oke untuk menyempurnakan tampilan outfit santai sesuai selera fesyenmu. Dan, pastinya nggak perlu sampai beli footbed merek luar negeri yang mahal. Cukup dengan Carvil—kualitas terjamin, awet, nyaman dipakai, dan harga juga terjangkau.

Selasa, 06 Februari 2018

Beberapa waktu lalu di lini masa Twitter muncul tagar #Japanuary. Setelah memastikan tagar tersebut nggak ada hubungannya dengan perayaan putusnya Glenn Fredly atau tanggal jadiannya Armand Maulana, aku baru paham kalau Japanuary (akronim dari Japanese dan January) itu tantangan daring untuk menonton film-film Jepang selama bulan Januari. Hmm, menarik.

Sejak menulis posting Film Jepang Favorit tahun lalu, sebetulnya aku jadi gandrung mencari film-film Jepang yang asyik untuk ditonton. Apalagi waktu kopdar mendadak bareng Kato Daisuke-san, assistant director Japan Foundation dari Jakarta tempo hari, ketertarikanku dengan film-film asal Negeri Sakura jadi makin bertambah. Kalau kita sudah kenal dengan Hayao Miyazaki atau Makoto Shinkai, maka itu baru contoh kecil dari nama-nama sineas yang karyanya layak diperhitungkan. Lagi pula film Jepang lebih dari sekadar anime, kan?

Jadi, inilah film-film produksi Jepang yang kutonton selama Januari:


Kamis, 07 Desember 2017

The Breakfast Club with a criminal twist! Itulah kesan pertamaku waktu membaca premis novel karya  Karen M. McManus, One of Us is Lying. Dalam sebuah interviu, McManus mengonfirmasi kalau ia memang terinspirasi menulis novel debutnya ini dari film lawas besutan John Hughes tersebut. Tepatnya saat ia menyetir mobil, lalu mendengar lagu Don't You (Forget About Me)—yang menjadi soundtrack The Breakfast Club (1985)—diputar di radio. Ini jadi salah satu bukti kalau inspirasi selalu bekerja dengan cara yang menarik.

Kendati konsep penokohannya sama, yaitu lima orang murid yang 'terjebak' di ruang detensi, tapi plot besar dalam One of Us is Lying selanjutnya sama sekali berbeda. Penulis berhasil menciptakan retelling yang segar berkat sentuhan misteri dalam alur ceritanya. Bahkan banyak yang bilang kalau kisah fiksi satu ini jadi semacam perpaduan antara The Breakfast Club dengan Pretty Little Liars. 

Judul : One of Us is Lying (Satu Pembohong)
Penulis : Karen M. McManus
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Oktober 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 404 hlm
ISBN : 9786020376172

Senin sore, lima murid memasuki ruang detensi.

Bronwyn, si genius, nilai akademis sempurna dan tidak pernah melanggar peraturan.
Addy, si cewek populer, gambaran sempurna pemenang kontes kecantikan.
Nate, si bandel, dalam masa percobaan karena transaksi narkoba.
Cooper, si atlet, pelempar bola andalan tim bisbol dan pangeran di hati semua orang.
Dan Simon, si orang buangan, pencipta applikasi gosip terdepan mengenai kehidupan Bayview High.

Namun sebelum detensi berakhir, Simon tewas. Menurut para penyidik, kematiannya disengaja. Apalagi kemudian ditemukan draft artikel gosip terbaru untuk ditayangkan pada Selasa, sehari setelah kematian Simon. Gosip heboh tentang empat orang yang berada dalam ruangan detensi bersamanya.

Mereka berempat dicurigai, dan semuanya punya rahasia terpendam. Salah satu di antara mereka pasti ada yang berbohong.

Minggu, 03 Desember 2017

Sehabis menonton trailer Avengers: Infinity War yang resmi dirilis tempo hari, rasanya aku ingin tahun 2018 segera datang! Siapa yang nggak ketar-ketir ketika melihat Tony Stark, Steve Rogers, Bruce Banner, Thor, Peter Parker, T'Challa, dan Scott Lang kembali reuni dalam satu frame? Belum lagi, ada bocoran kalau Stephen Strange dan Peter Quill akan merapat ke barisan fraksi superhero terdahulu yang sempat pecah kongsi saat Civil War

Namun, itu baru alasan kecil kenapa 2018 terlihat begitu menggoda. Sebagai warga Indonesia yang agak hollywood-centris tapi tetap nasionalis, tentu saja aku berharap 2018 cepat datang lebih dari sekadar ingin menonton sekumpulan superhero menyelamatkan bumi. Karena berita pentingnya, tahun depan akan menjadi momen kebanggaan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 setelah 56 tahun!


Bersama dayang-dayang Bloger Kumpul Palembang

Kamis, 09 November 2017

Bisa dibilang, sama sekali aku bukan pengagum cerita-cerita mitos, apalagi legenda atau dongeng suci tentang kehidupan para dewa. Membaca Mitologi Nordik (terjemahan dari Norse Mythology), jelas karena buku ini menyebut-nyebut nama Thor dan Loki, salah dua dewa asal Asgard yang jadi superhero dan antihero dalam film waralaba produksi Studio Marvel. Sekaligus menyambut film Thor: Ragnarok yang kebetulan baru rilis tahun ini.


Judul : Mitologi Nordik (Norse Mythology)
Penulis : Neil Gaiman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Agustus 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 326  hlm
ISBN : 9786020367781


16 cerita tentang awal mula penciptaan dunia hingga terjadinya Ragnarok. Thor dan Loki menjadi pemeran utama dalam sebagian besar cerita.

Thor, dewa petir yang perkasa dan berjenggot merah. Thor baik hati, tapi tidak terlalu cerdas. Senjata andalannya adalah palu godam bernama Mjollnir. Thor sayang sekali pada palunya. Palu itu selalu ditaruh di dekatnya apabila Thor tidur. Palu itu pernah hilang dicuri, dan untuk memperolehnya kembali, Thor terpaksa menyamar menjadi perempuan, dengan bantuan Loki.

Loki putra Laufey. Loki sangat tampan, lucu dan pandai bicara, tetapi juga sangat licik. Di mana ada Loki, pasti ada masalah. Dia sahabat sekaligus pengkhianat Thor. Gara-gara Loki, salah satu kambing Thor menjadi pincang. Gara-gara Loki, Sif istri Thor menjadi botak. Dan banyak hal menjengkelkan lain yang dilakukan Loki. Namun tindakannya yang paling jahat adalah membuat Balder tewas. Maka Loki pun ditangkap dan diikat, sampai Ragnarok mengakhiri semuanya.

Jumat, 20 Oktober 2017

Ada yang pernah menonton Black Mirror? Serial TV berupa film antologi yang menceritakan kisah fiktif dengan tema gelap dan satire mengenai masyarakat modern, terutama dampak buruk teknologi canggih. Di Indonesia rasanya belum ada film atau cerita fiksi lain yang mengangkat tema serupa. Makanya, aku senang sekali waktu diberi titah oleh Roy Saputra untuk jadi pembaca draf novel terbarunya. Black Mirror-nya novel lokal, yang kemudian terbit dengan judul Ikan-Ikan Mati.

instagram.com/aenigmapicture

Ikan-Ikan Mati menceritakan kisah pria kantoran bernama Gilang, dengan segala polemik hidupnya di tengah arus teknologi yang semakin canggih. Walaupun mengambil latar kota Jakarta di masa depan, sebetulnya tokoh Gilang di novel ini secara definitif mewakili potret kaum millennial di era teknologi seperti sekarang. Yang serba up-to-date, getol mengunjungi kafe yang sedang hits, rutin menonton film di hari pertama penayangan, atau yang ada di baris terdepan tiap ada info diskonan.