Rabu, 30 Oktober 2019

Novel ini berangkat dari sebuah cerita horor yang sempat viral melalui thread—tweet berseri atau secara baku bisa disebut utas—di media sosial Twitter. Ditulis oleh seseorang di balik akun bernama SimpleMan.⁣⁣


Judul : KKN di Desa Penari
Penulis : Simpleman
Penerbit : Bukuné
Tahun terbit : September 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-602-220-333-9


Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat jelas oleh mata. “Mbak… kita sudah sampai di desa.”

____________

Dari kisah yang menggemparkan dunia maya, KKN di Desa Penari kini diceritakan lewat lembar-lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian-bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya.

Kamis, 26 September 2019

Sepertinya aku sudah telanjur menjadi penggemar Mitch Albom sejak beberapa tahun lalu, meski sampai saat ini belum berhasil membaca semua karyanya. The Five People You Meet in Heaven atau dalam versi terjemahannya berjudul Meniti Bianglala adalah salah satu novel favoritku. Selain menuturkan bagaimana imajinasinya tentang 'surga', dalam novel tersebut Mitch Albom juga menyinggung soal konsep kematian dengan kausalitasnya; bahwa satu aksi pada hal tertentu akan menimbulkan reaksi pada hal lain, termasuk apa yang kita perbuat di dunia akan dipertanyakan di alam baka.

The Next Person You Meet in Heaven (Orang Berikut yang Kaujumpai di Surga) ini merupakan novel sekuelnya, yang dirilis tepat 15 tahun setelah novel pertamanya terbit.


Judul : The Next Person You Meet in Heaven

Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Agustus 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 208 hlm
ISBN : 9786020630762


Lima belas tahun yang lalu, dalam bukunya The Five People You Meet in Heaven, Mitch Albom mengisahkan tentang Eddie, veteran perang yang menjadi montir di taman hiburan dan tewas setelah menyelamatkan gadis kecil bernama Annie. Perjalanan Eddie ke surga mengajarinya bahwa setiap kehidupan memiliki makna. Sekarang, dalam buku lanjutannya, Mitch Albom mengisahkan tentang Annie.

Kecelakaan yang menewaskan Eddie meninggalkan bekas mendalam pada Annie. Dia hidup berpindah-pindah dengan ibunya, Tak punya teman, berjuang untuk diterima di lingkungannya, dan dihantui sesuatu yang tak bisa diingatnya. Ketika Annie bertemu Paulo, yang dicintainya sejak kecil, dia merasa telah menemukan kebahagiaan, tetapi pada malam pernikahan mereka, terjadi kecelakaan dan Annie bertemu kembali dengan Eddie, satu dari lima orang yang akan menunjukkan padanya bahwa kehidupannya memberi arti dalam cara-cara yang tak terbayangkan olehnya selama ini.

Sendu dan indah, dengan plot tak terduga, The Next Person You Meet in Heaven mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia berkaitan, dan setiap akhir juga merupakan permulaan.

Kamis, 01 Agustus 2019

"Kerja kok sambat terus!" kata seorang teman kantor pada suatu hari yang hectic. Belakangan aku memang sering dengar dan baca istilah 'sambat' ini di Twitter, sampai-sampai ada yang bikin parodi dari buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Marchella FP pakai kata 'sambat' ini saking gandrungnya. Berbekal rasa penasaran dan tanya sana-sini, akhirnya baru paham rupanya istilah 'sambat' ini artinya mengaduh atau mengeluh. Aduh!

Aku jadi ingat, beberapa minggu lalu aku memang sering ngeluh karena kerjaan kantor lagi padat-padatnya, yang kemudian berdampak pada seringnya pulang malam kendati badan lelah dan kuantitas menguap nyaris nggak terhitung. Kebetulan teman yang biasa bantu kerjaan juga lagi cuti, jadi lengkap sudah. Alhasil setiap pulang ke rumah, bodi langsung tepar tanpa tawar-menawar.

Namun, drama persambatan ini sudah agak mereda setelah aktivitas rehat yang cukup. Apalagi rasa-rasanya stamina semakin pulih sejak mengonsumsi obat suplemen herbal, yaitu Fufang Ejiao Jiang. Namanya agak sulit dieja karena memang obatnya asal Tiongkok. Nah, kali ini aku akan review sedikit khasiat dari obat herbal ini, soalnya rekan-rekan di kantor mendadak heboh mau minta beberapa botol karena telanjur berasumsi kalau ini adalah 'obat kuat' hahaha. Sebetulnya nggak salah sih, cuma mesti diluruskan karena khasiatnya pun cukup banyak.


Selasa, 30 Juli 2019

Membicarakan Eka Kurniawan tentu tidak akan terlepas dari profesinya sebagai penulis yang melahirkan novel-novel bergengsi sekaliber Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dll.—yang setidaknya kita akan familier dengan salah satu judul tersebut kendati belum pernah membacanya. 

Jauh sebelum berkenalan dengan karya-karya fiksinya, aku lebih dulu mengenal Eka Kurniawan sebagai penulis blog yang produktif. Bahkan saat ia masih aktif hingga hengkang dari keriaan media sosial (meski sekarang masih aktif di Facebook), aku masih cukup sering mengintip jurnal pribadinya di laman ekakurniawan.com untuk sekadar membaca beberapa esai dan opininya tentang buku-buku yang baru selesai ia baca.⁣⁣
⁣⁣
Senyap yang Lebih Nyaring pun diterbitkan sebagai manifestasi dari tulisan-tulisannya di blog dalam rentang tahun 2012-2014. Berisi 107 esai yang sebagian besar membahas buku-buku bacaan, kritik, hingga pandangannya perihal wajah kesusastraan dunia; topik yang jarang kita temui dalam medium novel fiksi.⁣⁣


Judul : Senyap yang Lebih Nyaring
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Circa
Tahun terbit : April 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 352 hlm
ISBN : 978-623-90087-7-2

Setelah beberapa tahun mencoba, saya menemukan sejenis medium berkelamin ganda, pada bentuk yang kemudian berkembang: blog, sebuah ungkapan ringkas dari weblog. Di satu sisi, seperti tulisan di media cetak, ia bersifat publik. Terbuka untuk dibaca siapa saja.

Di sisi lain, seperti catatan harian atau surat, bisa juga bersifat pribadi dan personal. Apalagi mengingat bentuk ini nyaris tak memiliki sekat antara ketika ditulis dan diterbitkan: tak ada otoritas media, tak ada saringan editorial. Saya bisa memilih sendiri buku yang saya baca dan menulis sesuatu dengan cara yang saya inginkan.

Di sini saya bisa menebarkan remah-remah roti Hansel dan Gretel untuk melacak jejak-jejak bacaan saya, juga pikiran, agar mudah kembali ke sana, sekaligus memungkinkan untuk dibaca siapa pun. Siapa tahu dalam perjalanan ini saya tersesat dalam labirin bacaan tak berujung, dan kita dipertemukan di suatu tempat, untuk memulai perbincangan yang lain.

Minggu, 30 Juni 2019

Akhir pekan ini, Palembang menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan event MAXI DAY 2019. Event ini digelar untuk memperingati ulang tahun ketiga rilisnya skutik Maxi Series milik Yamaha, yaitu NMAX, XMAX, LEXI, Aerox, dan TMAX. Perayaan yang berlangsung di Benteng Kuto Besak, Palembang pada tanggal 29 Juni 2019 ini juga merupakan bagian dari rangkaian MAXI DAY 2019 yang dibuka di Cibinong, Jawa Barat pada April lalu. 

Ada banyak keseruan pada saat penyelenggaraan event tahunan ini, mulai dari promo spesial yang memungkinkan kita membeli salah satu produk Maxi Series dengan harga relatif murah daripada biasanya, kesempatan mendapat servis motor dan oli gratis, mengikuti test ride berhadiah, menonton kontes modifikasi dan rolling city (komunitas Maxi Series konvoi keliling Palembang). Selain itu, kita juga bisa ikut cek darah gratis dan selfie contest, seseruan di game station, serta menyaksikan band perform dan DJ perform.


Acara tersebut dimulai Sabtu pagi pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 22.00 WIB. Nah, pada pukul 13.00 WIB kebetulan aku dan rekan-rekan Bloger Palembang Kumpul berkesempatan mengikuti demo di salah satu booth yang meramaikan event MAXI DAY 2019, lalu kami dikenalkan dengan salah satu produk Maxi Series andalan terbaru dari Yamaha. Coba tebak apa, guys? 

Senin, 06 Mei 2019

Bisa dibilang Palembang merupakan kota kedua tempat tinggalku. Sejak kuliah, hingga akhirnya bekerja di kota ini, Palembang sudah jadi bagian dari perjalanan hidupku. Melihat perkembangan Palembang dari dulu hingga sekarang selama beberapa tahun, sama sekali nggak bisa dipandang sebelah mata. Coba saja LRT yang membelah jalanan kota, belum lagi bangunan tinggi yang semakin menjamur, Palembang telah berubah menjadi sebuah kota yang besar. 

Sejak dipindah tugaskan ke kota ini, satu hal yang aku selalu kupikirkan adalah kendaraan. Kenapa ini penting? Karena dengan pesatnya perkembangan kota Palembang, efeknya jumlah kendaraan semakin bertambah, jalanan pun kian ramai. Dengan begitu, adanya kendaraan yang pas buat dipakai sehari-hari di jalanan Palembang dengan nyaman otomatis jadi prioritas. Dua motor yang menarik perhatianku saat ini yaitu Honda Vario dan Yamaha FreeGo. Namun, karena bingung memilih, mari kita adu rayu!


Minggu, 07 April 2019


Today’s creative inspiration comes from Grant Snider's book!⁣


Judul :  The Shape of Ideas (Bebaskan Imajinasimu!)
Penulis : Grant Snider
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 146 hlm
ISBN : 978-602-06-2254-5

Seperti apa sih bentuk ide? Dari mana datangnya? Melalui ilustrasinya, Grant Snider mengajak kita ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus menginspirasi kita untuk memiliki jawabannya sendiri. Kumpulan komik ini menyingkap rasa girang dan frustasi yang menyertai kreativitas, saat mencari inspirasi, maupun dalam proses kreatif itu sendiri. Cocok bagi siapa pun-profesional di bidang kreatif, pelajar, juga para pemimpi di siang bolong.

Selasa, 26 Maret 2019

Menjawab kebutuhan konsumen, Suzuki sebagai salah satu backbone transportasi di Indonesia menghadirkan berbagai perubahan untuk lini produk terbarunya di kelas MPV (Multi Purpose Vehicle). Berbeda dengan produk All New Ertiga yang dikenalkan lebih dulu pada tahun 2018, kali ini varian terbarunya memiliki DNA sendiri, yakni All New Ertiga Suzuki Sport.