Minggu, 07 April 2019


Today’s creative inspiration comes from Grant Snider's book!⁣


Judul :  The Shape of Ideas (Bebaskan Imajinasimu!)
Penulis : Grant Snider
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 146 hlm
ISBN : 978-602-06-2254-5

Seperti apa sih bentuk ide? Dari mana datangnya? Melalui ilustrasinya, Grant Snider mengajak kita ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus menginspirasi kita untuk memiliki jawabannya sendiri. Kumpulan komik ini menyingkap rasa girang dan frustasi yang menyertai kreativitas, saat mencari inspirasi, maupun dalam proses kreatif itu sendiri. Cocok bagi siapa pun-profesional di bidang kreatif, pelajar, juga para pemimpi di siang bolong.

Selasa, 26 Maret 2019

Menjawab kebutuhan konsumen, Suzuki sebagai salah satu backbone transportasi di Indonesia menghadirkan berbagai perubahan untuk lini produk terbarunya di kelas MPV (Multi Purpose Vehicle). Berbeda dengan produk All New Ertiga yang dikenalkan lebih dulu pada tahun 2018, kali ini varian terbarunya memiliki DNA sendiri, yakni All New Ertiga Suzuki Sport.

Kamis, 28 Februari 2019

Tidak sedikit orang yang menyarankan bahwa sebaiknya tidak memulai membaca karya Haruki Murakami dari novel perdananya, Dengarlah Nyanyian Angin. Sebab mayoritas pembaca menganggap novel ini sebagai karya paling membosankan dari sang penulis legendaris Jepang itu, apalagi jika dibandingkan dengan karya-karya beliau selanjutnya. Tapi entah kenapa aku malah lebih tertarik untuk membaca novel tipis ini lebih dulu. (Nah, mungkin itulah alasan paling prinsipiel: novel tipis)


Judul : Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : KPG
Tahun terbit : April 2018
Cetakan : Pertama
Tebal : 119 hlm
ISBN : 9786024244071


Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an. Dengan ringan, Haruki Murakami berhasil menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memilki bayangan ideal tentang masa depan.

Novel pertama Murakami ini memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979.

Rabu, 19 Desember 2018

Film merupakan karya seni yang tidak mengenal batasan-batasan sosial karena dapat dibuat dan ditonton oleh semua kalangan, termasuk mahasiswa kampus. Pernahkah kita berpikir, apa yang dilakukan oleh bibit-bibit sineas muda pada saat mereka butuh tontonan, tetapi sulit menemukan film yang menarik untuk ditonton? Mungkin dengan kasual mereka menjawab, “Kami akan membuat film itu!” Keresahan-keresahan inilah yang mungkin muncul di benak sekumpulan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) ketika membentuk komunitas Videografi Unsri.


Rabu, 28 November 2018

Perkenalkan, Mark Manson ialah seorang pengusaha di Amerika dan bloger penuh waktu di blog pribadinya MarkManson.net. The Subtle Art of Not Giving a F*ck merupakan buku self improvement pertamanya yang sudah dialihbahasakan menjadi Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.


Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : Februari 2018 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 256 hlm 
ISBN : 9786024526986

"Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson—melalui blognya yang sangat populer—telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. Ia kini menuangkan buah pikirnya yang keren itu di dalam buku hebat ini.

“Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.” Manson menciptakan momen perbincangan yang serius dan mendalam, dibungkus dengan cerita-cerita yang menghibur dan “kekinian”, serta humor yang cadas. Buku ini merupakan tamparan di wajah yang menyegarkan untuk kita semua, supaya kita bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya."

Senin, 10 September 2018

"Imitation is the sincerest form of flattery." — Charles Caleb Colton
Dari dulu, aku selalu senang memanjakan mata dengan mengunjungi toko buku. Melihat buku-buku bersampul lucu, dengan desain yang artsy, membuatku ingin memboyong semua buku dari raknya. Nanti bukunya dibaca atau nggak, itu lain soal.

Keragaman tampilan sampul-sampul buku sekarang tentunya nggak lepas dari buah tangan para ilustrator dan desainer profesional di belakangnya. Kalau kamu sering membaca novel-novel karya penulis lokal belakangan ini, tentu sudah nggak asing lagi dengan nama-nama sekaliber sukutangan atau Orkha Creative. Kehadiran mereka adalah warna baru bagi jaket yang membungkus buku-buku.

Namun sayangnya, masih banyak desainer yang berpikir bahwa beberapa hasil desain bisa disebut desain sendiri jika mereka mengubah sebagian dari karya desainer lain. Colton menyebut tiruan sebagai pujian paling tulus, tapi rasanya mencuri identitas karya orang lain sudah beda kasus.

Aku sudah menulis perihal kemiripan sampul buku ini sejak tahun 2013, tapi sampai sekarang tampaknya industri penerbitan masih kurang sensitif dengan urusan beginian. Mau sampai kapan?

Baca juga:

Senin, 03 September 2018

Alkisah seorang guru yang mengajar tentang Mitologi Yunani di satu sekolah di San Antonia, California, juga senang bercerita kepada anaknya. Setelah bosan dengan cerita yang itu-itu saja, suatu hari sang anak menantang ayahnya untuk merekayasa kisah para dewa-dewi Yunani dengan pendekatan kehidupan masa kini. Itulah asal mula lahirnya novel-novel fantasi dari tangan seorang Russel Richard ‘Rick’ Riordan.

Anastasye Natanel ialah pembaca setia karya-karya "sang guru" tersebut. Jika Rick Riordan berhenti dari profesi guru lantaran ingin fokus menulis novel, Anastasye Natanel tak perlu menghentikan apa-apa sebab ia seorang ibu rumah tangga. Dengan bermodal kecintaan pada tanah kelahirannya di Sulawesi Utara dan terobsesi berat dengan Mitologi Minahasa, novel fantasi berjudul Seira & Tongkat Lumimuut ini pun lahir. 


Judul : Seira & Tongkat Lumimuut
Penulis : Anastasye Natanel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Juli 2018
Cetakan : Pertama
Tebal : 244 hlm
ISBN : 9786020387673

Begitu sembuh dari sakitnya, Seira merasakan perubahan pada dirinya. Dia mendapati ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak bertemu perempuan aneh dalam mimpinya.

Menjadi sehat secara mendadak dan kemunculan orang-orang asing di sekitarnya menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya: pertama, dua anak kembar di kampusnya, Mikaela dan Manasye, yang tiba-tiba menjadi sahabatnya; kedua, Siow Kurur, laki-laki tampan yang mengaku sebagai pelindungnya; ketiga, kumpulan orang yang mengenakan pakaian ala penari Kabasaran yang datang memburunya.

Bukan hanya itu, Papa juga tampak bersikap aneh. Bahkan Giddy, teman kecil Seira yang ia kenal luar-dalam, rupanya menyembunyikan rahasia besar darinya.

Hidup Seira telah berubah, ia bukan lagi manusia biasa.

Senin, 27 Agustus 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Spanyol, Lebanon, dan Indonesia.


Timecrimes (2007)

Film berbahasa Spanyol dengan judul asli Los Cronocrímenes, dibuka dengan adegan sepasang suami-istri yang baru saja pindah ke rumah baru. Pada suatu sore, saat Hector (Karra Elejalde) sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan di belakang rumahnya lewat teropong, ia melihat penampakan seorang perempuan di dalam hutan. Ketika sosok perempuan itu tampak perlahan-lahan melepas bajunya, Hector makin penasaran. Ia berniat masuk ke hutan untuk menemui perempuan tersebut.
Setibanya di hutan, Hector mendapati perempuan itu sudah tergeletak pingsan dalam kondisi tanpa busana. Saat ia hendak mendekat, tiba-tiba ada yang menusuk tangannya dari belakang. Diketahui kemudian, pelakunya ialah sosok misterius yang wajahnya dibalut perban berwarna merah muda.
Dalam debut film panjang pertamanya ini, Nacho Vigalondo berhasil membuat film thriller bertema time-travel dengan set yang sederhana, tapi tidak dengan naskah ceritanya. Walaupun motif tokoh Hector masuk ke dalam mesin waktu setelah aksi kejar-kejaran sebetulnya agak absurd, lamun yang terjadi di babak berikutnya jelas sangat mind-blowing.
Timecrimes tak perlu narasi serumit Predestination (2014) untuk membuat pikiran penonton kusut. Hanya dengan ide mengulang waktu sekian jam ke belakang, konflik film ini bisa jadi begitu kompleks.
Timecrimes lebih seperti film independen yang jarang disebut dalam daftar film-film terbaik bertema perjalanan waktu karena tak diperankan oleh aktor dan aktris ternama, padahal film ini sangat layak mendapat atensi lebih.