Kamis, 28 Juli 2016

Berburu Pokemon di Palembang? Tandai Lokasi Pokestops Ini!

Akhir-akhir ini, dunia sedang dihebohkan oleh permainan video game berbasis augmented reality, teknologi yang menggabungkan objek virtual dengan dunia nyata. Tentu saja kita nggak sedang membicarakan Tetris, melainkan Pokemon Go, permainan untuk perangkat mobile yang dikembangkan oleh Nintendo dan Niantic. Terlepas dari fenomena dan kontroversi yang banyak diberitakan, aplikasi Pokemon Go seolah mimpi yang jadi kenyataan bagi Generasi Y (kita yang lahir tahun 1981-1994), tentu saja karena serial anime yang identik dengan Pikachu ini adalah konsumsi kita semasa kecil dulu. Secara nggak langsung, kita sudah tumbuh bersama monster-monster unik itu.

Bagi pemain Pokemon Go atau biasa disebut Pokemon Trainer, pastilah mengenal istilah Pokestop, yaitu sebuah tempat khusus yang digunakan untuk memperoleh items dalam permainan seperti Pokeball (alat berbentuk bola merah-putih untuk menangkap pokemon), Egg (telur yang bisa menetaskan pokemon), atau Razz Berry (buah yang bisa jadi semacam bius untuk menangkap pokemon liar), dll.. Di dalam peta, Pokestop ditandai dengan penampakan kotak berwarna biru. 

Pokestops yang sudah disinggahi akan berubah warna menjadi ungu (gambar diambil dari sini)

Nah, bagi Pokemon Trainer yang berdomisili di sekitar Palembang mungkin ada yang bertanya-tanya di mana saja letak Pokestop strategis untuk berburu Pokemon, silakan simak ulasan berikut untuk memudahkan kamu melacak keberadaan para monster!

Selasa, 05 Juli 2016

Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' #5

Ada ide yang dikembangkan, ditiru sebagian, bahkan dijiplak habis-habisan. Kita termasuk golongan yang mana?

Mari kita kesampingkan dulu soal plagiarisme. Ada term lain yang sering disebut, yaitu epigonisme, berasal dari kata epigon. Di KBBI, epigon berarti orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Kata sepadan pengganti epigon adalah peniru atau pengekor. Tapi, nggak selamanya epigon itu buruk. Setiap orang pasti ada tendensi untuk menjadi epigon, mungkin yang membedakan adalah tingkatannya. Mirip-miriplah dengan tingkatan kasih, cinta, dan sayang. Syelele~

Kalau kata Sapardi Djoko Damono, dalam sastra bandingan ada 3 hal rambu-rambu yang perlu dicermati, yaitu (1) asli, (2) pinjaman, dan (3) tradisi. Asli di sini juga sering disebut orisinal. Istilah pinjaman bisa diartikan sebagai serapan. Namun, seniman sebaiknya jangan cuma jadi epigon, tapi juga membangun tradisi baru. Walaupun sebenarnya tradisi baru juga sulit untuk dimulai karena pada dasarnya kita nggak bisa nihil dari karya orang lain. 

Jadi, baru-baru ini aku dapat bahan untuk melanjutkan serial pos "sampul buku yang mirip" lagi. Kayaknya bahasan ini nggak bakal habis selama masih ada kasus serupa atau kalau masih ada kecenderungan untuk mempraktikkan cocoklogi(?)

Selasa, 31 Mei 2016

Budaya Ikut-ikutan Biar Kekinian

Kalau ditanya apa kebutuhan hidup sebagai penunjang penampilan, jawaban yang ada di daftar teratas adalah pakaian. Tentang bagaimana cara berpakaian, itu menyangkut gaya hidup. Dan, gaya hidup idealnya berbeda-beda seiring dengan kemauan, kemampuan, kebutuhan, status sosial, daya beli, dll.

Sebenarnya aku nggak terlalu perlu menulis ini, tapi makin hari situasinya makin urgensi.

Jadi, berhari-hari melewati legi, pahing, pon, wage, kliwon, balik legi lagi... setiap bepergian ke luar rumah, aku menemukan hampir 60% penduduk bumi kompak memakai kaus bertuliskan "My Trip My Adventure". Di mal, ada. Di warung makan, ada. Di pasar, banyak. Sampai-sampai di masjid, popularitas baju koko nyaris terenggut gara-gara demam baju My Trip My Adventure ini.
Penyebab demam My Trip My Adventure disinyalir karena sedang digandrunginya sebuah program televisi berjudul sama. Acara petualangan yang mengenalkan destinasi wisata dan menjual keindahan panorama di pelosok Indonesia. Belum lagi dipandu oleh host rupawan yang rata-rata berbadan six pack, tentulah membuat acara ini banyak diminati dan meraih rating tinggi.

Senin, 25 April 2016

[Review] Blogging: Have Fun and Get The Money — Carolina Ratri

Berapa banyak blogger muda yang bikin blog karena terpengaruh oleh kesuksesan Raditya Dika dengan Kambing Jantan-nya? Kurasa banyak sekali. Termasuk... aku.

Tapi, jauh sebelum baca buku Radith yang konon jadi kiblat banyak anak muda untuk menulis online diary itu, aku sudah mengenal istilah blog (berasal dari web log) sejak SMP, setelah membaca sebuah artikel di Kuntum; majalah pelajar yang dulu jadi langganan almarhum kakek di Lampung.

Dari sanalah timbul keinginan untuk bikin blog biar kalau ada yang nanya, "Punya blog?" bisa dengan bangga menjawab, "Punya dong." Walaupun akhirnya baru terealisasi saat sudah kuliah dan sesaat setelah baca Kambing Jantan. Dengan gaptek dan modal sewa warnet dua jam.

Omong-omong soal blog... Baru-baru ini, aku habis membaca buku berjudul Blogging: Have Fun and Get The Money karya Carolina Ratri, lalu kemudian merasa menyesal. Kenapa buku semacam ini nggak terbit dari dulu pas awal-awal aku ngeblog!



Judul : Blogging: Have Fun and Get The Money
Penulis : Carolina Ratri
Penerbit : Stiletto Book
Tahun terbit : Desember 2015
Cetakan : pertama
Tebal : 245 hlm
ISBN : 9786027572447


Bagi seorang blogger, mempunyai blog yang mendatangkan pemasukan pasti jadi cita-cita. Sedangkan bagi brand, blogger semakin diperhitungkan untuk menjadi partner dalam strategi marketing mereka melalui kerja sama job review. Namun, untuk sampai ke tahap itu, kita perlu membekali diri dengan keterampilan yang cukup. Buku ini membahas berbagai tip, seperti:

- Menentukan tema blog
- Mencari ide tulisan
- Mempelajari teknik menulis yang baik
- Mempercantik tampilan blog
- Cara mendapatkan job review
- Cara kerja Google Adsense
- Memopulerkan blog dengan SEO dan media sosial
- Sampai, profil para blogger senior

Pada akhirnya, akan banyak yang bisa kita dapatkan dari blog. Tak hanya untuk bersenang-senang dan dapat uang, tapi juga jejaring, serta personal branding.

Selasa, 12 April 2016

Cerita yang Belum Selesai

Sama seperti kota lain, Jogja kadang bisa menjelma kota dengan kelembapan udara rendah. Sehingga berjalan ke luar rumah untuk membeli permen di minimarket saja, akan membuat seseorang seakan terlihat baru saja selesai sauna. Mungkin itu terjadi karena posisi matahari tegak lurus di atas pulau Jawa, sehingga matahari yang diterima di permukaan lebih banyak. Tapi apa pun alasannya, aku suka karena waktu itu untuk pertama kalinya Sheila punya alasan datang ke kamar kontrakanku.
“Kamu masih simpan file makalah tugas dari Pak Nanto?” tanya Sheila lewat telepon siang itu. Kalau diingat-ingat, ini adalah telepon kedua darinya. Yang pertama dulu, katanya salah sambung.
“Masih. Nggg, tapi aku nggak bisa kirim e-mail nih.”
“Kontrakanmu dekat kampus, kan? Aku samperin aja deh, sekalian numpang ngadem.”
Dan, di sanalah mulanya.