Rabu, 28 November 2018

Perkenalkan, Mark Manson ialah seorang pengusaha di Amerika dan bloger penuh waktu di blog pribadinya MarkManson.net. The Subtle Art of Not Giving a F*ck merupakan buku self improvement pertamanya yang sudah dialihbahasakan menjadi Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.


Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : Februari 2018 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 256 hlm 
ISBN : 9786024526986

"Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson—melalui blognya yang sangat populer—telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. Ia kini menuangkan buah pikirnya yang keren itu di dalam buku hebat ini.

“Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.” Manson menciptakan momen perbincangan yang serius dan mendalam, dibungkus dengan cerita-cerita yang menghibur dan “kekinian”, serta humor yang cadas. Buku ini merupakan tamparan di wajah yang menyegarkan untuk kita semua, supaya kita bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya."

Senin, 10 September 2018

"Imitation is the sincerest form of flattery." — Charles Caleb Colton
Dari dulu, aku selalu senang memanjakan mata dengan mengunjungi toko buku. Melihat buku-buku bersampul lucu, dengan desain yang artsy, membuatku ingin memboyong semua buku dari raknya. Nanti bukunya dibaca atau nggak, itu lain soal.

Keragaman tampilan sampul-sampul buku sekarang tentunya nggak lepas dari buah tangan para ilustrator dan desainer profesional di belakangnya. Kalau kamu sering membaca novel-novel karya penulis lokal belakangan ini, tentu sudah nggak asing lagi dengan nama-nama sekaliber sukutangan atau Orkha Creative. Kehadiran mereka adalah warna baru bagi jaket yang membungkus buku-buku.

Namun sayangnya, masih banyak desainer yang berpikir bahwa beberapa hasil desain bisa disebut desain sendiri jika mereka mengubah sebagian dari karya desainer lain. Colton menyebut tiruan sebagai pujian paling tulus, tapi rasanya mencuri identitas karya orang lain sudah beda kasus.

Aku sudah menulis perihal kemiripan sampul buku ini sejak tahun 2013, tapi sampai sekarang tampaknya industri penerbitan masih kurang sensitif dengan urusan beginian. Mau sampai kapan?

Baca juga:

Senin, 03 September 2018

Alkisah seorang guru yang mengajar tentang Mitologi Yunani di satu sekolah di San Antonia, California, juga senang bercerita kepada anaknya. Setelah bosan dengan cerita yang itu-itu saja, suatu hari sang anak menantang ayahnya untuk merekayasa kisah para dewa-dewi Yunani dengan pendekatan kehidupan masa kini. Itulah asal mula lahirnya novel-novel fantasi dari tangan seorang Russel Richard ‘Rick’ Riordan.

Anastasye Natanel ialah pembaca setia karya-karya "sang guru" tersebut. Jika Rick Riordan berhenti dari profesi guru lantaran ingin fokus menulis novel, Anastasye Natanel tak perlu menghentikan apa-apa sebab ia seorang ibu rumah tangga. Dengan bermodal kecintaan pada tanah kelahirannya di Sulawesi Utara dan terobsesi berat dengan Mitologi Minahasa, novel fantasi berjudul Seira & Tongkat Lumimuut ini pun lahir. 


Judul : Seira & Tongkat Lumimuut
Penulis : Anastasye Natanel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Juli 2018
Cetakan : Pertama
Tebal : 244 hlm
ISBN : 9786020387673

Begitu sembuh dari sakitnya, Seira merasakan perubahan pada dirinya. Dia mendapati ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak bertemu perempuan aneh dalam mimpinya.

Menjadi sehat secara mendadak dan kemunculan orang-orang asing di sekitarnya menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya: pertama, dua anak kembar di kampusnya, Mikaela dan Manasye, yang tiba-tiba menjadi sahabatnya; kedua, Siow Kurur, laki-laki tampan yang mengaku sebagai pelindungnya; ketiga, kumpulan orang yang mengenakan pakaian ala penari Kabasaran yang datang memburunya.

Bukan hanya itu, Papa juga tampak bersikap aneh. Bahkan Giddy, teman kecil Seira yang ia kenal luar-dalam, rupanya menyembunyikan rahasia besar darinya.

Hidup Seira telah berubah, ia bukan lagi manusia biasa.

Senin, 27 Agustus 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Spanyol, Lebanon, dan Indonesia.


Timecrimes (2007)

Film berbahasa Spanyol dengan judul asli Los Cronocrímenes, dibuka dengan adegan sepasang suami-istri yang baru saja pindah ke rumah baru. Pada suatu sore, saat Hector (Karra Elejalde) sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan di belakang rumahnya lewat teropong, ia melihat penampakan seorang perempuan di dalam hutan. Ketika sosok perempuan itu tampak perlahan-lahan melepas bajunya, Hector makin penasaran. Ia berniat masuk ke hutan untuk menemui perempuan tersebut.
Setibanya di hutan, Hector mendapati perempuan itu sudah tergeletak pingsan dalam kondisi tanpa busana. Saat ia hendak mendekat, tiba-tiba ada yang menusuk tangannya dari belakang. Diketahui kemudian, pelakunya ialah sosok misterius yang wajahnya dibalut perban berwarna merah muda.
Dalam debut film panjang pertamanya ini, Nacho Vigalondo berhasil membuat film thriller bertema time-travel dengan set yang sederhana, tapi tidak dengan naskah ceritanya. Walaupun motif tokoh Hector masuk ke dalam mesin waktu setelah aksi kejar-kejaran sebetulnya agak absurd, lamun yang terjadi di babak berikutnya jelas sangat mind-blowing.
Timecrimes tak perlu narasi serumit Predestination (2014) untuk membuat pikiran penonton kusut. Hanya dengan ide mengulang waktu sekian jam ke belakang, konflik film ini bisa jadi begitu kompleks.
Timecrimes lebih seperti film independen yang jarang disebut dalam daftar film-film terbaik bertema perjalanan waktu karena tak diperankan oleh aktor dan aktris ternama, padahal film ini sangat layak mendapat atensi lebih.

Selasa, 07 Agustus 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Prancis, Jepang, dan Malaysia.


Genre: Action, Comedy, Crime
MICMACS (2009)

Seorang pria bernama Bazil (Dany Boon) mengalami dua insiden merugikan dalam hidupnya. Saat masih kecil, ayahnya meninggal akibat menginjak ranjau darat. Ketika Bazil dewasa, sebuah peluru nyasar mengenai kepalanya, dan membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Saat kondisinya pulih (dengan peluru masih bersarang di kepala), ia berencana untuk membalas dendam terhadap dua perusahaan amunisi, dengan dibantu oleh sekelompok pengungsi yang tinggal di rumah 'rongsokan'.
Di tangan sutradara lain, mungkin film ini akan berakhir sebagai film aksi balas dendam tipikal John Wick (2014). Namun, Jean-Pierre Jeunet tampaknya lebih senang mengambil sudut pandang lain. Senjata adalah tema mayor film ini, tapi di sini Bazil, dkk. justru melakukan aksi balas dendam tanpa menggunakan senjata—secara harfiah. Cara mereka menginvasi target musuh pun rasanya tak kalah cerdas dengan aksi rombongan Danny Ocean di Ocean's Eleven (2001).
Sebelumnya, Jeunet sudah lebih dulu menampilkan gambar-gambar cantik di filmnya seperti Amelié (2001) dan A Very Long Engagement (2004). Dalam teknis sinematografi, Micmacs pun tak mau kalah. Film ini tetap punya visual genial yang memanjakan mata.
Micmacs bukan hanya sekadar film action-crime yang ingin menyindir industri senjata nan korup, tapi juga jadi film komedi level tinggi kendati mengusung lawakan slapstick. Salah satu film Prancis yang underrated!

Selasa, 31 Juli 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Afganistan, Irlandia, dan Korea Selatan.


Genre: Drama, War
THE PATIENCE STONE (2012)

Lebih dari setengah durasi film ini hanya mempertontonkan adegan solilokui seorang istri yang 'curhat' kepada suaminya yang sedang koma. Bisa dibilang adegan tersebut adalah representasi dari judul filmnya sendiri, The Patience Stone, yang juga merupakan alegori dari batu kesabaran (syngué sabour)—batu hitam bertuah dalam legenda Persia yang diceritakan bisa menyerap penderitaan bagaikan spons.

Film produksi Iran-Perancis ini seolah ingin menyuarakan pemikiran-pemikiran perempuan yang ingin menggugat dan mempertanyakan banyak hal, diwakili oleh seorang perempuan-tanpa-nama yang terjebak dalam konflik perang di Afganistan.
Walaupun hanya didominasi obrolan satu arah, tapi penonton akan menangkap banyak sekali protes budaya dan sosial yang ingin disampaikan lewat film ini. Mulai dari isu-isu ketidakadilan yang diterima oleh perempuan di tengah masyarakat patriarki, hingga pikiran-pikiran terliar yang selama ini disimpan rapat-rapat di balik burka yang mereka kenakan.
Atiq Rahimi tahu betul pesan apa yang ingin disampaikan lewat film ini karena ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulisnya sendiri.
Kalau kamu berpikiran terbuka dengan tontonan yang menyinggung isu feminisme, film ini jelas cocok untukmu!

Sabtu, 28 Juli 2018

Berbeda dengan Haris Firmansyah yang beli motor kreditan karena dijebak orang tua, dulu aku beli motor biar nggak tepar tiap pulang kerja.

Sebelum memutuskan ganti motor baru, sebetulnya aku sudah cukup puas punya motor gede tipe sport yang berpotensi dilirik cewek sambil teriak, "Bonceng aku, Mas!" Namun, pada akhirnya aku sadar dua hal. Pertama, ternyata motor gede agak percuma kalau tampang empunya nggak bikin pede. Kedua, pakai motor kopling itu melelahkan, Jenderal!

Bagaimana nggak, motor kopling mengharuskan tangan kita standby mengatur perpindahan gigi persneling untuk mengatur kecepatan. Jadi, tentu saja motor kopling dan kondisi jalan macet bukan kombinasi yang bagus. Sebab semakin macet jalan, makin pegal pula tangan. Rasa-rasanya, motor kopling kurang ramah untuk dipakai di jalanan macet ke kantorku yang jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan dari Palembang.

Setelah mempertimbangkan kalau badan remuk tiap pulang kerja bukanlah ide brilian, aku mulai kepikiran untuk beli motor matik, biar simpel dan nggak rempong oper gigi apalagi main kopling. Pilihan matik pertamaku jatuh ke Yamaha X-Ride keluran tahun 2015.

Yamaha X-Ride - Orange Black - 2015

Senin, 23 Juli 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari India, Thailand, dan USA.

Genre: Drama
UDAAN (2010)

Dalam satu dekade terakhir, banyak sekali film produksi India yang menarik. Udaan mungkin tidak sepopuler 3 Idiots (2009), Taare Zameen Par (2007), atau Bajrangi Bhaijaan (2015); tapi selain kualitasnya bagus, rasanya ini termasuk jenis film bollywood yang langka dan sayang jika dilewatkan.
Bercerita tentang Rohan Singh (Rajat Barmecha), siswa di sekolah asrama yang di-drop out karena ketahuan menonton film 'dewasa' bersama ketiga temannya. Dengan terpaksa, Rohan dipulangkan ke rumah, dan bertemu lagi dengan ayahnya yang sudah tak ia temui selama bertahun-tahun.
Sesampainya di rumah, Rohan harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tetaplah orang yang sama yang mengirimnya ke sekolah asrama delapan tahun lalu. Sosok ayah yang sangat otoriter, keras, dan temperamental. Hanya dua hal yang berubah, yaitu fakta bahwa ayahnya sudah menikah lagi—walau kemudian gagal—dan ada anak berumur 6 tahun yang kini menempati kamar tidurnya.
Udaan adalah film yang sederhana, penuh makna, dan relatable karena sering terjadi di sekeliling kita. Ada begitu banyak anak yang mengubur impiannya karena terhalang idealisme orang tua, seperti yang dialami Rohan ketika ayahnya menolak keras passion-nya sebagai penulis.
Dengan cerita yang intens, film debut Vikramaditya Motwane ini bahkan membuat kita lupa kalau tidak ada pemeran utama perempuan di dalamnya. Sebagai drama coming of age, film ini penuh ironi, tapi sangat realistis.