Minggu, 30 Juni 2019

Akhir pekan ini, Palembang menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan event MAXI DAY 2019. Event ini digelar untuk memperingati ulang tahun ketiga rilisnya skutik Maxi Series milik Yamaha, yaitu NMAX, XMAX, LEXI, Aerox, dan TMAX. Perayaan yang berlangsung di Benteng Kuto Besak, Palembang pada tanggal 29 Juni 2019 ini juga merupakan bagian dari rangkaian MAXI DAY 2019 yang dibuka di Cibinong, Jawa Barat pada April lalu. 

Ada banyak keseruan pada saat penyelenggaraan event tahunan ini, mulai dari promo spesial yang memungkinkan kita membeli salah satu produk Maxi Series dengan harga relatif murah daripada biasanya, kesempatan mendapat servis motor dan oli gratis, mengikuti test ride berhadiah, menonton kontes modifikasi dan rolling city (komunitas Maxi Series konvoi keliling Palembang). Selain itu, kita juga bisa ikut cek darah gratis dan selfie contest, seseruan di game station, serta menyaksikan band perform dan DJ perform.


Acara tersebut dimulai Sabtu pagi pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 22.00 WIB. Nah, pada pukul 13.00 WIB kebetulan aku dan rekan-rekan Bloger Palembang Kumpul berkesempatan mengikuti demo di salah satu booth yang meramaikan event MAXI DAY 2019, lalu kami dikenalkan dengan salah satu produk Maxi Series andalan terbaru dari Yamaha. Coba tebak apa, guys? 

Senin, 06 Mei 2019

Bisa dibilang Palembang merupakan kota kedua tempat tinggalku. Sejak kuliah, hingga akhirnya bekerja di kota ini, Palembang sudah jadi bagian dari perjalanan hidupku. Melihat perkembangan Palembang dari dulu hingga sekarang selama beberapa tahun, sama sekali nggak bisa dipandang sebelah mata. Coba saja LRT yang membelah jalanan kota, belum lagi bangunan tinggi yang semakin menjamur, Palembang telah berubah menjadi sebuah kota yang besar. 

Sejak dipindah tugaskan ke kota ini, satu hal yang aku selalu kupikirkan adalah kendaraan. Kenapa ini penting? Karena dengan pesatnya perkembangan kota Palembang, efeknya jumlah kendaraan semakin bertambah, jalanan pun kian ramai. Dengan begitu, adanya kendaraan yang pas buat dipakai sehari-hari di jalanan Palembang dengan nyaman otomatis jadi prioritas. Dua motor yang menarik perhatianku saat ini yaitu Honda Vario dan Yamaha FreeGo. Namun, karena bingung memilih, mari kita adu rayu!


Minggu, 07 April 2019


Today’s creative inspiration comes from Grant Snider's book!⁣


Judul :  The Shape of Ideas (Bebaskan Imajinasimu!)
Penulis : Grant Snider
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 146 hlm
ISBN : 978-602-06-2254-5

Seperti apa sih bentuk ide? Dari mana datangnya? Melalui ilustrasinya, Grant Snider mengajak kita ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus menginspirasi kita untuk memiliki jawabannya sendiri. Kumpulan komik ini menyingkap rasa girang dan frustasi yang menyertai kreativitas, saat mencari inspirasi, maupun dalam proses kreatif itu sendiri. Cocok bagi siapa pun-profesional di bidang kreatif, pelajar, juga para pemimpi di siang bolong.

Selasa, 26 Maret 2019

Menjawab kebutuhan konsumen, Suzuki sebagai salah satu backbone transportasi di Indonesia menghadirkan berbagai perubahan untuk lini produk terbarunya di kelas MPV (Multi Purpose Vehicle). Berbeda dengan produk All New Ertiga yang dikenalkan lebih dulu pada tahun 2018, kali ini varian terbarunya memiliki DNA sendiri, yakni All New Ertiga Suzuki Sport.

Kamis, 28 Februari 2019

Tidak sedikit orang yang menyarankan bahwa sebaiknya tidak memulai membaca karya Haruki Murakami dari novel perdananya, Dengarlah Nyanyian Angin. Sebab mayoritas pembaca menganggap novel ini sebagai karya paling membosankan dari sang penulis legendaris Jepang itu, apalagi jika dibandingkan dengan karya-karya beliau selanjutnya. Tapi entah kenapa aku malah lebih tertarik untuk membaca novel tipis ini lebih dulu. (Nah, mungkin itulah alasan paling prinsipiel: novel tipis)


Judul : Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : KPG
Tahun terbit : April 2018
Cetakan : Pertama
Tebal : 119 hlm
ISBN : 9786024244071


Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an. Dengan ringan, Haruki Murakami berhasil menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memilki bayangan ideal tentang masa depan.

Novel pertama Murakami ini memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979.

Rabu, 19 Desember 2018

Film merupakan karya seni yang tidak mengenal batasan-batasan sosial karena dapat dibuat dan ditonton oleh semua kalangan, termasuk mahasiswa kampus. Pernahkah kita berpikir, apa yang dilakukan oleh bibit-bibit sineas muda pada saat mereka butuh tontonan, tetapi sulit menemukan film yang menarik untuk ditonton? Mungkin dengan kasual mereka menjawab, “Kami akan membuat film itu!” Keresahan-keresahan inilah yang mungkin muncul di benak sekumpulan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) ketika membentuk komunitas Videografi Unsri.


Rabu, 28 November 2018

Perkenalkan, Mark Manson ialah seorang pengusaha di Amerika dan bloger penuh waktu di blog pribadinya MarkManson.net. The Subtle Art of Not Giving a F*ck merupakan buku self improvement pertamanya yang sudah dialihbahasakan menjadi Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.


Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : Februari 2018 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 256 hlm 
ISBN : 9786024526986

"Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson—melalui blognya yang sangat populer—telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. Ia kini menuangkan buah pikirnya yang keren itu di dalam buku hebat ini.

“Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.” Manson menciptakan momen perbincangan yang serius dan mendalam, dibungkus dengan cerita-cerita yang menghibur dan “kekinian”, serta humor yang cadas. Buku ini merupakan tamparan di wajah yang menyegarkan untuk kita semua, supaya kita bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya."

Senin, 10 September 2018

"Imitation is the sincerest form of flattery." — Charles Caleb Colton
Dari dulu, aku selalu senang memanjakan mata dengan mengunjungi toko buku. Melihat buku-buku bersampul lucu, dengan desain yang artsy, membuatku ingin memboyong semua buku dari raknya. Nanti bukunya dibaca atau nggak, itu lain soal.

Keragaman tampilan sampul-sampul buku sekarang tentunya nggak lepas dari buah tangan para ilustrator dan desainer profesional di belakangnya. Kalau kamu sering membaca novel-novel karya penulis lokal belakangan ini, tentu sudah nggak asing lagi dengan nama-nama sekaliber sukutangan atau Orkha Creative. Kehadiran mereka adalah warna baru bagi jaket yang membungkus buku-buku.

Namun sayangnya, masih banyak desainer yang berpikir bahwa beberapa hasil desain bisa disebut desain sendiri jika mereka mengubah sebagian dari karya desainer lain. Colton menyebut tiruan sebagai pujian paling tulus, tapi rasanya mencuri identitas karya orang lain sudah beda kasus.

Aku sudah menulis perihal kemiripan sampul buku ini sejak tahun 2013, tapi sampai sekarang tampaknya industri penerbitan masih kurang sensitif dengan urusan beginian. Mau sampai kapan?

Baca juga: