Gender is danger

Pernah denger istilah gender?. Jangan dulu mendefinisikan istilah ini mirip benda yang terbuat dari plastik trus dipake buat nampung air, karna gender bukanlah ember. Gender itu perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Untuk yang satu ini gua paham betul. Gua gak perlu dikasih tau cara membedakan antara wanita dan perempuan.. eh, maksud gua laki-laki dan pejantan.. eh, salah lagi.. cowok dan cewek (kali ini gua haraf benar).

Gua jadi inget tebak-tebakan temen gua waktu SMA. "Gimana ngebedain ikan cowok sama ikan cewek?", tanya temen gua. "Ikan cewek punya tetek, ikan cowok punya jakun", jawab gua serius. ""Ikan cewek pake rok, ikan cowok rambutmya mohawk", jawab temen gua yang laen. "Salah. Nyerah? cara ngebedainnya, liat aja cara si ikan pipis. hehehe". Kami yang ngedenger garuk-garuk kepala berbarengan. Gak lama, gua garuk-garuk pantat setelah sadar yang gatel itu pantat gua. Swear, demi apapun gua belom pernah ngeliat ikan pipis jongkok, apalagi pipis berdiri. Terakhir gua pernah ngeliat ikan ngambang di kloset.

Ehm (gua berdehem). Oke, kembali ke pokok permasalahan. Waktu SMP, pertama gua mengenal istilah gender. Kata guru gua, gender itu persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Ya, persamaan. Dan dengan polosnya gua terobsesi menerapkan si gender dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, kehidupan sehari-hari. Dan sejak itu pula jadilah gua penganut genderisme (emang ada gitu?).

Mengingat persamaan tadi, gua jadi sering memperlakukan temen cewek gua mirip cara gua memperlakukan temen cowok. Contoh kecil, gua ngajakin temen cewek main gundu pas jam istirahat sekolah, mereka ngajakin gua main barbie pas pulang sekolah (mutualisme, bukan?). Contoh besar, hiduplah seorang cowok bernama Husnahwati, gua biasa memanggilnya Wati. Atau kalo dikemudian hari gua menemukan dia lagi ngorek-ngorek sampah, gua bakal manggil dia, Hush! Hush! (sebuah panggilan yang mengundang respon gua-mutilasi-juga-lo-pake-garpu). Gua dengan Wati sekelas di 7D, dia hobi banget ngejodoh-jodohin gua sama anak 7B, namanya Sri. Gua gak suka dijodoh-jodohin (emang gua gak laku gitu?). Gua bales ngejodoh-jodohin dia sama temen gua, Beni. Suatu hari, pas jam istirahat sekolah, gua ngeliat bukunya Wati tergeletak di mejanya. Gua bolak-balik itu buku, sampe pada halaman paling belakang gua menemukan tulisan:

BIODATA
Nama : Husnahwati
TTL : Sukaraja, 10 Mei 1992
Hobi : Membaca buku
Cita-cita : Ingin jadi dokter . . . , dst.

Ahaaaa, (keisengan gua muncul). Tanpa mewaspadai kelangsungan hidup gua kedepannya, gua ganti biodatanya jadi gini:

BIODATA
Nama : Husnahwati
TTL : Sukabeni, 10 Mei 1992
Hobi : Membaca beni
Cita-cita : Ingin jadi beni . . . , dst.

Teeeng.. bel tanda masuk bunyi (gua sulit membedakan mana bunyi bel dan mana bunyi lonceng).
Wati masuk kelas dan menemukan bukunya gak lagi pada posisi semula. Wati memeriksa bukunya. Gua cengengesan, Wati mendidih. Tiba-tiba, Wati menyobek bukunya menjadi beberapa bagian. Dan saat menyadari yang men-sabotase bukunya adalah gua, dia memaki-maki gua habis-habisan dan berujung pada tatapan lo-gua-END. Sejak saat itu Wati ngejauhin gua (kami gak berjodoh). Sejak saat itu juga, gua ngelupain istilah gender, dan baru-baru ini gua coba search istilah gender di Google, ternyata eh ternyata, maknanya masih simpang siur gitu. Jadi gender itu apa sih? ahhh peduli setan.
Next
Previous
Click here for Comments

2 komentar:

avatar

awalny ngkaak habiisss ak do.

tp ending ny. >.<

avatar

endingnya.. pasti ngakaknya gak abis ya?
:')

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!