Home! Sweet Home!


Libur telah tiba, libur telah tiba. Hore, hore, hore.
Lagu Tasya ini cukup mewakili perasaan gua (ciyeee perasaan). Ya, minggu ini adalah minggu terakhir gua kuliah. Hah? Kok serasa kayak udah wisuda ya?. Gak, ini Cuma libur pasca UAS aja. Kalo di SMA, mirip libur kenaikan kelas gitu. Yes, gua naik kelas. Loh? Argh ribet amat sih ngomongnya bangke otak gua lagi error. Jadi intinya minggu ini terakhir gua kuliah (sebuah informasi yang gak memberi nilai tambah).
Menurut kabar yang gua himpun dari meja redaksi *bip*, liburan semester ini diperkirakan sekitar 2 bulan lamanya. Ini berarti, 7 bulan 10 hari lagi istri gua ngelahirin (eh, gak. Gua mah belom nikah). Wow! 2 bulan. Gua memprediksikan akan ada banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu tersebut: Anang-Ashanty akan berlibur ke Singapura tanpa kehadiran Aurel, Krisdayanti-Raul Lemos mulai menantikan kelahiran bayi hasil buah cinta mereka, dan sekumpulan reptil akan membuahi betinanya.

Bagi gua, liburan gak mesti diisi dengan jalan-jalan ke Bali, membuang-buang duit ke Trans studio Bandung. Gua cukup melepas semua rutinitas yang melelahkan itu di markas terbesar gua, Rumah (backsound: Rumah Kita – Indonesian Voices). Karna disinilah gua bisa melakukan banyak hal, mulai dari kumpul sama keluarga, makan-minum, ngurus kucing, makan kucing, nonton tipi nonstop, guling-guling-koprol-salto, dan yang pasti bisa ketemu temen-temen SMA gua.

Ngomongin temen SMA, kemaren gua sempet ketemu sama temen gua, Abas (19th, pengecer koran). FYI: Abas ini kuliah di Universitas yang sama dengan gua. Tapi, dua bulan terakhir gua denger kalo dia udah out alias stop kuliah. Pas ketemu, gua nanya, “Lo beneran udah stop kuliah?” “iya, udah hampir sebulan gua gak masuk” “Serius lo? Kok bisa?” “Gua ada masalah di kampus”. Abas mulai nyeritain alasan dia stop kuliah. Ternyata eh ternyata penyebabnya adalah dia udah matahin tangan temen sekelasnya dimana saat perkuliahan sedang berlangsung dan disana ada seorang mahluk bernama Dosen. Abas bertindak brutal gitu karna sering diejek dan digangguin temen-temennya, dan puncaknya dia sukses melumpuhkan organ tubuh seseorang. Tragisnya lagi, sang dosen yang melihat dengan mata-kacamatanya sendiri itu mengusir Abas dari dalam kelas disertai sebuah kalimat horror, “Saya pastikan nilai kamu E. KELUAR!” (terdengar mirip kutukan ibunya Malin Kundang). Abas meninggalkan kelas, kemudian pulang kampung, dan sekarang lagi ngobrol dengan gua. Runtuh pula akhirnya dinding pertahanan gua (serasa baca cerita-cerita seru episode Dinodai Paman Sendiri, atau Guru Syahwat, atau.. Dil Hai Tum Hare), gua terharu. Kami berpelukan, sambil sesekali berciuman (GAK LAH!).

Astaga-naga-lyla, secepat itukah seseorang bisa mengambil keputusan, secepat itukah nasib seseorang berubah. Yah, semoga dalam dua bulan kedepan gua bisa melakukan hal-hal yang baik-baik aja gituloh. Happy Holiday!
Next
Previous
Click here for Comments

1 komentar:

avatar

do, itu serius ceritanya? fakta gitu?
ih waw. secepat itu khayalan2 ttg masa depan terpaksa berubah :O

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!