Senin, 14 November 2011

Itu Inginku

Jarak membuat kita berpisah.
Waktu membuat kita sulit menyatu.
Tapi keyakinan membuat kita selalu bersama. Iya kan?

Di mana pun kita berada.
Sesunyi apapun hati ini, pertemuan pasti dinanti. Benar kan?

Seperti apapun wujud kita nanti, pertemuan itu akan bermakna.
Seharusnya… Itu inginku…

Kita selalu rutin berkirim teks sepanjang hari-hari sebelum kejadian itu. Hingga sampai pada malam dimana kita berdua saling menutup telepon, kita memperebutkan sesuatu yang bodoh dan menjadi teramat berantakan, itu hatiku.
Tak terhitung lagi seringnya Aku membiarkan mata ini basah ketika mendapati kita menutup telepon lebih sering, ini luka untukku.

Aku masih coba pertahankan asa, dan selalu akan, tapi aku tidak tahu mengapa kita berdebat dan darimana muara asalnya.
Coba tanyakan jarak? Mungkin ia tahu.
Ya, jaraklah yang membuat kita lengah dari rasa mempercaya.

Bukankah seharusnya Jarak antara dua hati bukan halangan, tapi sebagai pengingat yang indah bahwa kita sudah terlanjur terpaut hati?

Ketika Aku bergumul sepi, meluangkan waktu melihat ruang di antara jari-jariku, akan muncul ingatan bahwa pada ruang itu akan tiba saatnya Aku melihat jari-jari ini terkunci oleh lingkaran benda kecil dan jadi penghubung jarak kita yang besar.
Kembali... Bicarakan lagi...
Sebelum waktu... Menghapus namamu...

3 komentar:

  1. iya kah ini tentang sebuah kerinduan??...
    nice ^^

    BalasHapus
  2. Behhh..dalem banget nih :D

    BalasHapus
  3. Mbak Putri : iya! :))
    ini postingan edisi #NovemberMenulisBlog yang dibikin sama Kak dhea (@dheaadyta)
    kebetulan kemaren itu temanya "jarak" :')

    Uchank : iya dalem banget, sedalam lubang dihatikuh *eh? hahaha
    ini lagi belajar nulis fiksi, bosen juga kalo postingan becandaan mulu :p
    eniwei, suka suka blogmu deh ^^

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!