Minggu, 29 Juli 2012


Lihat langkahku
Tak lagi ku mengingat tentangmu
Tiada beban tersisa
Yang tertanam di jiwa
Rapuhkan cinta
Yang telah membeku


"Kalau bulan tersenyum, dia akan mirip kamu," celotehku.
"Baiklah, itu berarti..." Ia memepuk-nepukkan telunjuknya di pipi. "Wajahku bulat, pucat, dan hanya temarang di kegelapan. Terima kasih, itu adalah kalimat yang aku tunggu untuk membuat malam ini begitu istimewa."
Alisku beradu. "Pujian apa pun bakalan jelek, lah, kalau ditanggapi seperti itu."
"Kamu sedang memuji aku? Baiklah, anggap saja aku bodoh, tidak bisa membedakan mana pujian dan mana gombalan," balasnya dengan senyum tipis.
"Begitulah kamu. Kamu bahkan lupa caraku melucu. Aku sayang kamu, jelas?"
"Eh?" Ia menoleh sejenak, lalu membisu, mungkin berusaha menyembunyikan kekagetannya.
"Aku suka kamu, jauh sebelum kamu menganggap kita sahabat."
Ia bergeming, seolah menuli. Reaksi yang sederhana, namun cukup untuk merusak rencana besar yang kubangun sejak awal; memastikan rasa yang kusebut cinta.
Bukan tentang berapa detik mata ini mata ini terbius karena pesonamu, tapi tentang berapa detak yang jantung ini hasilkan saat berada di dekatmu. Selalu. Aku mengeja kalimat--yang sudah kusiapkan sejak sepuluh tahun yang lalu--itu dalam hati.
***