Sabtu, 06 Oktober 2012

Napas Terakhir Untuknya



Hari itu, aku lupa hari apa, yang aku ingat saat itu aku sedang berbicara dengan seorang wanita bersuara lembut di ujung telepon. Namanya Elina Hidayati. Wanita yang resmi kupanggil “ibu” sejak aku dilahirkan ke tempat kecil yang aku sebut bumi. Ya, bumi hanyalah tempat kecil, menurutku. Karena aku selalu berimajinasi bahwa Allah menciptakan tempat yang jauh lebih luas daripada bumi, aku menyebutnya surga. Apa benar surga lebih luas daripada bumi? Entahlah, mungkin ibu lebih tahu.
“Assalamu’alaikuum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Apa kabar, Do?”
“Alhamdulillah, sehat, Bu.”
“Minggu ini Rido mudik?”
“Belum tahu, soalnya masih banyak tugas kuliah.”
“Kalau bisa, mudik ya. Ibu lagi kurang sehat, sudah dua hari ini badan Ibu lemas.”
“Memangnya Ibu sakit apa?”
“Biasa, sesak napas Ibu lagi kambuh. Padahal sudah minum obat, tapi sampai sekarang belum membaik. Oh iya, ini Ayahmu mau ngomong….”
“Halo, Do.”
“Iya, Yah.”
“Minggu ini bisa mudik nggak?”
“Belum tahu, Yah. Lihat situasi dulu. Perasaan baru minggu kemarin aku mudik, masa disuruh mudik lagi?”
“Lah? Ini kan rumah kamu. Orangtua kamu tinggalnya di sini. Kok ngomong gitu?”
“Iya, iya, nanti diusahakan mudik.”
Kira-kira seperti itulah percakapan kami—aku, ibu, juga ayah—via telepon genggam. Intinya, aku disuruh mudik untuk menengok keadaan ibu. Entah kenapa ada yang sedikit mengganjal di pikiranku setelah percakapan itu. Kenapa seperti ada ‘panggilan khusus’ yang menyuruhku pulang ke rumah? Mungkin ini yang namanya firasat.


Jumat, 29 April 2011 (dalam waktu Ashar)
Aku sedang di dalam sebuah mobil, menuju kampung halaman, tanah kelahiran, rumah kediamanku dan keluarga sederhanaku. Baru seminggu yang lalu aku melewati jalan yang sama.
Dua desa lagi yang harus dilalui untuk sampai di desa tempat tinggalku. Ketika itu sedang hujan lebat. Hujan di bulan Mei mungkin dianggap sebagai berkah oleh penduduk desa sekitar sini, mengingat bulan ini identik sekali dengan musim kemarau.
Aku mengirim pesan kepada ibu, isinya adalah memberitahukan bahwa aku hampir sampai di rumah, dan menyuruhnya menyiapkan payung untukku. Namun, tidak berapa lama hujan sudah reda. Itu artinya aku sudah tak butuh payung. Mungkin karena itu, jadi aku tak melihat ibu di depan rumah membawakan payung untukku di tangannya.

Sabtu, 30 April 2011 (dalam waktu Isya’)
Sudah dua malam ini aku di rumah. Rumah pertamaku sebelum tinggal di sebuah kamar kontrakan di sekitar kampus tempatku kuliah. Aku lebih suka di sini, jelas. Di sini aku tidak sendiri. Ada ibu dan ayah di tempat ini. Ketiga saudara kandungku lainnya sama denganku, menuntut ilmu di daerah orang. Jika aku hanya butuh waktu 2 jam untuk mudik, maka mereka bertiga butuh sekian jam untuk pulang ke rumah. Itu salah satu alasan kenapa aku yang pertama disuruh pulang untuk menengok keadaan ibu di rumah ini.
Sesak napas ibu masih sering kambuh, seperti yang aku lihat sekarang. Entah sudah berapa jarum suntik yang masuk ke tubuhnya malam ini, aku tak sanggup untuk menghitung.
Ibu sudah berbaring di tempat tidur, posisiku ada di sebelahnya. Kami sama-sama belum terjaga. Di luar kamar, masih terdengar suara ayah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Kamu setiap minggu pulang saja ke rumah kalau nggak ada kegiatan kuliah,” kata ibu seraya mengusapkan tangannya di kepalaku, masih dalam posisi berbaring di tempat tidur.
“Iya, Bu.”
“Kenapa ya, sejak kemarin ibu takut sekali tidur malam. Ibu takut ibu nggak bisa bangun lagi kalau sudah tidur.”
Aku diam. Aku bingung kalimat apa yang pantas aku pakai untuk menjawab keluhan ibu. Ada hening yang panjang hingga akhirnya kami pun terlelap dalam mimpi masing-masing.

Minggu, 1 Mei 2011 (dalam waktu Subuh)
Aku dibangunkan paksa oleh suara-suara batuk yang berasal dari mulut ibu. Di samping kasur tempat tidur, tampak ayah sedang mengusap punggung ibu dengan minyak kayu putih. Kulihat tubuh ibu berkeringat, mungkin ia merasa gerah. Aku bantu mengelap keringatnya dan sesekali mengipaskan kain selimut ke badannya, bermaksud mengurangi penat yang ia keluhkan.
Ibu berupaya berdiri, masih dengan bantuan ayah. Ia sudah lelah berbaring dan duduk, katanya. Napasnya tidak teratur, tersengal-tersengal di antara suara rintik hujan di luar sana. Inhaler berwarna biru—teman setia ibu dalam melawan penyakitnya—pun sudah tidak mempan untuk membantunya bernapas.
Ibu hampir roboh dari tegaknya. Aku dan ayah memapah tubuhnya untuk dibaringkan di atas kasur. Embusan napasnya melemah. Mukanya yang sewaktu muda begitu cantik—kata ayah—kini tampak memutih pucat.
Ayah menyuruhku memanggil dan meminta bantuan kepada tetangga di dekat rumah. Hanya dua rumah yang aku datangi, melaporkan keadaan ibu ketika itu. Setelahnya, aku langsung kembali ke rumah.
Di dalam kamar kecil itu, kudapati tubuh ibu yang semakin melemah di dalam pangkuan ayah. Kali ini matanya setengah terpejam. Lalu matanya semakin redup, diiringi helaan napas yang semakin mengecil. Dan, tanpa permisi lagi, tanpa ada aba-aba, malaikat yang diutus Allah pun datang, mengabaikan aku dan ayah yang masih tafakur dalam kekakuan. Malaikat itu telah mengambil sosok ibu dari kehidupanku.
“Sekarang, kita ikhlaskan kepergian Ibu ya, Do,” kata ayah, mencoba menyembunyikan air mata di balik ketegarannya. Kualihkan pandanganku ke sosok yang tak lagi bernyawa di pangkuan ayah. Ibu telah lebih dulu menghadap-Nya.



3 komentar:

  1. Turut berduka cita Ya Do. Smg Almarhumah dapat tempat terbaik di sisiNya.

    BalasHapus
  2. allahummafirlaha warhamha waafiha wa'fuanha :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!