Senin, 26 November 2012

Akhir-akhir ini gue udah jarang banget curhat di blog. Entah kenapa gue jadi semacam takut kalo terlalu sering mengumbar-umbar cerita pribadi. Gue takut pengunjung blog gue jadi gak 'betah' nongkrong di blog ini kalo setiap harinya mereka disuguhi curhat-curhatan gak penting dari gue. Gak semua orang mau tahu tentang gue. Nobody's cares about my life, I see. Tapi, ya, itu... kalo gue gak curhat lewat tulisan, mungkin alternatif lain gue harus curhat ke Tuhan. *benerin peci*

Tapi, kalo dipikir-pikir, ini kan blog gue, jadi terserah gue dong mau nulis apa. HAHAHA!
Ya udah lah kalo gitu, gue mau curhat aja. Yang gak mau baca, silakan dengan senang hati menjauh dari blog ini dan silakan jadi fandom atau wota bersama abege-abege 'aduhai' di luar sana. *ditimpuk pake lightstick*

Jadi, hari ini gue iseng ngecek statistik blog gue yang menurut-kabar-angin pengunjungnya udah mencapai sekitar 12000-an. Gue gak tahu ada apa dengan blog ini. Postingan gue yang isinya 10% cerpen/tulisan fiksi, 10% pamer, 30% review buku, dan 50% isinya curhat gak jelas, kurang waras, dan gak baik dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur atau yang di bawah ketiak bapaknya. Tapi, gue berterima kasih pada kalian semua yang udah sudi mampir, apa pun alasannya. Entah itu gegara salah ketik URL, mau buka situs porno eh malah nyasar ke sini, atau mungkin karena ada bisikan ghaib yang maksa kalian buat berkunjung ke blog yang durjana ini, pokoknya tararengkiyu. Tanpa kalian gue bukan apa-apa. Kalian lah inspirasi gue untuk terus berkarya. Love you all, Smashblast!

Ini kenapa gue jadi kayak abis dapat award gini sih? -_-

Senin, 19 November 2012

Eva mengecek dompetnya. Hanya tersisa satu lembar lima puluh ribuan dan beberapa pecahan uang lebih kecil serta recehan. Masih cukup untuk makan sampai lusa. Tapi, ia perlu sekian lembar lagi besok, atau… ia akan mencari lagi lembar demi lembar besok dan besoknya lagi.

Rumah reyot di lingkungan kumuh, ranjang tempat tidur yang hampir ambruk, tetangga samping rumah yang acuh tak acuh, semuanya selalu berseliweran mengganggu pikiran Eva. Hanya rumah itu, dan semua ‘isi’ di dalamnya, itulah segalanya yang ia punya.

“Malam ini, aku harus memperoleh banyak uang. Agar besok, aku bisa pulang!”

Sekarang Eva sedang tidur di kamarnya. Kamar yang sudah dipesan para tamu Eva, lebih tepatnya. Malam ini ia telah sukses merayu dan mengundang mereka untuk masuk hotel. Ini mungkin lebih menguntungkan, pikirnya. Kalau ia kencan dengan anak ingusan, mungkin ia harus rela bergumul di kegelapan sudut taman.

Eva mendesah. Badannya sakit, namun tak dirasanya. Semua indra dan hatinya seolah mati, tapi tidak pikirannya. Eva tidak sedang mencari kesenangan. Maksudnya bukan untuknya, tapi untuk kesenangan orang lain.

Ratusan kali Eva berkutat dengan ketakutan. Ketakutan pada dosa-dosa seperti yang ia buat sekarang, dosa pada pria-pria di hadapannya, dan juga pada penyakit-penyakit yang mungkin saja mereka tularkan kepadanya.

Sekarang sudah pagi. Dimasukkannya puluhan lembar seratus ribuan ke dompet. Eva menata kembali rambutnya. Ia akan pulang hari ini.

Angkot dari arah selatan datang. Eva memandangi pantulan wajahnya di genangan air yang menggenang di pinggir jalan. Ada sesuatu yang bening menetes dari matanya, namun cepat-cepat ia hapus. Ia tidak boleh menangis, sebab yang harus ia bawa pulang adalah kebahagiaan. Kebahagiaan untuk suami dan anak-anaknya yang sudah ia tinggalkan, demi mencari uang untuk sekadar makan. Kini, halal dan haram, persetan baginya.

Minggu, 18 November 2012

Dapat rezeki lebih, lagi bosan, dan long weekend adalah perpaduan yang pas untuk hunting ke toko buku. Beberapa hari yang lalu, dengan semangat yang menggebu-gebu pergilah gue ke Gramedia Palembang Square bersama seorang teman yang-tak-boleh-disebutkan-namanya. Bukan, dia bukanlah makhluk sejenis Voldemort. Dia cuma seorang teman biasa yang kurang beruntung karena mau-maunya gue ajakin jalan ketika itu.

Setibanya di Gramedia, mulailah penyakit gue kumat. Nama penyakitnya adalah syndrom 'lupa-mau-beli-buku-apa'. Setelah 2 jam mengobrak-abrik semua rak buku, sampe mbak-mbak kasir mulai curiga kalo gue ini semacam agen rahasia yang diutus untuk meledakkan gedung Palembang Square dan sedang mencari spot untuk meletakkan bom waktu dengan dalih sedang mencari buku.

Akhirnya, setelah bergerilya cukup lama, gue pun memungut sebuah buku bersampul kuning dan membawanya ke meja kasir. The Not-So Amazing Life of @aMrazing, begitulah yang tertera di sampulnya. Nih, langsung gue  review~


Judul : The Not-So Amazing Life of @aMrazing
Penulis : Alexander Thian
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : Agustus 2012
Cetakan: Pertama
Tebal : 228 hlm
ISBN : 9789797805869

Bapak itu merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan bergepok-gepok uang.
"Nih! Sekian belas juta!"
Bahkan setelah menghitung sekian belas juta, sisa uang di tangan Bapak itu masih banyak. Fakta bahwa bajunya lusuh, serta handphone lamanya buluk segera terlupakan. Rupanya Bapak ini orang tajir yang tak tahu cara berdandan serta belum melek teknologi. Gue lagi-lagi salah menilai. Terkadang manusia memang hanya memandang penampilan luar. Menghakimi bahwa sebuah buku pasti jelek isinya hanya karena cover yang buruk.
Berlama-lama si Bapak mengagumi handphone terbarunya. Setelah puas, ia kembali bertanya hal yang paling penting.
"Dek, gimana cara main Fesbuk? Terus, internet itu apa, sih?"

The Not-So-Amazing Life of @aMrazing merupakan kumpulan kisah pengalaman Alexander Thian saat menjadi penjaga konter handphone di sebuah mal. Tidak sekadar menjual handphone, Alex memotret manusia melalui berbagai tingkah laku para pelanggan yang datang. Ada mereka yang butuh tampil mengesankan dengan handphone tercanggih, mereka yang ingin membahagiakan orang terkasih, juga mereka yang tertipu (dan menipu). Adakah wajah kita di sana?

Jumat, 16 November 2012

Udah bukan rahasia lagi kalo penampilan artis-artis yang kita lihat di televisi kebanyakan merupakan hasil rekayasa. Kalau bukan make-up, editing studio, efek khusus, bisa juga hasil operasi plastik atau biasa disebut plastic surgeryApalagi ditambah meningkatnya popularitas serial Korea, membuat aktor yang membintangi acara itu juga ikut naik daun. Bukan cuma yang main serial atau drama Korea, tapi juga penyanyi, band, dan boyband Korea juga semakin meraja lela. Begitu terkenalnya mereka sampai wajahnya pun menjadi dambaan orang yang melakukan operasi plastik. 

Sebenarnya cuma satu alasan seseorang ngelakuin oplas? Semata untuk berubah. Ya, berubah menjadi--yang menurut mereka--lebih baik dan menarik.

Kamis, 15 November 2012

Minggu, 11 November 2012


Ini adalah hari Minggu kedua di bulan November. Seorang perempuan sedang duduk merenung di atas sofa. Sendirian, seperti biasa. Layar televisi yang sedang menayangkan film kartun fvoritnya, Doraemon, sama sekali tak menarik perhatiannya pagi ini. Bukan bosan, tapi ada hal lain yang sedang mengganggu pikirannya.
Kemarin malam, ia ditelepon oleh teman lelakinya. Laki-laki yang seminggu lalu baru ia ketahui bernama Febri. Febri tak tampan, apalagi rupawan. Febri bertampang pas-pasan seperti laki-laki kebanyakan. Namun bagaimana pun penampilan fisik Febri, itu bukan hal yang penting baginya. Yang penting sekarang, mereka berdua sudah resmi pacaran, tadi malam tepatnya.
Lantas apa yang membuatnya risau pagi ini? Bukan. Bukan karena hal sepele seperti berubahnya dubber (pengisi suara) pada tokoh Doraemon, tapi ada hal lain yang sedang mengganggu pikirannya.
Tiga puluh menit yang lalu. Saat ia duduk di sofa sambil menunggu jam tayang kartun favoritnya dimulai, ia mendapati satu pesan masuk di telepon genggamnya. Pesan itu dari Febri, laki-laki yang baru semalam dipacarinya.

Pagi Lia sayaaang. Pukul 9 aku jemput kamu, ya. Jangan lupa dandan yang cantik!

Ia kaget membaca pesan itu. Padahal Febri berjanji akan menjemputnya pada pukul 3 sore. Ia melempar telepon genggamnya ke sofa, disusul remote televisi yang dibanting tanpa dosa.
Bisa-bisanya Febri lupa namaku. Namaku kan Cici, bukan Lia, keluhnya dalam hati.

Kamis, 08 November 2012


Bus itu tiba-tiba ricuh. Mata si pengamen kecil membeliak, namun mulutnya tak berucap apa pun. Sementara lelaki dewasa dengan wajah penuh emosi menggenggam lengannya dengan keras. Penumpang lain hanya menyaksikan pemandangan itu dengan penuh tanda tanya di kepala masing-masing. Sopir bus yang sedari tadi fokus dengan kemudinya, akhirnya menyetopkan bus.

“Ada apa ini, Mas?”

Lelaki dewasa itu tak menjawab pertanyaan si sopir. Ia menarik lengan pengamen kecil, lalu membawanya turun dari bus. Anak itu digiringnya dengan kasar ke trotoar jalan.

“Di mana kamu taruh koperku yang kamu curi kemarin? Jawab!”

Pengamen kecil itu hanya diam, menunduk dalam-dalam.

“Hei, kenapa diam? Jawab! Atau kubawa kamu ke kantor polisi.”

Masih tanpa suara, pengamen kecil itu mengangkat dagunya, yang seolah diarahkan pada sebuah gang kecil di ujung trotoar.

“Kamu menyembunyikannya di sana?”

 “Iya. Ikut aku!”

Sudah beberapa langkah keduanya menyusuri gang sempit itu. Sekarang mereka sampai ke tempat yang dimaksud oleh pengamen kecil.

“Aku menaruh tasmu di sini.”

Pengamen kecil mengarahkan telunjuknya ke tumpukan-tumpukan kardus bekas yang disusun tak beraturan di atas tanah basah.

“Ini rumah baruku. Kardus-kardus ini kubeli memakai sebagian uangmu.”

Sudah baca tulisan gue yang judulnya Napas Terakhir Untuknya? Beberapa teman yang sudah baca ada yang berkomentar kalo itu cerita yang sedih. Bahkan, ada juga yang sempat nanya tulisan itu true story apa bukan? Gue cuma bisa ngangguk sambil senyum.  Kebahagiaan seorang penulis sebenarnya bukan saat tulisan mereka dibayar dan menghasilkan uang, tetapi lebih membahagiakan lagi saat ada orang lain yang mau membaca dan merespons tulisan mereka. Ya, sesederhana itu. Gue gak pernah menyebut diri gue sebagai penulis, tapi nyatanya gue suka dan sering menulis… seperti yang gue lakukan sekarang ini. Kalo ada yang nanya kenapa gue suka nulis? Gue selalu bingung mau jawab apa. Bagi gue, pertanyaan “Kenapa kamu suka nulis?” itu sebanding sama pertanyaan “Kenapa kamu suka jengkol?”. Gak semua orang suka jengkol, tapi gue suka. Kira-kira begitulah, gue juga pusing mikirinnya.

Selasa, 06 November 2012


Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu itu rasanya seperti memeluk kaktus. Semakin kuat kamu bertahan, semakin perih rasanya. Ada yang pernah menyatakan bahwa cinta itu omong kosong. Aku tidak ingin mempercayainya, tapi terlalu banyak bukti.
Seperti hari ini. Sandra, kekasihku, merusak mood baik yang kubawa dari rumah dengan perlakuan yang kurang menyenangkan, membentakku dengan sebutan ‘lelaki bodoh’ ketika aku mencoba mengajaknya masuk ke kelas. Lalu, malah memilih Andi untuk ganti menemaninya. Ah, apa-apaan ini? Aku tersenyum pahit mendengar setiap kata halus yang ia tujukan untuk Andi. Kata-kata manis yang bukan untukku. Kata-kata manis yang dalam sekejap mampu memporak-porandakan hatiku. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya hari ini, juga Andi yang sudah tampak seperti boneka, pasrah saja dengan perlakuan Sandra yang tiba-tiba berlebihan.
Hei, tak cukupkah aku baginya? Tak tahukah dia akan perasaanku? Tak bolehkah aku cemburu? Tapi semakin aku mencoba memburu jawaban atas pertanyaanku, keraguan yang kutemukan justru semakin membuat aku merasa bertanya-tanya, di mana letak kesalahanku.

Senin, 05 November 2012


“Ibu ini bagaimana, sih? Uang yang Bapak peroleh kan tidak cukup untuk keperluan Bimo.”

“Iya, Ibu tahu itu, Pak. Tapi kan, anak kita sekarang sedang membutuhkan uang untuk keperluan sekolahnya. Kasihan dia.”

“Loh, gaji Ibu kan yang lebih besar daripada Bapak. Ya, pakai uang Ibu saja lah.”

“Uang dari Ibu sudah habis, Pak, untuk keperluan makan kita.”

“Owalah… punya istri kok tidak berguna. Dulu saja Ibu bisa dapat uang jutaan dalam satu malam.”

“Berhenti mengungkit masa lalu Ibu, Pak!”

“Sudahlah, semua orang juga tahu kalau Ibu mantan pelacur!”

Tidur soreku hari ini terganggu oleh pertengkaran ibu dan bapak. Bising, apalagi mendengar kata-kata bapak yang kasar dan keras.

Aku mencoba mengintip dari lubang kecil papan kayu dinding kamarku, namun tak berhasil mencuri pandang setitik pun. Kudekatkan kupingku ke dinding kamar, kali ini mencoba mencuri dengar. Hanya suara helaan napas ibu yang cukup jelas di telinga. Kudengar suara ibu mengeluarkan nada sendu. Sesenggukan yang awalnya rendah, lama-lama semakin menderu.

Pertengkaran keduanya sudah reda. Entah ke mana bapak yang bertampang dingin serta menakutkan itu pergi. Aku beranjak keluar dari kamar, menemui ibu yang sedang tertunduk lemas.

“Ibu, kenapa menangis?”

“Tidak apa-apa, Bim.”

“Ke mana Bapak?”

“Kamu sudah makan siang tadi?”

Ibu mengalihkan pembicaraan. Mungkin ibu tidak ingin aku mengetahui apa yang membuat ia terluka. Karena aku selalu tahu, air mata ibu yang berlian itu hanya akan ia berikan untuk kebahagianku.

“Belum, Bu.”

“Ya sudah, kamu mandi saja dulu. Malam ini ibu masakkan daging untukmu.”

“Daging?”

Ibu beranjak menuju dapur—yang lantainya kini dipenuhi noda merah. Aku terperanjat melihat bapak yang sudah meringkuk di sudut dapur.

Sabtu, 03 November 2012


Kehidupan mahasiswa itu gak pernah lepas dari sosok seorang pengajar. Ya, pengajar inilah yang sering kita sebut DOSEN, bukan Bunga, Mawar, atau Dahlia seperti yang sering muncul di rubrik berita kriminal di Koran harian. Cara mengajar setiap dosen sangat berbeda-beda, tergantung gen apa yang dia bawa dari orangtuanya *halah*. Bahkan, tingkah laku dan gaya mereka (dosen, red) bisa kita kategorikan dalam berbagai tipe dan jenis. Nah, belakangan ini gue sempat melakukan survei secara gak resmi di lingkungan kampus, dan akhirnya menemukan beberapa spesies tipe dan jenis dosen yang sedang happening. Cekibrot!

Kamis, 01 November 2012

Dulu, aku sangat berguna baginya. Setiap hari membantunya mengerjakan tugas kuliah. Tugas kuliah yang membuatnya mendapatkan indeks prestasi membanggakan, 3.36. Lumayan  besar jika dibandingkan indeks prestasi teman-teman sekelasnya.

Dulu, aku juga yang membantunya menandatangani absensi setiap hari, pada setiap pergantian mata kuliah. Pokoknya aku selalu ada saat dia butuh.

Tapi, itu dulu. Sebentar lagi dia akan membuangku, hanya karena satu alasan. Aku ‘macet’, katanya. Aku hanya bisa pasrah menunggu apa yang akan dia lakukan padaku.

Perempuan berparas cantik itu mengulurkan tangannya. Mencoba meraihku dari dalam tas berwarna ungu. Dicoretkannya aku pada selembar kertas di bindernya. “Ah, pena ini sudah macet!” keluhnya seraya melemparkan aku ke dalam kotak sampah yang berada di sudut ruangan kelasnya. Akhirnya aku dibuang olehnya.