Selasa, 31 Desember 2013

Wooooogh! Nggak kerasa udah sampai di penghujung tahun 2013. Beneran nggak kerasa. Time flies. Perasaan baru kemarin gugatan pembatalan nikah Asmirandah, eh sekarang 2013 udah mau habis aja. Selain nggak kerasa, kalimat sebelum ini juga nggak ada korelasinya. 

Setelah di tahun 2012 banyak sekali berkah yang aku dapat, mulai dari kebahagiaan kecil seperti bangkitnya hasrat nulis yang akhirnya menghasilkan beberapa tulisan pendek dibukukan oleh penerbit mayor, sampai hal luar biasa yang bikin aku bisa membiayai hidup sendiri seperti sekarang—karena lulus tes CPNS Kemenkumham. Pengumuman kelulusannya bulan Oktober 2012, tapi mulai kerjanya bulan April 2013. Dan, tahun ini resmi dengan status bukan mahasiswa Unsri lagi. Satu kebahagiaan dikorbankan demi tuntutan hidup lebih layak di masa depan. Di saat teman kuliah sedang berdarah-darah menyusun tugas akhir dan skripsi, aku malah leyeh-leyeh makan gaji sendiri. Hehehe. *dirajam anak-anak Sinus A*
  
Jadi mau cerita dikit deh... Beberapa minggu yang lalu, aku iseng pasang avatar twitter nih, pakai foto IDCard (tanda pengenal) tempat aku kerja, dengan maksud supaya dunia tahu bahwa anak ingusan bernama Rido ini walaupun kurang tampan dan bau matahari, bisa jadi pegawai negeri juga. Terus, ada salah satu follower yang mention kayak begini:



Namanya Ayu, tinggal di Bali. Rupanya tahun ini dia ikut tes seleksi CPNS. Soal kenapa dia bisa follow aku, itu biarlah menjadi misteri.

Tanggal 24 Desember 2013, pengumuman CPNS serentak untuk semua wilayah di Indonesia. Alhamdulillah, dua kerabat dekat lulus. Teman waktu SMA dan tetangga sebelah rumah yang juga teman main dari kecil. Keesokan harinya, pas bangun tidur, hape bunyi karena ada notifikasi masuk dari twitter. Cewek yang konon namanya Ayu itu mention lagi, bunyinya kayak begini:


Ya Tuhaaaan, aku speechless waktu bacanya. Kemarin pas lulus tes, aku kayaknya nggak nangis haru, tapi pas baca mention itu malah aku nyaris mewek. Itu kado terindahnya di Hari Natal, katanya. Selamat ya, Ayu! :')

Jadi, kalau dibikin kaleidoskop tahun 2013, maka yang ada di urutan pertama adalah:

Senin, 23 Desember 2013

Dalam rangka Hari Ibu yang diperingati tanggal 22 Desember kemarin, ceritanya aku iseng ngadain kuis di Twitter. Tantangannya nggak susah-susah amat, cuma bikin quotes tentang IBU, boleh bikinan sendiri atau dari quotes yang udah ada, terus dibuat twitpic. Buat yang belum tahu, twitpic itu penganan yang dibuat dari kentang, ubi kayu, dsb yang diiris tipis-tipis lalu digoreng. Oh, itu keripik ya. Oke, ini garing.

Nggak nyangka, rupanya lumayan rame yang ikut. Jadi, daripada quotes kiriman teman-teman mubazir, mending aku pos di sini, walaupun nggak semuanya mengingat internet sedang nggak bersahabat dalam meng-attach image.

Sabtu, 21 Desember 2013

Nggak kerasa, rupanya hampir dua bulan terakhir ini aku absen ke toko buku. Ini sungguh prestasi bagi diri pribadi dan layak dimasukin ke curriculum vitae.
Banyak alasan untuk nggak ke toko buku dalam rentang waktu tersebut. Alasan paling mendasar adalah karena utang bacaan makin numpuk. Ada banyak buku belanjaan yang belum terjamah, ditambah lagi paket buku hadiah dari penerbit. Baik hasil menang kuis ataupun dikasih cuma-cuma, menambah deretan buku-buku yang terabaikan oleh tuannya. Karena alasan ini juga, akhirnya aku dan seorang teman yang kolektor buku juga, memutuskan merintis—sebut saja—online bookshop khusus buku bekas/koleksi pribadi. Kalau minat, silakan mampri ke twitter @VileBookshop. Diorder ya, Sis~

Kemarin, saat masuk ke Gramedia PS, aku sampe celingukan. Rupanya ada banyak sekali buku-buku yang baru terbit. Bingung dong mau beli yang mana. Di saat pikiran sibuk berkecamuk, mataku tertumbuk di salah satu sampul buku berwarna kuning.  Ah, buku ini... Jadi ingat beberapa bulan yang lalu, saat Ernest Prakasa, di twitter, meminta usulan judul untuk buku terbarunya. Waktu itu aku juga iseng ngajuin judul: Ernestory/Ernestories. Sempat di-mark as favorite sih oleh Koh Ernest (panggil Koh, biar kesannya akrab banget), walaupun akhirnya nggak kepilih juga. Ya wajar, usulan judulnya nggak marketable gitu. Ternyata, judul NGENEST yang kepilih.


Yaelah, jadi curhat. Intinya, aku jadi beli buku ini, dengan beberapa pertimbangan. Menurut isu yang beredar, buku ini lucu. Ditambah lagi, aku selalu menikmati kelucuan Koh Ernest di TV/YouTube sebagai comic. Apakah buku ini selucu penampilannya di panggung stand up comedy? Nah, biar kujawab di review ini~



Judul : Ngenest; Ngetawain Hidup A la Ernest
Penulis : Ernest Prakasa
Penerbit : Rak Buku
Tahun Terbit : Oktober 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 170 hlm
ISBN : 978-602-175-597-6

Dibanding bokap, keluarga nyokap gue tuh lebih original Cinanya. Gaya ngomongnya masih totok banget. Bagi mereka, gak ada istilah “kami” atau “kalian”. Adanya adalah “gua orang” dan “lu orang”. Kesannya insecure banget ya? Gue juga tau kalo kita semua ini orang, bukan ubur-ubur.
(Diambil dari bab “Woy, Cina!”)

Di banyak mall di Jakarta, ada petugas lift. Padahal siapa sih yang gak mampu mengoperasikan lift? Kalo mau ke lantai 3, kan tinggal cari tombol angka “3”. Simpel. Kecuali tulisan di tombolnya bukan “3”, tapi lebih rumit. Misalnya “1⁄2 x √36”.
Lagian gue belum pernah baca ada headline koran semacam ini:
“GAGAL MENEMUKAN LANTAI TIGA, SEORANG REMAJA TERJEBAK SELAMA DUA HARI DI DALAM LIFT MALL TAMAN NAGREK”
(Diambil dari bab “Jakarta Dikepung!”)


Selasa, 17 Desember 2013

Flying with You. Kemarin, di saat Palembang sedang hujan-hujannya, novel ini resmi masuk ke dalam jajaran "buku koleksi Rido yang ditandatangani penulisnya langsung". Setelah sebelumnya memaksa-maksa Tere Liye, Moammar Emka, Kirana Kejora, dan Roy Saputra untuk membubuhkan tanda tangan di buku karya mereka, kali ini yang jadi korbannya adalah adik tingkat sendiri di (mantan) kampus. Nadia Zuliaty Syaputri yang konon memakai nama pena Nadine Zulia Putri. 

Senaaaaaang. Cuma, kabar buruknya, umur Nadia baru 18 tahun dan udah nerbitin dua novel. A....aku? *menatap draf novel yang belatungan*

Sembari meratapi kemalasan diri sendiri, mari simak saja review-ku untuk novel Flying with You. Bekicot!


Judul : Flying with You
Penulis : Nadine Zulia Putri
Penerbit : Senja (Diva Press Group)
Tahun Terbit : Desember 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 266 hlm
ISBN : 9786022554

Sama seperti cinta, luka yang kita dapat sebelum tahu artinya cinta, akan membuat kita bertahan lebih lama. Cinta jauh lebih indah daripada goresan luka. Dan pasti, kita memilih untuk lebih lama mekar bersama cinta, bukan?

Cinta yang besar, kecantikan yang memikat, keberanian yang menjulang, apa artinya tanpa ketulusan? Tanpa kemurnian hati? Tanpa kesucian dan keanggunan menerima cinta?















 

Sabtu, 07 Desember 2013

Writers are born, not made” begitulah pemahaman orang awam terhadap sosok penulis. Katanya, menjadi penulis adalah bakat murni. Padahal, nggak, kan? Karena setahuku, bakat itu bukan sebab, tapi akibat. Menulis juga termasuk keterampilan; sama seperti menyanyi, sepak bola, tari balet, balap motor, atau bermain Yo-yo. Semuanya bisa dilatih. Semuanya butuh proses belajar nggak hanya dalam hitungan hari dan bulan, melainkan bisa bertahun-tahun. Nggak jauh beda ya sama proses pedekate sebelum pacaran? Halah!

Selain fakta di atas, fakta lain yang harus diluruskan adalah, bahwa nggak semua penulis mesti lahir dari keluarga penulis. Menjadi penulis nggak harus memiliki dinasti. 
Sebut saja, J.K. Rowling, penulis asal Skotlandia, beliau hanya seorang ibu tunggal beranak satu saat menulis seri Harry Potter. Artinya, semua orang dari berbagai kalangan dan profesi, bisa menjadi penulis buku... asal punya kemauan dan melatih kemampuan. 

Di Indonesia, selain selebriti yang aji mumpung jadi penyanyi, atau penyanyi yang jadi politikus, ternyata banyak juga selebriti (artis) yang aji mumpung menjadi penulis. Dimulai dari gebrakan Dewi Lestari atau akrab disapa Dee, yang meluncurkan novel fiksi ilmiah populer berjudul Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh pada tahun 2001. Setelah itu, nggak terhitung lagi kaum selebriti Indonesia yang ikut menulis/menerbitkan buku. Uniknya, hampir semua buku yang mereka tulis dilirik pembaca. 

Menurut KBBI, selebriti adalah orang yang terkenal atau masyhur (biasanya artis). Sedangkan, artis adalah seorang ahli seni; seniman, seniwati (seperti penyanyi, pemain film, pelukis, pemain drama).

Nah, berikut adalah beberapa nama selebriti yang turut meramaikan dunia kepenulisan di Indonesia:

Minggu, 24 November 2013

SURAT SOMASI
No: 69/SS/cwkbgt/XII/2013


Setelah melakukan beberapa tahapan evaluasi terhadap kinerja cewek-cewek masa kini dalam berasmara, terhitung sejak Hawa diturunkan ke bumi, maka dengan ini barisan sakit hati cowok-cowok yang merasa terkucilkan menganggap kaum cewek telah melakukan penyimpangan dalam hubungan berasmara di era globalisasi ini.

Menimbang : Berat badan yang menurun secara signifikan, berkat program OCD yang overdosis. Bahwa, semua cewek dunia ini sama saja, selalu menilai cowok dari fisik dan materinya. Mereka cenderung lebih welcome dengan cowok yang punya wibawa. Wiii... bawa mobil. Wiii... bawa gadget canggih. Hih!

Mengingat : Masa lalu bersama mantan yang seharusnya dikubur dalam-dalam, sedalam-dalamnya lautan Hindia. Bahwa, cewek tidak seharusnya selalu menuntut para cowok untuk memenuhi kriteria cowok idamannya. Cowok itu manusia, bukan sejenis tanaman putri malu, yang harus selalu peka dengan perasaan cewek. Cowok bukan peramal yang bisa menerka isi hati. Cowok juga bukan mesin scan barcode, yang bisa membaca semua kode yang diberikan dalam segala kesempatan.

Memperhatikan : Stabilitas ekonomi bangsa yang kian mengkhawatirkan. Bahwa, ...ah, sudahlah.

MEMUTUSKAN

Semua cowok berhak memperoleh kebahagian yang hakiki, untuk menghindari kecenderungan melakukan harakiri. Setiap cowok wajib mendapat santunan berupa kasih sayang dari cewek yang berstatus sebagai gebetan atau kekasihnya. Perhatian juga sudah semestinya didapat oleh cowok, berbanding lurus dengan tuntutan cewek untuk selalu diperhatikan. Intinya, cowok juga butuh diistimewakan oleh pasangannya, tentu tanpa memandang status sosial, kasta, apalagi jumlah followers di twitter.

Bilamana dikemudian hari ditemukan kekeliruhan atau kesalahan dengan diterbitkannya Surat Somasi ini, maka saya, selaku perwakilan cowok regional samudra Atlanta, akan melakukan penyesuaian ulang sebagaimana mestinya.
Surat keputusan ini disampaikan guna mengembalikan hak-hak para cowok yang tercerabut dari asas dasarnya dalam dunia percintaan.

Pada tanggal  :  cantik
Mulai berlaku sejak : sinetron Tukang Bubur Naik Haji belum tamat

Tertanda,
Cowox yang Claluwh Tercakitie

Sabtu, 16 November 2013

Masih dalam rangka memeriahkan event GagasDebut Virtual Book Tour yang diselenggarakan oleh penerbit GagasMedia, kali ini aku mau ngadain giveaway (lagi) nih. Tantangannya masih sama, yaitu menulis flash fiction. Tapi... bedanya, tantangan kali ini akan di-mix dengan tantangan #FF100Kata yang sebelumnya sudah digagas oleh @sinshaen & @naztaaa; duo teman spesialis tweet saru di twitter. Boleh di-follow, tapi mending jangan sih...

Nah, silakan simak rules-nya:

1. Kamu harus punya blog platform apa saja (blogspot, wordpress, tumblr, dll.)

2. Tulis sebuah cerita dalam bentuk flash fiction di blogmu dengan tema "PARAFILIA" dengan catatan: tulisan HARUS berjumlah 100 kata (tidak termasuk judul)

3. Genre tulisan BEBAS

4. Setelah publish tulisan di blog, silakan mention link tulisanmu dengan format: #Parafilia - JUDUL FF – LINK - #FF100Kata - @sinshaen cc: @naztaaa @ridoarbain
Contoh: #Parafilia – One Night Stand – http://sindyisme.blogspot.com/one-night-stand-html – #FF100Kata – @sinshaen cc: @naztaaa @ridoarbain

5. Waktu pengiriman link dimulai dari 16 November 2013 pukul 18:00 WIB dan ditutup pada 17 November 2013 pukul 18.00 WIB. Jadi, kamu punya waktu 24 jam untuk bersenang-senang dengan imajinasi liarmu. 

Oh iya, jangan lupa juga, tolong cantumkan di bagian paling bawah tulisanmu: Diikutsertakan dalam #FF100Kata (backlink ke http://sindyisme.blogspot.com/2013/11/ff100kata.html)

Nah, sebagai apresiasi... bagi yang menulis flash fiction paling oke dan mampu mengguncangkan dunia untuk tema tersebut, beliau akan diganjar 1 eksemplar novel Camar Biru karya Nilam Suri, dari penerbit GagasMedia.

Selamat menulis! 

Salam,
Ridopati Dolken
Setelah cukup sukses me-review novel Camar Biru beberapa dekade silam, kali ini aku berkesempatan mewawancarai penulisnya nih. Nilam Suri. 
Semua pertanyaan diajukan lewat surat elektronik secara simultan dan komprehensif, serta tanpa menyodorkan sogokan dalam bentuk apapun. 

Nilam Suri sudah sejak lama beranggapan bahwa growing up is overrated, even after being a mom. Paling aktif menulis ketika matahari berubah jingga, atau saat langit menjadi kelabu, dan pastinya saat gerimis bergemerisik pelan dari balik jendela. Saat ini berprofesi sebagai Assistant Managing Editor di Fimela.com. Ia pernah menerbitkan buku kompilasi dengan penulis lain, berjudul Penggambar Mimpi (BalonUdara, 2008). Camar Biru (GagasMedia, 2012) adalah novel pertamanya.

Nilam Suri

Berikut 11 pertanyaan untuk Nilam Suri:

--------------------

Jumat, 15 November 2013

Review buku kali ini dikhususkan untuk event GagasDebut Virtual Book Tour

GagasDebut adalah sebutan bagi penulis-penulis debutan yang untuk pertama kalinya menerbitkan novel di penerbit GagasMedia. Sedangkan Virtual Book Tour adalah program promosi buku secara virtual dari blog ke blog atau jejaring sosial. 

Kebetulan, bulan ini aku terpilih sebagai salah satu HOST yang akan mengulas 2 dari 15 novel GagasDebut. Karena aku berlaku sebagai HOST di blog sendiri, jadi review akan tetap berlangsung secara subjektif dan suka-suka. So, here we go.





Judul : Camar Biru
Penulis : Nilam Suri  
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : November 2012
Cetakan : Pertama 
Tebal : 279 hlm 
ISBN : 9789797806033

Aku membutuhkanmu.

Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.

Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu―dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku.


Senin, 04 November 2013

“Sial! Padahal udah gue bela-belain nggak pake acara begadang, tapi tetep aja kesiangan gara-gara nggak ada yang ngebangunin. Argh!” keluh Tedy sepulangnya dari kampus.
“Seandainya gue punya pacar, pasti gue nggak akan pernah kesiangan lagi. Setiap pagi pasti ada yang nelepon dan bangunin gue,” gumamnya lagi.
Seminggu yang lalu, Tedy baru saja putus dari pacarnya, Indi Marindi. Indi berhasil memecahkan rekor sebagai pacar terlama Tedy, walaupun setelah 3 bulan lamanya akhirnya keintiman dua sejoli itu kandas juga. Mereka berdua putus hanya gara-gara masalah sepele. Indi lebih mencintai smartphone barunya daripada Tedy. Kasihan sekali Tedy, dinomorduakan oleh Indi yang begitu menggilai benda bernama Samsung GALAXY Ace 3.

Sabtu, 02 November 2013

Hai, teman-teman pembaca setia ridoarbain.com (emang ada?)
Sudah baca kan ulasan tentang novel After Rain? Nah, kali ini aku berkesempatan untuk mewawancarai penulisnya, Anggun Prameswari. Semua pertanyaan diajukan lewat surat elektronik dengan modal menyomot pertanyaan dari berbagai sumber. Iya, aku memang kurang berbakat bikin pertanyaan sendiri. Aku hina.

Anggun Prameswari lahir di Surabaya, 3 Juni, dan menamatkan pendidikan S1-nya di Sastra Inggris Binus University. Mulai menulis cerpen profesional sejak 2002. Karya-karyanya dimuat di majalah Kawanku, Aneka Yess!, Gadis, Ummi, Muslimah, Cinta, Horison, Chic, Femina, Esquire, Harian Riau Mandiri, Kompas, Koran Tempo, dll. Cerpen-cerpennya tergabung dalam antologi bersama, di antaranya Yang Dibalut Lumut (CWI, 2003), Jati Diri (Primamedia Kawanku, 2004), Sahabat Pelangi (LPPH, 2005), Book of Cheat vol.1 (Nulisbuku, 2011),  Cerita Sahabat 2: Asmara Dini Hari (GPU, 2012), Singgah (GPU, 2013), Dunia di Dalam Mata (Kata Bergerak, 2013), Lovediction 2 (Ice Cube KPG, 2013), dan Kejutan Terbaik Sebelum Ramadan (Nulisbuku, 2013). Baru saja menelurkan novel solo berjudul After Rain (GagasMedia, 2013). Selain menulis fiksi, saat ini bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMP-SMA Harapan Bangsa, Tangerang dan penerjemah lepas.

Anggun Prameswari

Karena narasumber adalah seorang cerpenis sekaligus novelis, jadi semua pertanyaan akan ada hubungannya dengan buku dan menulis. Pertanyaan dijawab secara sadar tanpa todongan senjata tajam apalagi ancaman unfollow. Berikut 11 pertanyaan untuk Anggun Prameswari: 

Jumat, 01 November 2013

Review buku kali ini dikhususkan untuk event GagasDebut Virtual Book Tour
GagasDebut adalah sebutan bagi penulis-penulis debutan yang untuk pertama kalinya menerbitkan novel di penerbit GagasMedia. Sedangkan Virtual Book Tour adalah program promosi buku secara virtual dari blog ke blog atau jejaring sosial. 
Kebetulan, bulan ini aku terpilih sebagai salah satu HOST yang akan mengulas 2 dari 15 novel GagasDebut. Karena aku berlaku sebagai HOST di blog sendiri, jadi review akan tetap berlangsung secara subjektif dan suka-suka. So, here we go.



Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 332 hlm
ISBN : 979-780-659-6


Mungkin aku dibutakan oleh cinta, sebab akalku dikacaukan olehmu. 
Seberapa banyak pun aku meminta, kau takkan memilihku.
Ini yang kau sebut cinta?
Menunggumu bukan pilihan.
Izinkan aku meninggalkanmu, dengan serpihan hati yang tersisa.

Dan jika ternyata dia yang ada di sana, sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan, saat kami saling menyembuhkan—salahkah itu?


Rabu, 30 Oktober 2013

Dalam rangka memeriahkan event GagasDebut Virtual Book Tour yang diselenggarakan oleh penerbit GagasMedia di awal bulan November, diriku yang penuh pesona ini mau berbagi kecerian dengan teman-teman sekalian yang suka membaca dan hobi menulis. Anggap saja ini tantangan kecil-kecilan untuk dapat hadiah yang kecil-kecilan juga, ya. Namanya juga berbagi keceriaan. :)

Nah, tantangannya gampang kok. Simak rules-nya:

1. Tulis sebuah cerita dalam bentuk flash fiction (cerita yang kurang dari 500 kata) di blogmu dengan tema "HUJAN". 

2. Komentari postingan ini dengan mengetikkan nama, akun twitter, serta link tulisan flash fiction di blogmu.

3. Mention juga judul dan link flash fiction yang kamu tulis serta hashtag ke twitter @ridoarbain. 
Contoh: Meja Nomor 5 http://www.ridoarbain.com/2013/01/flashfiction-meja-nomor-5.html #GiveawayAfterRain cc: @ridoarbain 

4. Batas waktu pengiriman link tulisan: 3 November 2013, pukul 17.00 WIB.

gambar dicomot dari sini
Karena ini giveaway suka-suka, jadi yang menentukan pemenangnya adalah aku sendiri. 1 (orang) yang flash fiction-nya punya ending dan twist paling oke,  akan diganjar 1 eksemplar novel After Rain karya Anggun Prameswari, dari penerbit GagasMedia.

Semoga beruntung!

Salam,
Rido G. Bastian

Senin, 28 Oktober 2013

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tentu kita sudah nggak asing dengan kalimat di atas. Ya, tulisan tersebut adalah bunyi butir ketiga Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia disumpah oleh para pemuda Indonesia, 28 Oktober berpuluh-puluh tahun lalu sebagai bahasa persatuan. Namun, kali ini, bukan itu yang ingin kubahas.

Sebentar... mau flashback dulu.

Pada suatu pagi di bulan Ramadan, sebagai remaja gaul pada umumnya, aku membuka jejaring sosial Facebook. Di halaman beranda, aku membaca status dari sebuah halaman education website Bahasa Kita yang isinya kurang lebih seperti ini: "SALAT bukan shalat atau solat." Status tentang tata bahasa EYD.
Aku pun tergelitik untuk membaca puluhan komentar pada status tersebut. Namun, seketika aku terbelalak saat melihat ada begitu banyak komentar kontra menyahuti status itu.

"Yang benar tuh shalat."

"Seharusnya sih SHOLAT. Sesuai dengan penulisan Arab-nya SHOD, LAM ALIF, TA MARBUTOH. Kalau SALAT, penulisan Arab-nya SIN, LAM ALIF, TA MARBUTOH."

"Yang penting pelaksanaannya, enggak usah ribut soal bahasa."

"Gue pilih nulis SHOLAT."

"Yang benar tuh SHOLAT, kalau SALAT itu sayuran."

"Yang bikin kamus bahasa Indonesia ini jangan-jangan orang kafirin dan musyrikin, yang sengaja mengubah-ubah arti dan makna setiap kata."

Jumat, 25 Oktober 2013

"Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan." 

Sebuah kalimat yang sering kita jumpai hampir di setiap pembuka film ataupun sebuah novel. Kalimat yang mengklaim bahwa ide yang yang dituangkan dalam karya tersebut benar-benar murni hasil olah imajinasi. 
Namun, siapa yang bisa menjamin ketika ada tudingan kemiripan ide cerita pada suatu film/novel dan berkelit bahwa itu adalah sebuah 'ketidaksengajaan' dan bukan 'penjiplakan'? 

Seperti yang pernah aku tulis di post Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan', sebenarnya di dunia ini nggak ada ide yang benar-benar baru. Yang kita sebut 'ide baru' adalah gabungan ide-ide lama yang dikemas dengan cara baru. 
Contohnya... film Indonesia yang berjudul Heart, yang dibintangi oleh Nirina Zubir, Irwansyah, dan Acha Septriasa. Bercerita tentang persahabatan cowok playboy dengan cewek tomboy. Pada suatu ketika, si cowok jatuh cinta pada seorang cewek feminin, yang membuat sahabatnya (si cewek tomboy) diam-diam terbakar cemburu. Mirip ide cerita film apa, pemirsaaa? Ya, mirip film bollywood legendaris... Kuch Kuch Hota Hai

Nah, ternyata bukan cuma sebuah film dengan film lainnya yang punya kasus demikian. Di Indonesia, ada beberapa novel yang ide ceritanya disinyalir mirip ide cerita film luar. Investigasi kali ini dilakukan secara sadar dan tanpa tekanan dari pihak lain, apalagi tekanan benda tumpul. Dan juga, investigasi ini sepenuhnya dibantu oleh mesin canggih sejuta umat; Google. Mari simak!

Sabtu, 19 Oktober 2013

Sudah sedari tadi aku menyumpal telingaku dengan headset berwarna putih yang tampak sudah mulai menguning. Namun, suara berisik yang bersumber dari mp3 player yang tersambung dengan speaker murahan di dalam bus ini makin menjadi-jadi. Aku yang terjebak duduk menyempil di deretan bangku belakang bus akhirnya angkat bicara, tanpa harus angkat besi. Aku bermaksud menuai protes kepada kernet bus.
“Mas, volume speaker-nya bisa dikecilin dikit?”
“Hah? Dikencingin?”
“Dikecilin!”
“Kelinci?”
“KAMPRET!”
“Heh! Kamu ngatain saya?!”
“Nggg, nggak, Mas.”
Aku melenguh panjang seraya menghindari tatapan memangsa dari sang kernet yang perawakannya amat kurus dan tinggi, mengindikasikan bahwa ia lebih mirip hasil persilangan antara manusia dan menara Petronas.
Lagu Cinta Satu Malam yang sejak tiga menit lalu berkumandang heboh akhirnya memasuki bagian outro. Itu artinya ada jeda beberapa menit untuk berpindah ke lagu berikutnya. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali menuai protes kepada sang kernet bus.
“Mas, volume lagunya tolong dikurangin dong!”
“Kenapa? Kamu nggak suka lagu dangdut?”
“Bukannya nggak suka, tapi—”
“Inilah sombongnya anak zaman sekarang. Mentang-mentang zaman udah serba maju, jadi lupa dengan musik khas negeri sendiri.”
“Suaranya terlalu berisik, Mas.”
“Kamu pasti sudah keracunan lagu-lagu Korea, ya?”
“….”
Aku mendesah, pasrah. Kulirik sekeliling isi bus. Segelintir penumpang seperti sedang menatap ke arahku. Mungkin mereka sedikit terganggu dengan kericuhan ringan antara aku dan sang kernet.
Sementara itu, bus tiba-tiba mengerem. Tampak ada seorang penumpang perempuan memasuki pintu bagian belakang.

Senin, 14 Oktober 2013

Pernah bermimpi ingin bertemu dengan seseorang? Artis idola, pacar khayalan, atau tokoh politik kebanggaan? Aku pernah. Sekitar tahun 2009, saat masih duduk manis penuh kharisma di bangku SMA, aku pernah bermimpi ingin bertemu seorang penulis. Anggap saja ia adalah penulis favoritku... walaupun sebenarnya yang aku favoritkan adalah buku yang ia tulis, bukan orangnya.

Sejak membaca Doroymon, 4 tahun silam, aku mulai jatuh cinta pada genre komedi. Sampai hari ini. Sampai aku bertemu dengan penulisnya langsung. Roy Saputra.

Sejak terpikat oleh Doroymon, aku jadi berambisi memburu semua karya beliau, mulai dari Trave(love)ing, Rasa Cinta, sampai Setahun Berkisah. Juga kedua buku lainnya yang belum sempat kubaca; The DestinASEAN dan Trave(love)ing 2. TELAAAT. Karena sebelum buku-buku tadi, ternyata ada beberapa karyanya yang belum aku baca. Salah satunya novel komedi berjudul Lontang-Lantung, yang terbit tahun 2011. 
Pernah coba cek di setiap database toko buku yang aku kunjungi, tapi stok buku ini kayaknya udah punah dari peradaban. Coba tanya toko buku online, hasilnya tetap nihil. Sampai akhirnya, datang sebuah berita mengejutkan... tersiar kabar bahwa Lontang-Lantung akan dicetak kembali. Ahay!

Dan... Lontang-Lantung edisi repackaged pun terbit. Udah kelar dibaca, beberapa hari sebelum bertemu langsung dengan penulisnya. Saat kak Roy nanya apa pendapatku tentang buku ini, aku cuma jawab singkat: Ringan, lucu, dan filmis. :))

Itu tadi komentar singkatnya. Biar afdol, kali ini aku mau kasih review yang agak panjang tentang novel Lontang-Lantung. Here we go!


Judul : Lontang-Lantung
Penulis : Roy Saputra
Penerbit : Bukuné
Tahun Terbit: 2013
Cetakan: Pertama (edisi repackaged)
Tebal : 252 hlm
ISBN : 602-220-110-1


“Ri, namaku tak ada di sini,” kata Togar menggaruk-garuk kepalanya. Nama Togar jelas nggak ada. Dia kan nggak pernah masukin lamaran.
Gue mendekat ke arah Togar dan sedikit berbisik, “Coba lo liat, di situ ada yang nama Batak tapi masih kosong, nggak? Lo tanda tangan di situ aja. Ngaku-ngaku jadi dia.”
“Kenapa pula mesti nama Batak?”
“Gini, ya, Gar. Badan gede, muka kotak, dan logat Batak gitu, masa iya nama lo Paijo?”
“Ah, pintar juga kau. Tak percuma Mamak kau sekolah kan kau tinggi-tinggi!” Togar semangat mencari nama Batak yang kosong, “Eh, Ri. Ketemu, nih!”
“Siapa?”
“Rani Pangabean!”
“Yang cowok, Gar. Yang cowok.” Gue menunduk malas.
“Ah, iya. Benar juga kau!”
Togar menelusuri lagi daftar dan berhasil menemukan nama yang sepertinya pantas untuknya. Yohan Sitompul.
“Silakan tanda tangan di sini, Pak Yohan.” Mbak penjaga menunjuk kolom yang kosong.
“Ah, iya. Yohan, Yohan. Memang aku itu Yohan. Yohan Sitompul. Terima kasih banyak, Mbak. Salam hangat dari saya; Yohan Sitompul.” Togar yang grogi, mengulang-ngulang nama Yohan, membuatnya terlihat sangat kikuk dan aneh.

****

Cari kerja zaman sekarang emang nggak gampang, banyak orang rela melakukan apa sana. Itu juga yang dialami Ari Budiman, seorang sarjana pengangguran yang tak henti berjuang mencari pekerjaan demi sesuap nasi, tempe, ayam, dan tahu. Berhasilkah dia?
*… tolong ya, dibantu ya. bim salabim, kerja apa? prok prok prok.*

Minggu, 08 September 2013

“Semuanya gara-gara kamu!”

“Gara-gara kamu!”

***

Diko dan Dino; anak laki-laki kembarku. Hari ini adalah hari ulang tahun mereka yang ke-18. Ruangan rumah ini telah dihiasi dengan dekorasi has acara ulang tahun, seperti balon warna dan kertas-kertas hias yang memenuhi setiap sudut langit-langit rumah. Tak ketinggalan juga, kue dengan lilin membentuk angka 18 di atasnya. Hanya satu kue untuk kedua anak kembarku.

Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga! Sekarang juga! Sekarang juga!

Rumah ini masih ramai oleh para tamu undangan, terlebih setelah acara peniupan lilin selesai.

Potong kuenya! Potong kuenya! Potong kuenya sekarang juga! Sekarang juga! Sekarang juga!

“Aku saja yang memotong kuenya!”

“Aku saja! Aku kan lebih tua beberapa jam dari kamu!”

“Dasar serakah kamu, Dino!”

***

Kali ini bukan hanya tamu undangan yang memenuhi ruangan rumahku, tapi juga datang tamu tak diundang—polisi.

“Semuanya gara-gara kamu, Diko!”

“Gara-gara kamu!”

Diko dan Dino masih saling serang dan menyalahkan. Aku tak sanggup lagi melerai, karena tubuhku sudah terbaring di lantai dengan pisau menancap di perut.

Jumat, 23 Agustus 2013

Beberapa hari terakhir, kita sempat dihebohkan oleh pemberitaan tentang isu tes keperawanan untuk murid SMA di salah satu kota di Sumatera Selatan.
Tapi kali ini aku gak akan membahas hal sensitif tersebut, karena blog ini bukanlah detik.com.

Tulisan di atas cuma intermezzo, karena review buku kali ini gak ada hubungannya dengan tes keperawanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan daerah teritorial selangkangan. Bukan. Mari kita bahas hal lain saja, seperti "gigi" misalnya.
Ya, buku yang akan di-review kali ini berhubungan dengan dunia pergigian. Sebuah catatan seorang (calon) dokter gigi dalam buku berjudul K.O.A.S — Kacaunya Obsesi Asisten Stres

Seperti apa isi bukunya? Mari kita kupas, walaupun gak dijamin tuntas. Cekicrot!



Judul : K.O.A.S; Kacaunya Obsesi Asisten Stres
Penulis : Tomy Aryanda
Penerbit : Mediakita 
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 172
ISBN : 9797944204  
Kacaunya; Buku yang berisi kumpulan cerita KACAU yang mengocok isi perut.
Obsesi; Memiliki impian menjadi seorang dokter spesialis gigi yang terinspirasi dari sengatan bau mulut mahasiswa senior.
Asisten; Menjalani hari-hari absurd sebagai koas.
Stres; Penulis diduga mengalami gangguan mental disebabkan nggak lulus-lulus. 
Tidaklah mudah hidup sebagai dokter muda koas. Apalagi jika merasakan hal-hal absurd, seperti √ Mencari Calo Pasien, √ Ditolak Dosen, sampai √ Kerasnya Dunia Koas Couple. Dan Tomy Arya Wiguna Aryanda sukses menjalaninya secara KOCAK!!!

Sabtu, 17 Agustus 2013

Menulis buku itu mudah, asal mau dan memanfaatkan peluang. Jika kamu seorang mahasiswa, maka cerita sehari-hari di kos dan kampus bisa ditulis dan dijadikan buku. Jika kamu seorang selebriti, perjalananmu dalam dunia entertainment bisa dibikin buku. Jika kamu bukan siapa-siapa, maka curhat asal-asalan tentang berbagai isu yang gak kamu mengerti pun bisa jadi buku.

Buku gak harus tebal dan formal. Buku juga gak harus baku dan kaku dengan satu tema. Buku bisa saja merupakan kumpulan tulisan random tentang pengamatan terhadap berbagai topik atau situasi. Seperti buku yang akan aku review kali ini, judulnya Student Guidebook For Dummies yang ditulis oleh seorang pelajar SMA bernama Kevin Anggara. Kalo ada yang pernah baca tulisanku tentang beberapa blogger yang akhirnya jadi penulis, maka penulis buku ini adalah salah satu contoh kecilnya.



Judul : Student Guidebook for Dummies;
 Panduan Ngaco Pelajar Keren!
Penulis : Kevin Anggara
Penerbit : Bukuné
Tahun Terbit : Agustus 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 260 hlm
ISBN : 6022201071 


Lo pasti tau, dong, kalo pemerintah mencanangkan wajib sekolah 12 tahun. Itu artinya sebagian hidup kita akan dihabiskan di sekolah! Panik? Sedih? Galau? Nggak perluuuu. Nih, Kevin Anggara—si pelajar absurd dan banyak akal—akan bagi-bagi tip dan trik menikmati hidup sebagai pelajar.
Trik buat melunakan keganasan guru killer? Tenang, ada tutorial senyum maut yang cocok. Mau bergaul sama anak-anak keren sekolah? Ih, ceteeeek. Pengen banyak jajan, tapi uang saku seadanya? Gampang masalah perut mah, Sob! Serem sama kakak kelas yang judes? Hmm… bikin aja doi jatuh cinta sama lo. Hihihi…
Pokoknya, nggak akan ada lagi males-malesan ke sekolah, apalagi pusing menghadapi ujian. Ucapin bye-bye sama dua hal itu! Percaya, deh, sekolah nggak melulu serius dan membosankan kalo kita tau caranya.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Di zaman yang serba teknologi ini, mungkin kita sudah nggak asing lagi dengan istilah plagiarisme. Bagi yang belum tahu, Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain, lalu menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator. (dikutip dari sini
Menurut Adimihardja (2005), plagiarisme adalah pencurian dan penggunaan gagasan atau tulisan orang lain—tanpa cara-cara yang sah—dan diakui sebagai miliknya sendiri.
Di negara tercinta ini, kita seringkali mendengar berbagai macam kasus plagiarisme. Kasus plagiat tertinggi mungkin paling sering terjadi dalam ranah tulisan/teks, lalu musik/instrumen. Gambar visual juga nggak jauh dari kasus penjiplakan, mulai dari poster, pamflet, hingga sampul film dan sampul album musik. 

Karena maraknya kasus 'kemiripan' seperti di atas, aku pun iseng melakukan investigasi terhadap sampul-sampul buku yang beredar di Indonesia. Aku coba googling, rupanya belum banyak yang mengulas. Atau mungkin memang kasusnya minim? Ah, nggak juga. Setelah diselidiki secara random dan melakukan penelitian pada beberapa sampel di lapangan *halah* rupanya ada cukup banyak sampul buku yang ada 'kemiripan'. Investigasi iseng ini juga dibantu oleh salah seorang teman baik di twitter, yaitu Mamon, yang kebetulan punya keresahan yang sama untuk menguak fenomena ini. Bukan bermaksud menjustifikasi, tapi mengangkatnya ke permukaan agar menjadi pelajaran. Bukankah batasan antara plagiat dan terinspirasi itu memang tipis? Setipis lingerie waria yang sering terjaring razia.

Sometimes, we need to judge a book by its cover. 
Berikut beberapa sampul buku yang disinyalir mempunyai 'kemiripan'.  

Selasa, 06 Agustus 2013

Beberapa minggu lalu, seorang teman di twitter bilang kalo novel terbarunya sebentar lagi segera terbit. Jadi ceritanya, diriku yang penuh pesona ini 'dipaksa' beli bukunya dan disuruh untuk review. Karena berada di bawah tekanan dan menghindari ancaman unfollow, ya, jadi terpaksa deh cari dan beli bukunya di Gramedia terdekat. Berhubung ini review by request, jadi jangan salahin aku kalo di review kali ini aku tergerak untuk mencaci maki karya seseorang. Bhahahak. 

Novel ini berjudul Love You Even More, ditulis oleh Petronela Putri. Salah seorang teman penulis yang dikenal via twitter.  



Judul : Love You Even More
Penulis : Petronela Putri
Penerbit : Media Pressindo
Tahun Terbit : Juni 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 192 hlm
ISBN : 9799112729


Begitu banyak kata seandainya berkeliaran di kepala Abel. Ia memang pernah menciptakan kesalahpahaman itu di masa lalu, membuat hubungannya dengan Kinar menjadi kian sulit diperbaiki. Ditambah lagi, Kinar kini tak lagi sendiri. Di jari manisnya, telah tersemat cincin pertunangan. Haruskah Abel percaya pada pendapat kebanyakan orang bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali?

Manusia bisa bahagia, salah satunya jika berada di samping orang yang mencintai dan dicintainya.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Di luar, hujan sudah tak deras.
Seorang lelaki yang duduk di dalam warung kecil di sudut desa, melepaskan pandangannya keluar lewat jendela yang terbuat dari susunan bilah bambu, yang basah terkena tempias hujan.
Lelaki itu mengangkat cangkir, lalu mereguk kopinya yang mulai dingin. Sedingin suasana di luar sana.
Maaf, aku terlambat datang.”
Seorang perempuan berbadan hampir kurus, datang menghampiri.
Lelaki itu mengangguk pelan.
“Mau tambah kopi?” tanya perempuan itu lagi.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia mengambil rokok, lalu menyulutnya.
“Katakanlah, sudah berapa lama kau menungguku?”
Perempuan itu menatap dengan perasaan bersalah pada si lelaki.
“Hampir di separuh usiaku,” jawab lelaki itu sambil terbatuk.
“Ah, gombal sekali kamu, NdraHei, sudahlah! Jangan merokok lagi! Tidak baik untuk kesehatanmu.”
Perempuan itu dengan cekatan merampas rokok dan memadamkan nyalanya di permukaan meja yang berbahan dasar kayu.
Di luar, senja sudah berlalu.
Lelaki itu terbatuk-batuk lagi.
Di luar, tampak pohon rindang yang di atasnya bertengger sepasang burung kutilang. Burung kutilang jantan dan betina yang saling berhadapan layaknya posisi mereka sekarangRindra dan Aina.
***

Sabtu, 27 Juli 2013

Dari blog menjadi buku? Ada. Dari blogger menjadi ‘penulis buku’? Banyak. Nah, tapi berapa banyak yang akhirnya jadi penulis buku best seller?

Jika mendengar istilah 'blog yang dibukukan', tentu kita sudah gak asing lagi dengan nama penulis beken yang satu ini: Raditya Dika. Seorang penggiat tulisan-tulisan komedi harian di blognya www.radityadika.com (dulunya www.kambingjantan.com), yang mendapat predikat sebagai blog yang pertama kali dibukukan di Indonesia.


Mungkin belum banyak yang tahu bahwa 'blog yang dibukukan' ini punya istilah tersendiri, yaitu blook. Apa itu blook?
BLOOK adalah istilah yang digunakan untuk buku cetak yang didasarkan pada konten blog. Sederhananya, blook itu blog yang dibukukan dan diterbitkan dalam bentuk cetak. Kata “blook” merupakan penggabungan dari kata “blog” dan “book”. Pada tahun 2002, Tony Pierce mengompilasi postingan di blog dan mengoleksinya jadi buku yang kemudian diberi judul Blook. Judul itu bukan darinya. Tapi di sebuah acara bertajuk Pierce Award, nama itu diusulkan oleh pembacanya yang bernama Jeff Jarvis dari BuzzMachine

Saat ini, banyak sekali buku atau novel yang diangkat dari tulisan 'mentah' di blog. Di bawah ini, adalah beberapa blogger yang telah sukses dengan blook-nya dan membawa nama mereka menjadi penulis buku-buku best seller.