Jumat, 25 Januari 2013

[Review] Cado Cado 3: Susahnya Jadi Dokter Muda — Ferdiriva Hamzah

Mengunjungi toko buku saat ini, pasti udah gak heran lagi kalo kita menemukan banyak buku bergenre personal literature, yakni buku yang ditulis berdasarkan catatan belanja  harian seseorang. Dan entah ini kelainan atau bukan, tapi gue mulai candu dengan buku genre macam ini. Mungkin memang sifat bawaan gue yang selalu pengin tahu urusan orang lain. Oke, sebutlah gue kepo.

Sampai pada suatu malam, gue membaca sebuah tweet teman yang isinya begini, Baru baca separo cado-cado tiga. Buahahahahangsaaat!! :))))))
Ya, yang dimaksud itu Cado Cado 3 karya Ferdiriva Hamzah. Salah satu buku yang dari sejak terbit udah mupeng banget pengin gue beli, tapi... ragu. Ragu gue cukup beralasan, ya karena gue ganteng dan gue belum baca buku yang seri 1 & 2. Iya, gue memang hina. Buku sefenomenal itu masa gue gak punya.*tersedu-sedu di pelukan Angel Lelga*

Berhubung gue orangnya memang mudah terpengaruh tapi sulit dipengaruhi, jadi gue semakin bulat untuk beli buku tersebut. Persetanlah belum baca buku seri 1 & 2. Karena, berdasarkan informasi yang gue himpun dari meja redaksi genk gosipers, buku seri ke-3 inilah yang paling lucu. A must read.

Besoknya, gue langsung bergerilya ke toko buku demi menyongsong Cado Cado 3. Pulang ke rumah, langsung dilibas. Rekor pun terpecahkan, gue menamatkan buku ini kurang dari 2 hari. Ini prestasi buat gue pribadi, sungguh baru kali ini gue bisa tahan baca buku berjam-jam hampir tanpa jeda. Oke, sebut aja jeda itu dengan istilah 'ketiduran'.

Nah, berikut gue review bukunya. Yuk mareeeee!
Kedokteran; cerita tentang profesi yang satu ini memang selalu menarik. Walaupun, awalnya gue kira otak gue gak bakal sampe dan gak nyambung dengan segala hal yang berkaitan dengan profesi ini.


Judul : Cado Cado 3; Susahnya Jadi Dokter Muda
Penulis : Ferdiriva Hamzah
Penerbit : Bukuné
Tahun Terbit : Oktober 2012
Cetakan : Pertama Tebal : 207 hlm
ISBN : 602-220-079-2


Banyak cerita seru yang kita temui saat ko-ass, apalagi dari teman sendiri—sesama calon dokter. Ada teman yang semangat saat ko-ass biar bisa dekat sama suster untuk dijadikan pacar. Ada teman yang nggak semangat jadi dokter karena sebenarnya itu bukan pilihannya, tapi sang ortu. Namun, ada juga yang terlalu semangat menjadi dokter, kayak Budi.
Budi pernah periksa pasien bayi dengan cara yang 'beda'. Saat menggunakan stetoskop, dengan semangatnya Budi memberi instruksi. "Dek, coba tarik napassss...tariiiik.....lepassss...."
Orangtuanya cuma bisa bengong melihat si Budi. Aku dan Evie cuma bisa ketawa cekikikan di belakang. Parahnya, Budi baru sadar setelah selesai memeriksa.
"Bud, itu kan pasien masih bayi. Emang dia ngerti lo suruh tarik napas?" komentar Evie.
"Oh, iya!" jawabnya malu.
-----
Ferdiriva Hamzah bukanlah calon dokter lagi, melainkan sudah jadi dokter beneran.Cado Cado 3: Susahnya Jadi Dokter Muda akan banyak bercerita pengalaman seru Riva sewaktu menjalani ko-ass atau pendidikan lanjut mahasiswa kedokteran dulu. Dari mulai menghadapi suster galak, sampai salah tingkah menghadapi nenek-nenek ganjen. Ternyata, di balik kesusahan dokter muda, selalu saja ada pengalaman seru.


Buku Cado Cado 3: Susahnya Jadi Dokter Muda merupakan sekuel ketiga dari trilogi Cado Cado yang ditulis Ferdiriva. Dua buku sebelumnya, yaitu Cado Cado: Catatan Dodol Calon Dokter dan Cado Cado Kuadrat: Dokter Muda Serba Salah. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Ferdiriva selama ia menjadi ko-ass di rumah sakit. Riva—begitu sapaan Ferdiriva—memaparkan, masa-masa menjadi ko-ass adalah masa terindah untuk dikenang dalam melintasi perjalanan menjadi seorang dokter. *halah bahasa gue* 

Sebagai penikmat buku komedi, gak menyesal buku ini udah masuk di jajaran rak buku gue. Lucunya paraaaah! Bangke! bungcuuuuddh! Entah berapa kali gue dibikin ngakak muncrat, dan itu terulang hampir di setap bab. Meskipun, mungkin ada jokes yang lumayan menjijikkan kalo dibahas di kalangan non-healthcare practitioner. Jangan tanya gue arti istilah ini apa, tapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan pada Negara.

Di buku ini, gue suka banget dengan semua karakter tokohnya; mulai dari Sendi si bences tralala-trilili, Uba yang bau badannya legendaris, sampe Hani yang english-nya bikin gue geregetan pengin ngerujak alfalink.

Riva gak cuma berbagi pengalaman untuk sekadar menghibur pembaca, tapi secara gak langsung—dalam beberapa tulisan—ia juga menyelipkan pesan-pesan moral yang cukup menyentuh. Ya, sebagai penutup seri Cado Cado, buku ini bukun cuma lucu, tapi juga bisa bikin terenyuh. Apalagi di bab terakhir yang berjudul Killer Me Not, yang sukses bikin gue sempat mew... ah, sudahlah. 

Buku ini pas banget dibaca kalo kita lagi sendirian. Soalnya kalo dibaca berduan, nenek bilang itu berbahaya. Oke, sekian dulu review-nya. 
Peace... Love... and Gawuuuuls! 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan beri pendapat atau kritik atas tulisan ini. Boleh berkomentar sarkastis, dengan catatan: jangan berkedok anonim.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...