Selasa, 19 Februari 2013

Sambil terus melantunkan doa dengan khusyuknya, sesekali pandanganku tertuju pada suamiku yang sedang berbaring. Garis-garis ketuaan tampak pada sekujur wajahnya yang sudah mulai keriput. Rendi, teman kantorku, yang kini telah benar-benar menjadi teman hidupku, teman yang akan memenuhi segala pintaku dikala aku ingin.
Kukenang kembali saat-saat kami membina rumah tangga. Tak terasa hampir satu tahun telah berjalan, namun masih saja ada yang terasa kurang dan mengganjal dalam kehidupan kami. Ganjalan yang juga akan senantiasa dihadapi oleh mereka yang membina dan membangun mahligai rumah tangga, yaitu buah hati perkawinan. Buah hati itu belum juga hadir dalam rumah tangga kami, bahkan menjelang usia kami merambat pada penghujung ketidakmungkinan mendapatkannya. Ya, kami menikah di umur yang sudah tak pantas dibilang muda.
Kini aku tahu jika yang aku lakukan kemarin adalah salah. Bagaimana tidak, aku menyiksa suamiku dengan permintaan yang cukup egois, menurutku. Aku terlalu polos dengan memutuskan menunda kehamilanku, hanya demi alasan agar kami fokus dulu ke masalah pekerjaan kantor. Kasihan Rendi, pria tampan yang mampu mengetarkan segenggam sumber kehidupanku. Hampir tiap malam dia merengek ingin menggendong bayi.
Aku menyukai Rendi sejak pertama kenal hingga sekarang. Napasku serasa tak mau berhenti ketika mengingat satu persatu bayangan indah ketampanan Rendi. Bayangan sang pangeran yang menari-nari di atas alunan detakan kehidupanku.
Hari ini ia kembali berbisik menyebut namaku dengan desahan yang mendalam kepada jiwa-jiwa yang kering, “Kapan Tuhan memberi kita keturunan?” Sekian lama aku mengunci getirnya senyuman di bibirku dengan selalu meyakinkan dia agar setia dengan kesabarannya.
“Iya, Sayang. Mungkin Tuhan hanya belum siap mengamanatkannya kepada kita. Atau Tuhan masih menguji sampai mana batas kesabaran kita. Jangan pernah putus berdoa, ya!”
Aku sudah begitu keterlaluan. Menambah kebohongan hanya untuk menutupi kebohonganku sebelumnya. Tak pernah terbayangkan olehku untuk membocorkan rahasia besar ini pada suamiku, bahwa jauh-jauh hari sebelum kami saling mengenal dan menikah, aku pernah melakukan operasi pergantian kelamin.


Jumat, 08 Februari 2013

Tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2012, gue pernah kepikiran untuk bikin proyek nulis keroyokan dengan tema dan genre komedi. Tanpa perencanaan yang terlalu matang, ide itu pun akhirnya nekat dieksekusi di bulan yang sama hingga bulan berikutnya. Gue masih ingat, ketika itu bertepatan dengan masuknya hari lebaran. Ide itu terealisasi berkat kerjasama dengan teman-teman di @NBCPalembang, walaupun gue sepenuhnya yang jadi  koordinator proyek nulis tersebut.

Siapa menyangka kalo rencana 7 bulan yang lalu akan berbuah manis di bulan dan tahun ini.
Februari 2013, terbit sebuah buku berjudul Seketika Galau dari akun twitter @SeketikaGalau yang ditulis oleh Ferdinand Rama, dan juga para kontributor; Desi, Dui, Dewi, Diny, Cici, Vivi, dan gue. Iya, ada nama gue terselip di sini. Dan itu berarti, ini buku antologi ketiga gue yang diterbitkan oleh penerbit mayor. *eh, gak ada yang nanya ya?*


Sebenarnya gue mau cerita proses gimana buku ini bisa sampe terbit dan beredar di toko buku. Tadi sih udah gue ketik sebagian ceritanya, tapi gue hapus lagi dengan pertimbangan kalo ternyata terlalu banyak proses yang harus diceritakan dan banyak juga yang gak harus diceritakan. Istilahnya begini... buat apa ingat-ingat masa lalu dengan mantan, kalo sekarang kita udah punya gebetan. Yak, begitulah kira-kira.

Nah, berhubung bukunya baru terbit dan belum ada yang kasih spoiler apa isi buku ini, jadi gue bocorin deh sedikit. Sebutlah ini review perdana. Here we go!


Judul : Seketika galau
Penulis : @SeketikaGalau 'n Friends
Penerbit : WahyuMedia
Tahun Terbit : Oktober 2012
Cetakan : Pertama
Tebal : 200 hlm
ISBN : 9789797956868


"Bahasanya ringan dan santai. Meskipun beberapa kalimat mengandung humor, tetap saja ada bagian yang menyentuh. Keren! - @dwitasaridwita, penulis 'Raksasa dari Jogja'

Buku SeketikaGalau ini beda banget dari buku-buku lainnya. Di sini ada kocaknya, ada galaunya, dan juga bisa bikin nyengir. Yang pasti, kamu para remaja, gak bakalan nyesel ngebacanya. - @CowoCewe