Jumat, 31 Mei 2013



“Ingin bicara dengan siapa?”
“Sam. Saya ingin bicara dengannya.”
Faisal berusaha menyerahkan telepon genggam itu kepada Sam seakan-akan itu bom panas, namun Sam tak mau menerimanya. Sam berteriak sebatas gerak mulut. Siapa sih yang mengganggu waktu istirahatku di hari Minggu? Ia menghela napas dalam-dalam, mengertakkan giginya dan memalingkan punggungnya lagi.
Saya harus mengatakan apa tentangmu? teriak Faisal pada Sam, yang tak lebih dari sekadar bisikan tanpa suara.
Hening sejenak.
“Halo? Sam?”
Faisal kembali memalingkan muka pada Sam, kali ini ditambah dengan pelototan. Dengan setengah hati, Sam meraih telepon yang diserahkan Faisal. Menatapnya beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya kepada Faisal yang masih memelototinya.
“Aku tak bisa,” bisik Sam.
“Ayolah, Sam. Hari Minggumu tak akan rusak hanya karena kamu berbicara dengannya. Malah mungkin kondisimu akan semakin baik setelah berbicara dengannya.”
Sam masih saja ragu untuk mulai berbicara dengan seseorang yang ada di seberang telepon. Dia merasa tak pantas berbicara dengannya lagi. Namun, kenapa dia masih saja menghubungiku, pikirnya.
“Ayolah, Sam. Semua ‘kan baik-baik saja,” bujuk Faisal lagi.
Gambar gagang telepon masih menghiasi layar telepon genggam di tangan Sam. Kupingnya mendadak terasa panas untuk sekadar mendengar suara kecil seorang perempuan dari ujung telepon.
“Halo, Sayang.”
Sam melirik ke arah Faisal sejenak, seraya menggelengkan kepalanya tiga kali.
Perempuan di ujung telepon sepertinya sedang mengurai canda dengan Sam, bisa ditebak dari bunyi tawa kecil yang sesekali sayup terdengar dari pori-pori speaker. Lama-lama, Sam seperti terbius dalam obrolan. Keadaannya tampak mulai membaik, hingga akhir percakapan dengan si perempuan.
Faisal menyambar telepon genggam di tangan Sam dengan cekatan. Senyum menggaris sinis, ia tujukan pada Sam.
“Aku senang jika perempuanmu bisa membuatmu lebih baik. Tapi aku tidak sudi jika ia bercanda mesra dengan lelakiku terlalu lama.”



-------------
tulisan kolaborasi dengan Ahmad Abdul Muizz

Kembali. Suara bel menggema di rumah kontrakanku. Hah, sial! pikirku, marah. Bangkit dari tidur siangku yang nyaman. Setengah jam yang lalu, ada seorang sales yang menawarkan kebutuhan rumah tangga dan segera kutolak. Sejam sebelumnya, ada yang datang meminta sumbangan. Baiklah, pikirku. Kali ini ada siapa lagi? Aku benar-benar berharap tamu yang datang kali ini benar-benar tamu penting yang datang mencariku. Jika tidak, hah, akan kumarah-marahi sajalah orang yang datang ini. Biar saja. Apa mereka tidak paham arti hari Minggu sebagai hari bersantai?!
Aku menggerutu sambil membuka pintu. Dan terkejut mendapati tamu yang kini berdiri tepat di depanku.
Orang ini lagi. Aku mendesah panjang. Seorang ibu paruh baya dengan keranjang kecil di tangannya, berdiri di depan pintu. Di dalam keranjang kecil itu masih ada hewan yang sama seperti yang kulihat beberapa hari yang lalu. Kucing hitam dengan bulunya yang sangat lusuh.
“Maaf, Ibu… Sudah kubilang di sini bukan tempat penitipan hewan. Apalagi kucing dekil seperti ini? Aku alergi dengan kucing.”

Senin, 20 Mei 2013

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, para pembaca-kurang-setia blog ini.
Yak, 20 Mei bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional; salah satu hari penting bangsa Indonesia di setiap tahunnya. Kenapa salah satu? Karena masih banyak hari-hari penting lainnya. Misalnya, hari-hariku bersamamu. Uwuwuwuw~

Ngobrolin hari penting, kebetulan beberapa hari yang lalu gue baru aja menamatkan baca sebuah bukuyang juga kebetulanmengangkat tema hari raya. Hari raya yang dirayakan setiap tahun. Raya-ception
Buku yang ditulis oleh 8 pencerita ini berjudul Setahun Berkisah. Beberapa penulisnya tentu udah gak asing lagibagi pengguna Twitterkarena setiap hari mereka selalu nongol di timelinebagi yang follow. Atau kalo kalian hobi baca kumcer, mungkin pernah baca tulisan mereka di Cerita Sahabat, Cerita Sahabat 2, Perkara Mengirim Senja, Menuju(h), Rasa Cinta, dan Cerita Hati.

Berhubung judul post ini adalah review, jadi langsung aja deh gue review isi bukunya. Herwigo!


Judul : Setahun Berkisah; Cerita (Cinta) pada Setiap Musim
Penulis : Wira Triasmara Surya, Roy Saputra, dkk.
Penerbit : Bukuné
Tahun Terbit : April 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 310 hlm
ISBN : 6022200938


Aku mau tidak usah terlalu takut pada akhir dari sesuatu, tak peduli betapa besar dan berharganya sesuatu itu untukku, karena setiap akhir dari sesuatu adalah awal yang baru.Aku mau tidak takut pada kemungkinan-kemungkinan pada masa depan. Aku mau tidak takut memulai kembali.Aku mau jatuh cinta lagi. Hari ini mengajarkanku tentang semua itu.Selamat Tahun Baru. Love.

****
Tunjukkan dan rasakan cinta setiap hari, begitu katanya. Tidak peduli pada hari apa, musim apa, kamu selalu bisa merayakannya. Setahun Berkisah berisi delapan kisah cinta, delapan hari raya, dari delapan pencerita. Dengan keunikan tiap hari raya, latar belakang dan sudut pandang pencerita yang unik, kamu akan ikut dibawa merayakan cinta dengan banyak cara. Ada banyak cinta pada musim-musim ini. Cinta yang mengharapkan banyak hoki dan peruntungan ketika Imlek, cinta yang menunjukkan banyak wajahnya pada Hari Kasih Sayang—Valentine—cinta berselimutkan misteri dalam seramnya suasana Halloween, sampai cinta yang menemui akhir sekaligus memulai langkah barunya di pergantian tahun. Rayakan hari ini, karena besok selalu menjadi hari baru—mungkin pula, cinta yang baru.

Minggu, 19 Mei 2013


Aku memutuskan untuk setop di depan minimarket yang letaknya di pinggir jalan raya. Udara pengap di dalam angkot dan pesan singkat dari istriku tampaknya sukses membuatku menjadi lumayan gelisah saat ini. Pikiranku seperti mulai ada yang menguasai. Ah, aku harus mengulanginya lagi.
"Selamat berbelanja," sapa penjaga kasir ketika aku mendorong pintu minimarket dan melangkah masuk.
Kulihat ada 3 orang yang sedang mengantre di meja kasir. Orang pertama adalah seorang ibu rumah tangga usia 30-an, yang membeli beberapa keperluan mandi, minyak goreng kemasan, dan satu bungkus rokok yang mungkin untuk suaminya. Orang kedua tebakanku adalah seorang remaja kos, melihat beberapa camilan dan bungkus mi instan yang dibelinya. Orang ketiga hanya membeli minuman dingin bersoda, sepertinya seorang pelajar SMP.
Pesanan istriku sudah kumasukkan ke dalam keranjang belanja. Lalu, kuterobos antrean di meja kasir. Tak butuh waktu lama untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Habis duit berapa kamu bawa belanjaan sebanyak itu?" Pertanyaan pembuka dari istriku setibanya aku di rumah.
Aku meraih secarik kertas dari saku celana kodoray yang kukenakan. Kulirik istriku sejenak, lalu mendesah pelan. Kusodorkan kertas itu kepadanya. Ia bingung, hampir semua barang yang kubawa tak pernah tercatat di daftar belanjaan. Hanya harga nominal produk susu bayi yang tertera di sana.
"Yang penting bayi kita minum susu halal, kan?" ujarku.
"Hipnotis lagi?"
Aku mengangguk seperti tanpa dosa.


Sabtu, 11 Mei 2013

Masih sembab mataku, tapi kupaksakan membaca suratmu. Aku tidak begitu terkejut ketika tahu kalau isinya tentang keinginanmu memutuskan hubungan kita. Aku bukan Rian yang bodoh, setia menunggu Nela, perempuan yang tak punya hati yang berselingkuh dengan adik kekasihnya. Jelas kamu dan Nela berbeda. Tapi, sejak dua tahun tak ada kabar, aku sudah tak terlalu berharap padamu. Percuma menjaga hati dalam penantian yang tak pernah kujanjikan. Bukankah, sudah kukatakan kalau aku benci pada komitmen? Biarlah hubungan kita mengalir apa adanya. Meskipun begitu, tetap tak bisa kumungkiri ada sesal, kenapa keputusanmu bertepatan dengan pengabulan gugatan cerai ayah terhadap ibuku?
Suratmu kubaca separuh halaman saja. Aku yakin dengan dugaanku atas kelanjutannya yang pasti akan menyakitkan.


***

Selasa, 07 Mei 2013

27 Maret 2013

If you ask about what I read all messages on my facebook wall, twitter mention, or mobile phone text, yes I did. 
And now, I just want to take a second to say thanks to all of you for the kind birthday wishes for my 21st. 
Thanks a million, fellas!



“Terkadang masih kurasakan hadirnya di sisiku. Setiap lembar kesenangan yang kami lewati terasa mencekik perasaanku.”
Klik!
Your tweet has been updated.
***
Sudah satu jam lebih aku duduk di sekitar taman Kambang Iwak. Jika saat ini di sekitarku ada cermin, mungkin aku bisa melihat dengan jelas kalau wajahku sudah begitu kusut, mataku pun sayu. Sesekali aku menggelengkan kepala, menggigit bibir bawah kuat-kuat. Aku berusaha mengusir bayangan peristiwa yang tiba-tiba saja menghantui diriku, menghancurkan kisah cintaku, memporakporandakan jalinan kasih antara aku dan Risma—kekasihku. Hatiku yang selama ini nyaris tanpa luka, kini sudah tergores sangat dalam. Benar-benar berdarah.
Kembali teringat raut wajah Risma, saat kami mulai memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih hingga kulihat wajahnya terakhir kali kemarin.
Awal bulan Januari, dua tahun yang lalu, kami resmi mengikat hubungan. Status yang awalnya cuma berteman, lama-lama menimbulkan keakraban dan membuat kami saling terjebak perasaan. Sebut saja kami korban cinta lokasi. 
Kerikil kecil berupa pertengkaran selalu saja kami alami selama berpacaran, namun hebatnya itu semua dengan mudah dilalui hanya dengan memaklumi dan saling memaafkan. Ya, sesederhana itu. Namun, tidak untuk pertengkaran yang terjadi kemarin siang.