Sabtu, 11 Mei 2013

[Cerpen] Unreadable

Masih sembab mataku, tapi kupaksakan membaca suratmu. Aku tidak begitu terkejut ketika tahu kalau isinya tentang keinginanmu memutuskan hubungan kita. Aku bukan Rian yang bodoh, setia menunggu Nela, perempuan yang tak punya hati yang berselingkuh dengan adik kekasihnya. Jelas kamu dan Nela berbeda. Tapi, sejak dua tahun tak ada kabar, aku sudah tak terlalu berharap padamu. Percuma menjaga hati dalam penantian yang tak pernah kujanjikan. Bukankah, sudah kukatakan kalau aku benci pada komitmen? Biarlah hubungan kita mengalir apa adanya. Meskipun begitu, tetap tak bisa kumungkiri ada sesal, kenapa keputusanmu bertepatan dengan pengabulan gugatan cerai ayah terhadap ibuku?
Suratmu kubaca separuh halaman saja. Aku yakin dengan dugaanku atas kelanjutannya yang pasti akan menyakitkan.


***

"Alde, ada telepon dari Riska!" Suara ibu mengembalikan kesadaranku. Aku keluar menuju ruang tengah, menyambar gagang telepon dari tangan Ibu. Telepon dari Riska, perempuan yang mulai gencar berusaha menggantikan posisimu. Riska memang lebih cantik bila dibandingkan denganmu, tapi terlalu banyak hal yang ada padamu dan kusukai tapi Riska sama sekali tak memiliki itu. Karena alasan ketidaksukaanku itu juga kenapa nomor ponselku tak kuberi tahu padanya.
"Selamat siang, Alde! Aku punya sesuatu untukmu!" bisik Riska yang mendadak mendekatiku ketika aku memenuhi ajakan untuk bertemu yang ia buat. Di hadapanku, ia menyodorkan sebuah bingkisan kecil. Aku  semakin muak dengan tingkah lakunya. Ternyata hanya kamu yang paling tahu kalau aku laki-laki yang tak suka diberi perhatian. Aku benci semua yang terkesan romantis. Mungkin karena ayahku adalah tipe laki-laki romantis yang pada akhirnya setelah menduakan ibuku, kini berniat menceraikan ibu atas desakan istri keduanya.

***
          Sudah setahun lebih sejak aku membaca suratmu tempo hari, aku tak peduli lagi dengan berita tentangmu. Apalagi, setelah aku mencoba menerima Riska untuk menyenangkan hati ibu. Dalam pikiranku saat ini hanya berusaha untuk bisa mencintai Riska. Sesekali memang ada rindu yang menggelitik, tapi coba kuhalau. Aku benar-benar utuh menghapus adamu tanpa beban ketika kudengar kabar tentang pernikahanmu dengan Johan, lelaki manis berdarah Ambon, yang pernah jadi sahabatku.

"Alde! tunggu aku, Alde!" kudengar sebuah suara yang tak asing ketika aku sedang berjalan menuju halte bus, sepulang kuliah. Ternyata, Johan yang memanggilku. Dia agak kurus. Pasi wajahnya seolah mengabarkan padaku kalau dia tidak bahagia. Aku menepis egoku, memuaskan rasa penasaranku.
"Apa kabarmu? Bagaimana keadaan Naya?" tanyaku agak ragu.
"Kenapa kamu tidak menemuinya waktu itu?" Johan tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah menggiringku, menghempaskanku pada ketidakmengertian dengan sebuah pertanyaan yang tak kumengerti.
"Maksudmu?"
"Apa kamu tidak membaca suratnya?"
"Aku membacanya, tapi hanya setengah halaman. Apa yang terjadi?"
"Sudahlah, Alde! Kamu sudah terlambat untuk tahu. Di rahimnya ada benihku yang berusia empat bulan. Sayangnya, sebelum dia mampu mencintaiku seperti janjinya, Leukimia telah merampasnya dariku. Andai saja kamu membaca suratnya, mungkin dia pergi setelah sempat memetik kebahagiaannya bersamamu. Ah, iya, ada sedikit urusan yang harus segera kuselesaikan. Maaf, aku harus pulang duluan. Senang bisa melihatmu lagi, satu-satunya lelaki yang dicintai Naya—istriku."
Johan berlalu dan membiarkanku berdiri mematung dengan semua yang masih belum jelas. Aku benar-benar tak menduga kalau perempuan yang masih kucintai itu kini telah berpindah alam.

Surat? Yah, semua jawaban atas tanda tanya di otakku ini pasti bisa kutemukan dalam surat itu. Lima belas menit aku dihujam oleh rasa ingin tahu dalam perjalanan pulang. Buru-buru aku menuju ruang kamarku saat tiba di rumah. Kubuka laci lemari di sudut kamar, meraih amplop merah berisi suratmu dan langsung saja menamatkan ejaan yang tertunda setahun lalu.

Dear Alde,
Apa kabar lelakiku? Semoga kamu baik-baik saja seperti harapku. Aku selalu bermimpi, kamu akan jadi laki-laki pertama dan terakhir yang kucintai. Tapi, aku tak tahu apa yang nanti terjadi. Ayah dan ibu memaksaku untuk menikah dengan pria pilihan mereka yang telah kamu kenal sebelumnya. Dia salah satu temanmu di kampus, tapi kamu tak perlu tahu namanya.
Mungkin hubungan yang sudah terjalin selama empat tahun ini harus segera kita akhiri. karena aku tak punya pilihan lain. Kamu boleh memakiku sebagai perempuan hina. Terserah! Aku sungguh tak berdaya melawan kedua orangtuaku.
Alde, sebenarnya aku bisa saja berontak dengan kemauan mereka. Tapi selama ini, aku tak pernah benar-benar yakin dengan perasaanmu. Ketika aku ingin sekali memujamu, merangkaikan puisi cinta  untuk menunjukkan rasaku, kamu selalu ragu padaku. Ketika aku bertanya apakah kamu merinduiku jika beberapa hari tak bertemu, kamu selalu bilang tangkap saja isyaratmu, padahal kamu mungkin memang tak pernah memberi tanda. Selama dua tahun, aku sengaja tak mengabarimu tentang keberadaanku, karena aku merindukan kata rindumu yang tak pernah sekali pun kamu katakan. Aku menunggumu, Al!
Kita tak sedang bermain teka-teki untuk menerka kedalaman hati. Cinta tak selalu harus dikatakan tapi tak selalu harus tetap bermakna 'pernah'. Andai sekali saja kamu katakan, aku tak hanya akan berontak pada ayah dan ibuku, bahkan dunia pun akan kuhadapi untuk mempertahankanmu. Aku menunggu kesungguhanmu untuk mempertahankan hubungan kita.
Alde…, kutunggu kamu besok pagi di tempat yang sama ketika pertama kali memintaku menjadi kekasihmu. Pastikan rasamu dan temui aku di sana, agar aku yakin untuk tetap memilihmu.
Salamku, perempuan yang merindukan kata rindumu.        

Baru saja kutuntaskan membaca suratmu. Kamu berhasil membuat rasa penyesalanku membuncah. Masihkah kata rinduku berarti kini? Seandainya hari ini kamu masih setia menungguku di bukit kecil di ujung jalan sana. Bukit kecil yang menjadi saksi keinginanmu untuk mengakhiri hidup karena kegadisanmu yang direnggut oleh pamanmu yang brengsek itu. Bukit kecil yang mempertemukan kita karena aku kebetulan melihatmu di sudut jurang dan segera menyelamatkan nyawamu. Seandainya kamu masih setia menungguku di sana, pasti sekarang akan kupenuhi permintaan dalam suratmu ini.
Semua sudah terlambat untuk disesalkan. Sekarang aku di sini, bukan di bukit kecil tempatmu terakhir kali menungguku. Di depan pusaramu, aku mengurai air mata penyesalan. Untukmu…, untuk kisah kasih kita yang tak sudah. Aku terdiam menekuri nisan kayu di hadapan. Namamu tertulis di sana. Nama yang begitu dekat denganku, dulu. Biarlah lama aku di sini, menuntaskan rindu yang teramat sangat. Sungguh, aku tak pernah merindui siapa pun seperti aku merinduimu. []

2 komentar:

  1. "Kita tak sedang bermain teka teki untuk menerka kedalaman hati."
    Suukaaakk... :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!