Minggu, 08 September 2013

“Semuanya gara-gara kamu!”

“Gara-gara kamu!”

***

Diko dan Dino; anak laki-laki kembarku. Hari ini adalah hari ulang tahun mereka yang ke-18. Ruangan rumah ini telah dihiasi dengan dekorasi has acara ulang tahun, seperti balon warna dan kertas-kertas hias yang memenuhi setiap sudut langit-langit rumah. Tak ketinggalan juga, kue dengan lilin membentuk angka 18 di atasnya. Hanya satu kue untuk kedua anak kembarku.

Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga! Sekarang juga! Sekarang juga!

Rumah ini masih ramai oleh para tamu undangan, terlebih setelah acara peniupan lilin selesai.

Potong kuenya! Potong kuenya! Potong kuenya sekarang juga! Sekarang juga! Sekarang juga!

“Aku saja yang memotong kuenya!”

“Aku saja! Aku kan lebih tua beberapa jam dari kamu!”

“Dasar serakah kamu, Dino!”

***

Kali ini bukan hanya tamu undangan yang memenuhi ruangan rumahku, tapi juga datang tamu tak diundang—polisi.

“Semuanya gara-gara kamu, Diko!”

“Gara-gara kamu!”

Diko dan Dino masih saling serang dan menyalahkan. Aku tak sanggup lagi melerai, karena tubuhku sudah terbaring di lantai dengan pisau menancap di perut.