Senin, 28 Oktober 2013

EYD (Ejaan yang Diarabkan?)

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tentu kita sudah nggak asing dengan kalimat di atas. Ya, tulisan tersebut adalah bunyi butir ketiga Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia disumpah oleh para pemuda Indonesia, 28 Oktober berpuluh-puluh tahun lalu sebagai bahasa persatuan. Namun, kali ini, bukan itu yang ingin kubahas.

Sebentar... mau flashback dulu.

Pada suatu pagi di bulan Ramadan, sebagai remaja gaul pada umumnya, aku membuka jejaring sosial Facebook. Di halaman beranda, aku membaca status dari sebuah halaman education website Bahasa Kita yang isinya kurang lebih seperti ini: "SALAT bukan shalat atau solat." Status tentang tata bahasa EYD.
Aku pun tergelitik untuk membaca puluhan komentar pada status tersebut. Namun, seketika aku terbelalak saat melihat ada begitu banyak komentar kontra menyahuti status itu.

"Yang benar tuh shalat."

"Seharusnya sih SHOLAT. Sesuai dengan penulisan Arab-nya SHOD, LAM ALIF, TA MARBUTOH. Kalau SALAT, penulisan Arab-nya SIN, LAM ALIF, TA MARBUTOH."

"Yang penting pelaksanaannya, enggak usah ribut soal bahasa."

"Gue pilih nulis SHOLAT."

"Yang benar tuh SHOLAT, kalau SALAT itu sayuran."

"Yang bikin kamus bahasa Indonesia ini jangan-jangan orang kafirin dan musyrikin, yang sengaja mengubah-ubah arti dan makna setiap kata."


Aku cuma bisa mendesah panjang membaca komentar-komentar di atas. Ternyata, masih ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang 'mengaku' mencintai negaranya, namun mengabaikan perkembangan bahasanya. Ck-ck-ck.
Aku menelusuri lagi barisan komentar di sana, rupanya ada juga beberapa kicauan 'memihak' yang sekilas kubaca dan membuat aku mengangguk-angguk setelahnya.

"Kalau kata para ahli bahasa Indonesia, sholat menjadi salat, ya sudah... Berarti itu yang ditetapkan dalam bahasa baku kita. Enggak usah ngeyel!"

"Pantas nilai bahasa Indonesia anak sekolah zaman sekarang anjlok semua. Diberitahu yang benar, tidak terima."

"Shalat adalah transliterasi dari bahasa Arab, sedang salat adalah kata serapan yang sudah diindonesiakan. Seperti kata taat, kalau transliterasi asli dari bahasa Arab, adalah tha'at atau tho'at."

"Begini Saudaraku. Saya seorang Muslim yang tinggal di Indonesia. Sebagai seorang Muslim, saya ikuti aturan-aturan Islam. Sebagai bangsa Indonesia, saya ikuti aturan-aturan di Indonesia. Ini awalnya mengenai bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab. Karena Islam menggunakan bahasa Arab, dan kita menggunakan bahasa Indonesia. Saya melihat ini menjadi bukan sekadar serap-menyerap bahasa. Ketika ideologi merasa tersentuh, ada kalanya berubah menjadi egois."

Tanggapan yang bagus, saudaraku! 

Jadi, begini... kita tahu, Indonesia bukanlah negara Arab. Indonesia hanya negara yang masyarakatnya (kebetulan) mayoritas beragama Islam—yang menganut kitab suci (yang diturunkan di/berbahasa) Arab.
Kalau saja kita rajin atau sesekali saja meluangkan waktu untuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita pasti akan menemukan ada banyak bahasa Arab yang sudah kita adaptasi, namun dalam penulisannya seringkali kita salah kaprah. Contoh: ramadan, takwa, korban, ustaz, azan, dll. Intinya, Semua bahasa Arab yang diindonesiakan, sudah disesuaikan dengan pelafalan lidah orang Indonesia. 

Nggak sudi berbahasa Indonesia yang baik dan benar? 
Artinya...
a. Kamu mengingkari Sumpah Pemuda
b. Kamu disinyalir sebagai kaum 4Lay yang mengenaskan
c. Mungkin kamu perlu dideportasi ke... Arab


Selamat hari Sumpah Pemuda!

16 komentar:

  1. keren ini.
    sering banget tuh gua liat orang debat hanya gara-gara kata doang.
    makanya kadang gua bingung, apakah jadi muslim harus menjadi orang arab?

    kunjung balik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang ada tuh segelintir oknum yang sering mengarabisasi Indonesia dengan bawa nama agama. Heran.

      Hapus
  2. yang penting jangan menggunakan bahasa alay, karena kebanyakan orang dengan tata bahasa alay cara berpikirnya sempit :p

    BalasHapus
  3. kalau kata serapan dari bahasa Arab kok ribut melulu. banyak kan kata-kata Indonesia yang diserap dari bahasa Inggris atau Belanda itu langsung diiyakan aja. errr...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah! Taxi jadi taksi aja misalnya, gak ada tuh yang protes. Atau istilah e-mail yang padanan katanya surel (surat elektronik), malah jarang dipakai. :|

      Hapus
  4. amazing mas! keren banget. emang udah parah nih keadaan bahasa kita. keep posting buat kelestarian bahasa ibu kita mas! :D

    BalasHapus
  5. Suka dengan postingan ini, pantes saja Dendi bilang kamu master EYD :D

    BalasHapus
  6. Postingan yg bagus, do. Selamat hari sumpah pemuda!

    BalasHapus
  7. Kereen o.O Haha, padahal aku sering nulisnya "sholat" ._.v *koreksi dalam hati* Makasih infonya!

    BalasHapus
  8. engkau patriot pahlawan bangsa, Do.

    BalasHapus
  9. Ada juga nih orang yg ngotot nulis "Alloh" alih-alih "Allah", padahal pas gw denger, dia ngucapinnya "Awloh", bukan "Alloh". Jadi kalo mau objektif, semua salah. :p :D

    BalasHapus
  10. Sumpah Pemuda bukannya sudah diharamkan?

    BalasHapus
  11. ya, tuhan. pemilik blog ini keren sekali. selalu menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. contohnya : sebentar, mau flashback dulu. LOL

    BalasHapus
  12. Keren nih postingannya. Gue biasa nulisnya "sholat" dan ternyata salah ya u.u

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!