[Review] Lontang-Lantung — Roy Saputra

Pernah bermimpi ingin bertemu dengan seseorang? Artis idola, pacar khayalan, atau tokoh politik kebanggaan? Aku pernah. Sekitar tahun 2009, saat masih duduk manis penuh kharisma di bangku SMA, aku pernah bermimpi ingin bertemu seorang penulis. Anggap saja ia adalah penulis favoritku... walaupun sebenarnya yang aku favoritkan adalah buku yang ia tulis, bukan orangnya.

Sejak membaca Doroymon, 4 tahun silam, aku mulai jatuh cinta pada genre komedi. Sampai hari ini. Sampai aku bertemu dengan penulisnya langsung. Roy Saputra.

Sejak terpikat oleh Doroymon, aku jadi berambisi memburu semua karya beliau, mulai dari Trave(love)ing, Rasa Cinta, sampai Setahun Berkisah. Juga kedua buku lainnya yang belum sempat kubaca; The DestinASEAN dan Trave(love)ing 2. TELAAAT. Karena sebelum buku-buku tadi, ternyata ada beberapa karyanya yang belum aku baca. Salah satunya novel komedi berjudul Lontang-Lantung, yang terbit tahun 2011. 
Pernah coba cek di setiap database toko buku yang aku kunjungi, tapi stok buku ini kayaknya udah punah dari peradaban. Coba tanya toko buku online, hasilnya tetap nihil. Sampai akhirnya, datang sebuah berita mengejutkan... tersiar kabar bahwa Lontang-Lantung akan dicetak kembali. Ahay!

Dan... Lontang-Lantung edisi repackaged pun terbit. Udah kelar dibaca, beberapa hari sebelum bertemu langsung dengan penulisnya. Saat kak Roy nanya apa pendapatku tentang buku ini, aku cuma jawab singkat: Ringan, lucu, dan filmis. :))

Itu tadi komentar singkatnya. Biar afdol, kali ini aku mau kasih review yang agak panjang tentang novel Lontang-Lantung. Here we go!


Judul : Lontang-Lantung
Penulis : Roy Saputra
Penerbit : Bukuné
Tahun Terbit: 2013
Cetakan: Pertama (edisi repackaged)
Tebal : 252 hlm
ISBN : 602-220-110-1


“Ri, namaku tak ada di sini,” kata Togar menggaruk-garuk kepalanya. Nama Togar jelas nggak ada. Dia kan nggak pernah masukin lamaran.
Gue mendekat ke arah Togar dan sedikit berbisik, “Coba lo liat, di situ ada yang nama Batak tapi masih kosong, nggak? Lo tanda tangan di situ aja. Ngaku-ngaku jadi dia.”
“Kenapa pula mesti nama Batak?”
“Gini, ya, Gar. Badan gede, muka kotak, dan logat Batak gitu, masa iya nama lo Paijo?”
“Ah, pintar juga kau. Tak percuma Mamak kau sekolah kan kau tinggi-tinggi!” Togar semangat mencari nama Batak yang kosong, “Eh, Ri. Ketemu, nih!”
“Siapa?”
“Rani Pangabean!”
“Yang cowok, Gar. Yang cowok.” Gue menunduk malas.
“Ah, iya. Benar juga kau!”
Togar menelusuri lagi daftar dan berhasil menemukan nama yang sepertinya pantas untuknya. Yohan Sitompul.
“Silakan tanda tangan di sini, Pak Yohan.” Mbak penjaga menunjuk kolom yang kosong.
“Ah, iya. Yohan, Yohan. Memang aku itu Yohan. Yohan Sitompul. Terima kasih banyak, Mbak. Salam hangat dari saya; Yohan Sitompul.” Togar yang grogi, mengulang-ngulang nama Yohan, membuatnya terlihat sangat kikuk dan aneh.

****

Cari kerja zaman sekarang emang nggak gampang, banyak orang rela melakukan apa sana. Itu juga yang dialami Ari Budiman, seorang sarjana pengangguran yang tak henti berjuang mencari pekerjaan demi sesuap nasi, tempe, ayam, dan tahu. Berhasilkah dia?
*… tolong ya, dibantu ya. bim salabim, kerja apa? prok prok prok.*


Lontang-Lantung bercerita tentang seorang tokoh bernama pasaranAri Budiman, dalam mencari secercah pekerjaan. Perjuangannya gak luput dari sekelumit rintangan, mulai dari wawancara menegangkan nan kampret, terjebak bekerja di sebuah perusahaan minyak bernama Oli Greng, hingga sebuah peristiwa dilematik yang memaksanya menjadi IT Division Head di Indobahariーhanya karena nama pasaran yang disandangnya.

Dalam hiruk pikuk pencarian kerja, Ari Budiman ditemani oleh dua sahabatnya; Togar Simanjuntak dan Suketi Kuncoro. Togar adalah seorang batak gila yang sering ngaku-ngaku kalau dia adalah cucu dari C. Simanjuntak, penulis lagu nasional. Sedangkan Suketi, cowok berlogat Jawa medok yang ber-IPK rendah namun lebih dulu diterima bekerja daripada Ari. 
Selain tentang perjuangan dan persahabatan, Lontang-Lantung juga menyelipkan unsur percintaan. Salah satunya, kisah asmara antara Ari Budiman dan Bella. Btw, kisah asmara keduanya terwakili oleh theme song novel ini, judulnya Strawberry Jus. Lagunya gurih!  

Novel ini ringan. Ringan bukan berarti gak berbobot. Justru ide cerita, alur, dan konfliknya berbobot dan unik. Bacanya santai dan gak bikin kening berkerut. Tapi, hal ini gak berlaku bagi pembaca yang udah memasuki usia di atas 60 tahun, dahinya jelas mengkerut secara alamiah. 

Novel ini lucu. Jokes-nya segar dan gak terlalu maksa. Penulis bukan cuma asal berkomedi dengan memaparkan rangkaian paragraf absurd, tapi ada pesan moral yang hendak penulis sampaikan di akhir bab, yaitu tentang mencukur bersyukur.

Novel ini filmis. Membaca novel ini ibarat sedang menyaksikan rangkaian scenes dalam sebuah film. Deskripsi tokoh dan setting tempat seolah tergambar jelas di awang-awang pikiran. Jadi, gak heran kalo ada sebuah rumah produksi yang akhirnya tertarik untuk mengangkat Lontang-Lantung ke dalam ranah visual, menjadi film layar lebar! Ari Budiman,cs akan segera eksis di bioskop. Wogh! 
Anyhoo... Ini bocoran beberapa cast film Luntang-Lantung: Dimas Anggara sebagai Ari Budiman, Acho Muhadkly sebagai Suketi, dan Nugroho Achmad sebagai Togar. 

Penasaran? Beli novelnya dan nantikan filmnya!


Roy Saputra dan Ketua Royholic Regional Palembang. LOL.







Next
Previous
Click here for Comments

5 komentar:

avatar

Biar gahol, gw komen deh...
Setuju... Bukunya ringan, menarik dan cocok dijadiin pilem komedi...

avatar

Aku jg punya buku ini, dapat hadiah dikirim langsung oleh penulisnya *pamer* tp blum slese bacanya, dibagian awal aja udh ngakak terus bacanya, kocak.
btw itu typo apa gmana bang ? kok ditulisnya tahun 2011 terbitnya *tulisan diatas gambar* ? terbit tahun 2013 kan ?

avatar

Bener kok, awal terbitnya memang 2011. Terus, edisi repacked-nya terbit 2013.

avatar

Oh gtu hehee thanks.
Oh iya aku bru ngeh awalnya covernya ga gitu yah sma judul Luntang Lantung berubah jd Lontang Lantung hehee

avatar

Kapan tayang film y uda g sabarrrrr

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!