Sabtu, 16 November 2013

[Interview] Nilam Suri - Novelis

Setelah cukup sukses me-review novel Camar Biru beberapa dekade silam, kali ini aku berkesempatan mewawancarai penulisnya nih. Nilam Suri. 
Semua pertanyaan diajukan lewat surat elektronik secara simultan dan komprehensif, serta tanpa menyodorkan sogokan dalam bentuk apapun. 

Nilam Suri sudah sejak lama beranggapan bahwa growing up is overrated, even after being a mom. Paling aktif menulis ketika matahari berubah jingga, atau saat langit menjadi kelabu, dan pastinya saat gerimis bergemerisik pelan dari balik jendela. Saat ini berprofesi sebagai Assistant Managing Editor di Fimela.com. Ia pernah menerbitkan buku kompilasi dengan penulis lain, berjudul Penggambar Mimpi (BalonUdara, 2008). Camar Biru (GagasMedia, 2012) adalah novel pertamanya.

Nilam Suri

Berikut 11 pertanyaan untuk Nilam Suri:

--------------------

Bisa ceritakan tentang perjalanan menulismu?
Perjalanan menulis ya... Aku mulai nulis-nulis cerpen itu dari SMP, tapi ya cuma nulis-nulis iseng aja, nggak pernah yang serius. Mulai ngelihatin tulisanku ke temen-temen itu SMA, but again, cuma buat iseng-iseng aja. Pas kuliah (di Sastra Inggris UI), aku ambil kelas yang namanya "penulisan populer". Di kelas itu, kita diajarin menulis fiksi, setiap minggu harus bikin 1 cerpen dengan berbagai gaya. Dosennya itu sastrawan gaek yang namanya Ismail Marahimin. Nah, Pak Ismail inilah yang bikin aku sadar bahwa ternyata aku memang bisa menulis, dan bahwa aku bisa menulis. Dari situ aku sadar, bahwa apapun profesiku nanti, pasti berhubungan dengan tulisan. Dan memang benar, sekarang pun aku kerja di media. :)

Apa sumber inspirasi terbesar?
Dari keciiiiil banget, aku itu udah suka buku, dan cerita. Dulu malah aku nggak mau makan kalau nggak didongengin. Sejak balita aja aku udah punya koleksi buku, dan semua orang kena jatah buat bacain buku-buku itu sampai aku hafal isinya. Kebiasaan itu berlanjut sampai gede. Aku bisa dibilang kecanduan buku dan kisah cerita, sampai di satu titik aku merasa kadang cerita-cerita itu nggak cukup lagi, dan bahwa aku harus mulai menulis sendiri ceritaku. Walaupun pecandu buku, tetap saja jenis bacaanku itu buku-buku ringan, dan kadang buku-buku itu entah terlalu ringan, atau ending-nya nggak memuaskan, atau malah ceritanya bikin gemes, sampai-sampai aku akhirnya geregetan sendiri, dan jadi pengin nulis.
Jadi sebenarnya menurut aku, nggak mungkin seseorang bisa jadi penulis yang baik kalau dia nggak suka baca.

Menurutmu, apa yang harus terjadi di halaman pertama dan terakhir sebuah novel untuk membuatnya berhasil? 
Duh, apa ya... Yang jelas, halaman pertama itu sudah berisi untaian kalimat yang bisa bikin si pembaca penasaran, dan kecantol. Entah aneh, lucu, nyeleneh, atau dibuka dengan kejadian spesifik yang bakal bikin pembaca ingin terus membalik halaman buku.
Sedangkan untuk halaman akhir... well, kalau buku itu happy ending, halaman akhirnya harus bisa bikin pembaca menutup buku sambil tersenyum dan menempelkan buku itu ke dadanya. Atau justru bikin pembaca ngelempar buku itu ke seberang ruangan, cuma untuk diambil lagi dan dibaca ulang. Intinya halaman terakhir itu harus memorable, baik dalam cara yang menyenangkan, menyebalkan, menyedihkan, atau menggemaskan.

Jika ada hal yang harus kamu perbaiki dari keahlianmu menulis, hal-hal apakah itu?
Mungkin aku ingin supaya diksi bahasa Indonesiaku semakin kaya. Pernah ada kritikus yang bilang bahwa aku menulis jauh lebih baik dalam bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia, dan aku nggak ingin kayak gitu terus. Bahasa Indonesia itu kaya dan indah, dan aku benar-benar ingin bisa menguasainya dengan baik.
Oh, sama disiplin diri kali ya. Ini kelemahan terbesarku, I'm so bad with deadline. Aku selalu 'berhasil' melanggar deadline-ku sendiri. Nih, makanya, udah satu tahun berlalu aku masih juga belum nerbitin novel baru. Sedih ya....

Sebutkan beberapa frase yang paling sering kamu gunakan dan kenapa bisa begitu?
Hmm, apa ya... Kayaknya nggak ada deh. Eh, tapi tulisanku itu pasti sering banget melibatkan senja, dan pantai. Aku juga nggak tahu kenapa, tapi banyak sekali tulisanku yang berkisar di antara kedua hal ini.

Bagian yang kamu suka dan tidak dari novel terbarumu?
Dari Camar Biru ya.... Bagian favoritku itu... setiap kali Nina dan Adith menghabiskan waktu berdua di apartemen Nina, apalagi bagian yang mereka satu kasur bareng dan hanya pegangan tangan sepanjang malam. Oh, sama e-mail dari Sinar juga.
Yang aku kurang suka... apa ya? Mungkin in general aku hanya ngerasa cerita itu bisa lebih baik lagi kali ya...

Cerita macam apa yang ingin kamu tulis tapi belum terwujud hingga sekarang?
Cerita tentang persahabatan beberapa perempuan. Aku itu tipe orang yang cukup beruntung karena memiliki sahabat-sahabat terbaik di dunia. Memiliki sahabat cewek yang baik itu istimewa lho, karena persahabatan perempuan could be tricky sometimes. Jadi aku beruntung, karena punya sahabat yang bener-bener tulus. Dan aku pengin banget bikin cerita tentang hal ini, dan bikin cewek-cewek lainnya yang punya temen-temen kayak aku sadar, betapa beruntungnya mereka. :)

Lima judul buku yang ketika membacanya kamu berpikir andai saja saya yang menuliskannya. Kenapa?
- One Day oleh David Nichols, karena ceritanya sangat mengalir, biasa sekaligus istimewa. Walaupun kalau aku yang nulis akhirnya nggak bakal gitu ya, I'm a sucker for a happy ending, hehehehe.
- I Love New York oleh Lindsey Kelk, because I love chick-lit, and I want to write one one day. Novelnya Lindsey Kelk ini berhasil bikin chick-lit ga jadi obnoxious dengan rentetan barang-barang bermerek yang ada di dalamnya. Tokoh utamanya juga menyenangkan, cerita lucu, dan tokoh cowoknya itu to die for banget!
- Before I Fall oleh Lauren Oliver. Buku itu manis sekaligus sedih. Untuk ukuran buku-buku young adult, pilihan bahasanya sangat cantik, deskripsinya juga indah. Dan ceritanya juga jauh dr klise. Pokoknya bagus deh.
- Dengarlah Nyanyian Angin oleh Haruki Murakami. Ahahahahak, yang ini agak ngarep sih. Siapa juga coba yang nggak mimpi bisa nulis kayak Murakami. Aku pengin banget bisa menulis sesuatu yang 'hening' tapi sekaligus menghanyutkan kayak gitu.
- I Hunt Serial Killer oleh Barry Lyga. Aku terobsesi sama serial killer, aku sungguh-sungguh penasaran sama apa yang ada di otak mereka. Dan bukunya Barry Lyga ini seolah bisa berhasil menampilkan sedikit kilasan tentang cara kerja otak serial killer, dan dengan cara yang ringan, karena ini buku untuk young adult. So I think it's really special.

Punya penulis idola? Seberapa besar pengaruh tulisannya terhadap gaya menulismu?
Punyalah. Yang pasti tentunya Her Royal Highness, J.K. Rowling ya... Lalu ya itu, Haruki Murakami tadi, sama Banana Yoshimoto. Aku juga suka Lauren Oliver sama Gayle Forman, dan Sophie Kinsella tentunya.
Mungkin aku terpengaruh jadi ingin bikin tulisan dengan gaya bahasa sehari-hari tapi sekaligus punya makna yang sedikit lebih dalam.

Apa arti menulis untuk kamu?
Buatku menulis itu kadang seperti pelarian. Suatu hal yang aku lakukan saat aku lagi butuh sesuatu yang menyenangkan, atau justru malah sebagai 'obat' saat aku merasa sedih, kurang, atau insecure. Entah kenapa menulis itu selalu bisa bikin aku ngerasa lebih baik :)

Apa saran kamu pada orang yang mau belajar menulis?
Banyak baca, dan jangan kebanyakan mikir. I mean, kalau udah mulai nulis, ya terusin aja dulu sampe selesai. Jangan kebanyakan mengkritik diri sebelum cerita selesai, karena ujung-ujungnya malah jadi nggak selesai nulis.
Sama ya memang harus rajin baca ya, karena pasti nanti jadi terinspirasi. Gitu aja sih.

--------------------

Terima kasih, mbak Nilam atas waktu, jawaban, dan sharing pengalamannya dalam bidang menulis. Ditunggu novel-novel berikutnya! 
Untuk mengenal narasumber lebih lanjut, silakan sapa di twitter @justutterly

Salam,
Rido Dewanto Arbain

1 komentar:

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!