Jumat, 01 November 2013

[Review] After Rain — Anggun Prameswari

Review buku kali ini dikhususkan untuk event GagasDebut Virtual Book Tour
GagasDebut adalah sebutan bagi penulis-penulis debutan yang untuk pertama kalinya menerbitkan novel di penerbit GagasMedia. Sedangkan Virtual Book Tour adalah program promosi buku secara virtual dari blog ke blog atau jejaring sosial. 
Kebetulan, bulan ini aku terpilih sebagai salah satu HOST yang akan mengulas 2 dari 15 novel GagasDebut. Karena aku berlaku sebagai HOST di blog sendiri, jadi review akan tetap berlangsung secara subjektif dan suka-suka. So, here we go.



Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 332 hlm
ISBN : 979-780-659-6


Mungkin aku dibutakan oleh cinta, sebab akalku dikacaukan olehmu. 
Seberapa banyak pun aku meminta, kau takkan memilihku.
Ini yang kau sebut cinta?
Menunggumu bukan pilihan.
Izinkan aku meninggalkanmu, dengan serpihan hati yang tersisa.

Dan jika ternyata dia yang ada di sana, sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan, saat kami saling menyembuhkan—salahkah itu?



Yang pertama kali terbesit di pikiran saat mengeja judul novel ini adalah... kisah sedih yang berujung bahagia. Karena, biasanya, filosofi hujan adalah air mata. Iya, kan? Jadi, pertanyaan besar yang ditawarkan novel ini (mungkin) adalah "Apakah yang akan terjadi setelah rinai air mata kesedihan?" Jawabannya adalah "Akhir yang bahagia." Ini hipotesa awalku sebelum membuka halaman pertama After Rain. Ya, terkadang aku memang sotoy.

Seperti biasa, GagasMedia nggak pernah main-main soal sampul buku. Pemilihan gradasi warna, tata letak dengan font yang pas, serta ilustrasi yang menjelaskan gambaran cerita dalam novel; seorang perempuan dengan payung di tangannya dan latar langit senja.

After Rain mengisahkan tentang kehidupan seorang perempuan bernama Serenade Senja. Seren, ia biasa disapa, diceritakan sedang terjebak dalam hubungan terlarang dengan pria beristri. Seren adalah selingkuhan Bara, yang sudah memiliki istri bernama Anggi dan seorang anak bernama Lily. Di sini, penulis mengangkat tema perselingkuhan dari sisi orang ketiga. Agak berbeda sih dengan novel kebanyakan, yang sering menyorot tokoh utama sebagai korban yang diselingkuhi, bukan pelaku perselingkuhan.

Serenade Senja dan Sambara Darmasaputra, sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama sepuluh tahun—terhitung tahun mereka resmi tercatat sebagai pasangan selingkuhan. Tiga tahun sebelumnya, Bara telah menikahi perempuan bernama Anggi, karena perjodohan orangtua. Ia sempat mencoba berontak, namun tiba-tiba ayahnya jatuh sakit. Lalu, demi kesembuhan ayahnya, ia menuruti perjodohan. Lalu... tebak sendiri!
Bara menikahi Anggi, sementara cintanya masih milik Seren. Dan, itu berlangsung selama tiga tahun setelahnya. Selama itu pula, Seren setia menunggu Bara. Selama itu pula, Bara belajar mencintai Anggi. Selama itu pula, stabilitas ekonomi Indonesia semakin menurun. (lah?)

Bara tak kunjung memberi keputusan; memilih Anggi yang sudah menjadi ibu dari anaknya atau meninggalkannya demi Seren—perempuan yang sejak lama dicintainya. Ketidakpastian itu akhirnya membuat Seren menyerah. 
Seren memutuskan untuk resign dari perusahaan tempatnya—dan Bara—bekerja. Seren pun memilih pekerjaan yang sesuai passion-nya, yaitu menjadi guru pengganti bahasa Inggris di SMA tempat Nola—keponakan sahabatnya, Keandra—bersekolah. Dan, di sanalah, ia bertemu dengan seorang guru musik bernama Elang. Pria yang nantinya membuat dilematik apakah Seren akan me-replace Bara demi Elang di hatinya. 

Novel ini dieksekusi dengan plot yang kuat dan mengalir, dengan alur maju-mundur. Walaupun pada bab-bab akhir, alur terkesan terburu-buru, mungkin karena penulis kurang sabaran untuk menyelesaikan konflik cerita. But, that's okay. Pembaca juga nggak mau, kan, dihadapkan dengan ending yang diulur-ulur mirip opera sabun?
Bahasa dan diksi yang digunakan pun mudah dicerna, dan tidak dipaksakan untuk puitis dan quotable. Narasi yang mengalir dari sudut pandang orang pertama, dialog-dialog singkat yang nggak terlalu kaku, dan kronologis yang menjelaskan secara detail setiap kejadian. 
"Patah hati bukan vonis mati." - Elang (After Rain)

After Rain nggak direkomendasikan untuk anak sekolahan, karena ada beberapa adegan tokoh yang dipaparkan untuk konsumsi kalangan dewasa. You know what I mean-lah. 
Sebuah novel debutan yang nggak mengecewakan, mengingat Anggun Prameswari memang bukanlah orang baru dalam dunia tulis-menulis. Novel ini bisa menjadi selingan yang menarik di sela-sela kepenatan aktivitas rutin sehari-hari, tapi mungkin nggak cukup untuk menamatkannya dalam sekali duduk.

Sekian review buku kali ini.
Saya, Rido Dewanto, mohon undur diri.
*matiin mik*
*turun panggung dengan kharismatik*

8 komentar:

  1. After Rain mengangkat tema perselingkuhan juga yaa? Mirip sama Cinta. nya Bara dong? Boleh juga nih dibaca.

    Nice review bang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Waktu baca review Cinta. di goodreads juga langsung mikir kalo sekilas temanya mirip.

      Hapus
  2. kalau di kehidupan nyata mungkin aku akan seperti Kean, geregetan sendiri karena punya sahabat yang keras kepala banget, mau aja dipermainkan, nggak capek sakit hati.

    hahaha stabilitas ekonomi Indonesia semakin menurun :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si Seren itu memang pantas ditoyor kayaknya. Dicium sama cowok beristri dan beranak satu masih mau. Hiii~ #TimElang

      Hapus
  3. jadi mupeng pengen baca...thx reviewnya :)

    BalasHapus
  4. wah aku belum baca novel ini, entar deh kalau ada waktu di cari di toko buku terdekat. hehe. thanks for the review :)

    BalasHapus
  5. Tolong itu kutipan tentang cover dll, Do. :)) Nyusul aaah nge-review jugaa :D

    BalasHapus
  6. Sebenarnya pengen baca~
    Tapi saya anak sekolahan -yang pengen banget baca buku ini-. Covernya itu nggak nahan :3

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!