Sabtu, 21 Desember 2013

[Review] Ngenest; Ngetawain Hidup A la Ernest — Ernest Prakasa

Nggak kerasa, rupanya hampir dua bulan terakhir ini aku absen ke toko buku. Ini sungguh prestasi bagi diri pribadi dan layak dimasukin ke curriculum vitae.
Banyak alasan untuk nggak ke toko buku dalam rentang waktu tersebut. Alasan paling mendasar adalah karena utang bacaan makin numpuk. Ada banyak buku belanjaan yang belum terjamah, ditambah lagi paket buku hadiah dari penerbit. Baik hasil menang kuis ataupun dikasih cuma-cuma, menambah deretan buku-buku yang terabaikan oleh tuannya. Karena alasan ini juga, akhirnya aku dan seorang teman yang kolektor buku juga, memutuskan merintis—sebut saja—online bookshop khusus buku bekas/koleksi pribadi. Kalau minat, silakan mampri ke twitter @VileBookshop. Diorder ya, Sis~

Kemarin, saat masuk ke Gramedia PS, aku sampe celingukan. Rupanya ada banyak sekali buku-buku yang baru terbit. Bingung dong mau beli yang mana. Di saat pikiran sibuk berkecamuk, mataku tertumbuk di salah satu sampul buku berwarna kuning.  Ah, buku ini... Jadi ingat beberapa bulan yang lalu, saat Ernest Prakasa, di twitter, meminta usulan judul untuk buku terbarunya. Waktu itu aku juga iseng ngajuin judul: Ernestory/Ernestories. Sempat di-mark as favorite sih oleh Koh Ernest (panggil Koh, biar kesannya akrab banget), walaupun akhirnya nggak kepilih juga. Ya wajar, usulan judulnya nggak marketable gitu. Ternyata, judul NGENEST yang kepilih.


Yaelah, jadi curhat. Intinya, aku jadi beli buku ini, dengan beberapa pertimbangan. Menurut isu yang beredar, buku ini lucu. Ditambah lagi, aku selalu menikmati kelucuan Koh Ernest di TV/YouTube sebagai comic. Apakah buku ini selucu penampilannya di panggung stand up comedy? Nah, biar kujawab di review ini~



Judul : Ngenest; Ngetawain Hidup A la Ernest
Penulis : Ernest Prakasa
Penerbit : Rak Buku
Tahun Terbit : Oktober 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 170 hlm
ISBN : 978-602-175-597-6

Dibanding bokap, keluarga nyokap gue tuh lebih original Cinanya. Gaya ngomongnya masih totok banget. Bagi mereka, gak ada istilah “kami” atau “kalian”. Adanya adalah “gua orang” dan “lu orang”. Kesannya insecure banget ya? Gue juga tau kalo kita semua ini orang, bukan ubur-ubur.
(Diambil dari bab “Woy, Cina!”)

Di banyak mall di Jakarta, ada petugas lift. Padahal siapa sih yang gak mampu mengoperasikan lift? Kalo mau ke lantai 3, kan tinggal cari tombol angka “3”. Simpel. Kecuali tulisan di tombolnya bukan “3”, tapi lebih rumit. Misalnya “1⁄2 x √36”.
Lagian gue belum pernah baca ada headline koran semacam ini:
“GAGAL MENEMUKAN LANTAI TIGA, SEORANG REMAJA TERJEBAK SELAMA DUA HARI DI DALAM LIFT MALL TAMAN NAGREK”
(Diambil dari bab “Jakarta Dikepung!”)



Ngenest adalah buku nonfiksi, berisi kumpulan tulisan berupa memoar dan perspektif dari seorang Ernest Prakasa. Ada total 23 bab di buku ini yang disampaikan dengan gaya khas Ernest; yang cerdas dan tajam, yang menyentil, sampai yang bikin merenung. 

Menyampaikan pandangan dari sisi komedi memang susah, nggak semudah melawak dengan modal lempar-lemparan tepung atau pukul-pukulan pake styrofoam kayak oknum-oknum di TV. Namun, Ernest bisa mengadon semua perspektif sederhana di tulisannya dengan jokes yang menghibur. 


Isu-isu yang diangkat di buku ini nggak jauh dari kehidupan sehari-hari, seperti di bab Gejala Kecanduan Twitter dan Balada Baju. Ada juga bab berjudul Woy, Cina! dan Menjadi Minoritas yang menuangkan keresahan Ernest sebagai keturunan Cina yang jadi minoritas di Indonesia. Isu lain yang diangkat adalah dari sisi seksualitas, seperti di bab Tabu dan Kondom Oh Kondom

Semua tulisan disampaikan dengan materi yang diramu dengan bit dan punchline yang memancing tawa. Membaca buku ini seperti sedang menyaksikan Koh Ernest berdiri di hadapan penonton dalam sebuah stand up comedy show. Pecah!

Ilustrasi-ilustrasi di buku ini juga lumayan oke. Lumayan melengkapi kelucuan teks dan lumayan menambah-nambahi halaman. Selain itu, diri ini juga lumayan tampan.

Yang paling bikin ganggu dari buku ini adalah typo yang merajalela, jeda kalimat yang lolos tanpa spasi, beberapa kata yang cacat EYD (seperti kesalahan penulisan awalan di-), serta istilah asing yang nggak dicetak miring. Entah ini kesalahan editor, atau penulis yang remeh pentingnya jadi self editor sebelum mengirim naskah ke penerbit. 

Terlepas dari kesalahan-kesalahan yang bersifat teknis di atas, buku ini tetap layak dijadikan referensi bacaan. Bertambah satu lagi buku nonfiksi yang materinya lelucon berisi. 

Sebelum menutup review yang ciamik ini, izinkan aku melayangkan protes keras ke pihak penerbit Rak Buku... "MBAK/MAS, LAIN KALI KALO NERBITIN BUKU, KASIH BONUS PEMBATAS BUKUNYA ICA KELEUUUS~"

8 komentar:

  1. AAKKKK AKU BELUM KELAR BACAAAA ~

    (sama, kendala banyak hutang bacaan yang belum terbaca jadi malas beli buku lagi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAKKKK BLOGKU DIKOMEN ADMIN @POCONGGG ~

      Hapus
  2. Yah jadi keinget sama buku gue banyak kesalahan teknisnya, tapi buku gue ada pembatasnya kok *kedip-kedip manja*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar jadi self editor dong makanya. :))
      Eh, tapi aku belum baca bukumu. Kirimin dulu siniiii.

      Hapus
  3. Gue udah baca, nih. Bukunya hacep! Hahaha. Apalagi soal yang vulgar, bikin ngakak. :))

    BalasHapus
  4. Keren nih rating dari filmnya :o Sinopsisnya juga keren sip lah

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!