Jumat, 26 Desember 2014

Aku sedang bersua dengan penyair dalam mimpi
Kami melewati diskusi panjang tentang puisi
Panjang sekali, sampai nyaris tak menyentuh muara solusi

Iasang penyair itumembantah semua definisi 
Lantas mengagungkan semua awam dalam bait-bait tak berisi
Iapenyair dalam mimpi itubertutur perihal puisi cinta
Katanya...

Puisi cinta tak melulu mesti berbait manis
Tak harus lebih rumit dari kisah percintaan dua remaja dalam kisah filmis
Puisi cinta pun tak harus mewakili diri meneriaki yang dituju
Dalam lariknya, semua adalah kewajaran
Termasuk asmara antara nyamuk dan kulit pori-pori

Puisi cinta, ya, bisa seperti ini... 
Ditulis seadanya, kosong makna, minim kalimat meliuk-liuk
Tak selalu perlu berima
Tak selalu harus dibaca dengan irama

Iapenyair yang bersua dalam mimpi ituberujar...
Bukankah cinta dalam puisi biasanya dusta?
Seringnya ditulis oleh pengibul yang kaya kosakata

Selang waktu, aku terkesiap dari mimpi
Tapi tak bangun lagi
Penyair, di mana penyair tadi?
Sepertinya aku sudah mati tertimbun prosa sendiri

Selasa, 09 Desember 2014

Sebenarnya nggak pernah ada niat untuk melanjutkan ulasan perihal kemiripan sampul buku kayak yang pernah kutulis sebelumnya (silakan baca Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' #1 dan Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' #2). Tapi... kadang-kadang, ketika sedang browsing katalog buku yang baru terbit, atau iseng bertandang ke rak-rak di toko buku, aku tiba-tiba diserang deja vu. "Kok kayak pernah lihat buku ini sebelumnya?" atau "Loh, kok sampulnya mirip buku anu?" 

Tentu saja, nggak ada yang benar-benar orisinal di dunia ini, tapi bagaimana dengan kemiripan yang kebetulan atau malah... disengaja? Itu yang selalu menarik untuk dibahas.

Jadi, inilah beberapa sampul buku yang dicurigai memiliki kemiripan. Investigasi bawah tanah kali ini dibantu oleh pengaduan dari teman-teman di segala penjuru dan berbagai lapisan masyarakat.

Rabu, 03 Desember 2014

Baru kali ini baca teenlit tapi serasa nggak baca teenlit. Mungkin karena tema remaja yang diangkat di novel ini agak serius: bipolar disorder.


Judul : Diary Princesa
Penulis : Swistien Kustantyana
Penerbit : Ice Cube (KPG)
Tahun terbit : Februari 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-979-91-0679-7

"Menurutmu kenapa Aksel menyukaiku?" aku melemparkan pertanyaan cheesy kepada Sisil.  Sisil tertawa. 
"Kamu ingin mendengarkan pujian terus ya hari ini? Tentu saja karena Princesa itu cantik, pintar, dan baik hati."
Aku tertawa mendengar jawabannya. Seandainya saja Sisil tahu, aku mengharapkan jawaban lain kenapa Aksel menyukaiku. Jawaban yang tidak standar. Seperti jawaban milik Nathan.

Princesa atau akrab dipanggil Cesa adalah cewek yang penuh percaya diri. Dia tahu kalau dia itu cantik, pintar, populer, dan banyak yang naksir. Cesa bisa saja memilih cowok mana pun untuk dijadikan pacar, enggak bakal ada yang nolak deh! Kecuali cowok yang satu itu. Cowok yang menjadi sahabat kakaknya, Jinan. cowok yang Cesa tahu menyimpan rasa hanya untuk kakaknya.

Diary Princessa adalah salah satu novel dari seri pemenang lomba #BlueStroberi yang diterbitkan Ice Cube Publisher. Kabarnya, seri ini hampir semuanya ber-genre dark romance; cerita tentang remaja yang agak kelam dan hampir nggak happy ending.

Bercerita tentang Princesa atau biasa disapa Cesa, yang bertutur (ya, novel ini memakai PoV 1, anggap saja isi diary dari tokoh Cesa) tentang kesehariannya bersama sang kakak, Jinan, yang menderita bipolar disorder.

Mood Jinan yang naik-turun seperti roller coster rupanya berpengaruh besar pada kehidupan Cesa. Mulai dari tabahnya ia menghadapi emosi Jinan yang meledak-ledak lalu berusaha menenangkannya, konflik antara orangtua mereka yang nggak harmonis, juga tentang kisah cinta mereka yang melibatkan Nathan. Sebenarnya bukan cuma Nathan, masih ada cowok bernama Aksel dan Vendetta yang menambah rumit kisah asmara Cesa.

Plot yang dipakai penulis kebanyakan flashback, di mana tokoh Cesa dijabarkan seringkali mengulas kembali momen-momen yang dilaluinya bersama sang kakak.

Yang menjadi poin plus di novel ini adalah kelihaian penulis menyisipkan konflik-konflik dalam alur ceritanya. Poin tambahan lagi karena penulis memasukkan judul novel-novel populer mulai dari novel karya Haruki Murakami sampai penulis lokal A.S. Laksana (yang semuanya belum kubaca, fyi) di novel ini, dan memberi informasi tambahan tentang isinya—juga kaitannya dengan tokoh dalam cerita. Karakter-karakter tokohnya juga kuat dan terasa hidup. Walaupun beberapa kali  aku sempat sanksi kalau yang menderita bipolar disorder itu sebenarnya bukan cuma Jinan, tapi juga Cesa, mengingat keduanya sama-sama punya sifat labil.

Nah, yang menjadi poin minus novel ini ketika aku mendapati beberapa narasi/deskripsi yang seperti diulang-ulang. Misalnya, tentang penjelasan mengenai kebencian Cesa akan sifat Jinan, atau tentang penjelasan mengenai perasaan Cesa pada Nathan. Too much and too tell, menurutku.

Agak kecewa menjelang ending karena ekspektasiku bahwa akan ada "plot twist" di bagian klimaks novel ini, ternyata nggak ada. Tapi nggak kecewa-kecewa amat, karena dari awal baca terlanjur sudah menikmati gaya penceritaan yang dipakai penulis. Ceplas-ceplos, mengalir, dan tentu saja nggak menye-menye kayak buku teenlit di pasaran.

Ditunggu novel berikutnya, Mbak Swistien!

Rabu, 20 Agustus 2014

Akhir-akhir ini, aku sering sekali ditanya "Ada kartu member Alf*mart-nya, Mas?" tiap kali belanja makanan ringan di minimarket di dekat rumah. Saking seringnya, sudah nyaris bikin telinga overdosis. Tapi nggak apa-apa sih, yang penting kasir minimarket itu nggak melontarkan pertanyaan semacam "Mana pacarnya, Mas?" karena itu termasuk tindakan rasis.

Ke minimarket, jajan snack, roti, dan kacang-kacangan. Faktor utamanya, ya, kelaparan karena di rumah sering nggak ada nasi sama lauk. Mau beli nasi dekat rumah, paling mentok ketemunya sama Nasi Padang. Padahal ini tinggalnya di Palembang lho, ya... 

Mau order delivery, nggak ada pilihan lain selain nasi ayam cepat saji. Belum lagi boros pulsa karena mesti order via telepon. Kayaknya hal macam ini bukan cuma keluhan aku aja nih, tapi juga keluhan mereka yang termasuk dalam tim lapar-tapi-malas-masak, tim lapar-tapi-malas-keluar, dan tim lapar-tapi-nggak-punya-kendaraan.

Sebenarnya sih ada solusinya, karena sudah ada terobosan kayak FoodPanda. Cuma sayangnya, belum ada cabangnya di Palembang. Eh, omong-omong, ada yang belum tahu FoodPanda itu apa?

FYI, FoodPanda itu salah satu start up layanan pemesanan makanan yang sudah beroperasi di 5 negara di Asia Tenggara. Pusatnya di Singapura, lainnya ada di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. 

Lebih jelasnya, FoodPanda Indonesia adalah layanan pesan-antar makanan (food delivery service) yang berbasis online. Yang bikin beda dengan layanan pesan-antar lainnya, FoodPanda nggak melayani pemesanan via telepon, tapi cuma lewat internet di situs resmi FoodPanda. Untuk di Indonesia, bisa diakses di situs http://foodpanda.co.id atau bisa juga download aplikasinya di Google PlayStore untuk pengguna Android. Simple and easy user.

FoodPanda mobile apps


Karena FoodPanda Indonesia ini bekerjasama dengan banyak sekali restoran, jadi di sini kita bisa pilih banyak variasi makanan lewat kategori misalnya pilihan restoran, jenis makanan, dan yang pasti area pengiriman makanan. Jangan khawatir soal pembayaran, karena kita bisa bayar tunai saat pesanan makanan sudah tiba di alamat (cash on delivery).

Nah, cuma masalahnya... cabang FoodPanda ini baru ada di Bali, Bandung, Jakarta (Jabodetabek), Makassar, dan Medan. Belum merata di kota-kota lain di Indonesia. Semoga di Palembang segera menyusul deh, biar wong kito bisa order pempek tanpa harus melawan kemacetan di Jembatan Ampera. Hahaha. 

Udah ah, bahas makanan jadi bikin lapar. Aku mau masak mi goreng dulu. Bye!

Jumat, 04 Juli 2014

Kalau ditanya, novel apa yang paling ditunggu abad ini, jawabannya adalah novel terbarunya Adhitya Mulya. Setelah terlambat jatuh hati pada Jomblo dan Gege Mengejar Cinta yang nggak lama ini baru dicetak ulang lagi, aku jadi menunggu karya Kang Adhit iniyang katanya idenya sudah ditulis sejak beberapa tahun silam, jauh sebelum terbit. Judulnya, Sabtu Bersama Bapak. Mungkin akan jadi satu-satunya novel lokal dengan tema father and son yang booming di antara geliat novel romance dan sub-sub genre-nya yang menganak jamur di tahun ini. Mari kita ulas!


Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : Juni 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 278 hlm
ISBN : 979-780-721-5

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak. Iya, benar kok, ini Bapak. Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan.
Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban. I don’t let death take these, away from us. I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian. Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Senin, 23 Juni 2014

Setelah berkurangnya drama-drama Korea di siaran TV lokal dan mulai tumbangnya beberapa boyband/girlband dalam negeri yang berkiblat pada animo musik K-Pop, kupikir demam Korea sudah mulai surut. Rupanya aku salah, ternyata baru-baru ini terbit novel komedi berbau Koreayang bukan novel terjemahan. Aku bukan pencinta K-Pop, btw. Mungkin kalau bukan karena melihat nama Dimas Abi di sampul novel ini, aku akan berpikir dua kali untuk membelinya. 

Dengan berbekal bismillah dan berdoa supaya nggak menemukan banyak istilah Korea yang nggak dimengerti dan susah dilafalkan di novel ini, aku mulai baca... dan suka. Ini adalah novel kedua Dimas Abi yang kubaca setelah Detektif Sekolah


Judul : Idolku Cantik
Penulis : Dimas Abi
Penerbit : Bukune
Tahun terbit : April 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 232 hlm
ISBN : 602-220-123-3


Show me, show me
Aiko keuniriya!
Show me, show me
Ije na yadan nasseo


Di tengah rapat terdengar ringtone Girls Generation. Si pemilik ponsel dengan kikuk segera mematikannya. Raut muka Kiko berubah, dia terlihat sangat geram dan kesal.
“Apa perlu gue tempel peringatan segede truk gandeng; ‘SAAT RAPAT TIDAK BOLEH ADA BUNYI PONSEL! APALAGI LAGU KOREA! GUE KAGAK NGERTI LIRIKNYA!’”

***

Sebagai ketua mahasiswa yang sering memimpin demo, jelas Kiko punya karisma. Teman- teman mengagumi sikapnya yang tegas, lugas, dan beringas dalam memperjuangkan ketidakadilan.
Tapi, siapa yang menyangka di balik itu semua, Kiko adalah pencinta K-Pop terutama Girls Generation? Demi reputasi, Kiko tentu nggak mau seorang pun tahu. Dia menahan tubuhnya yang ingin bergoyang saat mendengar “Gee”—dari SNSD—diputar, pura-pura cuek dan tidak mengerti bila ada yang membahas K-Pop, sampai mengejek mereka yang menyukai cewek-cewek cantik Korea itu.
Semua makin menjadi-jadi saat mengetahui gebetannya, Cantik Inapratiwi, nggak suka banget sama Korea-koreaan. Apa yang harus Kiko lakukan saat dihadapkan pada dilema; pilih Cantik atau idolanya—Girls Generation? Yuk, kepoin Kiko! Cowok bertampang Rambo dengan hati Lee Min Ho.

Rabu, 21 Mei 2014

Buku yang mau di-review kali ini adalah buku gratis yang menelan biaya mahal. Jadi, ceritanya aku jauh-jauh dari Palembang ke Jakarta beli tiket pesawat cuma untuk ambil buku ini dari penulisnya langsung. Ini baru namanya (free) book hunter sejati. 

Perlu diklarifikasi lebih dulu, ya, aku ke Jakarta demi bukunya, bukan demi ketemu penulisnya. Demikian.


Judul : Just Let It Go
Penulis : Petronela Putri 
Penerbit : Media Pressindo
Tahun terbit : 2013
Cetakan : Pertama 
Tebal : 159 hlm 
ISBN : 6027702184 

Kita selalu tahu bahwa cinta mampu membodohi, menulikan, bahkan membutakan. 
Namun, terkadang kita terlalu memujanya, bahkan tak bisa hidup tanpanya. 
Meskipun pada akhirnya… 
Rasa cinta yang berlebihan akan berbalik dan mampu ‘membunuh’ kewarasan... 

Alena merasa kehidupannya semakin menyenangkan. Verico—rekan kerja Alena di sebuah majalah travelling—semakin menunjukkan rasa sayang pada Alena. Seiring kebersamaan keduanya dalam berbagai liputan ke berbagai daerah, dua sejoli itu akhirnya menyatukan cinta mereka ke dalam sebuah pertunangan. 
Namun kebahagiaan ternyata tidak selamanya menyertai. Entah mengapa Alena merasa bahwa Verico dan semua kebahagiaannya tidaklah nyata… dan setiap saat perasaan itu semakin kuat! 
Perasaan yang mengatakan bahwa kebahagiaannya, kehidupannya, laki-laki yang sangat dicintainya, bahkan dirinya sendiri… akan segera lenyap… Benarkah itu?

Senin, 21 April 2014

Sabtu, 5 April 2014, bertepatan dengan event Kompas Gramedia Fair sekaligus Festival Gramedia Pustaka Utama dalam rangka ulang tahun yang ke-40 di Jakarta Convention Center. Btw, ini event buku paling besar yang pernah kuhadiri. Niat awalnya sih mau kopdar sama kru @bookaholicfund yang awesome itu, sekalian hadir di perhelatan launching novel debutnya kakbro Putra Zaman. Judulnya Hujan Daun-Daun.

Novel ini merupakan satu dari tiga buku Gramedia Writing Project, ditulis estafet oleh Lidya Renny Ch.Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman. Entah kenapa, selalu ikut senang tiap ada teman dekat yang berhasil menelurkan buku. Apalagi ini terbitnya di penerbit sebesar GPU, bangga banget. Haha. 

Baiklah, cukup basa-basinya. Mari kita beranjak ke topik sesuai judul tulisan ini~


Judul : Hujan Daun-Daun
Penulis : Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : April 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 248 hlm
ISBN : 9786020303765


Akhir-akhir ini, tidur Tania nyaris tak pernah nyenyak. Malam-malamnya diisi mimpi yang sama, tentang gadis kecil berbaju biru, pohon besar yang kokoh, dan dedaunan yang berguguran. Dan seiring ulang tahunnya yang semakin dekat, mimpi itu semakin sering mengganggu.

Di satu sisi, ia bersemangat menyambut ulang tahun yang hanya bisa dirayakannya empat tahun sekali, tepat pada tanggal 29 Februari. Tapi di sisi lain, mimpi itu juga membuat Tania waswas karena peristiwa besar yang mengejutkan terjadi tiap kali ulang tahunnya dirayakan.

Jadi, tahun ini diam-diam ia bersiap. Apalagi ketika satu per satu rahasia masa lalunya mulai terungkap. Tania harus mencari tahu, apakah mimpi-mimpi itu sekadar bunga tidur ataukah ada arti lain di baliknya?

Selasa, 15 April 2014

Setelah sukses membocorkan Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' bagian pertama, kali ini blog ini tergerak untuk membeberkan fakta-fakta teraktual seputar similar book cover LAGI. Seolah nggak ada bosan-bosannya, ya, para penerbit buku khilaf dalam pemilihan hal krusial semacam sampul buku. Mulai dari yang konsepnya nyaris sama, sampai yang walau dilihat sambil merem pun udah kelihatan mirip. And yeah, sometimes we need to judge a book by its cover. 

Tulisan ini bukan bermaksud menuding bahwa sebuah sampul buku yang mirip itu sudah pasti meniru atau menjiplak sampul buku lainnya. Karena, belakangan ada fakta bahwa—ternyata—beberapa penerbit memang sering 'membeli' jasa penyedia gambar (thumbnail) untuk sebuah sampul buku. Jadi, mungkin ada penerbit yang kebetulan membeli thumbail di sumber yang sama, maka terjadilah duplikasi pemakaian sampul buku untuk buku yang berbeda dari penerbit yang berbeda pula. Itu jawaban kalau kita mau positive thinking. Kalau mau yang versi negative thinking, silakan tuduh bahwa ada seorang cover designer/ilustrator dari suatu penerbit yang memang iseng mencomot sembarangan gambar-gambar yang tersebar di internet. Yang demikian, jelas hak ciptanya disangsikan.

Berikut beberapa sampul buku yang disinyalir mempunyai 'kemiripan' menurut kacamata pribadi dari hasil investigasi bawah tanah.  

Rabu, 02 April 2014

Sebelum kaubaca lebih lanjut paragraf setelah ini, aku mohon untuk lunakkan sedikit hatimu. Jauh sebelum surat ini kubuat, aku sudah lebih dulu mengaku salah. Aku kalah. Mungkin bagimu terlambat, tak apa. Mungkin hatikulah yang sudah terlanjur tertambat.
Aku merindukanmu, Nay! Aku ingin kau menatapku dengan telaga sarat kasih sayang, ingin melepas air mata di pipimu, ingin kularikan rohku yang senantiasa membayangi hari-hariku yang panjang, ingin meneriakkan beban-beban yang berhimpitan memenuhi ronggaku yang pengap dan sempit. Kita sudah terlalu lama saling asing. Aku letih, Nay. Sampai di batas pengharapan.
Nay, berapa lama lagi kita berjalan sendiri-sendiri? Padahal hati kita begitu akrab saling menyapa, menumpahkan kekangenan di malam-malam sunyi, seperti ini. Haruskah aku diam-diam menatapmu, di sini, sendiri, melukis wajahmu di dinding kamar dan mengguratkan senyummu yang tidak pernah kausediakan lagi untukku? Tanpa berani berhadapan denganmu seperti halnya sepasang kekasih seperti dulu? Mengapa hatimu masih saja kesat berdebu? Mari, Nay! Mari, kita lenyapkan permusuhan, mari kita berhenti untuk saling menyakiti tanpa memberi arti yang cukup berarti. Lupakan saja semua yang lalu. Karena kini aku sadar, Nay, aku tidak bisa melarikan diri dari tangan-tangan takdir. Aku jatuh cinta pada takdirku. Takdirku adalah dirimu, Nay.
Pada siapa lagi hendak kuceritakan hari-hariku? Pada siapa lagi kutitipkan keresahanku? Pada siapa lagi aku akan bermanja? Pada siapa lagi aku memeluk penghiburan dari pohon-pohonku yang kering dan rimbaku yang dahaga? Haruskah pada dinding kamar ini? Atau tiktoknya jam?
Aku begitu rapuh, Nay. Semuanya harus kutelan sendiri. Tiba-tiba saja aku tak dapat memungkiri jiwaku bahwa aku memerlukan kasihmu. Tiba-tiba saja, Nay. Adakah kau mau mengerti limit perasaanku sampai pada yang terkecil sebutir pasir?
Hampir genap satu tahun dari terakhir kita saling sapa, genap pulalah aku meraba permukaan hati yang timbul tenggelam. Aku tak ingin menghukum siapa-siapa. Namun kau harus tahu, penderitaan ini menghantarkanku ke titik jenuh. Padahal aku berhak menuntut bagian kasih sayang itu. Aku muak, muak pada diriku yang menyusun ketegaran di balik air mata.
Lelaki penuh penyesalan itu, aku. Lelaki yang dihujani kerinduan ini, aku.
Maukah kau menyambut uluran tanganku lagi, Nay?


__________
Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

Kamis, 27 Maret 2014

Kalau kebanyakan blogger biasanya membuka sebuah posting blog dengan kalimat sapaan seperti: "Halo! Apa kabar? Udah lama banget nih nggak ngeblog, huft..." maka biar nggak klise, aku mau membuka tulisan ini dengan ucapan, "Selamat tanggal 27 Maret!" buat diri sendiri.  

Hari ini, umurku tepat memasuki angka cantik yang kedua di dalam hidup. 22 tahun. Iya, kalian benar, aku dan Pevita Pearce memang masih seumuran. Oktober nanti umurnya juga 22 tahun. Semoga informasi ini cukup menambah pengetahuan.

Sebelum ada yang menuntut traktiran lebih lanjut dari perayaan berkurangnya umur ini, biar kukasih memorandum di awal bahwa nasib keuanganku sedang nggak stabil untuk menafkahi kalian satu per satu. Jadi, kupikir tumpukan buku di kamar mungkin bisa jadi alternatif lain untuk menyenangkan kawan-kawan sekalian. Hehehe.

Oh, iya, selamat hari lahir juga buat Mas Sudomo atau lebih dikenal dengan nama imut Momo DM, yang tanggal lahirnya barengan hari ini. Selamat hari lahir berikutnya buat Danis Syamra yang 28 Maret besok umurnya juga 22 tahun. Senang rasanya waktu tahu umur kita cuma beda sehari. *bro hug*

Nah, karena kami bertiga kebetulan ultahnya nyaris barengan, jadi kami berencana bikin hajatan bareng untuk bikin giveaway kecil-kecilan, yang tentu hadiahnya nggak setara dengan bagi-bagi tiket umrah. Oh, FYI, kalimat barusan adalah contoh majas litotes. 

Sebagai anak Twitter sejati yang akunnya sudah terakreditasi C, izinkan giveaway ini kuberi hashtag #BdayGway. Sebuah akronim dari birthday giveaway. Cukup kreatif, bukan?

Yang mau ikut giveaway #BdayGway, Simak rules-nya, ya!

1. Follow akun twitter @ridoarbain @momo_DM dan @danissyamra

2. Pilih salah satu gambar di bawah ini, lalu tulis DIALOG yang mungkin terjadi di antara tokoh-tokohnya dengan tema ULANG TAHUN.







3. Tulis di BLOG masing-masing, boleh platform apa saja (blogspot, wordpress, tumblr, dll.). Maksimal 250 kata. Jangan lupa juga untuk mencantumkan salah satu gambar yang sudah dipilih.

4. Setelah publish tulisan di blog, silakan mention link tulisanmu dengan format: JUDUL TULISAN – LINK - #BdayGway - @ridoarbain @momo_DM @danissyamra
Contoh: Dialog Membawa Petaka – http://ridoarbain.com/dialog-membawa-petaka.html – #BdayGway – @ridoarbain @momo_DM @danissyamra

5. Giveaway berlangsung mulai tanggal 27 hingga 31 Maret 2014.

6. Tulisan akan dinilai berdasarkan ide, konten dialog, kesesuaian dengan latar, dan tata bahasa.

7. Ada tiga paket buku dari kami bertiga yang akan diberikan kepada 3 orang pemenang. 1 paket berisi masing-masing 4 novel. Tambahan lagi, ada hadiah 2 buku untuk tulisan terfavorit!


Oh iya, jika berkenan, silakan share juga info giveaway ini ke linimasa twitter ya. Biar makin banyak yang ikutan!

Akhir kata, selamat bersenang-senang!

Regards,
Rido, Momo, dan Danis

Senin, 17 Maret 2014

Omong-omong soal eksentrik, atau bahasa gaulnya nyentrik, pasti yang pertama kepikiran adalah hal-hal yang janggal dan aneh. Bahasa gaulnya lagi, non-mainstream. Dalam dunia perbukuan, khususnya karya fiksi, banyak sekali 'keunikan' yang coba dihadirkan oleh penulis-penulis di dunia. Tapi, unik yang mereka suguhkan dalam bukunya biasanya hanya berkisar pada tema cerita dan tampilan fisik buku. Misalnya, novel yang paling tebal di dunia, novel yang sampulnya terbuat dari kulit hewan, atau novel yang ditulis dalam sehari (eh, ada nggak?). 

Nah, di bawah ini ada beberapa jenis/macam novel yang gaya penulisannya eksentrik juga, tapimungkinjarang diketahui. 

Rabu, 05 Maret 2014

Setelah sembilan purnama blog ini nggak diisi dengan review buku karena yang empunya malah sibuk meng-want-to-read buku-buku di Goodreads— tentu tanpa benar-benar punya niatan membaca lebih banyak buku—akhirnya blog ini kembali ditoleh. Karena entah kenapa aku lebih suka mengomentari buku dengan memberi review panjang di blog ini daripada di akun para pencinta buku sejagat raya tersebut. Sensasinya beda.

Sebelum mulai me-review, mari kita ucapkan terima kasih dulu kepada Putri yang sudah merelakan buku ini untuk kupinjam dengan estimasi waktu pengembalian yang entah kapan. Jikalau Putri nggak menagih dan sudah rela, maka aku akan lega.

Sebelum urusan minjam-buku-tapi-nggak-mau-balikin ini dibawa ke jalur hukum, ada baiknya kita kembali fokus untuk mengulas isi novel yang terancam best seller ini. Mari!


Judul : The Chronicles of Audy: 4R

Penulis : Orizuka
Penerbit : Haru
Tahun terbit : Agustus 2013 
Cetakan : Kedua 
Tebal : 320 hlm
ISBN : 9786027742215

Hai. Namaku Audy. Umurku 22 tahun.

Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai kedua orangtuaku jatuh bangkrut karena ditipu.

Aku hanya tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjanaku. Selangkah lagi!

Tapi kedua orangtuaku rupanya tega merusak momen itu. Jadi sekarang, di sinilah aku berada. Di rumah aneh yang dihuni oleh 4 bersaudara yang sama anehnya: Regan, Romeo, Rex dan Rafael.

Aku, yang awalnya berpikir akan bekerja sebagai babysitter, dijebak oleh kontrak sepihak dan malah dijadikan pembantu!

Terdengar klise?
Mungkin, bagimu. Bagiku? Musibah!
Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang mendadak jadi ribet. Kronik dari seorang Audy.


Rabu, 26 Februari 2014

Genap satu bulan aku putus dengan Widi. Penyebabnya sungguh sepele. Aku menolak permintaan Widi untuk menuliskan username Twitter-nya di bio Twitter-ku.

“Ay, cantumin namaku di bio kamu dong. @siputriwidi’s gitu.”

“Nggak ah. Malu-maluin.”

“Jadi kamu malu punya pacar kayak aku?”

“Jangan marah dulu…”

“KITA PUTUS!”

Begitulah kronologis putusnya hubungan kami. Sepele. Kupikir ini lebih sepele daripada kasus hengkangnya Morgan dari grup boyband Sm*sh dengan alasan ingin fokus kuliah, padahal nggak lama dari itu malah sibuk main sinetron stripping. Cih!

Entah kenapa, hari ini aku kangen Widi.

Sejak kami putus, aku tahu kalau dia deactive account. Pupus sudah harapan untuk stalking aktivitasnya di Twitter.

“Do, rupanya Widi ganti akun baru jadi @kopilovie!” Harry, temanku, mengirimkan pesan lewat direct message.

Tanpa pikir panjang, langsung kutelusuri username yang dimaksud.

Belum sempat aku scroll down linimasa Widi, jempolku langsung kugerakkan untuk membalas DM dari Harry dengan cekatan.

“Kamu nyuruh cek akun barunya cuma buat ngasih tau kalau cowok di avatar-nya lebih ganteng daripada aku? Kampret!” 

Sabtu, 15 Februari 2014

Pernah ada yang bertanya, "Kenapa di sekolah kita jarang ada lomba puisi?" Mungkin maksud si Penanya adalah lomba menulis dan membacakan puisi.
Lalu, ada yang menjawab, "Kenapa membacakan puisi harus menunggu diadakan lomba?" Pertanyaan yang mengandung pernyataan bahwa tak seharusnya puisi menjadi hal-hal yang musiman layaknya penghujan, durian, dan liburan.
"Aku, kamu, dia, dan segelintir manusia, sama-sama memuja—tulisan berima yang disebut jelata pada umumnya sebagai—puisi. Lantas, kenapa kita tak merayakannya bersama?"

Kini, pertanyaan itu sudah terjawab. Walaupun bukan satu-satunya hal benar yang menjadi jawaban, tapi bisa dijadikan opsi paling mungkin di dalam salah satu soal pilihan ganda.

Malam Puisi.

Minggu, 09 Februari 2014

Sebenarnya mau kritik buku ini langsung lewat jaringan pribadi ke penulisnya. Karena memang akrab dan sering ketemu. Proses beliau nulis buku ini juga aku ikutin, walaupun aku nggak dipercaya jadi draft reader sama sekali. Tega kamu, Bim!


Setelah novelnya terbit, baru deh disuruh review. Baiklah. 
Oh, iya, aku lupa belum kenalin siapa penulisnya. Namanya Bimo Rafandha, tapi biasa pakai nama pena Rafandha. Bukan, dia bukan mantan VJ yang pacarnya Bisma Sm*sh itu. Karena Rafandha bukanlah Franda. 

Mari kita skip kegaringan di atas dan segera beranjak ke review isi bukunya.



Judul : I'm (Not) Your Bodyguard
Penulis : Rafandha
Penerbit : GACA (DIVA Press Group)
Tahun terbit : Januari 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 209 hlm
ISBN : 9786022554264


"A friend is one that knows you as you are. understands where you have been, accepts what you have become, and still, gently allows you to grow." - William Shakespeare

Pelan-pelan, siluet yang ia lupakan tadi muncul kembali ke otaknya. Potongan gambar pertama, ia melihat dirinya sendiri berlari menyusuri lorong-lorong rumahnya dengan bertelanjang kaki. Potongan kedua, ia melihat anak kecil lain, lebih kecil darinya ikut berlari. Bahkan anak kecil itu mendahului dirinya sendiri. Potongan terakhir, sekaligus potongan yang membuat kepalanya semakin keras berdenyut adalah kenyataan bahwa perlahan, tubuh anak yang lebih kecil darinya itu tidak muncul lagi di permukaan kolam. Lalu mendadak, semua kembali menjadi gelap. Suram. Bumi tak bersuara...

Rabu, 05 Februari 2014

“Maafin Dona, Mih. Tapi Mamih harusnya sadar, dia itu laki-laki berengsek.”

Dona menahan isaknya yang nyaris meledak.

“Laki-laki yang Mamih percaya sebagai pengganti papa buat Dona, laki-laki yang Dona setujui menjadi suami baru untuk Mamih, laki-laki itu juga yang kemarin merusak masa depan Dona.”

“Aww!” Mamih menampar pipi sebelah kiri Dona. “Ampun, Mih!”

Kaki kanan Mamih mendarat indah di paha dan punggung Dona, secara bergantian.

Dona mengerjapkan matanya. Ditatapnya langit-langit kamar yang bercat putih. Ini sudah sekian kalinya ia dibayangi rasa bersalah semenjak kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu.

Keputusan Dona membeberkan pelecehan Om Danis terhadapnya, ternyata menyulut amarah Mamih. Amarah yang ditujukan pada Dona, korban pelecehan. Berkali-kali Dona menjelaskan kalau posisinya adalah korban. Mamih tetap menyangkal, malah menuduh Dona sebagai wanita penggoda, dan mengusirnya.

Dona masih menatap langit-langit kamar ruangan instalasi gangguan mental. Di bola matanya, terlihat kobaran api yang menyala-nyala, membakar dua tubuh manusia yang sedang telanjang bulat dan saling berangkulan.

“Selamat malam pertama, Mamih dan Om Danis.”





Minggu, 02 Februari 2014

Selamat malam, dermawan bertinja emas...
Turunlah sejenak dari ranjangmu
Tengok ranah dan rekam jerit saudaramu
Di antara bangunan yang kucar-kacir itu, 
ada anak-pinak yang memakan cemas

Maukah kau kuberitahu kabar mereka?
Mereka—yang sebut saja—sanak saudara
Mereka—yang katanya—penyandang tunawisma
Biar kuberitahu... Mereka bukan pengemis
Mereka juga bukan kumpulan orang pesimis
Mereka hanya daging-daging hidup kurang beruntung, 
manusia-manusia malang yang sedang berkabung

Selamat malam, dermawan berupil berlian...
Memelipirlah sejenak dari rutinitas berhargamu
Dengarlah parau suara anak kecil berwajah pilu
Anak-anak yang ingusnya tak mengenal tisu
Di antara bangunan yang porak-poranda itu, 
ada keluarga tak sedarah-mu merabunkan masa depan

Suram...
Kelam...
Mereka masih sibuk meraba-raba makna bencana

---------
1 Februari 2014,
ditulis untuk Malam Puisi Palembang dalam rangka menggalang dana untuk korban erupsi Gunung Sinabung

Dibacakan oleh Dyaz Afryanto

Rabu, 22 Januari 2014

"Saat pertama kali saya menulis di tahun 2003, industri perbukuan masih didominasi pakem-pakem yang ditentukan penerbit. Mayoritas fiksi. Harus serius. Harus memenuhi nilai sastra yang sebenarnya tidak ada bakunya. Penulis pun kebanyakan perempuan. Sampai ada sebutan ‘sastra wangi’.

Saya menulis novel Jomblo – Sebuah Komedi Cinta dengan dasar yang sederhana. Ingin membuat orang tertawa. Saya tidak peduli apakah buku ini memiliki nilai sastra. Tidak peduli jika bahasannya tidak serius. Tapi ya konsekuensinya, saya ditolak 3 kali oleh 2 penerbit. Ada yang eksplisit bilang tidak bermutu. Ada yang mentertawakan. Ada yang memberi masukan yang baik yang mampu saya petik hikmahnya. Itulah behind the scene dunia perbukuan di tahun 2003."

Ketika membaca paragraf di atas pada sebuah posting blog penerbit GagasMedia, aku langsung tergelitik untuk baca novel Jomblo. Harus baca. Belum sah rasanya jadi penikmat buku komedi kalau belum baca buku ini. Setelah sana-sini mencari Jomblo di tahun ke-10 dari awal bukunya terbit..., akhirnya dapat! Kebetulan ada teman yang mau jual buku koleksi pribadinya lewat akun twitter @LineBookshop. Terima kasih, Bels! I knew I had to have this book walaupun telat banget. Ini juga punyanya yang cetakan ke-18 tahun 2006.

Saat lagi on progress baca buku ini beberapa bulan lalu, tersiar kabar di blog Adhitya Mulya kalau Jomblo akan... DICETAK ULANG, memperingati 10 tahun Kang Adhit men(jadi pen)ulis, dan menyambut terbitnya buku beliau yang ke-6. Can hardly wait!

Nggak menyesal udah punya Jomblo yang cetakan lama, walaupun akhirnya punya juga yang cetakan baru edisi repackaged. Jadi, ya, buku ini walaupun terbitnya udah satu dekade silam, tapi lucunya tak lekang di telan masa. Nah, sekarang aku review deh isi bukunya. 


Judul : Jomblo
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : Desember 2013
Cetakan : Pertama 
(edisi repackaged) 
Tebal : 224 hlm
ISBN : 979-780-685-5


Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Yang satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.
Yang satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.
Yang satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.
Yang satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

Sabtu, 11 Januari 2014

Jadi, kemarin aku disuguhin pertanyaan oleh beberapa teman virtual. 10 pertanyaan krusial seputar buku dan menulis, katanya dalam rangka Liebster Blog Award 2014. Bukan, ini bukan ajang penghargaan buat orang-orang yang memiliki penampilan dan gaya hidup nyentrik serta unik. Karena ini bukanlah Hipster Blog Award. Jadi entahlah, ini ajang apa, cukup Olga dan Tuhan saja yang tahu.



Karena aku orang berdedikasi tinggi, biar aku jawab pertanyaan dari keduanya secara jantan dan terpelajar. Mari!

Jumat, 10 Januari 2014

Sepanjang karierku sebagai penikmat musik tanah air, sebisa mungkin aku selalu berusaha untuk up-to-date dengan lagu-lagu yang lagi hits. Dari zaman jadi anak nongkrong yang wajib mantengin chart lagu di MTV Ampuh, sampai zaman jadi anak alay keracunan acara musik yang dipandu host kemayu. Dari yang dulu iseng mencatat semua lirik lagu terbaru di binder sambil dengar radio dengan penuh penghayatan, sampai yang sekarang tinggal ketik judul lagu di kolom pencarian google, dan TARAAAAA! lirik lagu A Thousand Years-nya Christina Perri bisa langsung terpampang di layar smartphone.

Sebentar, tarik napas dulu. Nulis paragraf di atas lumayan bikin ngos-ngosan.

Seiring perkembangan musik dan bermunculannya penyanyi dan band-band baru, lagu yang muncul pun makin beragam. Ada yang ingin Selingkuh Sekali Saja, ada yang Memilih Setia. Ada yang cuma Cinta Satu Malam, ada yang Sampai Akhir Menutup Mata. Ada Status Palsu, ada Alamat Palsu, dan ada juga yang Oplosan

Genre lagu pun makin beragam, ditambah lirik lagu dengan tema banyak macam. Di Indonesia, kayaknya tema cecintaan masih jadi opsi paling dominan yang diangkat. Bukan begitu, duhai air kobokan warteg?

Tapi, ada nggak yang ngeh kalau beberapa lagu dari band/penyanyi lokal ini sering ambigu? Sudut pandang tokoh di lagunya labil dan sering multitasking? Aku sih nemuin ada tiga lagu. Mari kita analisis satu persatu. 

Minggu, 05 Januari 2014

Tahun ini, kayaknya dunia perbukuan disinyalir akan makin ramai. Mari lupakan fenomena a-so-called-selebtwit yang—katanya latah—bikin buku. Karena jauh sebelum itu, sudah ada fenomena blogger yang nerbitin blook—buku yang diadaptasi dari tulisan di blog. Dari zaman gebrakan Raditya Dika sampai... akhir menutup mata. Ya, saking banyaknya, sampai susah disebutin berdasarkan alfabetis maupun qwerty.

Tapi, aku nggak pernah skeptis kok kalo ada blogger yang bikin buku. Blog dan buku itu cuma beda media aja, kan? Nah, makanya pas tahu ada blogger—yang blognya sering dikunjungi dan suka tulisannya—bikin buku, aku jarang untuk nggak beli. Salah satunya, buku Kak Teppy (panggil "kak" biar kesannya akrab dan penuh sopan santun) yang bakal aku review kali ini. 


Judul : The Freaky Teppy
Penulis : Stephany Josephine
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : Desember 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 176 hlm
ISBN : 9797806774

Hidup itu kayak roda, ada kalanya kita ada di atas, ada kalanya kita di bawah. Dan, saat berada di bawah, ada banyak cara yang dipilih orang buat menjalani kehidupannya. Ada yang ngeluh, marah-marah, nangis, tapi ada juga yang milih menertawakannya. Nah, Stephany “Teppy” Josephine memilih melihat kejadian apes yang pernah dia lewati dari sisi komedinya. 

Ikuti cerita-cerita menggelitik blogger cewek ini dalam The Freaky Teppy. Menertawakan pengalaman-pengalaman sial nan memalukan yang bisa jadi sedang atau pernah kamu alami juga. ‘Cause one of the best ways to survive life is to laugh it up!