Senin, 21 April 2014

Sabtu, 5 April 2014, bertepatan dengan event Kompas Gramedia Fair sekaligus Festival Gramedia Pustaka Utama dalam rangka ulang tahun yang ke-40 di Jakarta Convention Center. Btw, ini event buku paling besar yang pernah kuhadiri. Niat awalnya sih mau kopdar sama kru @bookaholicfund yang awesome itu, sekalian hadir di perhelatan launching novel debutnya kakbro Putra Zaman. Judulnya Hujan Daun-Daun.

Novel ini merupakan satu dari tiga buku Gramedia Writing Project, ditulis estafet oleh Lidya Renny Ch.Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman. Entah kenapa, selalu ikut senang tiap ada teman dekat yang berhasil menelurkan buku. Apalagi ini terbitnya di penerbit sebesar GPU, bangga banget. Haha. 

Baiklah, cukup basa-basinya. Mari kita beranjak ke topik sesuai judul tulisan ini~


Judul : Hujan Daun-Daun
Penulis : Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : April 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 248 hlm
ISBN : 9786020303765


Akhir-akhir ini, tidur Tania nyaris tak pernah nyenyak. Malam-malamnya diisi mimpi yang sama, tentang gadis kecil berbaju biru, pohon besar yang kokoh, dan dedaunan yang berguguran. Dan seiring ulang tahunnya yang semakin dekat, mimpi itu semakin sering mengganggu.

Di satu sisi, ia bersemangat menyambut ulang tahun yang hanya bisa dirayakannya empat tahun sekali, tepat pada tanggal 29 Februari. Tapi di sisi lain, mimpi itu juga membuat Tania waswas karena peristiwa besar yang mengejutkan terjadi tiap kali ulang tahunnya dirayakan.

Jadi, tahun ini diam-diam ia bersiap. Apalagi ketika satu per satu rahasia masa lalunya mulai terungkap. Tania harus mencari tahu, apakah mimpi-mimpi itu sekadar bunga tidur ataukah ada arti lain di baliknya?

Selasa, 15 April 2014

Setelah sukses membocorkan Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' bagian pertama, kali ini blog ini tergerak untuk membeberkan fakta-fakta teraktual seputar similar book cover LAGI. Seolah nggak ada bosan-bosannya, ya, para penerbit buku khilaf dalam pemilihan hal krusial semacam sampul buku. Mulai dari yang konsepnya nyaris sama, sampai yang walau dilihat sambil merem pun udah kelihatan mirip. And yeah, sometimes we need to judge a book by its cover. 

Tulisan ini bukan bermaksud menuding bahwa sebuah sampul buku yang mirip itu sudah pasti meniru atau menjiplak sampul buku lainnya. Karena, belakangan ada fakta bahwa—ternyata—beberapa penerbit memang sering 'membeli' jasa penyedia gambar (thumbnail) untuk sebuah sampul buku. Jadi, mungkin ada penerbit yang kebetulan membeli thumbail di sumber yang sama, maka terjadilah duplikasi pemakaian sampul buku untuk buku yang berbeda dari penerbit yang berbeda pula. Itu jawaban kalau kita mau positive thinking. Kalau mau yang versi negative thinking, silakan tuduh bahwa ada seorang cover designer/ilustrator dari suatu penerbit yang memang iseng mencomot sembarangan gambar-gambar yang tersebar di internet. Yang demikian, jelas hak ciptanya disangsikan.

Berikut beberapa sampul buku yang disinyalir mempunyai 'kemiripan' menurut kacamata pribadi dari hasil investigasi bawah tanah.  

Rabu, 02 April 2014

Sebelum kaubaca lebih lanjut paragraf setelah ini, aku mohon untuk lunakkan sedikit hatimu. Jauh sebelum surat ini kubuat, aku sudah lebih dulu mengaku salah. Aku kalah. Mungkin bagimu terlambat, tak apa. Mungkin hatikulah yang sudah terlanjur tertambat.
Aku merindukanmu, Nay! Aku ingin kau menatapku dengan telaga sarat kasih sayang, ingin melepas air mata di pipimu, ingin kularikan rohku yang senantiasa membayangi hari-hariku yang panjang, ingin meneriakkan beban-beban yang berhimpitan memenuhi ronggaku yang pengap dan sempit. Kita sudah terlalu lama saling asing. Aku letih, Nay. Sampai di batas pengharapan.
Nay, berapa lama lagi kita berjalan sendiri-sendiri? Padahal hati kita begitu akrab saling menyapa, menumpahkan kekangenan di malam-malam sunyi, seperti ini. Haruskah aku diam-diam menatapmu, di sini, sendiri, melukis wajahmu di dinding kamar dan mengguratkan senyummu yang tidak pernah kausediakan lagi untukku? Tanpa berani berhadapan denganmu seperti halnya sepasang kekasih seperti dulu? Mengapa hatimu masih saja kesat berdebu? Mari, Nay! Mari, kita lenyapkan permusuhan, mari kita berhenti untuk saling menyakiti tanpa memberi arti yang cukup berarti. Lupakan saja semua yang lalu. Karena kini aku sadar, Nay, aku tidak bisa melarikan diri dari tangan-tangan takdir. Aku jatuh cinta pada takdirku. Takdirku adalah dirimu, Nay.
Pada siapa lagi hendak kuceritakan hari-hariku? Pada siapa lagi kutitipkan keresahanku? Pada siapa lagi aku akan bermanja? Pada siapa lagi aku memeluk penghiburan dari pohon-pohonku yang kering dan rimbaku yang dahaga? Haruskah pada dinding kamar ini? Atau tiktoknya jam?
Aku begitu rapuh, Nay. Semuanya harus kutelan sendiri. Tiba-tiba saja aku tak dapat memungkiri jiwaku bahwa aku memerlukan kasihmu. Tiba-tiba saja, Nay. Adakah kau mau mengerti limit perasaanku sampai pada yang terkecil sebutir pasir?
Hampir genap satu tahun dari terakhir kita saling sapa, genap pulalah aku meraba permukaan hati yang timbul tenggelam. Aku tak ingin menghukum siapa-siapa. Namun kau harus tahu, penderitaan ini menghantarkanku ke titik jenuh. Padahal aku berhak menuntut bagian kasih sayang itu. Aku muak, muak pada diriku yang menyusun ketegaran di balik air mata.
Lelaki penuh penyesalan itu, aku. Lelaki yang dihujani kerinduan ini, aku.
Maukah kau menyambut uluran tanganku lagi, Nay?


__________
Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara