Rabu, 21 Mei 2014

[Review] Just Let It Go — Petronela Putri

Buku yang mau di-review kali ini adalah buku gratis yang menelan biaya mahal. Jadi, ceritanya aku jauh-jauh dari Palembang ke Jakarta beli tiket pesawat cuma untuk ambil buku ini dari penulisnya langsung. Ini baru namanya (free) book hunter sejati. 

Perlu diklarifikasi lebih dulu, ya, aku ke Jakarta demi bukunya, bukan demi ketemu penulisnya. Demikian.


Judul : Just Let It Go
Penulis : Petronela Putri 
Penerbit : Media Pressindo
Tahun terbit : 2013
Cetakan : Pertama 
Tebal : 159 hlm 
ISBN : 6027702184 

Kita selalu tahu bahwa cinta mampu membodohi, menulikan, bahkan membutakan. 
Namun, terkadang kita terlalu memujanya, bahkan tak bisa hidup tanpanya. 
Meskipun pada akhirnya… 
Rasa cinta yang berlebihan akan berbalik dan mampu ‘membunuh’ kewarasan... 

Alena merasa kehidupannya semakin menyenangkan. Verico—rekan kerja Alena di sebuah majalah travelling—semakin menunjukkan rasa sayang pada Alena. Seiring kebersamaan keduanya dalam berbagai liputan ke berbagai daerah, dua sejoli itu akhirnya menyatukan cinta mereka ke dalam sebuah pertunangan. 
Namun kebahagiaan ternyata tidak selamanya menyertai. Entah mengapa Alena merasa bahwa Verico dan semua kebahagiaannya tidaklah nyata… dan setiap saat perasaan itu semakin kuat! 
Perasaan yang mengatakan bahwa kebahagiaannya, kehidupannya, laki-laki yang sangat dicintainya, bahkan dirinya sendiri… akan segera lenyap… Benarkah itu?

Awal baca novel ini, datar-datar aja. Malah sempat misuh-misuh juga karena menjumpai banyaknya kata nggak baku kayak kaos, supir, dll.. Terus, ada lagi yang mengganggu misalnya frase yang diulang-ulang dan beberapa kalimat kurang efektif—yang bikin kegiatan baca jadi agak tersendat. 

Just Let It Go adalah novel ketiga Petronela Putri setelah Lovefool dan Love You Even MoreMenceritakan tentang tokoh bernama Alena dan sahabat lelakinya, Verico, yang sama-sama bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah traveling (eh, traveling atau travelling sih?). Mereka ditugaskan oleh Bos Besar dalam satu tim untuk meliput tempat-tempat wisata di beberapa daerah. Selama melakukan traveling berdua itu, mereka makin terjebak dalam kenyamanan dan getar-getar kecil di dada ketika bersama yang berujung... cinta lokasi. Lalu, muncullah tokoh antagonis yang ditunggu-tunggu, namanya Alexa—yang notabene mantannya Verico—yang selalu tiba-tiba nongol hampir di semua tempat dan kesempatan. Iya, di semua tempat. Alena ke Palembang, ketemu Alexa. Alena ke Jogja, disamperin Alexa. Alena ke Surabaya, ketemu siapa sodara-sodaraaa? Yak, betul... ALEXA! Banyaknya adegan kebetulan yang membuat pembaca bisa menemukan korelasi antara Alexa dan Indomaret: sama-sama mudah dijumpai.

Untungnya, novel ini diselamatkan oleh riset serius penulisnya untuk detail tempat-tempat wisata beberapa kota di Indonesia (ya, walaupun sumbernya nggak jauh-jauh dari Wikipedia) dan juga bab-bab menjelang ending. Meskipun klimaksnya terkesan agak dipaksakan dan terlalu buru-buru sih, tapi lumayan memberi efek kejutan tentang misteri kehidupan Alena yang sebenarnya dan berbagai de javu yang dialaminya. Ending yang membuat kisah romance ini berakhir non-romance.

Oh iya, kritik buat penerbitnya nih. Tolong kertasnya jangan pake kertas koran dong, biar nggak gampang robek. Terus, sampul bukunya kalau bisa bikin yang agak nyambung sama isinya. Masih belum paham sama penampakan kursi di tengah sungai itu.

Ditunggu novel gratisan selanjutnya, Mput!



Kiri: Mput.
Kanan: Ridopati Dolken

4 komentar:

  1. halahh.. ridopati dolken..
    padahal rido'ain supaya ganteng aja syukur deh...

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Reviewnya keren nih. Makasih ya. Kenapa "kaos" dan "supir" nggak dibenerin ejaannya? Hehe... Saya bukan editornya, tapi kalo mau bahas ini lewat PM aja yak. Betewe, makasih juga komentarnya soal kertas dan kover. Mudah-mudahan masukan kamu bisa bikin buku-buku terbitan kami jadi lebih baik ke depannya.

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!