Sabtu, 26 Desember 2015

Kali ini berkesempatan untuk interview salah satu cowok tanggung yang namanya sudah nggak asing lagi di kalangan remaja, terutama dedeq-dedeq gemetz yang bertebaran di dunia maya. Markibut~ mari kita sambut dengan standing ovation...  KEVIN ANGGARA!

Bagi yang belum tahu siapa sih beliau ini, biar kita luruskan dulu bahwa dia bukanlah persilangan antara Kevin Julio dan Dimas Anggara. Anyway...

Kevin Anggara, lahir 16 Maret 1997. Yoi, masih muda dan bersahaja! Sekarang tinggal di Jakarta dan kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Awal kenal Kevin sebagai blogger dengan branding "pelajar tanpa tanda jasa". Buku pertamanya yang berjudul Student Guidebook For Dummies terbit waktu dia masih kelas sepuluh, sejak itu Kevin juga dikenal sebagai penulis. 

Kaskus : kevinchoc
Instagram : @kevinchocs (pakai S)
Twitter : @kevinchoc (coba cek following list, kalau nemu akun @ridoarbain silakan klik follow!)
Ask.fm : @kevinchoc (kalau mau tanya-tanyain Kevin, boleh ke sini. Asal jangan tanya "agamanya apa?" kalau nggak mau dijawab "BUKAN URUSAN LU!")

Saking banyaknya media sosial yang digeluti Kevin, semuanya aktif dan banyak followers , jadi muncul pertanyaan pertama.

Lebih suka dikenal sebagai apa? Pilih satu: blogger, penulis buku, penggiat video pendek di Instagram, Youtuber?
Youtuber aja!

Omong-omong soal Youtube, kebetulan baru-baru ini Kevin dapat award dari Influence Asia 2015 untuk kategori Top Youtube Channel dari Indonesia. Influence Asia ini adalah ajang penghargaan yang khusus dipersembahkan untuk para social media influencer, acaranya diselenggarakan di Suntec Singapore Convention & Exhibition Centre pada 7 Desember 2015.

Nah, selain aktif berkarya di media sosial yang disebutkan tadi, rupanya tahun ini Kevin memulai debutnya sebagai aktor di film lokal terbaru yang berjudul NGENEST. Sebuah film yang diadaptasi dari trilogi buku memoar berjudul sama karya Ernest Prakasa—yang lebih dulu dikenal sebagai komika atau stand up comedian.

Official poster NGENEST

Rabu, 16 Desember 2015

Seperti anak tetangga yang bisa dilihat tumbuh-kembangnya karena rumahnya dekat dengan kediaman kita, atau ibarat seorang chef yang mengundang kita ke dapurnya untuk melihat proses memasak sebuah menu baru, seperti itulah kira-kira koneksitasku dengan novel satu ini. 

Waktu itu sekitar bulan September 2014, Mbak Anggun menawariku untuk membaca draf mentah novel keduanya. Karena sebelumnya sudah telanjur jatuh hati dengan novel debut beliau yang berjudul After Rain, dengan senang hati aku langsung sedia untuk jadi salah satu pembaca pertama calon novel tersebut. Novel yang akhirnya diterbitkan dengan judul Perfect Pain ini.


Judul : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 324 halaman
ISBN : 9789797808402


Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Rabu, 02 Desember 2015

Sudah baca Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' 1, 2, dan 3? Jadi, tulisan ini semacam sekuelnya. (((SEKUEL)))

Aku pernah baca buku Steal Like an Artist karya Austin Kleon, dan ada kutipan menarik. "Sembilan dari sepuluh orang yang menyebut sesuatu 'orisinal', biasanya tidak tahu rujukan atau sumber aslinya. Begitu kata Jonathan Lethem. Seniman yang baik menyadari bahwa tak ada yang muncul tiba-tiba. Tak ada yang seratus persen asli."

Kalau kita mengamini kutipan di atas, tentu kita nggak akan lagi berusaha untuk menciptakan sesuatu dari nol, dan mulai mencari inspirasi sebanyak-banyaknya. Tapi selalu ada masalah lain yang muncul, yaitu ketika kita terinspirasi dengan cara yang salah. Inspirasi tanpa referensi. 

Katakanlah kita sedang berkunjung ke distribution store (distro), lalu kita naksir dengan sebuah baju berwarna merah yang motifnya berbeda dengan yang lain, dan kita ingin membelinya. Setelah baju tersebut dibeli maka kecil kemungkinan kalau baju dengan motif yang sama akan dipakai oleh orang lain—karena biasanya produk distro itu eksklusif, nggak diproduksi secara massal. Nah, sistem seperti distro ini kadang nggak berlaku untuk jasa penyedia thumbnail sampul buku. Ada gambar yang sudah dibeli oleh satu penerbit, ternyata masih bisa dibeli oleh pihak lain. Jadi, apa bedanya kayak transfer mp3 lewat bluetooth?

Setelah cukup lama absen melakukan investigasi perihal sampul buku yang mirip ini, akhirnya kemarin dapat ilham dari seorang pembaca blog yang tiba-tiba mengirim surel menanyakan lanjutan penelusuran ini—seolah-olah dia adalah Potterhead yang menagih buku ke-8 dari serial Harry Potter. Halah.

Jadi, inilah beberapa sampul buku yang terancam punya kemiripan dilihat dari kacamata orang kurang kerjaan.

Senin, 19 Oktober 2015

Ada yang berbeda di Lapangan Udara Tabing Padang kemarin (18/10). Hari itu, salah satu rangkaian kegiatan seni Go Ahead People yang bertajuk A CREATE sukses digelar dan ramai oleh pengunjung serta pendatang. Dengan semangat “Change the Ordinary”, A CREATE Padang benar-benar dibuat dengan konsep berbeda dari festival-festival yang pernah ada di Padang. Selain pameran seni, ada beberapa workshop seru yang ramai dihadiri pengunjung.

Acara dimulai pukul 10 pagi, diawali dengan Coaching Clinic dari HR dan dilanjutkan dengan Creative Workshop tentang fotografi oleh Anton Ismael, yang berlokasi di Go Ahead House. 



Creative Workshop by Anton Ismael (Fotografi)
Go Ahead House


Rabu, 14 Oktober 2015

Tulisan ini dibuat ketika perutku sudah lama nggak diasupi nasi padang nyaris tiga minggu. Jadi, di saat sedang kangen-kangennya dengan nasi padang lauk rendang, tahu-tahu aku menerima sebuah e-mail berisi undangan acara keren bertajuk A CREATE.

Sekelebat info buat yang belum tahu, A CREATE merupakan sebuah festival kreatif bagian dari rangkaian kegiatan seni Go Ahead People sepanjang tahun 2015, yang didedikasikan untuk mendukung industri kreatif di Indonesia dan memberdayakan talenta-talenta seni tanah air. A CREATE juga menjadi wadah yang memberikan kesempatan kepada para insan seni urban dan progresif untuk terinspirasi dan berkarya. Tahun-tahun sebelumnya, acara ini dihelat tour di berbagai kota. Beruntungnya, kali ini kota Padang yang menjadi tuan rumah acara yang terancam keren ini. Nah, A CREATE Padang akan diselenggarakan pada 18 Oktober 2015 di Lapangan Udara Tabing. Save the date!

gambar diambil dari sini

Rabu, 02 September 2015

Siang kemarin, saat aku sedang mengendarai sepeda motor dan melewati traffic light yang kebetulan warnanya sedang hijau, tahu-tahu ponsel di saku celana mengalami gejala bergetar. Singkat cerita, aku langsung parkir sembarangan di tepi jalan, lalu mendapati nama bapak di layar ponsel. 

"Halo, Pak?" 
"Do, barusan ada kecelakaan lagi di depan rumah. Korbannya dua orang anak SMA yang lagi boncengan, terus tabrakan dengan mobil truk." 

Sampai sambungan telepon ditutup, aku belum menemukan korelasi antara aku dengan insiden kecelakaan tersebut sampai-sampai bapak merasa perlu melapor kepada anaknya yang sudah jarang mudik ini. Apalagi, kabar tersebut nggak lebih menarik daripada drama pelik kalangan selebriti selevel Krisdayanti-Aurel-Azriel.

Bapak sekarang tinggal di rumah kami di kampung, yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan darat dari Palembang, tempat aku tinggal dua tahun terakhir sampai sekarang. Sebenarnya, aku sudah belajar untuk sensitif dengan bapak semenjak mamak meninggal. Jadi, tiba-tiba saja aku dapat sebuah konklusi bahwa: 1) bapak kangen; dan 2) bapak mau aku jaga keselamatan di jalan.

Selama dua puluh tiga tahun hidup dunia yang fana ini, kalau dipikir-pikir mungkin akulah anak bapak-mamak yang paling jarang merepotkan. Sebagai anak bungsu, aku nggak pernah merengek minta dibelikan robot-robotan nggak penting, nggak pernah bertandak-tandak minta duit demi biaya rental PS berjam-jam, nggak pernah dihukum di sekolah yang berpotensi mendapat surat panggilan ortu, nggak pernah dipaksa belajar di rumah karena aku rela belajar bahkan sebelum disuruh. Enam tahun sekolah di SD dan langganan dapat ranking bagus, jadi salah satu lulusan terbaik waktu tamat SMP, dan ketika SMA pernah dengan bangganya bilang, "Kalau bapak dan mamak mau maju ke depan kelas karena anaknya dapat nilai tertinggi, besok tolong jadi wali untuk pengambilan raporku." Masuk universitas negeri lewat jalur tanpa tes (walau akhirnya terpaksa stop out karena alasan setelah ini), diterima sebagai pegawai di instansi pemerintah tanpa harus menyogok dan minta bantuan orang dalam—hal terakhir yang bikin bapak sujud syukur dan menangis sedu sedan lewat sambungan telepon. 

Sudah boleh sombong? 

"Do, motornya sudah diganti oli?" ketika aku baru bayar cicilan pertama motor baruku.
"Do, dapat royalti berapa?" ketika bapak tahu kalau anaknya sudah menerbitkan buku.
"Do, handphone baru lagi?" ketika bapak dapat aduan dari kakak kalau adiknya baru saja dapat handphone baru dari hasil ngeblog.
"Do, sudah survei lokasi rumah?" ketika aku ada rencana—atau berkhayal—beli rumah.
"Do, sudah punya pacar baru?" ketika bapak menyindir aku yang konon berniat PDKT dengan mahasisiwi calon dokter, tapi menyerah duluan. Pantaslah susah dapat pacar.
"Do, kalau mudik, jangan lupa beliin gagang cincin batu akik!"
Sejak tinggal jauh dari rumah, aku jadi sering merenung. Setiap ditelepon, bapak nggak pernah menuntut apa-apa, kecuali satu hal yang aku sering lalai sampai sekarang.
"Jangan lupa ibadah ya, Do." 

In the end, we just aim to improve, and be better than who we were before.

Bapak pura-pura candid

[ditulis untuk tantangan Pojok WB Idol]

Jumat, 21 Agustus 2015

Tahun 2009, pernah terbit sebuah buku berjudul Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Di sana disebutkan 100 judul buku secara urut berdasarkan tahun terbitnya, mulai dari yang tertua (1919) sampai yang agak baru (2005). Mungkin kalau di-update sampai tahun ini, Pocong Juga Poconggg akan jadi buku yang ke-101.

Setelah membaca daftar tersebut, aku tiba-tiba merasa menjadi pembaca yang kerdil. Ironis sekali menerima kenyataan bahwa dari semua buku tersebut, aku baru membaca kurang dari 2%-nya. Tapi nggak masalah, patut bukan berarti wajib, kan? Sekarang fokus baca teenlit dulu, menyesuaikan dengan umurku yang masih belia. Halah.

Dari daftar tersebut, salah satu buku yang sudah kubaca adalah Ketika Mas Gagah Pergi, sebuah novelet legendaris karya Helvy Tiana Rosa (kakak kandung dari penulis best seller, Asma Nadia, fyi) yang pertama terbit pada tahun 1997. Ketika Mas Gagah Pergi diambil dari judul salah satu cerpen di buku tersebut, yang pernah dimuat di majalah Annida pada tahun 1992. Bercerita tentang perubahan (hijrah) seorang Mas Gagah dari yang awalnya kurang mendalami ilmu agama Islam, menjadi seseorang yang senang mempelajari Islam, serta mengamalkan setiap ilmu yang diperolehnya. Konon, kumcer/novelet tersebut menjadi pelopor genre Islami kontemporer, karena pada awal terbitnya buku ini belum ada tren novel ala Ayat-Ayat Cinta kayak sekarang.

Sampai tahun ini, buku tersebut sudah dicetak 39 kali melalui tiga penerbit. Dan, kabarnya akan segera diangkat ke layar lebar. Hebatnya, adaptasi layar lebar KMGP dibuat dengan urun dana (crowdfunding) karena Bunda Helvy belum bertemu dengan Rumah Produksi yang sejalan dengan visinya untuk menghidupkan roh asli tokoh fiksi Mas Gagah,cs.. Kabarnya sudah ada 3 PH yang ditolak, beuh! Makanya, KMGP terancam akan menjadi karya sastra Indonesia pertama yang filmnya dibuat dari uang patungan para pembacanya di seluruh Indonesia. Menurut kabar dari blog penulisnya, KMGP versi film rencananya akan tayang awal tahun 2016.

Ada yang sudah baca bukunya?

Jadi, sebelumnya aku punya KMGP yang cetakan pertama tahun 1997. Sekarang buku cetakan 'langka' tersebut sudah berada di tangan Bunda Helvy karena aku barter dengan buku KMGP cetakan paling baru. Baiknya Bunda Helvy, aku dikasih 3 eksemplar plus tanda tangan beliau langsung.

Sebagai bentuk dukungan untuk film KMGP yang kabarnya akan mulai syuting Oktober 2015 nanti, dan hitung-hitung bantu sounding, aku mau bagi-bagi buku KMGP untuk pembaca blog ini. Demi alasan tertentu, kuis kali ini khusus buat perempuan dulu, ya. Yang berjakun menyingkir dulu.

Caranya mudah, cukup jawab pertanyaan di bawah ini!

Dalam cerpen Ketika Mas Gagah Pergi, diceritakan seorang gadis bernama Gita memutuskan untuk memakai jilbab tepat setelah kepergian kakaknya, Mas Gagah. Nah, apa alasan memakai jilbab versi kamu? Apakah karena dapat hidayah, atau karena kamu Fatinistic sejati?

Silakan jawab di kolom komentar. Jangan lupa sertakan akun Twitter kamu di akhir jawaban ya, karena nanti pemenangnya akan diumumkan di Twitter lewat akun @ridoarbain (boleh banget kalau mau di-follow). Ada hadiah 1 eksemplar buku Ketika Mas Gagah Pergi cetakan terbaru bertanda tangan Helvy Tiana Rosa, yang akan dikirim langsung ke alamatmu. Jawaban ditunggu sampai tanggal 31 Agustus 2015.
Selamat menjawab!

Ketika Mas Gagah Pergi cetakan 2015

Kamis, 13 Agustus 2015

Apakah aku boleh berbangga hati ketika mengikuti pre-order terbitnya sebuah buku fenomenal, lalu dapat jatah 1 eksemplar dari stok 1.111 buku limited edition—yang kemudian sold out kurang dari 11 menit sejak sesi PO dibuka? Mungkin harusnya bangga, ya, apalagi ketika dibaca bukunya sebagus hype-nya. 



Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 344 halaman
ISBN : 978-602-03-1892-9


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Jumat, 03 Juli 2015

GagasMedia sesuai namanya, selalu menelurkan gagasan-gagasan baru dalam dunia perbukuan Indonesia. Dengan segmentasi buku popular untuk remaja, GagasMedia sebagai penerbit selalu aktif melibatkan pembaca pada event-event besar tahunan mereka. Termasuk event #TerusBergegas dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke-12 kali ini. 

Untuk turut memeriahkan event #TerusBergegas, aku mau ikut tantangan menjawab 12 pertanyaan yang diajukan oleh GagasMedia kepada para bloggers. Tentu saja seluruh pertanyaan ini dijawab secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun. 

Here we go~

Senin, 29 Juni 2015

Tokoh atau penokohan adalah syarat wajib yang harus ada dalam sebuah karya fiksi seperti novel. Itulah kenapa tokoh termasuk ke dalam unsur intrinsik penting selain tema dan plot. 

Seringkali, tokoh disamakan dengan istilah karakter atau watak. Namun, sesungguhnya berbeda. Tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi, sedangkan karakter merujuk pada istilah watak yang berarti kondisi jiwa atau sifat dari tokoh tersebut. Jadi, tokoh adalah pelaku yang berada dalam karya fiksi, sedangkan karakter atau watak adalah perilaku yang mengisi diri tokoh tersebut. (disadur dari sini)

Ada banyak jenis tokoh-tokoh dalam karya fiksi, seperti tokoh protagonis dan antagonis, tokoh utama dan tokoh tambahan, tokoh statis dan tokoh berkembang, tokoh sederhana dan tokoh bulat, serta tokoh tipikal dan tokoh netral. Namun, pernahkah kita perhatikan, secara nggak sadar, ada tokoh-tokoh dalam karya fiksi seperti novel yang memorable dan malah jadi idola pembaca. Padahal, karakter dan deskripsi tokoh tersebut hanya digambarkan lewat narasi penulis. Tapi oleh imajinasi pembaca, divisualisasikan sebagai sosok idola, yang seolah-olah nyata.

Salah satu tokoh fiksi luar yang sukses jadi idola adalah Edward Cullen, tokoh fiksi dalam seri Twilight karangan Stephenie Meyer. Walaupun dijelaskan bahwa Edward adalah seorang vampir, tapi penulis menuliskan deskripsi yang menarik. Edward digambarkan sebagai sosok lelaki tampan yang memiliki tulang pipi sempurna, rahang yang kuat, hidung lurus, dan bibir penuh. Rambutnya selalu berantakan. Matanya begitu hijau, berwarna topaz. Dan, memiliki tubuh ramping tapi berotot.

Nah, di kalangan novel lokal juga harusnya ada tokoh-tokoh fiksi idola macam Edward ini. Sebut saja Lupus, tokoh fiksi dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Lupus identik dengan jambul dan permen karet yang nggak pernah lepas darinya. Di tahun 80-an, Lupus termasuk tokoh fiksi idola.

Selain Lupus, ini dia nama-nama tokoh fiksi novel yang sering dielu-elukan oleh pembaca cewek dan diharapkan kehadirannya ada di dunia nyata.

Selasa, 16 Juni 2015

Dulu, sewaktu baca buku Date Note, aku menobatkan Haris sebagai salah satu penulis komedi yang karyanya ditunggu-tunggu. Tapi, karena sesuatu hal dan padatnya aktivitas menonton tayangan infotainment, aku melewatkan 4 bukunya Haris yang terbit setelah Date Note. Makanya, untuk menebus dosa, aku beli novel terbarunya ini. Soalnya, buku yang lain udah nggak dijual di toko buku. Heuheu.

Mari tinggalkan basa-basi di atas, dan simak ulasan di bawah~



Judul : 3 Koplak Mengejar Cinta
Penulis : Haris Firmansyah
Penerbit : Wahyu Qolbu
Tahun terbit : Desember 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 284 halaman
ISBN : 9797959465

Kalo demi ngedapetin cewek, elo ditantang suruh kerja nyikatin gigi buaya tiap hari, mau nggak?? Orang normal pasti bilang, “TIDAAAK!!” Tapi buat 3 KOPLAK, jawabannya, “KENAPA TIDAAAK??” Yang penting bisa melepas status JOMBLO AKUT yang melekat pada mereka.


Tiga sahabat; Ardan, Ibam, dan Pasai sedang dalam misi mencari cinta sejati. Ardan, lebay dan labil; Ibam, pemuda ber-IQ jongkok dan over pede; dan Pasai, SANG PENCERAH JALAN KESESATAN. Ketiganya bersaing ngelepas status jomblo. Celakanya, mereka mengincar cewek yang SAMA. Hadeuuh… *Nepuk jidat!!

Belum beres masalah persaingan cinta, eh datang masalah baru. Mereka punya wali kelas baru yang STRICT dan udah bikin daftar siswa “BANDEL” yang terancam bakal nggak naik kelas. Lalu, gimana nasib 3 Koplak selanjutnya? Gimana dengan persahabatan mereka? Apakah mereka akan naik kelas? Gimana pula dengan masa depan kejombloan mereka? Buruan baca deh!!

Sabtu, 13 Juni 2015

Setelah hiatus menulis fiksi cukup lama, aku hampir melupakan cita-cita untuk menulis buku

Dua tahun terakhir, aku lebih banyak membaca buku. Memperbanyak wishlist want-to-read dan sibuk menulis ulasan-ulasan pendek di Goodreads. Tapi semakin banyak baca buku, makin banyak ide-ide yang menumpuk di kepala. Ternyata benar apa yang dibilang oleh Eka Kurniawan, bahwa terkadang menulis adalah akibat dari membaca.

Itulah salah satu alasan kenapa novel ini ditulis. (baca perjalanan novel Flip-Flop di sini)

FLIP-FLOP (Elex Media, 2015) — a duet novel with Ratna Rara

Kamis, 04 Juni 2015

15 Februari 2014 - menulis cerpen duet
Alkisah, di akun Twitter @nulisbuku sedang ada perhelatan lomba menulis bertajuk "Love is never fails" dengan dua kategori lomba: perorangan dan kolaborasi (duet). Seorang teman virtual bernama Rara, tiba-tiba mengirim direct message yang isinya mengajakku untuk menulis duet bareng dia. Awalnya agak ragu, karena beliau ini bukan 'siapa-siapa' dan memang nggak terlalu akrab. Tapi, akhirnya aku malah mengiyakan dengan pertimbangan—Rara bisa saja mengirimku santet kalau aku tolak ajakannya. Kami menulis cerpen duet hanya beberapa jam dan dikirim 30 menit sebelum deadline penutupan lomba. Beruntungnya, cerpen tersebut lolos dan diterbitkan di dalam buku #1 yang katanya kumpulan terbaik.

20 Maret 2014 - mulai menulis novel duet 

Itu adalah tweet asal-asalan, tapi ternyata ditanggapi serius oleh Rara. Setelah 'meminang' lewat DM, Rara langsung mengajakku untuk brainstorming ide lewat e-mail. Kami berencana melanjutkan cerpen duet kami menjadi sebuah novel. Tanpa outline, tanpa deadline. Sebuah proyek seru-seruan.

Rabu, 27 Mei 2015

Kalau kita lebih dulu mengenal karakter Si Juki ciptaan Faza Meonk atau karakter Grey & Jingga rekaan Sweta Kartika, maka nggak ada salahnya kita kenalan dengan karakter komik lokal yang satu ini. Tampang ceria, rambut gondrong menutupi telinga, badan kurus, baju-celana apa adanya, dan pakai sandal jepit. Ya, itulah gambaran karakter Oen di komik Oen Makin Koenyol karya MEDZ. Yuk ah, kenalan lebih lanjut~



Judul : Oen Makin Koenyol: Maen Mulu
Penulis : MEDZ (@medzkreatif) 
Penerbit : Moka Media
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 117 halaman
ISBN : 9789797959883 

Liburan yang panjang memang selalu dinantikan untuk jalan-jalan sekadar refreshing dari rutinitas sekolah. Petualangan OEN pun dimulai. Ia mengisi liburan sekolahnya dengan berbagai aktivitas seru dan menyenangkan. Banyak kejadian kocak yang dialami OEN seperti ketika berkunjung ke water park dan kebun binatang bersama temannya serta masih banyak lagi tingkah laku koenyolnya. Mau tahu sekocak apa si OEN mengisi liburannya? Ikuti petualangan koenyol si OEN dalam edisi "Maen Mulu" ini!

Minggu, 17 Mei 2015

Aku punya banyak rencana-rencana. Banyak yang jadi hanya sekadar wacana di warung kopi, sedikitnya yang berakhir aksi. Salah satu rencanakuselain ingin memperistri Chelsea Islanadalah ingin menerbitkan buku.

Pramoedya Ananta Toer yang konon termasuk salah satu penulis besar di Indonesia, pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Om Pram benar. Ambil contoh, JK. Rowling. Kalau dulu Tante Rowling nggak menulis serial Harry Potter dan menerbitkannya, siapa yang akan kenal dengan beliau? Karena menulis buku, beliau jadi bagian sejarah.

Dulu, motivasiku untuk menulis buku adalah... ingin melihat namaku tercetak di sampul buku. Sesederhana itu. Sampai akhirnya aku bertemu alasan yang lebih elegan. "Menulis buku adalah usahaku untuk melawan lupa dan menolak dilupakan." 


Aku sudah mulai menulis sejak awal masuk SMA sekitar tahun 2007, tapi waktu itu cuma menulis puisi di buku bergaris (yang ketika dibaca sekarang pastilah bikin mules) dan bikin tulisan asal-asalan untuk ditempel di majalah dinding sekolah. Mulai benar-benar agak serius menulis ketika masuk perguruan tinggi tahun 2010. Saat itu, aku mulai rutin menulis di blog. Isinya tulisan-tulisan kurang penting yang berpotensi menimbulkan katarak jika dibaca dengan mata telanjang. 

Tahun 2011, aku bergabung dengan komunitas menulis lokal, NulisBuku Club Palembang. Di situlah aku mulai belajar banyak ilmu-ilmu kepenulisan, sampai sekarang. Target menulis buku sebenarnya sudah tercapai di tahun itu. Aku pernah menulis memoar pribadi dalam satu buku, lalu tahun berikutnya pun aku mengumpulkan tulisan-tulisan dalam sebuah buku kumpulan cerpen dalam rangka menyambut umur kepala dua. Keduanya pernah diterbitkan mandiri lewat layanan penerbitan online nulisbuku.com. Kenapa pernah? Karena setelah membaca ulang kedua draf buku tersebut, aku mendadak ingin menyanyikan penggalan lirik lagu Prahara Cinta-nya Hedi Yunus. Aku maluuu~ Aku maluuu~

Tahun 2012-2013, aku sempat menulis novel duet dengan seorang teman dekat. Aturan umum menulis novel seperti membuat outline, sinopsis, character chart, sampai eksekusi semuanya sudah kami lewati. Tapi ketika naskah itu sudah tinggal tiga bab lagi menuju kelar, kami stuck, lalu menyadari kalau tulisan kami masih kasar dan plot-nya sangat klise. Naskah itu pun dikubur begitu saja tanpa kelanjutan.

Yang terjadi kemudian, semakin tahun aku makin jarang menulis, walau beberapa kali iseng ikut lomba karena tergiur hadiah yang dijanjikan. Banyak gagalnya, sedikit yang lolos. Mungkin karena niatnya nggak lurus. 

Hari ini, 17 Mei 2015, bertepatan dengan Hari Buku Nasional, aku membaca sebuah tweet dari Roy Saputra. "Berkaryalah karena ingin, bukan karena harus." Mungkin benar, selama ini aku cuma terobsesi dengan teman-teman penulis lain. Karena menyandang titel "penulis", aku merasa HARUS punya karya berupa buku. Padahal penulis itu, ya, kata kerjanya adalah menulis. Menulis buku dan menerbitkannya adalah keinginan dan pilihan

Jadi, kenapa menulis buku? Karena aku ingin dan merasa bisa menulis buku.

Senin, 11 Mei 2015

Aku punya satu rahasia
Jangan beri tahu siapa-siapa
Bahwa aku pernah luka

Harusnya ini tetap jadi rahasia
Tapi hati terlanjur cedera
Kelukurnya sela-menyela

Aku pernah mengenali wanita
Satu-satunya yang buatku luluh pada mula-mula sua
Wanita yang merindunya adalah sebab air mata luruh
Yang padanya aku sedia janjikan seluruh

Aku punya satu rahasia
Jangan beri tahu siapa-siapa
Ia tak pernah sengaja buatku luka

Harusnya ini tetap jadi rahasia
Kendati aku belum siap lupa
Walau renjana bunyikan serdawa

Aku telah mengenali wanita
Yang padanya kujanjikan setia hingga tutup usia
Sampai-sampai matinya raga berkalang tanah
Hingga paling parah, sampai darah berubah nanah

Aku masih punya rahasia
Tapi rahasia bukan lagi rahasia
Sejak aku gagal menjaga(nya)

Kini rahasiaku adalah sembunyi sambil bernyanyi, bersahap tapi tersingkap, 
diam lalu berdebam, atau seperti orang tidur yang mendengkur
Aku pernah mencintai wanita
Mencintai hidupnya saja

11.11
11 Mei 2015

Rabu, 01 April 2015

Dari dulu, aku nggak pernah percaya dengan yang sering orang sebut dengan makhluk tak kasat mata. Tepatnya belum percaya, karena memang nggak pernah melihatnya. Tapi aku percaya bahwa memang ada orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan khusus bisa melihat 'mereka'. Dan, salah satu yang punya kemampuan itu adalah Risa Saraswati, penulis buku Gerbang Dialog Danur. Kalau kata RAN, walaupun Risa di sini dan mereka di sana, tapi mereka bisa berjumpa via suara dan memandang langit yang sama. 

(Nice try, Do!)

Sebagai salah satu yang dipercaya sebagai host dan kebetulan blog ini menjadi tempat perhentian terakhir rangkaian Blog Tour - Gerbang Dialog Danur, maka izinkan aku mengulas sedikit isi buku ini. Lalu, bersiaplah untuk berdialog dengan mereka




Judul: Gerbang Dialog Danur
Penulis : Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Tahun terbit: Maret 2015
Cetakan: Pertama
Tebal: 236 halaman
ISBN : 978-602-220-150-0


  Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu. mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya…. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu—jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukan. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi—alunan lirih biola William, dan tak lupa; rengekan si Bungsu Janshen.

Jauh dari kehidupan “normal” adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan, semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih. yaitu kebersamaan selamanya. Kini aku mulai menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milikku seorang….

Namaku Risa. Aku bisa melihat ‘mereka’.


Rabu, 25 Maret 2015

           “Sel, nanti kalau ada teman kakak yang datang, suruh langsung ke atas aja, ya. Bilang kakak ada di kamar.”
          “Ya.”
          Aku melirik jam dinding. Sudah pukul 11 siang. Kualihkan pandanganku lebih pada diriku sendiri, dan aku menyadari satu hal—aku masih mengenakan daster tidur! Tapi bukan masalah krusial, ini kan hari Minggu?
          Lalu, suara dari lantai atas membuatku melonjak, diikuti dengan melayangnya sehelai handuk lembap yang kutangkap secara refleks.
          “Pastikan kamu udah mandi sebelum nanti bukain pintu!”
          Terima kasih atas infonya, Kak Dika. Terima kasih juga untuk bantuan handuk baunya.

***

          Aku mematut diriku di depan cermin, sesekali memutar badan, dan lebih dari sekali mengibaskan rambutku yang menjuntai sebahu. Sisir kuletakkan kembali ke laci meja, lalu kuraih lipgloss dan mengoleskannya tipis-tipis ke permukaan bibir. Yang penting dari semuanya, daster tidur sudah berhasil kusulap menjadi kaus lengan pendek berwarna merah muda. Serba pink!
          Kalau dilihat-lihat, aku sudah selangkah mirip Carrie di serial Sex and The City atau Elle dalam Legally Blonde. Keduanya adalah karakter perempuan yang lembut, tapi memiliki visi. Persis sepertiku.
          Di saat aku sibuk dengan khayalanku sendiri, terdengar bunyi bel meraung-raung. Itu pasti teman-temannya Kak Dika!
          Segera kubereskan semua perkakas kosmetik di meja. Setelah memastikan rambut sudah cukup kering berkat bantuan hairdryer milik Mama dan pergelangan tangan sudah dibentengi dengan lotion antikusam, aku berlari-lari kecil keluar kamar. Langkahku menimbulkan suara berdecit-decit, yang berasal dari alas kaki rumahan yang kukenakan. Alas kaki bermotif Hello Kitty yang tentu saja bercorak pink.
          Dari penjuru rumah yang lain, Mama muncul. Masih dengan mengenakan celemek kebanggaannya.  Destinasi yang kami tuju saat ini sama: arah pintu depan.
          “Ma... Mama... biar Seli aja yang bukain pintu!” teriakku setengah histeris.
          Setelah berhasil menghentikan aksi Mama, aku bergegas membuka pintu dengan antusias. Di luar, sudah berdiri tiga orang dengan perawakan yang hampir seragam.
          Leo, Sam, dan Julian.

Sabtu, 28 Februari 2015

Memutuskan beli buku ini karena kenal beberapa nama penulisnya dan sebagai selingan bacaan di antara tumpukan currently-reading yang semakin nggak manusiawi. Niatnya selingan, tapi malah tamat dibaca duluan. Sepeti kata orang bijak: pembaca hanya membaca, tulisan yang dibaca yang menentukan.




Judul : Love at School
Penulis : Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Oddang, dkk.
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : Januari 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 181 hlm
ISBN : 9786020256924

"Ia selalu ada ... Rasakan kehadirannya."

Pernahkah kamu bertanya, mengapa senyuman yang selalu dia perlihatkan ketika melintasi kelasmu setiap pagi membuat jantungmu memompa darah lebih cepat?

Pernahkah kamu bertanya, mengapa obrolan tak serius di perpustakaan dengan dia menjadi pemicu mimpi indahmu di malam hari?

Atau, mengapa cemburu yang muncul setelah melihat dia berjalan ke kantin dengan yang lain membuat harimu terasa berantakan di sekolah?

Jangan menduga-duga jawaban. Mungkin itu cinta.

Sama seperti enam belas kisah yang ditulis oleh Guntur Alam, Anggun Prameswari, Faisal Oddang, Pretty Angelia, Ria Destriana, Fakhrisina Amalia Rovieq, Afgian Muntaha, Pipit Indah Mentari, Mel Puspita, Fitriyah, Karina Indah Pertiwi, Afin Yulia. Ruth Ismayati Munthe, juga Dilbar Dilara.

Mereka merasakan kehadirannya. Tak pernah absen.
Cinta itu selalu ada ... di sekolah.

Jumat, 20 Februari 2015

Pada suatu Rabu sore, aku menulis sebuah status di Facebook: "Orang Komering ngomong pakai bahasa Palembang diledek karena logatnya masih kebawa-bawa. Giliran ada bule bisa ngomong bahasa Palembang, kagum-kagum. Apiya pangrasa jolma kamona?"

Status di atas adalah pengalaman empiris. Fyi... Bapakku orang Komering, ibuku orang Lampung. Konon, Suku Komering masih satu klan dari Suku Lampung, dan sama-sama memakai bahasa komering dalam percakapan sehari-hari (kecuali orang Lampung yang tinggal di kota; cenderung pakai bahasa Jakarta). Dalam matematika dan kimia, positif bertemu positif hasilnya positif. Ya, aku positif mewarisi darah Komering.

Delapan belas tahun hidup berbaur, bermain, berdomisili dengan orang-orang di kampung yang mayoritas isinya orang Komering, membentuk apa yang seharusnya aku dibentuk oleh lingkungan. Bahasa ibu, checked. Logat kasar, checked. Karakter keras, checked. Susah mengeja huruf O dan E dengan benar, checked.

Selasa, 17 Februari 2015

Aku ingin mati hari ini
Membangkai di sini
Bukan karena jemu
Bukan pula bosan dengan semu

Aku mau bunuh diri
Ditujah sana-sini
Mati di rawa-rawa
Lalu dimakan jelarang dan sebangsanya

Aku hanya mau mati
Tuturku berkala-kali
Biar tak mati-matian makan hati
Biar mati tinggal mati

Aku mau mati hari ini
Sebab tak ada yang lebih azali dari mati

00.00
17 Februari 2015

Sabtu, 14 Februari 2015

Kemarin, hujan turun di barung-barung
Ada selingan bunyi gemercak air yang menimpa batu dan sahutan gemercik yang menyentuh genangan sisa hujan kemarin dan kemarinnya lagi
Ada aku yang menghindar dari tempias hujan di pinggir pintu
Ada perempuan yang menjelma hujan itu

Perempuan itu, aku amat-amati dengan lamat-lamat
Seolah kemelitan yang teramat
Melawatnya dari paling dekat jarak pandang
Wajahnya serupa hening, bibirnya serupa lengang

Kusapa bukan salahku
Tiada sahut bukan salahnya
Tapi matanya menjawab dengan kelu
Seperti ada berjebah pilu ditabung

Kemarin, hujan turun di barung-barung
Burung-burung berteduh ke tempat biasa ia bernaung, mungkin batang pohon yang rindang
Sedang di bawahnya ada bekicot yang berlindung pada cangkang
Perempuan itu, berlindung pada diamnya

Hujan usai, ia tak kusut-masai
Justru aku yang malah pasai, kalah oleh sisa mendung yang damai
Basa-basi berikutnya, ia tetap bungkam
Hanya saja matanya yang tertangkap mataku agak nyalang
Kaku dan sedikit ada kengerian

Perempuan itu lebih dingin dari hujan kemarin siang
Hujan yang kemarin dan kemarinnya lagi

00.14
14 Februari 2015

Senin, 09 Februari 2015

Sebagian pernah abai
Bagai kelapa tua yang tak termakan oleh tupai
Tak mau menjamah, tak sudi dijamah
Apalagi sekadar beramah-tamah

Sebagian kadang acuh
Rela berbagi cerita dari permulaan subuh
Melepas asa, melebur angan
Seolah tak ada jeda menikmati keheningan

Semuanya serba sebagian

Bagian dari kita
Perempuan dan laki-laki yang di mulutnya ada harapan tertahan
Perasaannya hanya sebagian
Banyak dipendam, seringnya tertelan ke dasar kerongkongan

Seandainya isi hati bisa diutarakan lewat tawa lepas
Pasti menyenangkan meneriakkan apa saja sampai mulut kebas
Tapi kamu, hanya mendengar sebagian
Sebagian telingamu sedang berjalan-jalan

Biar tak saling sepenungguan
Mencari sandaran lain
Menunggu sosok lain
Berpaling dari yang enggan
Karena adaku adalah ada yang sebagian

9.02
9 Februari 2015

Kamis, 01 Januari 2015

Tulisan ini dibuat didasari oleh tekanan batin sebab tahun lalu terlanjur nulis Tapak Tilas 2013. Makanya, agak kurang etis kalo aku nggak merekapitulasi momen-momen bombastis tahun ini. 

Sebelum lanjut ke inti tulisan ini, mari kita kesampingkan dulu pernikahan sakral Raffi-Gigi maupun live report persalinan Ashanty sebagai peristiwa paling fenomenal tahun ini. Karena yang akan diulas di bawah nggak akan ada korelasinya dengan berita sejuta umat tadi. 

Berikut ini adalah semacam kaleidoskop yang patut dikenang oleh seluruh umat manusia diri pribadi. Jadi, apa yang ada di urutan pertama?