Jumat, 20 Februari 2015

Perihal Logat

Pada suatu Rabu sore, aku menulis sebuah status di Facebook: "Orang Komering ngomong pakai bahasa Palembang diledek karena logatnya masih kebawa-bawa. Giliran ada bule bisa ngomong bahasa Palembang, kagum-kagum. Apiya pangrasa jolma kamona?"

Status di atas adalah pengalaman empiris. Fyi... Bapakku orang Komering, ibuku orang Lampung. Konon, Suku Komering masih satu klan dari Suku Lampung, dan sama-sama memakai bahasa komering dalam percakapan sehari-hari (kecuali orang Lampung yang tinggal di kota; cenderung pakai bahasa Jakarta). Dalam matematika dan kimia, positif bertemu positif hasilnya positif. Ya, aku positif mewarisi darah Komering.

Delapan belas tahun hidup berbaur, bermain, berdomisili dengan orang-orang di kampung yang mayoritas isinya orang Komering, membentuk apa yang seharusnya aku dibentuk oleh lingkungan. Bahasa ibu, checked. Logat kasar, checked. Karakter keras, checked. Susah mengeja huruf O dan E dengan benar, checked.


Logat suku komering adalah logat paling 'kasar' dari semua bahasa daerah di Sumatera Selatan. Hampir sekasar logat Suku Batak. Memang kontras sekali dengan bahasa Lahat, Sekayu, maupun Palembang yang lebih mendayu-dayu khas bahasa melayu. Dari segi struktur bahasanya juga jauh sekali, nggak ada mirip-miripnya. 

Pada umur 18 tahun, aku merantau ke Palembang, tapi baru benar-benar paham bahasa Palembang pada umur 22 tahun. Semula kukira rentang waktu empat tahun bisa menjaminku untuk cukup fasih ngomong, "Jangan cak kepakaman igo jadi wong, awak dak tau apo-apo," dengan pelafalan yang semestinya. Tapi, keliru. Ngirup cuko pempek sekian ratus kali pun nggak akan menghilangkan logat Komering-ku yang notabene kental dan kaku.

Aku pernah coba menghibur diri dengan menulis sebuah status di BlackBerry Messanger: "Accent is an identity that we can't be eliminated. Indonesians have many vernacular. Foreigners have too. So why I must be shy with my dialect?" Tapi bukan berarti itu lantas menghilangkan kritik (atau olok-olok?) dari segelintir oknum teman dekat. Level bercanda dengan menirukan logat jadi nggak lucu lagi kalau sudah keseringan. Kadang aku yang harus postive thinking dengan berspekaluasi bahwa hidup temanku ini memang monoton dan butuh piknik. Mun niku mak panuju, kita buhongon juga!

Dalam film Kingsman: The Secret Service yang kutonton kemarin sore, ada dialog yang cukup menarik antara tokoh Harry Hart dan Gary 'Eggsy' Unwin. Aku lupa detail kalimatnya, tapi kurang lebih begini:

Eggsy: "You said manners maketh man. So, you should teach me first how to change my accent."
Harry: "Accent is not define your manners."

gambar dicomot dari sini

Ada cerita lain. Ketika ada orang lokal yang mengejek pelafalan bahasa Inggris-ku yang kurang tepat, di kesempatan lain orang tersebut terkagum-kagum mendengar seorang bule berhasil meneriakkan "Selamat malam Indonesia!" dengan suara lantang di suatu konser (tentu saja dengan logat british). Aku belajar, si bule juga belajar. Tapi, kok di kasus kedua mereka bangga? Inilah yang namanya standar ganda. 

Logat itu identitas. Ruhut Sitompul bangga dikenal sebagai pengacara kondang yang mempunyai logat Batak kental. Cici Tegal mungkin akan ganti nama kalau dia nggak bisa bicara dengan logat Tegal. Soimah pun mungkin nggak akan naik daun kalau dulu nggak pernah melawak dengan logat Jawa. Jadi, apa salah orang yang kalau bicara bawa-bawa logat asli?

Mungkin besok-besok kalau masih ada yang meledek logat kita, bilang saja: "Situ oke?" atau cuek lebih baik.

8 komentar:

  1. kalau aku sih susah ngomong kata yang ada huruf f sama v, semuanya rata jadi p. xD

    logat itu udah kaya jati diri kita, aku juga sering dibilangin sama orang kalau logat daerah aku masih kental, da gimana atuh susah ngilanginnya juga, udah kebiasaan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, makanya, nggak perlu dihilangin. Nggak ada yang nuntut juga. :))

      Hapus
  2. Kalau logat, itu tergantung sama lingkungan. Sesaat bisa aja berubah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Poin tulisan di atas sebenarnya begini: kalau nggak bisa hilangin logat, jangan malu.

      Kalau bisa hilang karena adaptasi lingkungan, ya, bagus.

      Hapus
  3. Gue setuju sama komen diatas, Do. Hehe.

    Dulu, gue punya teman waktu smp yang gak punya logat daerah sama sekali. Biasa aja. Tapi semenjak lulus dari smp, dia pindah ke Bali untuk meneruskan SMA-nya. Terus 3 tahun setelahnya, teman gue kembali ke Jakarta, dan saat pertama kali kita ketemu, waktu dia ngomong logat Bali-nya kental banget. Gue sampai ketawa karena kaget. Namun beberapa bulan kemudian, logatnya hilang sendiri kok. Hehe.

    BalasHapus
  4. terkadang logat juga bisa jadi bahan candaan, contohnya gue orang Sunda kalo ngomong Jawa selalu diketawain banyak orang karena emang buat lucu-lucuan doank :))

    BalasHapus
  5. kalo logat dari daerah bisa ilang jika di pergaulan kita di daerah baru udah ngga ke temu sama orang yg se daerah. biasanya sih.. ya kayak gw ini

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!