[Puisi] Perempuan yang Lebih Dingin dari Hujan Kemarin

Kemarin, hujan turun di barung-barung
Ada selingan bunyi gemercak air yang menimpa batu dan sahutan gemercik yang menyentuh genangan sisa hujan kemarin dan kemarinnya lagi
Ada aku yang menghindar dari tempias hujan di pinggir pintu
Ada perempuan yang menjelma hujan itu

Perempuan itu, aku amat-amati dengan lamat-lamat
Seolah kemelitan yang teramat
Melawatnya dari paling dekat jarak pandang
Wajahnya serupa hening, bibirnya serupa lengang

Kusapa bukan salahku
Tiada sahut bukan salahnya
Tapi matanya menjawab dengan kelu
Seperti ada berjebah pilu ditabung

Kemarin, hujan turun di barung-barung
Burung-burung berteduh ke tempat biasa ia bernaung, mungkin batang pohon yang rindang
Sedang di bawahnya ada bekicot yang berlindung pada cangkang
Perempuan itu, berlindung pada diamnya

Hujan usai, ia tak kusut-masai
Justru aku yang malah pasai, kalah oleh sisa mendung yang damai
Basa-basi berikutnya, ia tetap bungkam
Hanya saja matanya yang tertangkap mataku agak nyalang
Kaku dan sedikit ada kengerian

Perempuan itu lebih dingin dari hujan kemarin siang
Hujan yang kemarin dan kemarinnya lagi

00.14
14 Februari 2015
Next
Previous
Click here for Comments

1 komentar:

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!