Kenapa Menulis Buku?

Aku punya banyak rencana-rencana. Banyak yang jadi hanya sekadar wacana di warung kopi, sedikitnya yang berakhir aksi. Salah satu rencanakuselain ingin memperistri Chelsea Islanadalah ingin menerbitkan buku.

Pramoedya Ananta Toer yang konon termasuk salah satu penulis besar di Indonesia, pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Om Pram benar. Ambil contoh, JK. Rowling. Kalau dulu Tante Rowling nggak menulis serial Harry Potter dan menerbitkannya, siapa yang akan kenal dengan beliau? Karena menulis buku, beliau jadi bagian sejarah.

Dulu, motivasiku untuk menulis buku adalah... ingin melihat namaku tercetak di sampul buku. Sesederhana itu. Sampai akhirnya aku bertemu alasan yang lebih elegan. "Menulis buku adalah usahaku untuk melawan lupa dan menolak dilupakan." 


Aku sudah mulai menulis sejak awal masuk SMA sekitar tahun 2007, tapi waktu itu cuma menulis puisi di buku bergaris (yang ketika dibaca sekarang pastilah bikin mules) dan bikin tulisan asal-asalan untuk ditempel di majalah dinding sekolah. Mulai benar-benar agak serius menulis ketika masuk perguruan tinggi tahun 2010. Saat itu, aku mulai rutin menulis di blog. Isinya tulisan-tulisan kurang penting yang berpotensi menimbulkan katarak jika dibaca dengan mata telanjang. 

Tahun 2011, aku bergabung dengan komunitas menulis lokal, NulisBuku Club Palembang. Di situlah aku mulai belajar banyak ilmu-ilmu kepenulisan, sampai sekarang. Target menulis buku sebenarnya sudah tercapai di tahun itu. Aku pernah menulis memoar pribadi dalam satu buku, lalu tahun berikutnya pun aku mengumpulkan tulisan-tulisan dalam sebuah buku kumpulan cerpen dalam rangka menyambut umur kepala dua. Keduanya pernah diterbitkan mandiri lewat layanan penerbitan online nulisbuku.com. Kenapa pernah? Karena setelah membaca ulang kedua draf buku tersebut, aku mendadak ingin menyanyikan penggalan lirik lagu Prahara Cinta-nya Hedi Yunus. Aku maluuu~ Aku maluuu~

Tahun 2012-2013, aku sempat menulis novel duet dengan seorang teman dekat. Aturan umum menulis novel seperti membuat outline, sinopsis, character chart, sampai eksekusi semuanya sudah kami lewati. Tapi ketika naskah itu sudah tinggal tiga bab lagi menuju kelar, kami stuck, lalu menyadari kalau tulisan kami masih kasar dan plot-nya sangat klise. Naskah itu pun dikubur begitu saja tanpa kelanjutan.

Yang terjadi kemudian, semakin tahun aku makin jarang menulis, walau beberapa kali iseng ikut lomba karena tergiur hadiah yang dijanjikan. Banyak gagalnya, sedikit yang lolos. Mungkin karena niatnya nggak lurus. 

Hari ini, 17 Mei 2015, bertepatan dengan Hari Buku Nasional, aku membaca sebuah tweet dari Roy Saputra. "Berkaryalah karena ingin, bukan karena harus." Mungkin benar, selama ini aku cuma terobsesi dengan teman-teman penulis lain. Karena menyandang titel "penulis", aku merasa HARUS punya karya berupa buku. Padahal penulis itu, ya, kata kerjanya adalah menulis. Menulis buku dan menerbitkannya adalah keinginan dan pilihan

Jadi, kenapa menulis buku? Karena aku ingin dan merasa bisa menulis buku.
Next
Previous
Click here for Comments

10 komentar:

avatar

Tulisannya memotivasi...

avatar

Terima kasih, penulis idolaku.

avatar

Alhamdulillah.

avatar

Memotivasi banget! Sedap!
http://jevontar.co.vu

avatar

Yak. Menulis buku kendala besarnya sih ada di mood menurutku mah :v
Semangat do!

avatar

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

aku jadi pengen nulis buku jugak,,

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
avatar

Abang Rido, tolong dong upload draft memoar yang disebutkan di atas, aku pengen baca. Aku maluu, maluuu~

Oiya, inget gak, waktu itu saya pernah mention Rido, menanyakan perihal penerbitan buku? Itu karena saya sedang punya draft tulisan 100 lembar. Tapi langsung saya urungkan niat tersebut (menjadi penulis), mengingat saya lebih suka membaca, ketimbang menulis.

Ayo dong Do, ngereview buku lagi. Perasaan akhir2 ini belum lagi deh. Saya kan kenal kamu berkat review-review buku. Soalnya selalu bikin penasaran setiap kamu ngulas novel.

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!