Jumat, 21 Agustus 2015

Tahun 2009, pernah terbit sebuah buku berjudul Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Di sana disebutkan 100 judul buku secara urut berdasarkan tahun terbitnya, mulai dari yang tertua (1919) sampai yang agak baru (2005). Mungkin kalau di-update sampai tahun ini, Pocong Juga Poconggg akan jadi buku yang ke-101.

Setelah membaca daftar tersebut, aku tiba-tiba merasa menjadi pembaca yang kerdil. Ironis sekali menerima kenyataan bahwa dari semua buku tersebut, aku baru membaca kurang dari 2%-nya. Tapi nggak masalah, patut bukan berarti wajib, kan? Sekarang fokus baca teenlit dulu, menyesuaikan dengan umurku yang masih belia. Halah.

Dari daftar tersebut, salah satu buku yang sudah kubaca adalah Ketika Mas Gagah Pergi, sebuah novelet legendaris karya Helvy Tiana Rosa (kakak kandung dari penulis best seller, Asma Nadia, fyi) yang pertama terbit pada tahun 1997. Ketika Mas Gagah Pergi diambil dari judul salah satu cerpen di buku tersebut, yang pernah dimuat di majalah Annida pada tahun 1992. Bercerita tentang perubahan (hijrah) seorang Mas Gagah dari yang awalnya kurang mendalami ilmu agama Islam, menjadi seseorang yang senang mempelajari Islam, serta mengamalkan setiap ilmu yang diperolehnya. Konon, kumcer/novelet tersebut menjadi pelopor genre Islami kontemporer, karena pada awal terbitnya buku ini belum ada tren novel ala Ayat-Ayat Cinta kayak sekarang.

Sampai tahun ini, buku tersebut sudah dicetak 39 kali melalui tiga penerbit. Dan, kabarnya akan segera diangkat ke layar lebar. Hebatnya, adaptasi layar lebar KMGP dibuat dengan urun dana (crowdfunding) karena Bunda Helvy belum bertemu dengan Rumah Produksi yang sejalan dengan visinya untuk menghidupkan roh asli tokoh fiksi Mas Gagah,cs.. Kabarnya sudah ada 3 PH yang ditolak, beuh! Makanya, KMGP terancam akan menjadi karya sastra Indonesia pertama yang filmnya dibuat dari uang patungan para pembacanya di seluruh Indonesia. Menurut kabar dari blog penulisnya, KMGP versi film rencananya akan tayang awal tahun 2016.

Ada yang sudah baca bukunya?

Jadi, sebelumnya aku punya KMGP yang cetakan pertama tahun 1997. Sekarang buku cetakan 'langka' tersebut sudah berada di tangan Bunda Helvy karena aku barter dengan buku KMGP cetakan paling baru. Baiknya Bunda Helvy, aku dikasih 3 eksemplar plus tanda tangan beliau langsung.

Sebagai bentuk dukungan untuk film KMGP yang kabarnya akan mulai syuting Oktober 2015 nanti, dan hitung-hitung bantu sounding, aku mau bagi-bagi buku KMGP untuk pembaca blog ini. Demi alasan tertentu, kuis kali ini khusus buat perempuan dulu, ya. Yang berjakun menyingkir dulu.

Caranya mudah, cukup jawab pertanyaan di bawah ini!

Dalam cerpen Ketika Mas Gagah Pergi, diceritakan seorang gadis bernama Gita memutuskan untuk memakai jilbab tepat setelah kepergian kakaknya, Mas Gagah. Nah, apa alasan memakai jilbab versi kamu? Apakah karena dapat hidayah, atau karena kamu Fatinistic sejati?

Silakan jawab di kolom komentar. Jangan lupa sertakan akun Twitter kamu di akhir jawaban ya, karena nanti pemenangnya akan diumumkan di Twitter lewat akun @ridoarbain (boleh banget kalau mau di-follow). Ada hadiah 1 eksemplar buku Ketika Mas Gagah Pergi cetakan terbaru bertanda tangan Helvy Tiana Rosa, yang akan dikirim langsung ke alamatmu. Jawaban ditunggu sampai tanggal 31 Agustus 2015.
Selamat menjawab!

Ketika Mas Gagah Pergi cetakan 2015

Kamis, 13 Agustus 2015

Apakah aku boleh berbangga hati ketika mengikuti pre-order terbitnya sebuah buku fenomenal, lalu dapat jatah 1 eksemplar dari stok 1.111 buku limited edition—yang kemudian sold out kurang dari 11 menit sejak sesi PO dibuka? Mungkin harusnya bangga, ya, apalagi ketika dibaca bukunya sebagus hype-nya. 



Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 344 halaman
ISBN : 978-602-03-1892-9


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.