Kamis, 13 Agustus 2015

[Review] Critical Eleven — Ika Natassa

Apakah aku boleh berbangga hati ketika mengikuti pre-order terbitnya sebuah buku fenomenal, lalu dapat jatah 1 eksemplar dari stok 1.111 buku limited edition—yang kemudian sold out kurang dari 11 menit sejak sesi PO dibuka? Mungkin harusnya bangga, ya, apalagi ketika dibaca bukunya sebagus hype-nya. 



Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 344 halaman
ISBN : 978-602-03-1892-9


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


Critical Eleven bercerita tentang Aldebaran Risjad atau biasa disapa Ale, seorang Petroleum Engineer yang menghabiskan 200 hari setiap tahunnya di Rigg, sebuah tempat pengeboran minyak lepas pantai. Ale menikahi seoarang Management Consultant bernama Tanya Laetitia Baskoro atau biasa disapa Anya. Pertemuan pertama mereka adalah ketika Ale berada di satu pesawat dengan Anya yang saat itu terbang ke Sydney untuk menonton konser Coldplay. Sampul buku dan blurb sudah cukup menjelaskan, ya.

"...yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya."

Benar apa yang ditulis di bagian blurb novel ini. Ika Natassa benar. Selama baca, aku nggak bisa lama-lama bersimpati pada Anya dan drama berkepanjangannya. Juga pada Ale, setelah tahu hal krusial apa yang dikatakannya pada sang istri. Kadang capek dengan drama suami-istri ini. Tapi..., scene di mana Ale memeluk erat Anya di sebuah kafe itu jelas bagian yang paling bikin terenyuh. Ya, aku sempat dibuat suka dengan karakternya. Fuh! 

Sepertinya konflik utama novel ini sulit dijelaskan tanpa harus spoiler. Pokoknya, tentang salah paham dalam hubungan suami-istri. (sungguh informatif)

Alur. Walaupun dibuat acak, kadang maju, kadang ujug-ujug flashback, tapi nggak bikin bingung. Gaya bahasa khas metropop ala Ika juga asyik, seru, dan sarat hal-hal baru. Nggak bisa bilang nggak suka. Konfliknya bagus, tapi rasanya terlalu (diper)lambat. Aku pernah berapa kali melihat 'bencana' tetangga sebelah rumah yang sama dengan yang dialami Ale-Anya, but their life still go on. Tapi, ya, dalam fiksi apa saja bisa terjadi. 

Dan, ini agak penting nggak penting. Sampai menutup halaman terakhir novel ini, aku masih terngiang-ngiang dengan segala sesuatu di novel Antologi Rasa. Bukan karena tokoh si fuckin' adorable Harris muncul lagi di sini, tapi aku merasa gaya bercerita sudut pandang pertama penulis nggak bisa benar-benar out dari karakter rekaan di novel terdahulunya. Aku merasa di novel ini, Ale is Rully, Anya is Keara, and yeah... Harris still Harris. Bukan berniat komparatif, tapi begitulah perasaan pembaca malang satu ini. Mungkin Ika perlu membuat karakter baru yang nggak hedonis, borjuis, dan jauh dari kehidupan kaum urban dulu biar muncul tokoh baru yang bisa menggeser pesona Harris. (Bahkan di Critical Eleven, Harris tetap mencuri perhatian). Come here, fangirl!



5 komentar:

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!