Sabtu, 26 Desember 2015

Kali ini berkesempatan untuk interview salah satu cowok tanggung yang namanya sudah nggak asing lagi di kalangan remaja, terutama dedeq-dedeq gemetz yang bertebaran di dunia maya. Markibut~ mari kita sambut dengan standing ovation...  KEVIN ANGGARA!

Bagi yang belum tahu siapa sih beliau ini, biar kita luruskan dulu bahwa dia bukanlah persilangan antara Kevin Julio dan Dimas Anggara. Anyway...

Kevin Anggara, lahir 16 Maret 1997. Yoi, masih muda dan bersahaja! Sekarang tinggal di Jakarta dan kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Awal kenal Kevin sebagai blogger dengan branding "pelajar tanpa tanda jasa". Buku pertamanya yang berjudul Student Guidebook For Dummies terbit waktu dia masih kelas sepuluh, sejak itu Kevin juga dikenal sebagai penulis. 

Kaskus : kevinchoc
Instagram : @kevinchocs (pakai S)
Twitter : @kevinchoc (coba cek following list, kalau nemu akun @ridoarbain silakan klik follow!)
Ask.fm : @kevinchoc (kalau mau tanya-tanyain Kevin, boleh ke sini. Asal jangan tanya "agamanya apa?" kalau nggak mau dijawab "BUKAN URUSAN LU!")

Saking banyaknya media sosial yang digeluti Kevin, semuanya aktif dan banyak followers , jadi muncul pertanyaan pertama.

Lebih suka dikenal sebagai apa? Pilih satu: blogger, penulis buku, penggiat video pendek di Instagram, Youtuber?
Youtuber aja!

Omong-omong soal Youtube, kebetulan baru-baru ini Kevin dapat award dari Influence Asia 2015 untuk kategori Top Youtube Channel dari Indonesia. Influence Asia ini adalah ajang penghargaan yang khusus dipersembahkan untuk para social media influencer, acaranya diselenggarakan di Suntec Singapore Convention & Exhibition Centre pada 7 Desember 2015.

Nah, selain aktif berkarya di media sosial yang disebutkan tadi, rupanya tahun ini Kevin memulai debutnya sebagai aktor di film lokal terbaru yang berjudul NGENEST. Sebuah film yang diadaptasi dari trilogi buku memoar berjudul sama karya Ernest Prakasa—yang lebih dulu dikenal sebagai komika atau stand up comedian.

Official poster NGENEST

Rabu, 16 Desember 2015

Seperti anak tetangga yang bisa dilihat tumbuh-kembangnya karena rumahnya dekat dengan kediaman kita, atau ibarat seorang chef yang mengundang kita ke dapurnya untuk melihat proses memasak sebuah menu baru, seperti itulah kira-kira koneksitasku dengan novel satu ini. 

Waktu itu sekitar bulan September 2014, Mbak Anggun menawariku untuk membaca draf mentah novel keduanya. Karena sebelumnya sudah telanjur jatuh hati dengan novel debut beliau yang berjudul After Rain, dengan senang hati aku langsung sedia untuk jadi salah satu pembaca pertama calon novel tersebut. Novel yang akhirnya diterbitkan dengan judul Perfect Pain ini.


Judul : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 324 halaman
ISBN : 9789797808402


Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Rabu, 02 Desember 2015

Sudah baca Beberapa Sampul Buku yang Punya 'Kemiripan' 1, 2, dan 3? Jadi, tulisan ini semacam sekuelnya. (((SEKUEL)))

Aku pernah baca buku Steal Like an Artist karya Austin Kleon, dan ada kutipan menarik. "Sembilan dari sepuluh orang yang menyebut sesuatu 'orisinal', biasanya tidak tahu rujukan atau sumber aslinya. Begitu kata Jonathan Lethem. Seniman yang baik menyadari bahwa tak ada yang muncul tiba-tiba. Tak ada yang seratus persen asli."

Kalau kita mengamini kutipan di atas, tentu kita nggak akan lagi berusaha untuk menciptakan sesuatu dari nol, dan mulai mencari inspirasi sebanyak-banyaknya. Tapi selalu ada masalah lain yang muncul, yaitu ketika kita terinspirasi dengan cara yang salah. Inspirasi tanpa referensi. 

Katakanlah kita sedang berkunjung ke distribution store (distro), lalu kita naksir dengan sebuah baju berwarna merah yang motifnya berbeda dengan yang lain, dan kita ingin membelinya. Setelah baju tersebut dibeli maka kecil kemungkinan kalau baju dengan motif yang sama akan dipakai oleh orang lain—karena biasanya produk distro itu eksklusif, nggak diproduksi secara massal. Nah, sistem seperti distro ini kadang nggak berlaku untuk jasa penyedia thumbnail sampul buku. Ada gambar yang sudah dibeli oleh satu penerbit, ternyata masih bisa dibeli oleh pihak lain. Jadi, apa bedanya kayak transfer mp3 lewat bluetooth?

Setelah cukup lama absen melakukan investigasi perihal sampul buku yang mirip ini, akhirnya kemarin dapat ilham dari seorang pembaca blog yang tiba-tiba mengirim surel menanyakan lanjutan penelusuran ini—seolah-olah dia adalah Potterhead yang menagih buku ke-8 dari serial Harry Potter. Halah.

Jadi, inilah beberapa sampul buku yang terancam punya kemiripan dilihat dari kacamata orang kurang kerjaan.