Sabtu, 24 Desember 2016

Belum lama ini ada teman yang nanya, "Do, kapan review buku lagi?" Pertanyaan yang sangat ingin kujawab dengan teriakan, "Makanya main-main ke akun Goodreads-ku dong!" tapi aku urungkan karena menjunjung tinggi norma kesopanan. Lagi pula, sebenarnya pertanyaan itu nggak salah, mengingat sudah sekian dekade aku nggak nulis review buku di blog ini.

Aku jadi menyortir ulang daftar buku yang kubaca tahun ini, nggak banyak, cuma 40 buku. Ternyata kebanyakan buku-buku terbitan lama. Karena aku lebih tertarik mengulas buku yang baru terbit—paling lama setahun setelah terbit—dibanding buku yang sudah nggak edar di toko buku, jadi pilihan jatuh ke buku satu ini. 


Judul : Romeo Gadungan 
Penulis : Tirta Prayudha 
Penerbit : Bukune 
Tahun terbit : September 2016 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 212 hlm 
ISBN : 9789797808631

Seperti kata pepatah, ada yang pergi ada pula yang datang. Nah, kalau cinta pergi, yang datang apa? Tentu saja patah hati! Ada saja penyebab patah hati gue—dari masalah kecocokan, pekerjaan, agama, atau suku. Dan rasanya, gue semakin susah untuk tertarik dengan seorang cewek. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa pernah ada kisah selanjutnya. Terkadang alasannya dari pihak cewek, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya. Intinya, cinta tak berpihak pada gue. Kisah cinta Romeo sungguhan dengan Juliet saja nggak happy ending, apalagi gue yang cuma menjadi seorang Romeo Gadungan! 

Senin, 19 Desember 2016

Saat menulis tentang alasan kenapa malas baca buku, kayaknya aku lupa menyebut satu hal: gadget. Walau bagaimana pun, kita harus mengamini kalau bermain gadget itu lebih menarik daripada berkutat dengan buku.

Jadi, sebetulnya aku punya kebiasaan khusus, yaitu wajib bawa minimal satu buku di dalam tas setiap bepergian. Idealnya, buku yang dibawa itu tujuannya untuk dibaca, tapi nahasnya beberapa bulan belakangan buku-buku itu nggak terjamah; karena alih-alih baca buku di waktu luang, aku lebih tertarik menonton aktivitas keseharian Syahrini di Instagram Stories. Sangat produktif, bukan?

Sebenarnya solusi masalah di atas sudah ketemu. Malas baca buku dan sibuk main gadget itu kombinasi yang pas jadi alasan untuk mulai membaca e-book. Masalah lainnya, aku bukan tipe yang suka baca teks panjang di gadget. Mata sering lelah, belum lagi aktivitas membaca sering terganggu dengan bunyi notifikasi media sosial dan grup di aplikasi pesan instan. Nggg, terdengar aneh. Oke, instant messenger

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, ada teman yang bilang kalau dia suka baca e-book di aplikasi SCOOP. Buat yang belum tahu, SCOOP itu aplikasi e-reader untuk mencari dan membaca replika buku, majalah, dan koran dalam format digital. Hampir sama kayak e-book yang bisa diunduh di Google Playbook, semua buku-buku di sini juga legal, bukan bajakan. Nah, di aplikasi ini ada namanya SCOOP Premium, yaitu layanan berlangganan ribuan buku dan majalah dengan biaya Rp89.000 selama 30 hari.

KOK MURAH, YA?

Iyalah murah, apalagi kalau dibandingin dengan harga buku cetak sekarang, yang harganya rata-rata di atas Rp60.000. Walaupun kalau ditanya, "Lebih suka baca buku cetak atau buku elektronik?" aku akan tetap menjawab buku cetak dengan alasan-alasan tertentu.

Some people absolutely love the look, smell, and feel of the classical book held in the hand, and such people may not want to give up the sensory experience of reading from a paper book. But, e-book can be a life-changing experience for us.




Senin, 05 Desember 2016

Kemarin, waktu di Gramedia ada diskon edisi Hari Guru, aku borong beberapa buku lagi. Selalu ada perasaan senang dan waswas setelah belanja buku. Senang karena dapat bacaan baru (ditambah belinya diskon), waswas karena skeptis bukunya bakal kebaca atau nggak. Apalagi ketika sampai rumah, masuk kamar, langsung disambut rak buku tiga tingkat dengan panjang satu meter yang over kapasitas. Makin pilu saat menyadari kalau 40% dari timbunan buku itu belum terbaca. Oh, ya, kata Austin Kleon di bukunya yang berjudul Steal Like an Artist, kita sebaiknya mulai mengganti istilah 'timbunan' tadi dengan kata 'koleksi'. Oke, koleksi buku. Walaupun istilah 'koleksi' tetap nggak mengubah kenyataan bahwa buku-buku itu jarang dijamah. 

Karena belum kepikiran untuk menambah rak baru, jadi solusi utama adalah mengurangi isi rak buku itu sendiri. Biasanya aku mengurangi koleksi buku lewat giveaway, kuis, dikasih ke teman-teman yang hobi baca, atau kalau sedang menjelma pria penuh welas asih, bukunya disumbangkan ke taman bacaan.

Kalau mengingat diri ini tinggal di kota yang ketertarikan terhadap bidang literasinya bisa dibilang minim, cara mengurangi koleksi buku di atas tadi kayaknya nggak berdampak apa-apa dalam hal meningkatkan minat baca. Sebenarnya, di Palembang sudah ada perpustakaan daerah yang bisa dikunjungi masyarakat umum setiap hari, ada Gramedia Worldtoko buku dengan bangunan terbesar se-Indonesia, ada komunitas Ruang Bebas Baca dan Sobat Literasi yang sering bikin lapak baca buku setiap minggu. Aku pernah datang ke lapak baca tadi, tapi herannya pengunjung yang mampir baca di situ, orangnya nyaris itu-itu melulu.

#KetemuBuku

Jumat, 25 November 2016

Sebagai rakyat jelata yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah, yang nafsu untuk cutinya amat tinggi, salah satu hal yang ribet untuk diurus adalah proses acc cuti itu sendiri. Lamanya cuti yang akan diambil biasanya malah kalah lama dibanding proses pengajuan cuti tersebut. Keribetan ini datang dari surat formulir cuti yang harus ditandatangani oleh tiga pejabat atasan.

Coba bayangkan ilustrasi berikut: pejabat A berada di kantor seperti biasanya, pejabat B sedang dinas luar kota, dan pejabat C kebetulan adalah orang yang kamu paling enggan untuk bertatap muka. Untuk mendapat seonggok tanda tangan dari ketiganya, tentu nggak bisa dicapai dalam waktu satu atau dua hari. Kita mesti menemui beliau-beliau itu satu per satu, tentu saja sambil menenteng dokumen kertas ke mana-mana mirip sales kredit panci. Masalahnya, bagaimana kalau saat itu kita memang butuh tanda tangan atasan untuk cuti dengan segera?

Persolan semacam ini ternyata bisa diatasi seandainya semua instansi sudah menerapkan Tanda Tangan Digital.


Jumat, 18 November 2016

Kedekatanku dengan Lampung bisa dibilang sudah mendarah daging. Sebelumnya aku sudah pernah cerita di sini kalau ibuku orang asli Lampung, keluarga besar juga banyak tinggal di sana. Aku ingat dulu, saat umurku masih belia, kami sekeluarga sering berkunjung ke rumah kakek di Panjang. Selain Pasar Panjang, salah satu tempat wisata yang selalu wajib kami singgahi waktu itu adalah Artomoro (kabarnya sekarang namanya jadi Central Plaza), itu pun kalau mal bisa disebut tempat wisata. Pernah sekali diajak main ke Pasir Putih, waktu masih umur belasan, itulah pertama kalinya aku mencicipi rasa air laut. Rasanya persis seperti rasa yang dihasilkan oleh keringat sendiri. Asin.

Lebih dari yang kuingat, aku nggak tahu apa-apa soal Lampung. Sampai akhirnya di awal tahun 2015, ada seorang teman yang mengirim chat via WhatsApp.

"Do, mau ikut liburan ke Pahawang?" 
"Pahawang? Di mana tuh?" 
"Pulau Pahawang. Lampung." 
"LOH, KOK AKU BARU DENGAR?"
Itulah awal mula aku mengenal pulau penuh pesona ini. 

Februari 2015, untuk pertama kalinya aku ke Lampung nggak bareng keluarga. Tujuannya pun beda, kali ini memang untuk liburan. Untungnya, jarak Palembang-Lampung mudah ditempuh, nggak sampai sehari dengan naik kereta api. Mungkin bisa lebih cepat seandainya baling-baling bambu sudah diproduksi massal.


Rabu, 02 November 2016

Salah satu hal yang masih menjadi misteri di muka bumi ini adalah apa alasan logis kebanyakan cewek menggemari K-Drama alias drama Korea. Polemik tersebut nyaris selevel dengan pertanyaan Agnez Mo di lagu Tanpa Kekasihku dalam lirik, "Di mana letak surga itu?" Susah dijawab. Atau mungkin pernah dijawab di sebuah artikel, tapi tetap susah diterima. 

Ampun, girls.

Sebagai pengakuan, satu-satunya K-drama yang selesai kutonton cuma Descendants of the Sun. Bagus. Nggak mau coba nonton K-drama lain, takut ketagihan. Bukan berarti anti, tapi dibanding drama serial dengan puluhan episode, aku lebih suka film Korea yang sekali tamat. Walau harus diakui, Korea itu bisa jadi surganya film romantis yang berpotensi mengosongkan kotak tisu. 

Karena nggak mau bercucuran air mata seorang diri, aku jadi terdorong bikin daftar 10 film Korea favorit. Bukan cuma yang ceritanya sedih, tapi juga film -film yang bikin kita nggak bisa skeptis dengan industri film Negeri Ginseng ini. Daftar film diurutkan dari yang favorit sampai yang paling favorit.

Jumat, 28 Oktober 2016

Bisa romantis tanpa harus ada adegan aktor dan aktris utamanya berpagutan bibir, inilah salah satu hal esensial kenapa aku suka film roman asal Thailand. Walaupun mungkin ada beberapa orang nggak suka karena bahasanya terdengar aneh dan cempreng di kuping, tapi menurutku Thailand adalah salah satu negara yang layak dijadikan kiblat film komedi romantis. Keadiktifan ini juga yang jadi alasanku memutuskan berlibur ke Thailand bulan lalu dengan modal cuma bisa ngomong sawadi kap dan kop kun kap.

Formula film Thailand biasanya begini: roman + komedi, horor + komedi, atau yang murni horor. Karena nggak terlalu suka film horor, film Thailand favoritku hampir semuanya bergenre rom-com.

Nah, inilah 10 film Thailand favoritkudiurutkan dari yang suka sampai yang paling suka:


May Who (2015)
Film roman komedi berbalut fantasi, judul lainnya May Nai Fai Rang Frer. Bercerita tentang siswa kurang populer bernama Pong, yang naksir siswi cantik bernama Ming. Lalu siswi kurang populer bernama May, yang naksir kakak kelas atletis bernama Fame. Sebuah peristiwa mendekatkan Pong dan May, membuat mereka saling membantu untuk mendapatkan pasangan impian masing-masing. Yang lucu dan seru, ternyata karakter Pong di sini ahli bikin komik dan May punya kekuatan listrik yang dirahasiakannya.


One Day (2016)
Bercerita tentang Denchai, petugas IT yang selalu dalam kesendirian, dan kehadirannya di kantor hanya dianggap ketika ada yang butuh bantuan soal komputer. Denchai diam-diam naksir dengan Nui, pegawai berparas cantik yang bekerja bagian marketing. Dalam sebuah acara perjalanan kantor ke resor ski di Hokkaido, Nui mengalami kecelakaan saat bermain ski, kemudian membuatnya kehilangan memori ingatan sementara yang hanya berlangsung selama satu hari. Tanpa dinyana, Denchai memanfaatkan momen ini untuk mengaku-ngaku jadi pacar Nui. Agak berengsek memang, tapi entah kenapa jadinya so sweet.

ATM: Er Rak Error (2012)
Sepasang kekasih yang bekerja di bank dan melakukan hubungan 'terlarang' antara atasan dan bawahan. Hubungan rahasia keduanya baik-baik saja, sampai muncul konflik yang disebabkan kesalahan pemasangan software di sebuah unit ATM. Dua sejoli ini terpaksa turun tangan untuk mencari nasabah dan menagih kerugian yang disebabkan erornya ATM tadi. Konfliknya seru dan lucu!

The Little Comedian (2010)
Film dengan judul asli Baan Chan Talok Wai Gon ini bercerita tentang anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Tock, hidup di dalam keluarga yang semua anggotanya memilik bakat menjadi komedian. Tock diminta ayahnya untuk melanjutkan estafet menjadi komedian, tapi masalah timbul saat disadari ternyata Tock nggak ada bakat melucu sama sekali. Leluconnya garing parah! Satu-satunya yang bisa tertawa mendengar lawakan Tock hanyalah seorang dokter cantik spesialis kulit bernama Ice. Walaupun tokohnya garing kayak bakwan baru diangkat dari penggorengan, tapi film ini malah jadi sangat menghibur.

SuckSeed: Huay Khan Thep (2011)
Diceritakan Ped naksir Ern saat masih duduk di bangku SD, tapi cintanya terpaksa kandas karena Ern tahu-tahu pindah ke Bangkok. Waktu SMA, mereka bertemu lagi karena Ern menjadi murid baru di sekolahnya Ped. Selain tentang cinta terpendam, film ini juga mengisahkan perjuangan Ped bersama Khung dan Ex membentuk band populer di sekolah. Cocok ditonton untuk bernostalgia ke masa putih abu-abu, walaupun di Thailand seragamnya beda warna (sangat informatif).

The Billionaire (2011)
Film yang judul lainnya Top Secret: Wai Roon Pun Lan ini diangkat dari kisah nyata Top Ittipat, pria yang sukses menjadi miliarder di usia muda. Menceritakan tentang Top yang pernah menjadi pencandu online game, putus sekolah, menjadi penjual kacang, keluarganya yang bangkrut dan banyak utang, tapi kemudian bangkit dengan tao kae noi-nya yang legendaris itu. Kegigihan patut dicontoh. Inspired!

I Fine..Thank You Love You (2014)
Judul lainnya Ai Fai Thank You Love You. Bercerita tentang wanita muda yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris bernama Pleng, yang mendapat masalah karena dituduh sebagai penyebab kepergian pacar seorang pria. Pria tersebut bernama Gym, yang kemudian menuntut tanggung jawab Pleng untuk mengajarinya bahasa Inggris agar bisa mengejar kekasihnya yang pergi ke Amerika. Di situlah benih cinta di antara keduanya timbul. Banyak adegan lucu di film ini walau terkesan komikal, misalnya waktu Gym menarik cawat remaja iseng yang memotret rok Pleng. Ditariknya sampai robek pula. Ya Rabb...

Hello Stranger (2010)
Berjudul asli Kuan Meun Ho, salah satu film dengan premis menarik. Tentang laki-laki dan perempuan yang berasal dari Thailand, secara nggak sengaja bertemu di Korea. Uniknya, mereka berkenalan tanpa memberi tahu nama masing-masing. Bahkan di sepanjang film nama mereka nggak pernah disebut. Bisa ditebak ke arah mana hubungan mas dan mbak anonim ini akan berlanjut. Alurnya romantis, tapi ending ceritanya memancing cucuran air mata.

A Little Thing Called Love (2010)
Kisah gadis culun naksir kakak kelas ganteng mungkin terdengar biasa, tapi film yang berjudul asli Sing Lek Lek Tee Reak Wa Rak ini dikemas dengan lebih dramatis sekaligus menghibur. Film yang bikin geregetan karena terbawa suasana cinta terpendamnya Nam dan Khun. Selain cecintaan ala remaja, film ini juga berisi tentang persahabatan antara Nam dan tiga temannya yang karakternya lucu-lucu. Pokoknya ini jenis film yang menguras emosi, dan jadi salah satu film remaja terbaik yang pernah kutonton.

The Teacher's Diary (2014)
Film drama romantis antara dua orang guru di sebuah sekolah apung. Uniknya, mereka saling tertarik padahal nggak pernah bertemu dan cuma berhubungan secara nggak langsung lewat sebuah buku diary. Selain romantis dengan caranya sendiri, film berjudul asli Khid Thueng Withaya ini juga berisi muatan pendidikan yang bikin haru. Satu-satunya film yang berhasil bikin aku mewek selang beberapa jam setelah menontonnya. Gila kan efeknya.


Kalau diperhatikan dari semua deskripsi film di atas, aku nggak pernah menyebut nama pemain filmnya. Selain karena memang agak ribet diketik, juga karena menimbang bahwa ada kecenderungan seseorang yang cuma mau nonton film gara-gara lihat nama pemainnya. Misalnya, ada temanku cewek yang cuma mau nonton filmnya Mario Maurer. Ini fenomena yang agak meresahkan. Karena penasaran kenapa cewek-cewek lebih berhasrat ke aktor Thailand yang namanya paling mudah dieja ini, waktu liburan ke Bangkok kemarin aku jadi iseng survei langsung. Kebetulan lokasinya di salah satu bilik Thai massage.

"Do you know him?" tanyaku ke mas-mas yang lagi asyik memijat punggung, sambil menunjukkan foto di akun Instagram Chantavit Dhanasevi. 
Beliau menggeleng dengan cekatan. 
"Him?" Berikutnya aku membuka akun Instagram Jirayu La-ongmanee. 
"ไม่ทราบ," jawab masnya seraya masih memijat bagian tubuh lain tapi bisa kupastikan masih di area aman. Masnya ngomong apa, sih? 
"Nah, do you know this guy?" Aku menunjukkan foto aktor Thailand terakhir yang aku follow. 
"Oh, Mario!" jawabnya antusias.

WELL...

Selain film di atas, sebenarnya masih ada beberapa film lain yang menurutku bagus: Bangkok Traffic (Love) Story (2009), My True Friend (2012), Timeline (2014), Heart Attack (2015) tapi nggak begitu favorit. Atau film berformat omnibus kayak Hormones (2008), 4bia (2008), Phobia 2 (2009), dan Seven Something (2012) yang nggak masuk favorit karena filmnya dibagi jadi empat cerita yang nggak semuanya bisa disukai secara keseluruhan.

Nah, kalau kamu, film Thailand favoritmu yang mana?



UPDATE!

Shutter (2002)
Alone (2007)
Cool Gel Attack (2010)
Countdown (2012)
Pee Mak (2013)
Cat a Wabb (2015)
Back to 90's (2015)

Selasa, 25 Oktober 2016

Selain rajin memberi rating di Goodreads untuk buku-buku yang sudah kubaca, sejak setahun terakhir aku punya kebiasaan memberi rating ke setiap film yang sudah kutonton. Kebiasaan ini terbantu oleh IMDb, situs/aplikasi movie-guide untuk pencinta film di seluruh dunia. Selain bisa memberi rating, di situ juga kita bisa melihat informasi detail film, mulai dari yang internal kayak judul, pemain, produser, sutradara, tanggal rilis, trailer, trivia, quotes, sampai soundtrack; atau juga informasi eksternal kayak review, kritik, penghargaan, pendapatan film, sampai update berita tentang film yang sudah dan akan rilis (coming soon).

Karena punya akun profil di IMDb, secara nggak langsung aku jadi punya "top rated" versi sendiri. Isinya film-film dengan rating di atas angka 8 bahkan sampai nilai sempurna, 10. Tentu saja semuanya subjektif, menurut seleraku sendiri.

Jadi, kemarin waktu iseng cek film-film di daftar "top rated", surprisingly ternyata di situ lumayan banyak film produksi Asia alih-alih film hollywood, padahal tontonanku didominasi film barat. Dan, beberapa film favoritku ternyata banyak film bollywoodsebutan nggak resmi untuk film India populer. Beberapanya lagi adalah film Thailand dan Korea (mungkin kapan-kapan akan kubuat daftarnya).

Setelah disusun jadi lis, inilah 10 film India favoritkudiurutkan dari yang suka sampai yang paling suka:

Jumat, 30 September 2016

Mendapatkan tempat penginapan yang lokasinya berdekatan dengan pusat hiburan dan rekreasi merupakan dambaan kita bersama. Iya, nggak? Apalagi pusat hiburannya merupakan tempat rekreasi berskala internasional yang menjadi tujuan wisata para turis asing juga. Pastinya hal ini akan semakin memanjakan kita.

Sebelum kita membicarakan hotelnya, mari kita bahas tempat hiburannya lebih dulu. Di salah satu pusat kota Jawa Barat, Bandung, terdapat destinasi wisata menarik yang dapat dikunjungi, yaitu Trans Studio Bandung. Salah satu pusat hiburan yang didirikan oleh perusahaan Trans Corp Company yang merupakan perusahaan media yang menaungi TransTV, Trans7, dan sebagainya.




Sumber: transstudiobandung.com

Selasa, 27 September 2016

Setelah liburan singkat di Kuala Lumpur, aku dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Bangkok, Thailand. 

Mendengar seseorang yang ingin liburan ke Thailand, apa komentar pertama yang kamu pikirkan?
a. Ngapain? Mau operasi kelamin?
b. Titip ladyboy satu, ya!

c. AAAAK! MARIO MAURER AAAAK!




Dari bandara KLIA2 di Kuala Lumpur, kami pun mendarat di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Hal pertama yang aku lakukan setelah turun dari pesawat adalah menyapa penumpang lain yang berasal dari Thailand dengan สวัสดี ครับ atau dalam ejaan non-cacing bisa ditulis "sawadi krap". Sapaan pengganti halo/hai yang aku pelajari dari film-film asal Negeri Gajah Putih itu.

Dari Don Mueang, kami naik bus transit dengan tujuan Victory Monument karena hostel yang sudah kami pesan jauh-jauh hari lokasinya di sekitar sana. Sesampainya di Victory Monument, lanjut jalan kaki sekitar 500 meter ke At Victory Hostel. 

Sedikit review, hostel ini kamarnya bagus dan fasilitasnya lengkap. Biaya sewanya 5790 baht selama 4 hari 3 malam. Satu kamar bisa diisi oleh maksimal 6 orang dengan private bathroom.

Uwuwuw~

Jumat, 23 September 2016

Dari sekian banyak teori-teori di dunia, ada satu teori yang aku ingat. Teori Motivasi Prestasi atau Teori Kebutuhan dari McClelland (McClelland’s Theory of Needs). Teori ini dikembangkan oleh David McClelland bersama rekan-rekannya, entah siapa. Konsep teori ini berfokus pada tiga kebutuhan, yaitu kebutuhan pencapaian (need for achievement), kebutuhan kekuasaan (need for power), dan kebutuhan hubungan (need for affiliation).

Sampai di sini, aku langsung mau protes. Om McClelland kayaknya melupakan satu kebutuhan penting yang hakiki. Apakah itu, wahai manusia? Kebutuhan liburan (need for holiday).

KAMI BUTUH LIBURAN, OM. LIBURAN!

Mari kita lupakan paragraf pembukaan yang terkesan kritis tadi, dan fokus pada kata kunci terakhir: liburan.

Kamis, 15 September 2016

Mungkin belum banyak yang mengenal Dennis Lehane, terutama di ranah perbukuan tanah air. Apalagi setahuku baru satu bukunyaMystic Riveryang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. CMIIW.

Dennis Lehane atau Dennis J. Lehane adalah penulis novel asal Amerika, kelahiran 4 Agustus 1966. Selain bekerja sebagai penulis, beliau juga pernah mengajarkan materi tentang menulis fiksi di Harvard University. Sekarang ia dan keluarganya berdomisili di San Monica, California.

gambar dipinjam dari sini
 
Aku baru mengenal nama Dennis Lehane sejak menonton Shutter Island, film yang bikin merinding sekaligus bikin 'pusing' karena ceritanya yang memiliki plot twist keren. Karena itulah aku jadi penasaran dengan karyanya yang lain, terutama yang sudah diadaptasi jadi film. Sampai akhirnya kesampaian menonton semua filmnya (based on novel), dan semuanya nggak ada yang mengecewakan.

Kamis, 28 Juli 2016

Akhir-akhir ini, dunia sedang dihebohkan oleh permainan video game berbasis augmented reality, teknologi yang menggabungkan objek virtual dengan dunia nyata. Tentu saja kita nggak sedang membicarakan Tetris, melainkan Pokemon Go, permainan untuk perangkat mobile yang dikembangkan oleh Nintendo dan Niantic. Terlepas dari fenomena dan kontroversi yang banyak diberitakan, aplikasi Pokemon Go seolah mimpi yang jadi kenyataan bagi Generasi Y (kita yang lahir tahun 1981-1994), tentu saja karena serial anime yang identik dengan Pikachu ini adalah konsumsi kita semasa kecil dulu. Secara nggak langsung, kita sudah tumbuh bersama monster-monster unik itu.

Bagi pemain Pokemon Go atau biasa disebut Pokemon Trainer, pastilah mengenal istilah Pokestop, yaitu sebuah tempat khusus yang digunakan untuk memperoleh items dalam permainan seperti Pokeball (alat berbentuk bola merah-putih untuk menangkap pokemon), Egg (telur yang bisa menetaskan pokemon), atau Razz Berry (buah yang bisa jadi semacam bius untuk menangkap pokemon liar), dll.. Di dalam peta, Pokestop ditandai dengan penampakan kotak berwarna biru. 

Pokestops yang sudah disinggahi akan berubah warna menjadi ungu (gambar diambil dari sini)

Nah, bagi Pokemon Trainer yang berdomisili di sekitar Palembang mungkin ada yang bertanya-tanya di mana saja letak Pokestop strategis untuk berburu Pokemon, silakan simak ulasan berikut untuk memudahkan kamu melacak keberadaan para monster!

Selasa, 05 Juli 2016

Ada ide yang dikembangkan, ditiru sebagian, bahkan dijiplak habis-habisan. Kita termasuk golongan yang mana?

Mari kita kesampingkan dulu soal plagiarisme. Ada term lain yang sering disebut, yaitu epigonisme, berasal dari kata epigon. Di KBBI, epigon berarti orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Kata sepadan pengganti epigon adalah peniru atau pengekor. Tapi, nggak selamanya epigon itu buruk. Setiap orang pasti ada tendensi untuk menjadi epigon, mungkin yang membedakan adalah tingkatannya. Mirip-miriplah dengan tingkatan kasih, cinta, dan sayang. Syelele~

Kalau kata Sapardi Djoko Damono, dalam sastra bandingan ada 3 hal rambu-rambu yang perlu dicermati, yaitu (1) asli, (2) pinjaman, dan (3) tradisi. Asli di sini juga sering disebut orisinal. Istilah pinjaman bisa diartikan sebagai serapan. Namun, seniman sebaiknya jangan cuma jadi epigon, tapi juga membangun tradisi baru. Walaupun sebenarnya tradisi baru juga sulit untuk dimulai karena pada dasarnya kita nggak bisa nihil dari karya orang lain. 

Jadi, baru-baru ini aku dapat bahan untuk melanjutkan serial pos "sampul buku yang mirip" lagi. Kayaknya bahasan ini nggak bakal habis selama masih ada kasus serupa atau kalau masih ada kecenderungan untuk mempraktikkan cocoklogi(?)

Selasa, 31 Mei 2016

Kalau ditanya apa kebutuhan hidup sebagai penunjang penampilan, jawaban yang ada di daftar teratas adalah pakaian. Tentang bagaimana cara berpakaian, itu menyangkut gaya hidup. Dan, gaya hidup idealnya berbeda-beda seiring dengan kemauan, kemampuan, kebutuhan, status sosial, daya beli, dll.

Sebenarnya aku nggak terlalu perlu menulis ini, tapi makin hari situasinya makin urgensi.

Jadi, berhari-hari melewati legi, pahing, pon, wage, kliwon, balik legi lagi... setiap bepergian ke luar rumah, aku menemukan hampir 60% penduduk bumi kompak memakai kaus bertuliskan "My Trip My Adventure". Di mal, ada. Di warung makan, ada. Di pasar, banyak. Sampai-sampai di masjid, popularitas baju koko nyaris terenggut gara-gara demam baju My Trip My Adventure ini.
Penyebab demam My Trip My Adventure disinyalir karena sedang digandrunginya sebuah program televisi berjudul sama. Acara petualangan yang mengenalkan destinasi wisata dan menjual keindahan panorama di pelosok Indonesia. Belum lagi dipandu oleh host rupawan yang rata-rata berbadan six pack, tentulah membuat acara ini banyak diminati dan meraih rating tinggi.

Senin, 25 April 2016

Berapa banyak blogger muda yang bikin blog karena terpengaruh oleh kesuksesan Raditya Dika dengan Kambing Jantan-nya? Kurasa banyak sekali. Termasuk... aku.

Tapi, jauh sebelum baca buku Radith yang konon jadi kiblat banyak anak muda untuk menulis online diary itu, aku sudah mengenal istilah blog (berasal dari web log) sejak SMP, setelah membaca sebuah artikel di Kuntum; majalah pelajar yang dulu jadi langganan almarhum kakek di Lampung.

Dari sanalah timbul keinginan untuk bikin blog biar kalau ada yang nanya, "Punya blog?" bisa dengan bangga menjawab, "Punya dong." Walaupun akhirnya baru terealisasi saat sudah kuliah dan sesaat setelah baca Kambing Jantan. Dengan gaptek dan modal sewa warnet dua jam.

Omong-omong soal blog... Baru-baru ini, aku habis membaca buku berjudul Blogging: Have Fun and Get The Money karya Carolina Ratri, lalu kemudian merasa menyesal. Kenapa buku semacam ini nggak terbit dari dulu pas awal-awal aku ngeblog!



Judul : Blogging: Have Fun and Get The Money
Penulis : Carolina Ratri
Penerbit : Stiletto Book
Tahun terbit : Desember 2015
Cetakan : pertama
Tebal : 245 hlm
ISBN : 9786027572447


Bagi seorang blogger, mempunyai blog yang mendatangkan pemasukan pasti jadi cita-cita. Sedangkan bagi brand, blogger semakin diperhitungkan untuk menjadi partner dalam strategi marketing mereka melalui kerja sama job review. Namun, untuk sampai ke tahap itu, kita perlu membekali diri dengan keterampilan yang cukup. Buku ini membahas berbagai tip, seperti:

- Menentukan tema blog
- Mencari ide tulisan
- Mempelajari teknik menulis yang baik
- Mempercantik tampilan blog
- Cara mendapatkan job review
- Cara kerja Google Adsense
- Memopulerkan blog dengan SEO dan media sosial
- Sampai, profil para blogger senior

Pada akhirnya, akan banyak yang bisa kita dapatkan dari blog. Tak hanya untuk bersenang-senang dan dapat uang, tapi juga jejaring, serta personal branding.

Selasa, 12 April 2016

Sama seperti kota lain, Jogja kadang bisa menjelma kota dengan kelembapan udara rendah. Sehingga berjalan ke luar rumah untuk membeli permen di minimarket saja, akan membuat seseorang seakan terlihat baru saja selesai sauna. Mungkin itu terjadi karena posisi matahari tegak lurus di atas pulau Jawa, sehingga matahari yang diterima di permukaan lebih banyak. Tapi apa pun alasannya, aku suka karena waktu itu untuk pertama kalinya Sheila punya alasan datang ke kamar kontrakanku.
“Kamu masih simpan file makalah tugas dari Pak Nanto?” tanya Sheila lewat telepon siang itu. Kalau diingat-ingat, ini adalah telepon kedua darinya. Yang pertama dulu, katanya salah sambung.
“Masih. Nggg, tapi aku nggak bisa kirim e-mail nih.”
“Kontrakanmu dekat kampus, kan? Aku samperin aja deh, sekalian numpang ngadem.”
Dan, di sanalah mulanya.

Senin, 04 April 2016

Akhir-akhir ini entah kenapa banyak teman yang minta rekomendasi lagu bagus. Biasanya kalau ditanya begini, aku malah bingung. Soalnya semua lagu yang masuk ke playlist kuanggap bagus semua. Tapi kalau ditanya lagu apa yang sekarang sering diputar, aku bisa langsung jawab... lagu-lagunya 5 Seconds of Summer dan Shawn Mendes! Suka 5SOS karena lagu mereka yang mengingatkan ke Greenday dan Simple Plan dengan musik pop-punk yang easy listening, genre lagu favorit dari zaman bocah dulu. Nah, kalau Shawn Mendes selain lagunya memang enak-enak (better than Justin Bieber, I guess) dan nggak membosankan, aku tertarik dengan fashion-nya yang simpel dan konsisten.

Oke, fashion. Aku harus bilang kalau aku bukan tipe yang selalu ikut arus kekinian apalagi kalau sudah pasaran. Walaupun setengah populasi bumi sekarang sedang kompak-kompaknya memakai baju bertuliskan "My Trip My Adventure" tiap berpergian dan banyak juga yang seolah mendapat titah memakai polo shirt bertuliskan "Turn Back Crime", tapi tetap saja aku nggak bisa latah tren semacam itu.

Kembali ke Shawn Mendes tadi. Kenapa aku bilang tertarik dengan fashion penyanyi remaja satu ini, jawabannya ada di semua video klip lagunya. Kalau diperhatikan, Shawn selalu tampil konsisten dengan setelan celana denim dipadu dengan atasan oblong polos yang dilapis jaket/kemeja. Mulai dari video klip Show You, Never Be Alone, Aftertaste, Stitches, sampai I Know What You Did Last Summer. Bahkan setiap tampil live di panggung, doi tetap setia dengan outfit yang hampir sama. Menarik.


Shawn Mendes, potret diriku di masa belia || foto diambil dari sini

Senin, 28 Maret 2016

Ada yang pernah nonton film Cin(t)a? Drama tentang hubungan percintaan antara pasangan dari etnis Tionghoa dan pribumi. Premis yang menarik. Nah, novel yang baru selesai kubaca ini kurang lebih mengangkat tema yang sama, tapi dikemas dengan latar sejarah, pra-kemerdekaan. Novel debut yang apik dari Ario Sasongko.


Judul : Rindu yang Membawamu Pulang
Penulis : Ario Sasongko
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : pertama
Tebal :  232 hlm
ISBN : 979-780-844-0

Kita pernah berhenti di persimpangan jalan yang hampir membuat kita menyerah. Berkali-kali aku mencoba menepismu, menamaimu cinta yang tak tentu arah. 

Benarkah kita tak bisa memberi kesempatan pada sesuatu yang tak akan pernah sama? Aku tak paham banyak tentang cinta, tetapi bukankah kita hanya perlu merasakannya? 

Mereka bertemu di antara perbedaan. Bagi Gun dan Ling, cinta tak pernah mudah dimengerti. Tidak juga mudah dimiliki. Bertahan dalam ketidakpastian membuat mereka ingin menyerah walau tak pernah sanggup saling melepaskan. Atas nama dua hati yang saling mencintai, keduanya berpegang pada janji yang tak sempat terucap. Bentangan jarak dan waktu bukan halangan. Rindu akan membawa pulang. Namun, masih cukupkah rindu yang mereka miliki?

Sabtu, 26 Maret 2016

Kapan terakhir kau merasa lelah?
Pastilah kau jawab hari ini
Seperti menyikat celah gigi
Kuman menempel gusi
Sakit, sikat, sakit
Tak sudah-sudah

Atau kau lihat celah bawah lidah
Di sanalah pabrik ludah
Lantas, di mana pabrik perasaan?
Pastilah kau jawab tak tahu
Tahu-tahu kau berlalu
Lalu datang lagi, menuntut itu ini
Seolah hati korban tabrak lari

Kau tawari kita lahir lagi
Hah, untuk kembali mati?
Padahal sekali pun kita punah
Kebenaran akan tetap kalah

Apa kau pernah merasa bosan?
Pastilah sudah berbulan-bulan
Tinggal menunggu tangan cakar-cakaran
Mengoyak jaring yang lahir dari anyaman perasaan

Kita hanya perlu satu kesempatan lagi
Untuk membawa punggung lari
Untuk pergi, atau kembali?
Kita hanya perlu waktu untuk saling patah hati

25 Maret 2016
19.00
________
Diterbitkan di harian Sumatera Ekspres (26/3) hlm. 3

Rabu, 16 Maret 2016

"Membaca bukanlah gaya hidup yang baik," kata Aan Mansyur. Seorang pembaca buku akan menghabiskan banyak uang demi membeli buku bacaan. Seorang penulis harus membaca banyak buku bagus karena butuh referensi apa yang akan ditulis. Seseorang yang banyak membaca akan mengetahui banyak hal-hal baru, sekaligus akan membuatnya merasa sangat bodoh. Yang lebih parah lagi, seorang pembaca serius biasanya lebih suka menyendiri bersama buku-buku.

Sebelumnya, aku sudah pernah membahas alasan kenapa membaca buku. Salah satunya adalah biar bisa pamer koleksi buku pribadi di media sosial, meskipun untuk mencapai itu kita harus sedikit menjadi anti-sosial. Nggak apa-apa. 

Mungkin di luar sana juga sudah banyak yang menulis alasan mereka membaca buku. Jadi, kali ini aku mau membahas dari sisi kaum kiri. Alasan kenapa malas membaca buku. Omong-omong, selain malas membaca buku, aku juga malas menguras bak mandi. Karena menguras bak mandi itu sangat menguras tenaga.

Kamis, 18 Februari 2016

Setelah sukses dengan seri "Setiap Tempat Punya Cerita" atau sering disingkat STPC, kali ini GagasMedia meluncurkan seri teranyar yang diberi nama "Indonesiana". Berbeda dengan seri STPC yang menggabungkan kisah fiksi dan traveling experience (semuanya berlatar kota di luar negeri), maka seri Indonesiana menggabungkan kisah fiksi dengan latar lokal dan budaya dari daerah di Indonesia. 

Cerita di seri Indonesiana memuat plot yang menampilkan drama, romantisme, kekayaan budaya, dan keindahan tempat di Indonesia. Bersama penulis dan tokoh-tokoh di seri ini, pembaca diajak untuk ikut bertualang ke sudut-sudut daerah Indonesia.

Seri Indonesiana pertama yang kubaca adalah Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif . Kalau kamu?



Judul : Di Bawah Langit yang Sama
Penulis : Helga Rif
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : pertama
Tebal : 276 hlm
ISBN : 979-780-811-4

Di kotaku, gadis-gadis berkebaya meriung merangkai bunga.
Menyanyikan kidung. Juga membicarakan cinta, yang ternyata tak semudah yang kita sangka.

Seperti cintaku, yang kini kupertanyakan di tepi pura dekat taman bunga.
Dia dan aku sungguh berbeda meski berada di bawah langit yang sama.
“Kau seperti kupu-kupu,” katanya, “yang sempurna dan cantik warnanya.”
Seharusnya, aku bahagia mendengarnya.
Namun, aku sadar, sayapku tak bisa terbang bebas.

Cinta tumbuh di tempat yang jauh, sementara sayapku terikat di sini.
Di pulau para dewa, yang menyimpan banyak rindu untuk memanggilku kembali.
Yang nyanyian ombak di pantainya mampu mendamaikan risau di hati.

Langit masih memiliki warna yang sama, aku dan dia berada di bawahnya.
Kami mengirimkan cinta dan doa.
Namun, diam-diam juga saling bertanya, apakah doa kami akan sampai ke tempat yang sama?

Jika kau pernah mendengar kisah serupa, kabarkan kisahnya ke Pulau Dewata; apakah bahagia atau sesal yang ada di ujung kisahnya?

—Indira

Indira, seorang gadis keturunan Bali yang meneruskan kuliahnya di Singapura. Setelah tamat kuliah, ia lanjut bekerja di sebuah perusahaan tekstil sebagai seorang desainer. Di sanalah ia mulai dekat dan berpacaran dengan pria bernama Maximilian Liem, yang kebetulan adalah atasannya sendiri sekaligus anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Suatu saat ia ditawari Max sebuah proyek besar dengan Mr. Howard, seorang klien penting dari Australia, bertepatan dengan berita duka yang ia dapat dari Bali sesaat kemudian. Indira mendapat kabar dari Iswara, adiknya, bahwa Niang—panggilan nenek untuk masyarakat Bali yang berkasta kesatria—baru saja meninggal dunia. Sebuah berita duka yang membuat Indira harus segera pulang ke Bali dan meninggalkan kerjaannya, proyek besar dengan Mr. Howard, dan juga kekasihnya—Max.
Pribadi orang Bali memang sangat terbuka dalam menerima budaya asing. Tetapi, tidak dengan adat. Adat memiliki aturannya sendiri dengan ketat. 
Di sinilah bagian paling menarik dari novel ini. Aku suka sekali dengan deskripsi budaya Bali yang digambarkan penulis, belum lagi elemen-elemen adatnya, dan hal-hal yang erat sekali dengan agama Hindu. Aku baru tahu kalau upacara ngaben—upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali—ternyata cukup merepotkan dan memakan waktu lumayan lama. Pernah juga baca di sebuah artikel lain, kalau upacara adat ini bisa menghabiskan dana puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk sebuah ritual bagi orang yang sudah meninggal. Padahal puluhan juta itu setara dana yang bisa dibelikan iPhone 6s oleh orang yang masih hidup.

Setelah pulang ke Bali, waktu Indira banyak tersita untuk merayakan upacara ngaben neneknya. Selain desain pesanan untuk proyek dengan Mr. Howard yang terbengkalai, ia juga terpaksa memperpanjang masa cuti kerja karena upacara ngaben baru akan selesai berminggu-minggu kemudian. Lamanya Indira di Bali membuat ia dipertemukan kembali dengan Gung Wah, teman main semasa kecilnya yang setelah tamat SMP merantau ke Jakarta. Masalah muncul ketika Gung Wah ternyata menaruh hati untuk Indira. 
Bukankah jodoh di tangan Tuhan, Gung? Kenapa kita sebagai manusia membuat aturan sendiri?
Konflik novel ini dekat sekali dengan persoalan adat. Kita mengenal ada empat kasta di Bali, yaitu Brahmana, Kesatria, Wesya, dan Sudra. Di Bali, perkara kasta sangat sering menjadi pro-kontra, terutama dalam masalah pernikahan. Ada aturan bahwa perempuan yang menikah harus mengikuti kasta suaminya. Konflik semakin kompleks ketika Indira terjepit dalam keadaan yang serba memaksa; memilih Max—laki-laki beragama Budha yang punya status sosial dan ekonomi yang bagus di Singapura, atau memilih Gung Wah—laki-laki berkasta sama yang dalam sistem kasta bisa masuk ke dalam keluarganya, tetapi tidak dicintainya. Rumit, kan? Lebih rumit daripada insiden nggak sengaja nge-like foto mantan di Instagram.
Aku hanyalah seorang wanita yang harus memegang peran sebagai seorang penerus keturunan keluargaku. Aku mencintaimu, tetapi aku juga mencintai keluargaku. 
Berbeda dengan novel lain yang mengangkat latar Bali, novel ini hampir nggak 'menjual' tempat-tempat wisata yang ada di Bali, seperti Pantai Kuta, Pura Tanah Lot, atau Pantai Jimbaran. Seingatku, satu-satunya tempat wisata yang disebut cuma Danau Batur Kintamani. Tapi tetap saja, novel ini akan membuat kita dekat dengan Bali karena budaya, adat, ritual, dan kearifan lokalnya yang kental.

___________________

Penasaran bagaimana cerita dari seri Indonesiana yang lain? Silakan pantau ulasan dari penulisnya dan para blogger-host yang lain di event One Book One Day GagasMedia sampai akhir Februari nanti!


Senin, 01 Februari 2016

Dulu sewaktu masih kecil, entah umur berapa, di luar rumah sedang ada penampakan gerhana matahari. Aku tinggal di kampung, dan saat itu jalan raya sepi. Segelintir orangtua kompak untuk menyuruh anak-anaknya berkurung dalam rumah. "Jangan keluar rumah, nanti mata kalian rusak," kata mereka. Sampai bertahun-tahun kemudian, gerhana matahari seolah jadi momok, setidaknya buatku―anak kampung yang selalu ingat pesan orangtuanya. 

Sepanjang tahun 2015, di berbagai portal berita daring dan linimasa media sosial sedang gencar dielu-elukan bahwa pada tahun 2016, Indonesia akan jadi incaran turis asing karena fenomena gerhana matahari total. Kok, bisa? Berbekal rasa penasaran, aku bertanya ke beberapa teman. Tapi nihil, nggak banyak yang tahu. Akhirnya aku melakukan pendalaman materi terkait gerhana matahari total (selanjutnya disingkat GMT) untuk dirangkum ke dalam tulisan ini. Mungkin bisa bermanfaat.

9 Maret 2016, Gerhana Matahari Total

Gerhana matahari total adalah saat di mana seluruh piringan matahari tertutupi oleh piringan bulan. Peristiwa ini menyebabkan cahaya matahari terhalang menuju ke suatu wilayah yang berpelurus dengan keduanya. Akibat dari fenomena GMT ini bisa sangat menakjubkan; siang akan segelap malam, terlihat Merkurius dan Venus di dekat Matahari, dan hewan nokturnal seperti kelelawar akan mengalami dilematik apakah ini waktunya tidur atau waktunya untuk memulai aktivitas.

Jumat, 15 Januari 2016

Belakangan ini, aku sedang keranjingan lagu Love Yourself-nya Justin Bieber. Buat yang belum tahu, lagu yang jadi single ketiga di album terbaru Justin ini adalah ciptaan Ed Sheeran dan Benny Blanco. Kayaknya Justin harus berterima kasih banyak ke Ed karena berkat tangan dingin pelantun Thinking Out Loud itu, lagu ini disebut-sebut jadi lagu paling diminati di album "Purpose". Sebelumnya, Ed juga pernah menulis lagu buat One Direction yang judulnya Little Things, dan sukses pula jadi hits.

Nah, saking seringnya lagu ini diputar, lama-lama jadi hafal liriknya. Lalu, waktu iseng mengeja liriknya pelan-pelan, kok kayaknya ada yang janggal? Setelah diperhatikan, ternyata memang ada kekeliruan kata, atau kalau di luar lebih dikenal dengan sebutan grammar error.


My mama doesn't like you when you said "my mama don't like you", Justin!
(foto diambil dari sini)

Kamis, 07 Januari 2016

"Membaca itu seperti menjelajah," kata Eka Kurniawan. Bukan sekadar bahwa sebuah karya akan membawa kita ke tempat lain atau membuat kita bertemu dengan karakter berbeda. Tapi, sering kali ada pengalaman dari membaca karya tertentu, pengarang tertentu, yang berada di luar apa yang kita secara pribadi asumsikan sendiri.

Kalau membaca itu seperti menjelajah, berarti setiap halaman buku yang kita baca sama dengan satu langkah dalam penjelajahan. How to travel in time? Read.




Aku mulai membaca buku ketika mulai bisa mengeja huruf, tentu orang lain juga. Saat merasa bisa, Rido kecil memburu apa saja yang bisa dibaca. Saking haus bacaan, bahkan waktu SD aku sudah membaca majalah Gatraalih-alih koleksi Trubus milik bapakyang diubek dari dalam kardus di gudang bawah rumah. Namun, hal sepele macam itu nggak lantas bisa disebut book addict, kan?