Kenapa Membaca Buku?

"Membaca itu seperti menjelajah," kata Eka Kurniawan. Bukan sekadar bahwa sebuah karya akan membawa kita ke tempat lain atau membuat kita bertemu dengan karakter berbeda. Tapi, sering kali ada pengalaman dari membaca karya tertentu, pengarang tertentu, yang berada di luar apa yang kita secara pribadi asumsikan sendiri.

Kalau membaca itu seperti menjelajah, berarti setiap halaman buku yang kita baca sama dengan satu langkah dalam penjelajahan. How to travel in time? Read.




Aku mulai membaca buku ketika mulai bisa mengeja huruf, tentu orang lain juga. Saat merasa bisa, Rido kecil memburu apa saja yang bisa dibaca. Saking haus bacaan, bahkan waktu SD aku sudah membaca majalah Gatraalih-alih koleksi Trubus milik bapakyang diubek dari dalam kardus di gudang bawah rumah. Namun, hal sepele macam itu nggak lantas bisa disebut book addict, kan?

Kalau ditanya apa saja penyesalanku dalam hidup, di daftar itu aku akan menulis: telat mengoleksi buku-buku. Lupakanlah serial Tiger Wong, Goosebumps, atau komik-komik yang jadi konsumsi semasa kecil dulu karena sekarang entah di mana rimbanya. Aku baru kepikiran untuk membaca banyak buku dan mengoleksinya saat tamat SMA dan masuk perguruan tinggi. Nafsu itu mulai muncul ketika bergabung dengan komunitas NulisBuku Club Palembang, tempat di mana aku iri dengan teman-teman lain yang mengoleksi banyak novel bagus di rumahnya. Dari situ, aku mulai menyisihkan uang jajan yang nggak seberapa untuk beli buku, minimal satu buku per bulan. Kalau kehabisan bacaan, selalu ada teman baik yang bukunya bisa dipinjam. That's what having-book-addict-friends are for, right? 

Kegiatan 'menimbun' buku rupanya berlanjut sampai aku masuk kerja dan punya gaji sendiri untuk memborong buku. Tapi, minat membeli buku-buku rupanya kadang nggak berbanding lurus dengan minat membacanya. Penyakit lainnya muncul ketika Agumon berevolusi jadi Greymon—pembaca segala berubah jadi pembaca yang selektif.


Lempar buku level: bukunya bukan selera gue!
Cuma mau baca genre romance dan komedi? Rasanya sombong sekali.

Memasuki fase not-my-cup-of-tea atau berpegang pada selera ternyata nggak begitu baik. Kalau buku diibaratkan jendela dunia maka memilih-milih genre bacaan berarti menutup beberapa jendela untuk melihat dunia luar, ya, kan? Jadi, sekarang aku mengeset ulang apa tujuanku membaca. Aku ingin membaca saja, terhibur, dan mendapat hal-hal baru dari apa yang kubaca. Membaca tanpa pretensi apa-apa. Aku membaca novel John Green hari ini, besoknya baca karya Dijah Yellow boleh juga. Membaca untuk senang-senang. Walau tetap saja, buku berunsur politik ada di urutan terakhir prioritas bacaanku.

Sejak mengenal Goodreads, aku selalu senang mengulas buku-buku yang sudah kubaca. Membaca ulasan dari teman pembaca lain juga salah satu faktor pemancing minat baca, percayalah. Selalu menyenangkan rasanya ketika kita merekomendasikan sebuah buku, lalu teman lain ikutan baca dan suka juga dengan bukunya. Kita tahu, buku sebagai produk intelektual butuh pertukaran gagasan. Bukan hanya antara penulis dan pembaca, tapi juga antara pembaca dan pembaca.

Omong-omong soal minat baca, sebenarnya kita perlu mengheningkan cipta sejenak dengan kenyataan minat baca di negeri tercinta ini. Dalam kurun setahun, Indonesia menerbitkan rata-rata 24.000 judul buku. 

Country
Books
China
440,000
United States
304,912
United Kingdom
184,000
Russia
101,981
India
90,000
Japan
82,589
Germany
82,048
Italy
61,966
South Korea
47,589
Spain
44,000
Turkey
43,100
France
41,902
Iran
28,322
Australia
28,234
Taiwan
28,084
Argentina
28,010
Vietnam
24,589
Indonesia
24,000
Brazil
20,792
Canada
19,900
Czech Republic
18,985
Malaysia
17,923
Buku terbit per tahun di tiap negara (disadur dari sini)

Terbilang banyak, ya? Namun, ironisnya survei lain menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia adalah yang terendah se-ASEAN. Dan, pembacanya didominasi oleh kaum perempuan. Kalau di Indonesia ada Stiletto Book yang diklaim sebagai "Penerbit Buku Perempuan", harusnya nanti ada juga penerbit buku spesialisasi laki-laki biar minat baca jadi berimbang. Lebih penting lagi, biar stereotip kutu buku itu cupu enyah dari muka bumi.


“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.” ― Haruki Murakami

Pernah membaca kisah Jorge Luis Borges? Ia adalah manusia pembaca. Hidupnya didedikasikan untuk membaca buku. Bahkan ketika buta pada usia 30-an (buta total pada umur 60), ia meminta orang lain membacakan buku untuknya—termasuk ibunya. Borges nggak pernah sedih karena buta dan nggak pernah menganggapnya sebagai sebuah tragedi. Ia percaya tugas moral manusia adalah menjadi bahagia, dan kebahagiaannya terletak dalam membaca buku. Kebutaan nggak pernah menghalanginya untuk membaca buku, untuk bahagia. 

Jadi, kenapa kita harus membaca buku? Biar nggak malu sama Borges.

_____________________________________







Rido Arbain
Twitter: @ridoarbain
Instagram: @ridoarbain
E-mail: ridoarbain@gmail.com



Next
Previous
Click here for Comments

15 komentar:

avatar

iya punya goodreads jadi semangat ya! :D

avatar

Penerbit cowok perlu diadakan. Kayak manga yang punya genre shonen sendiri. Itu Jepang segitu? Manga nggak dihitung sebagai buku?

avatar

Apalagi ngejar target di Goodreads Reading challenge, sukses menambah gairah membaca.

(((GAIRAH)))

avatar

82.589 judul bukannya banyak, ya? Pertanyaan kamu seolah-olah aku yang survei langsung. *side eyes*

avatar

Miris, salah satu pekerjaan rumah bagi Indonesia nih untuk meningkatkan animo baca buku.
Btw, salam kenal dan semoga terpilih ya!

avatar

Aamiin. Terima kasih, Awaldi!

avatar

Sepertinya kelak akan menjadi penulis, eh..atau sudah ya

avatar

Oooh. Berarti Amerika yang kebanyakan nerbitin buku.

avatar

Kalo saya sendiri masih bergantung pada genre tertentu, KECUALI, emang bukunya menarik~

avatar

Bisa dibilang sudah. :))

avatar

Saya juga sih kadang-kadang. Tapi sedang memaksa diri melahap semua genre.

avatar

Cuma orang yang suka baca buku yang bakal sepaham sama artikel ini :) yang lain? enyahlah haha. Btw, saya pembaca selektif nggak bisa maksain kalau emang gak suka sama genrenya :")

kayak pernah dengar qoute yang paling atas, dari penulis rasanya. Tapi lupa siapa namanya.

avatar

Itu quote Eka Kurniawan juga kok. :)

avatar

Menarik banget angka nerbitin buku

avatar

Goodreadsku terbengkalai... sekarang agak jarang bacanya...

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!