Senin, 28 Maret 2016

Ada yang pernah nonton film Cin(t)a? Drama tentang hubungan percintaan antara pasangan dari etnis Tionghoa dan pribumi. Premis yang menarik. Nah, novel yang baru selesai kubaca ini kurang lebih mengangkat tema yang sama, tapi dikemas dengan latar sejarah, pra-kemerdekaan. Novel debut yang apik dari Ario Sasongko.


Judul : Rindu yang Membawamu Pulang
Penulis : Ario Sasongko
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : pertama
Tebal :  232 hlm
ISBN : 979-780-844-0

Kita pernah berhenti di persimpangan jalan yang hampir membuat kita menyerah. Berkali-kali aku mencoba menepismu, menamaimu cinta yang tak tentu arah. 

Benarkah kita tak bisa memberi kesempatan pada sesuatu yang tak akan pernah sama? Aku tak paham banyak tentang cinta, tetapi bukankah kita hanya perlu merasakannya? 

Mereka bertemu di antara perbedaan. Bagi Gun dan Ling, cinta tak pernah mudah dimengerti. Tidak juga mudah dimiliki. Bertahan dalam ketidakpastian membuat mereka ingin menyerah walau tak pernah sanggup saling melepaskan. Atas nama dua hati yang saling mencintai, keduanya berpegang pada janji yang tak sempat terucap. Bentangan jarak dan waktu bukan halangan. Rindu akan membawa pulang. Namun, masih cukupkah rindu yang mereka miliki?

Sabtu, 26 Maret 2016

Kapan terakhir kau merasa lelah?
Pastilah kau jawab hari ini
Seperti menyikat celah gigi
Kuman menempel gusi
Sakit, sikat, sakit
Tak sudah-sudah

Atau kau lihat celah bawah lidah
Di sanalah pabrik ludah
Lantas, di mana pabrik perasaan?
Pastilah kau jawab tak tahu
Tahu-tahu kau berlalu
Lalu datang lagi, menuntut itu ini
Seolah hati korban tabrak lari

Kau tawari kita lahir lagi
Hah, untuk kembali mati?
Padahal sekali pun kita punah
Kebenaran akan tetap kalah

Apa kau pernah merasa bosan?
Pastilah sudah berbulan-bulan
Tinggal menunggu tangan cakar-cakaran
Mengoyak jaring yang lahir dari anyaman perasaan

Kita hanya perlu satu kesempatan lagi
Untuk membawa punggung lari
Untuk pergi, atau kembali?
Kita hanya perlu waktu untuk saling patah hati

25 Maret 2016
19.00
________
Diterbitkan di harian Sumatera Ekspres (26/3) hlm. 3

Rabu, 16 Maret 2016

"Membaca bukanlah gaya hidup yang baik," kata Aan Mansyur. Seorang pembaca buku akan menghabiskan banyak uang demi membeli buku bacaan. Seorang penulis harus membaca banyak buku bagus karena butuh referensi apa yang akan ditulis. Seseorang yang banyak membaca akan mengetahui banyak hal-hal baru, sekaligus akan membuatnya merasa sangat bodoh. Yang lebih parah lagi, seorang pembaca serius biasanya lebih suka menyendiri bersama buku-buku.

Sebelumnya, aku sudah pernah membahas alasan kenapa membaca buku. Salah satunya adalah biar bisa pamer koleksi buku pribadi di media sosial, meskipun untuk mencapai itu kita harus sedikit menjadi anti-sosial. Nggak apa-apa. 

Mungkin di luar sana juga sudah banyak yang menulis alasan mereka membaca buku. Jadi, kali ini aku mau membahas dari sisi kaum kiri. Alasan kenapa malas membaca buku. Omong-omong, selain malas membaca buku, aku juga malas menguras bak mandi. Karena menguras bak mandi itu sangat menguras tenaga.