Liburan Singkat ke Kuala Lumpur, Malaysia

Dari sekian banyak teori-teori di dunia, ada satu teori yang aku ingat. Teori Motivasi Prestasi atau Teori Kebutuhan dari McClelland (McClelland’s Theory of Needs). Teori ini dikembangkan oleh David McClelland bersama rekan-rekannya, entah siapa. Konsep teori ini berfokus pada tiga kebutuhan, yaitu kebutuhan pencapaian (need for achievement), kebutuhan kekuasaan (need for power), dan kebutuhan hubungan (need for affiliation).

Sampai di sini, aku langsung mau protes. Om McClelland kayaknya melupakan satu kebutuhan penting yang hakiki. Apakah itu, wahai manusia? Kebutuhan liburan (need for holiday).

KAMI BUTUH LIBURAN, OM. LIBURAN!

Mari kita lupakan paragraf pembukaan yang terkesan kritis tadi, dan fokus pada kata kunci terakhir: liburan.
Jadi... tanggal 9 September 2015, entah dapat bisikan apa, aku dan dua teman lain tahu-tahu sudah kumpul di Dunkin' Donuts. Dengan memanfaatkan sinyal wifi gratisan, malam itu kami berhasil mem-booking tiket pesawat tujuan Palembang - Kuala Lumpur - Bangkok - Kuala Lumpur - Palembang. Dengan promo tiket murah, sebenarnya aku lebih tertarik untuk liburan ke Lombok atau Bali, tapi ternyata tiket perjalanan ke luar negeri jauh lebih murah daripada perjalanan domestik. Jadilah timbul rencana ke luar negeri di tahun 2016, untuk pertama kali. Bucket-list go uncheck(ed). 

Tiga bulan sebelum jadwal keberangkatan, aku baru bikin paspor. Ternyata syaratnya gampang; cuma bawa berkas fotokopi KTP, KK, akta kelahiran, dan isi formulir. Lalu wawancara dan ambil foto langsung di kantor imigrasi, terus bayar biaya administrasi Rp355.000 lewat bank. Informatif sekali, bukan?

Koleksi buku baru


Mari kita langsung lompat ke tanggal 3 September 2016. Pagi-pagi sekali, kami yang berombongan lima orang sudah berada di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II untuk bertolak ke Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 atau disingkat KLIA2. 

Setibanya di Kuala Lumpur, kami langsung berinisiatif menukar mata uang ringgit di gerai money changer terdekat. Untung saja di dompet sudah sedia uang tunai rupiah, jadi kami cukup menukar mata uang, tanpa perlu menukar ginjal. Setelah mengurusi masalah perekonomian, kami lanjut membeli  SIM card untuk menunjang kebutuhan internet selama di Kuala Lumpur. Karena harganya terbilang mahal, yaitu 30 ringgit untuk kuota internet cuma 3GB, jadi kami cuma beli satu SIM card... lalu tethering hotspot ke 4 device. Leonard Kleinrock pasti menangis kalau mendengar fakta ini.

Bermodal tanya-tanya ke petugas imigrasi dengan wawasan bahasa Melayu seadanya, kami diarahkan untuk naik bus transit bertuliskan "aeroSKY" dari KLIA2 menuju ke Stesen Sentral KL dengan biaya 11 ringgit. Iya, stesen.

Iko Uwais, is that you?

Setelah istirahat, foto-foto, menaklukkan gym pokemon di lokasi, dan terperangkap hujan di KL Sentral selama beberapa jam; akhirnya kami memutuskan naik LRT dengan tujuan ke KLCC (Kuala Lumpur City Center). Konon lokasi Petronas Twin Towers nggak jauh dari sana. Karena itu pertama kalinya naik LRT, sempat bingung juga, takut tiba-tiba nyasar ke Kerajaan Kelantan. Dengan biaya 2,5 ringgit dan harap-harap cemas, untungnya kami sampai di KLCC tanpa harus disilet-silet di bagian tubuh.

Setiap WNI yang bepergian ke Kuala Lumpur untuk pertama kali, tentulah harus melakukan ritual wajib ini. Berfoto dengan latar menara kembar legendaris, Petronas Twin Towers.







Diambil waktu sore, jadi nggak silau

Kalau saat ini Burj Khalifa di Dubai memegang rekor sebagai bangunan tertinggi di dunia, maka Petronas adalah bangunan kembar tertinggi di dunia, sejak tahun 1988. Tingginya mencapai 451,9 meter dan memiliki 88 lantai. Salah satu ikon paling wajib dikunjungi di Negeri Jiran.

Setelah puas-puas mengeksplorasi Petronas dengan berbagai angle kamera sampai larut, kami pun buru-buru cari bus lagi untuk kembali ke bandara. Karena besok paginya sudah mesti berangkat ke Bangkok. Dengan mengabaikan barisan cacing di perut yang mulai demonstrasi karena di sekitar Petronas nggak ada jualan gorengan atau jagung bakar, kami pun menuju ke KLIA2.

Setibanya lagi di bandara, kami sempat tergiur untuk tidur di Capsul by Container Hotel, tempat penginapan yang bentuknya menyerupai kapsul dan terbuat dari kontainer bekas. Menolak untuk jatuh miskin dalam semalam, kami lebih memilih tidur di musala bandara dengan AC suhu maksimal yang belakangan kusadari bukanlah ide bagus. Besoknya, aku demam. Naluri orang kampung memang nggak bisa ditutupi.

Dengan menggantungkan nasib pada multivitamin yang dibawa dari Indonesia, sebisa mungkin menyugesti diri biar tetap kuat. Badan ambruk di saat liburan, kan rugi amat, ya. Apalagi besoknya mau lanjut ke Bangkok.


*1 MYR = 1 ringgit = Rp3.380
Next
Previous
Click here for Comments

7 komentar:

avatar

Kalian anak muda jaman sekarang yaaaa, mau internetan aja mesti nongkrong di dunkin cari wifi #Tragis
Quota murah lho, tuch 19 giga pake combo xtra cuman 89 rebu hahaha

avatar

Di saat Rido udah pernah foto depan Petronas di Kuala Lumpus, saya cuma bisa foto samping petromaks di sawah. Sama-sama ada lumpurnya juga sih. Tapi...

Pos kamu informatif sekali, wahai polisi EBI.

avatar

BELI DI MANA, KAK CUM?

avatar

Semoga bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Barakallah.

avatar

Fotonya sengaja diambil dari angle jauh semua. Ya kita tahu lah ini dilakukan untuk menutupi apa, yhaa

Aku mencium sesuatu di sana.

avatar

Mau posting foto selfie, nanti dikira narsis. :(

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!