Sabtu, 24 Desember 2016

Belum lama ini ada teman yang nanya, "Do, kapan review buku lagi?" Pertanyaan yang sangat ingin kujawab dengan teriakan, "Makanya main-main ke akun Goodreads-ku dong!" tapi aku urungkan karena menjunjung tinggi norma kesopanan. Lagi pula, sebenarnya pertanyaan itu nggak salah, mengingat sudah sekian dekade aku nggak nulis review buku di blog ini.

Aku jadi menyortir ulang daftar buku yang kubaca tahun ini, nggak banyak, cuma 40 buku. Ternyata kebanyakan buku-buku terbitan lama. Karena aku lebih tertarik mengulas buku yang baru terbit—paling lama setahun setelah terbit—dibanding buku yang sudah nggak edar di toko buku, jadi pilihan jatuh ke buku satu ini. 


Judul : Romeo Gadungan 
Penulis : Tirta Prayudha 
Penerbit : Bukune 
Tahun terbit : September 2016 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 212 hlm 
ISBN : 9789797808631

Seperti kata pepatah, ada yang pergi ada pula yang datang. Nah, kalau cinta pergi, yang datang apa? Tentu saja patah hati! Ada saja penyebab patah hati gue—dari masalah kecocokan, pekerjaan, agama, atau suku. Dan rasanya, gue semakin susah untuk tertarik dengan seorang cewek. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa pernah ada kisah selanjutnya. Terkadang alasannya dari pihak cewek, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya. Intinya, cinta tak berpihak pada gue. Kisah cinta Romeo sungguhan dengan Juliet saja nggak happy ending, apalagi gue yang cuma menjadi seorang Romeo Gadungan! 

Senin, 19 Desember 2016

Saat menulis tentang alasan kenapa malas baca buku, kayaknya aku lupa menyebut satu hal: gadget. Walau bagaimana pun, kita harus mengamini kalau bermain gadget itu lebih menarik daripada berkutat dengan buku.

Jadi, sebetulnya aku punya kebiasaan khusus, yaitu wajib bawa minimal satu buku di dalam tas setiap bepergian. Idealnya, buku yang dibawa itu tujuannya untuk dibaca, tapi nahasnya beberapa bulan belakangan buku-buku itu nggak terjamah; karena alih-alih baca buku di waktu luang, aku lebih tertarik menonton aktivitas keseharian Syahrini di Instagram Stories. Sangat produktif, bukan?

Sebenarnya solusi masalah di atas sudah ketemu. Malas baca buku dan sibuk main gadget itu kombinasi yang pas jadi alasan untuk mulai membaca e-book. Masalah lainnya, aku bukan tipe yang suka baca teks panjang di gadget. Mata sering lelah, belum lagi aktivitas membaca sering terganggu dengan bunyi notifikasi media sosial dan grup di aplikasi pesan instan. Nggg, terdengar aneh. Oke, instant messenger

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, ada teman yang bilang kalau dia suka baca e-book di aplikasi SCOOP. Buat yang belum tahu, SCOOP itu aplikasi e-reader untuk mencari dan membaca replika buku, majalah, dan koran dalam format digital. Hampir sama kayak e-book yang bisa diunduh di Google Playbook, semua buku-buku di sini juga legal, bukan bajakan. Nah, di aplikasi ini ada namanya SCOOP Premium, yaitu layanan berlangganan ribuan buku dan majalah dengan biaya Rp89.000 selama 30 hari.

KOK MURAH, YA?

Iyalah murah, apalagi kalau dibandingin dengan harga buku cetak sekarang, yang harganya rata-rata di atas Rp60.000. Walaupun kalau ditanya, "Lebih suka baca buku cetak atau buku elektronik?" aku akan tetap menjawab buku cetak dengan alasan-alasan tertentu.

Some people absolutely love the look, smell, and feel of the classical book held in the hand, and such people may not want to give up the sensory experience of reading from a paper book. But, e-book can be a life-changing experience for us.




Senin, 05 Desember 2016

Kemarin, waktu di Gramedia ada diskon edisi Hari Guru, aku borong beberapa buku lagi. Selalu ada perasaan senang dan waswas setelah belanja buku. Senang karena dapat bacaan baru (ditambah belinya diskon), waswas karena skeptis bukunya bakal kebaca atau nggak. Apalagi ketika sampai rumah, masuk kamar, langsung disambut rak buku tiga tingkat dengan panjang satu meter yang over kapasitas. Makin pilu saat menyadari kalau 40% dari timbunan buku itu belum terbaca. Oh, ya, kata Austin Kleon di bukunya yang berjudul Steal Like an Artist, kita sebaiknya mulai mengganti istilah 'timbunan' tadi dengan kata 'koleksi'. Oke, koleksi buku. Walaupun istilah 'koleksi' tetap nggak mengubah kenyataan bahwa buku-buku itu jarang dijamah. 

Karena belum kepikiran untuk menambah rak baru, jadi solusi utama adalah mengurangi isi rak buku itu sendiri. Biasanya aku mengurangi koleksi buku lewat giveaway, kuis, dikasih ke teman-teman yang hobi baca, atau kalau sedang menjelma pria penuh welas asih, bukunya disumbangkan ke taman bacaan.

Kalau mengingat diri ini tinggal di kota yang ketertarikan terhadap bidang literasinya bisa dibilang minim, cara mengurangi koleksi buku di atas tadi kayaknya nggak berdampak apa-apa dalam hal meningkatkan minat baca. Sebenarnya, di Palembang sudah ada perpustakaan daerah yang bisa dikunjungi masyarakat umum setiap hari, ada Gramedia Worldtoko buku dengan bangunan terbesar se-Indonesia, ada komunitas Ruang Bebas Baca dan Sobat Literasi yang sering bikin lapak baca buku setiap minggu. Aku pernah datang ke lapak baca tadi, tapi herannya pengunjung yang mampir baca di situ, orangnya nyaris itu-itu melulu.

#KetemuBuku