Senin, 05 Desember 2016

Minat Baca dan #KetemuBuku

Kemarin, waktu di Gramedia ada diskon edisi Hari Guru, aku borong beberapa buku lagi. Selalu ada perasaan senang dan waswas setelah belanja buku. Senang karena dapat bacaan baru (ditambah belinya diskon), waswas karena skeptis bukunya bakal kebaca atau nggak. Apalagi ketika sampai rumah, masuk kamar, langsung disambut rak buku tiga tingkat dengan panjang satu meter yang over kapasitas. Makin pilu saat menyadari kalau 40% dari timbunan buku itu belum terbaca. Oh, ya, kata Austin Kleon di bukunya yang berjudul Steal Like an Artist, kita sebaiknya mulai mengganti istilah 'timbunan' tadi dengan kata 'koleksi'. Oke, koleksi buku. Walaupun istilah 'koleksi' tetap nggak mengubah kenyataan bahwa buku-buku itu jarang dijamah. 

Karena belum kepikiran untuk menambah rak baru, jadi solusi utama adalah mengurangi isi rak buku itu sendiri. Biasanya aku mengurangi koleksi buku lewat giveaway, kuis, dikasih ke teman-teman yang hobi baca, atau kalau sedang menjelma pria penuh welas asih, bukunya disumbangkan ke taman bacaan.

Kalau mengingat diri ini tinggal di kota yang ketertarikan terhadap bidang literasinya bisa dibilang minim, cara mengurangi koleksi buku di atas tadi kayaknya nggak berdampak apa-apa dalam hal meningkatkan minat baca. Sebenarnya, di Palembang sudah ada perpustakaan daerah yang bisa dikunjungi masyarakat umum setiap hari, ada Gramedia Worldtoko buku dengan bangunan terbesar se-Indonesia, ada komunitas Ruang Bebas Baca dan Sobat Literasi yang sering bikin lapak baca buku setiap minggu. Aku pernah datang ke lapak baca tadi, tapi herannya pengunjung yang mampir baca di situ, orangnya nyaris itu-itu melulu.

#KetemuBuku

Ide untuk bikin gerakan dengan tagar #KetemuBuku datang begitu saja. Beberapa bulan lalu, aku sempat membaca artikel tentang Emma Watson yang diangkat jadi Duta PBB untuk feminisme dan kesetaraan gender. Dalam mendukung kampanyenya, Emma bergabung dengan komunitas Books on the Underground di London. Ia juga membentuk klub buku, yang salah satu kegiatannya yakni menyembunyikan buku di stasiun kereta bawah tanah, dan mengajak anggotanya untuk membagikan buku favorit mereka dan menyumbangkannya untuk orang lain. Klub itu terakhir kali merekomendasikan buku berjudul Mom & Me & Mom, memoar karya Maya Angelou. Dalam buku-buku yang disebarnya, Emma menyelipkan catatan yang kurang lebih berisi anjuran bila orang yang menemukan buku sudah selesai membacanya, ia harus 'mengembalikannya' di stasiun. Selain itu, ia meminta pembacanya untuk memfoto buku tersebut, lalu mengunggah ke akun Instagram @OurSharedShelf. Aku pikir ini sangat menarik!
Ide itu diperkuat setelah kebetulan buku terakhir yang kubeli (dengan diskonan yang kusebut di paragraf awal tadi), novel berjudul Dash & Lily's Book of Dares, ternyata plot ceritanya tentang 'meninggalkan buku' juga. Di novel itu, diceritakan tokoh bernama Lily yang nggak punya teman untuk diajak bersenang-senang di waktu liburan. Atas saran kakaknya, Lily meninggalkan jurnal merah di rak toko buku favoritnya, menanti seseorang untuk memecahkan teka-teki di dalamnya. Jurnal itu ternyata ditemukan oleh Dash, yang kemudian penasaran untuk mengikuti tantangan-tantangan yang Lily ajukan. Terdengar seru, kan?

Jadi, dengan semangat yang menggebu-gebu, akhirnya aku mengajak teman-teman di NulisBuku Club Palembang untuk bikin gerakan dengan konsep serupa. Berbekal buku-buku di rak yang sudah atau belum terbaca, daripada cuma jadi pajangan, lebih baik dikhlaskan ke calon pembaca lain. Misinya, kami 'berpencar' menaruh buku-buku pilihan itu di tempat-tempat tertentu. Di halte, terminal, bandara, kafe, sekolah, kampus, pokoknya di lokasi yang berpotensi menemukan calon pembaca baru. Sebelum disebar, di balik sampul depan buku, ditempeli instruksi yang isinya begini:

Tujuan dari gerakan ini sederhana: untuk menyebarkan virus membaca. Biar orang yang nantinya #KetemuBuku itu bisa sejenak beralih dari gadget ke buku. Sasaran utamanya memang pengguna media sosial terutama Instagram, mengingat Indonesia termasuk yang generasi mudanya sebagian besar aktif ber-medsos ria. Karena percaya atau nggak, kita pasti lebih sering pegang gadget daripada pegang buku, tapi mengaku nggak ada waktu buat baca padahal ada waktu untuk buka media sosial. Harapannya, orang yang #KetemuBuku akan merasa diberi amanah untuk membaca buku yang ditemukannya. Kalaupun nantinya nggak dibaca, seenggaknya buku itu sudah sampai ke tangan merekayang bahkan nggak hobi baca. 

Sampai saat ini, buku-buku yang disebar baru di sekitar Palembang dan daerah lain di Sumatera Selatan. Kebetulan banyak teman-teman yang domisili luar Palembang mau ikut berkontribusi juga. Misalnya, Cici yang mau sebar buku di Prabumulih, Febri mau taruh buku di Kayuagung, Ayu mau ambil bagian di Lubuklinggau. Makin ramai, makin seru.
Mungkin gerakan semacam ini nggak lebih mulia daripada gerakan-gerakan lain yang tujuannya samameningkatkan minat bacaseperti Kuda "Luna" Pustaka-nya Ridwan Sururi, Perahu Pustaka-nya Muhammad Ridwan, Muhammad Pian dengan perpustakaan dalam Angkot-nya, taman-taman baca gratis di daerah terpencil, atau teman-teman relawan yang pergi ke pelosok kampung untuk mengenalkan buku kepada adik-adik yang kurang asupan bacaan. Setiap mendengar cerita beliau-beliau itu, selalu bikin merinding. Namun, setiap orang punya ruang geraknya masing-masing. Artinya, kampanye #KetemuBuku hanya bagian kecil dari solusi yang ditawarkan untuk memancing gairah membaca buku dengan cara yang (semoga) menyenangkan.

Jadi, siap-siap ya, siapa tahu nanti kamu yang beruntung #KetemuBuku!


Salam,

Rido Arbain

16 komentar:

  1. Seru...! Tapi kalau mereka peduli, mereka bakal perlakukan buku itu dan menjaga amanah buku itu. Kalau dapat yang masa bodoh gimana? :( kan sedih..
    Tapi idenya seruuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempat ragu juga sebenarnya, tapi yang penting niatnya dulu, Vin. Hehe.

      Hapus
    2. Widih mantap Bang Rido aq bakal ketemu buku nggak ya atau mending ikutan gerakannya ����������

      Hapus
  2. Gua bacanya juga merinding looh..
    mikir kalo ternyata di dunia ini masih ada aja orang yang mau bergerak untuk mengembangkan minat baca dihari gini..
    Salut deh

    Btw, ini juga hal yang mulia kok..
    Buku merupakan jendela dunia kan? Lewat buku, kita jadi bisa melihat dunia..
    Artinya, kalo kita mengenalkan buku pada satu orang saja, kita udah ngasi mereka pandangan tentang dunia...
    Gituh..

    Jadi, lanjutkan!

    BalasHapus
  3. Duh, Kakang Rido memang mantap jiwa! Bolehlah itu kirim-kirim buku yang gak dibaca lagi ke aku. Ahaha~

    Emma memang gadis idolaku sejak Harry Potter yang batu ajaib. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nggak tahu selera bacaanmu, Yog. Sinilah ke Palembang nanti aku kasih, biar nggak boros ongkir. Haha

      Hapus
  4. Keren banget idenyaaa, aku sampai merinding lho bacanya :)
    Semoga buku-buku itu ketemu orang-orang yang peduli dan mau membaginya lagi dengan yang lain :)

    BalasHapus
  5. Wah sungguh mulia sekali euy apa yang dilakukan Kang Rido Arbain cs ini. Mantep.

    Eh tapi aku belum sepenuhnya ngerti dengan konsepnya. Kalau misal ada orang yang 'nemu' buku itu, otomatis jadi milik dia, gitu? Ataukah 'saling oper'? Begitu dia beres baca, harus disimpan lagi.

    Kalau asumsi pertama, itu berarti kejujuran sangat diperlukan. Mengingat di zaman ini banyak tipikal yang maen ambil tanpa tahu apa sebenarnya yang mereka ambil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya sih boleh jadi hak milik, tapi lebih bagus kalau ada yang mau lanjutin estafet bukunya.

      Kayaknya di mana-mana tipikal orang kita kebanyakan begitu ya, nggak mau ambil pusing ngelakuin yang bukan bidang kerjanya. Tapi itulah tantangannya. Beberapa buku yang disebar juga ada yang nggak tahu nasibnya, tapi gapapa. Kita optimistis aja. :)

      Hapus
  6. Ngangguk-ngangguk baca komen Agia.

    Murah hati nih. Kan ada tuh orang yang suka baca buku, trus nggak pernah ada niatan buat mensedekahkan (ini bener nggak sih kata-katanya gitu? huhu) bukunya yang sudah maupun yang belum dibaca. Ini malah ada. Sampe bikin gerakan kayak gini pula. Keren! :D

    BalasHapus
  7. Ini kegiatan macam apa, ya ampun. Keren banget lah pokoknya. Kalau aja di Jakarta ada kayak ginian, jangankan buku, koran pun jadi, pasti mantap. Budaya literasi pasti akan jadi kebiasaan. :))

    BalasHapus
  8. Seru ya... Coba kalau ditaruh di Bis umum bisa sampai mana mana... gak terbatas satu kota, tapi ya itu Do, sayang kalo bukunya ditemukan orang yg nggak sayang buku...

    BalasHapus
  9. wah do, aku telat baca tulisanmu yg ini do..

    Andai sedari dulu aku membaca tulisan tentang bagi bagi buku, mungkin aku akan minta buku hahah

    sesekali bisa kali do, bagi buku sini ke anak rantau
    :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!