Jumat, 20 Oktober 2017

Ada yang pernah menonton Black Mirror? Serial TV berupa film antologi yang menceritakan kisah fiktif dengan tema gelap dan satire mengenai masyarakat modern, terutama dampak buruk teknologi canggih. Di Indonesia rasanya belum ada film atau cerita fiksi lain yang mengangkat tema serupa. Makanya, aku senang sekali waktu diberi titah oleh Roy Saputra untuk jadi pembaca draf novel terbarunya. Black Mirror-nya novel lokal, yang kemudian terbit dengan judul Ikan-Ikan Mati.

instagram.com/aenigmapicture

Ikan-Ikan Mati menceritakan kisah pria kantoran bernama Gilang, dengan segala polemik hidupnya di tengah arus teknologi yang semakin canggih. Walaupun mengambil latar kota Jakarta di masa depan, sebetulnya tokoh Gilang di novel ini secara definitif mewakili potret kaum millennial di era teknologi seperti sekarang. Yang serba up-to-date, getol mengunjungi kafe yang sedang hits, rutin menonton film di hari pertama penayangan, atau yang ada di baris terdepan tiap ada info diskonan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Film, sebagaimana buku, adalah bentuk media hiburan. Namun, kadang kita nggak sadar, buku yang kita baca atau film yang kita tonton bisa memberikan lebih banyak dari apa yang kita sadari. Bukan cuma sekadar hiburan, tapi juga pelajaran tentang hal-hal. Aku bukan tipe penonton yang suka mengajak berpikir keras tentang pesan moral sebuah film karena daya ingatku cukup payah, kira-kira satu level di bawah Dory dalam Finding Nemo. Lagian kalau tujuan nonton film cuma untuk dapat pesan moral, ya mending nggak usah nontonlah, datang saja ke seminar-seminar motivasi.

Beberapa waktu lalu saat buka Youtube, aku nggak sengaja nonton video Presiden Jokowi waktu menyampaikan pidato di depan dewan kerja sama dan bisnis se-ASEAN tahun 2016. Di video itu, Jokowi menutup pidatonya sambil bilang, "Hasta la vista, baby!" dan membuat para hadirin di lokasi tertawa. Awalnya aku kurang mafhum di mana letak lucunya, sebelum akhirnya sadar kalau slogan itu dikutip dari film Terminator 2: Judgement Day (1991). Bukti kalau wawasanku soal film memang cetek. Hasta la vista berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya "sampai jumpa". Frasa ini diucapkan oleh Arnold Schwarzenegger sebelum menembak musuhnya dalam film tersebut. 

Dalam bahasa Inggris, kutipan semacam ini sering juga disebut proverbs yang artinya pepatah atau peribahasa atau adagium. Aku jadi ingat masih banyak proverbs yang dikutip dari beberapa film terkenal lain. Mulai dari "Why so serious?"-nya Joker di The Dark Knight (2008) sampai "Cherish your life!"-nya Jigsaw dalam serial film Saw. Dari sekian banyak pepatah film terkenal itu, aku tertarik untuk mengulas empat yang menurutku bermakna cukup penting. Seperti yang kubilang di awal paragraf tadi, terkadang sebuah film memberikan pelajaran lewat hal-hal kecil yang nggak kita sadari, termasuk lewat kutipan dua atau tiga suku kata.



Sabtu, 26 Agustus 2017

Saat menulis ini, aku masih memikirkan kalimat menohok yang diucapkan oleh Peter Kavinsky kepada Lara Jean. "Kau lebih suka mengarang versi fantasi seseorang di kepalamu daripada bersama dengan seseorang yang nyata." Wadaw.

Mungkin memang ada tipe orang yang punya konsep seperti itu di kepalanya. Seperti saat kita mengidolakan seorang artis terkenal dan mimpi ingin bertemu, tapi saat betul-betul bertemu, kita kehabisan ide untuk melakukan banyak hal kecuali foto bareng. Lo?


Rasanya sudah lama nggak baca novel roman yang bikin senyum-senyum. To All the Boys I've Loved Before mengingatkan lagi kalau kisah cinta masa remaja memang candu, sekaligus mengingatkan kalau aku sudah cukup tua untuk balik ke masa itu. Ha ha.




Judul : To All the Boys I’ve Loved Before
Penulis : Jenny Han
Penerbit : Spring
Tahun terbit : April 2015
Cetakan : Ketiga
Tebal : 382 hlm
ISBN : 978-602-715-051-5 


Lara Jean menyimpan surat-surat cintanya di sebuah kotak topi pemberian ibunya.

Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai—totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan—entah oleh siapa.

Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya—termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya, dan cowok terkeren di sekolah.

Jumat, 21 Juli 2017

Salah satu hal yang aku takutkan dalam hidup adalah ketika membayangkan dengan cara apa aku akan mati kelak. Beberapa waktu lalu, aku mengalami dua kali kecelakaan motor dalam rentang kurang dari seminggu. Setelah kecelakaan terakhir, aku menuangkan keresahan diri kepada seorang teman dekat. "Kamu tahu nggak, dari sekian banyak faktor penyebab manusia meninggal dunia, aku paling nggak mau meninggal karena kecelakaan di jalan raya."

Aku belum siap ketika temanku menimpali, "Kalau aku, nggak mau meninggal karena bunuh diri." Saat selesai membahas itu, kami tertawa. Memang terkadang lucu membicarakan kematian pada saat kita baik-baik saja.

Bunuh diri bukan hal yang baru, memang. Namun, belakangan topik mengenai hal krusial ini kembali mencongol, layaknya sebuah film lawas terkenal yang akan diproduksi ulang dan ditangani oleh sutradara yang sedang naik daun. Masih segar dalam ingatan kita, berita tentang seorang pria yang merekam video langsung di akun Facebook-nya sebelum ia melakukan aksi gantung diri. Atau berita heboh tentang bunuh dirinya mantan vokalis band Audioslave, Chris Cornell. Belum hilang kabut kedukaan, dua bulan kemudian Chester Bennington vokalis Linkin Park pun turut bunuh diri menyusul Chris, sahabatnya.

Apakah bunuh diri itu menular?

Gambar diambil dari sini

Rabu, 19 Juli 2017

Tidak ada yang paling pas selain mampir ke Ayani XXI, bioskop yang paling difavoritkan oleh warga Pontianak, setelah jalan-jalan di bawah terik matahari menyengat di kota katulistiwa ini. Ada banyak alasan mengapa menonton di Ayani XXI merupakan hal yang paling menyenangkan.

Pertama, Ayani XXI memiliki fasilitas terlengkap dan termewah di antara bioskop-bioskop lainnya di ibukota Kalimantan Barat ini. Kedua, Ayani XXI selalu hadir dengan film terbaru dan tak kalah dengan kota-kota di Jawa.

Gambar: https://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/09/d5/67/f5/20151223-161920-largejpg.jpg

Minggu, 09 Juli 2017

Sesaat dan sesudah menulis daftar film Korea favorit beberapa bulan lalu, aku mengenal beberapa sutradara asal Korea Selatan yang sering membuat film-film bagus, seperti Park Chan-wook (Oldboy, The Handmaiden), Kim Ki-duk (The Isle, 3-Iron), dan Kim Jee-woon (I Saw the Devil,  A Tale of Two Sisters). Selain mereka, ada satu lagi sutradara yang filmnya selalu bagus dan nggak pernah mengecewakan, yaitu Bong Joon-ho. Selama masih diberi karunia hidup, minimal satu filmnya yang sudah harus kalian tonton.

Bong Joon-ho atau Joon-ho Bong ialah sutradara asal Korea Selatan yang lahir di Daegu, 14 September 1969. Ia pernah mengambil studi Sosiologi di Universitas Yonsei dan menjadi anggota klub film di sana. Setelah itu, ia menyelesaikan program dua tahun di Akademi Seni Film Korea, yang kemudian membuatnya memulai karier sebagai pembuat film. Beberapa kali mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik di berbagai ajang bergengsi baik di dalam dan luar Korea Selatan.


Kamis, 01 Juni 2017

Mengapa di setiap cerita, kebaikan selalu menang?

"Hitler membasmi Yahudi atas nama kebaikan, Suharto melenyapkan orang atas nama kebaikan, motivator memberi kesadaran palsu kepada para pendengarnya atas nama kebaikan," ujarnya pada sebuah wawancara. Lantas, apakah makna dari kebaikan itu sendiri? Sabda Armandio melahirkan Gaspar dari pemikiran-pemikiran itu dalam novelnya, 24 Jam Bersama Gaspar. Novel ini merupakan salah satu pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2016. 

Bisa dibilang aku bukan pembaca setia novel-novel jebolan lomba DKP karena sejauh yang kuingat aku baru berhasil membaca dua judul; Di Tanah Lada dan Puya ke Puya. Sama seperti dua novel tersebut, alasan utamaku tertarik membaca novel ini karena blurb yang menarik serta ulasan-ulasannya. Jadi, aku mencoba melanjutkan estafet ulasan itu setelah membaca 24 Jam Bersama Gaspar dalam tempo 24 jam.

Judul : 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis : Sabda Armandio
Penerbit : Buku Mojok
Tahun terbit : April 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 228 hlm
ISBN : 139786021318485

Tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam.

Senin, 29 Mei 2017

Sebagai penikmat hiburan Jepang setengah matang yang cuma punya seujung kuku pengetahuan tentang manga, anime, tokusatsu, atau dorama, rasanya memang nggak pantas diri ini mengoceh panjang lebar tentang hal-hal berbau Negeri Sakura ini. Referensiku tentang J-movie alias film Jepang juga nggak banyak-banyak amat. Dulu kukira film Jepang itu kebanyakan cerita tentang pendekar samurai atau kejahatan kelompok Yakuza—yang bukan prioritas tontonanku. Kenal Takiya Genji aja udah syukur. Haha.

Jadi, sebelum melanjutkan, aku harus mengakui kalau belum banyak film Jepang yang kutonton, tapi jelas sudah ada sederet judul yang masuk antrean untuk ditonton atas rekomendasi teman-teman weeaboo-ku.


Yang jelas, sejauh ini aku punya sentimen positif untuk film produksi Jepang. Drama dengan alur lambat, iya. Film live action dengan adegan kaku ala anime, iya. Hingga film remaja berlatar sekolah dengan dominasi murid berambut harazuku, yang bikin bergumam, "Ini anak-anak mau sekolah atau parade cosplay, sih?" Tapi entah kenapa film Jepang seperti memberi nyawa tersendiri setiap habis menontonnya, apalagi kalau untuk selingan di antara tontonan film-film barat. 


Akhirnya, setelah bertapa cukup lama, sementara inilah daftar 10 film Jepang favoritku. Diurutkan dari yang suka sampai paling suka.


Disclaimer: film-film anime sengaja nggak dimasukkan, mungkin nanti akan dibikin daftar yang lain





Selasa, 16 Mei 2017

Beberapa minggu terakhir, aku sedang menjejali diri dengan banyak tontonan berbau Jepang. Mulai dari maraton film produksi Studio Ghibli (studio film-film anime dan sering disebut sebagai Disney-nya Jepang), sampai nonton film-film drama terutama yang disutradarai Hirokazu Kore-Eda, sutradara spesialis film bertema keluarga—lebih seringnya ayah-anak. Ternyata aktivitas jejepangan ini masih berlanjut saat beberapa waktu lalu aku ikut talkshow dan meet & greet dengan Orizuka, yang baru menerbitkan novel terbarunya berjudul Momiji. Kentara dari judulnya, novel ini pun berbau Jepang. Jadi lengkap sudah, tiba-tiba aku merasa terjun sebagai Otaku pendatang baru. Www*


Judul : Momiji
Penulis : Orizuka
Penerbit : Inari (Haru Group)
Tahun terbit : Mei 2017
Cetakan : Pertama
Tebal : 210 hlm
ISBN : 9786026044389


Patriot Bela Negara lelah punya nama seperti itu, terutama karena dia memiliki fisik dan mental yang sama sekali tidak seperti patriot, apalagi yang siap membela negara.

Seumur hidupnya, Patriot diolok-olok hingga akhirnya dia memutuskan memberontak. Dia jadi gandrung Jepang, belajar bahasa Jepang, dan punya cita-cita pergi ke Jepang untuk bertemu Yamato Nadeshiko-tipe wanita ideal versi Jepang.

Di usianya yang kedua puluh, Patriot akhirnya berada selangkah lebih dekat dengan cita-citanya itu. Dia menginjak Jepang untuk ikut program pendek musim gugur di Osaka dan beruntung baginya, orangtua inang tempatnya homestay punya anak gadis seusianya!

Shiraishi Momiji, gadis itu, mungkin adalah buah penantiannya selama ini.

... Atau mungkin bukan.

Kamis, 30 Maret 2017

Di sebuah wawancara, Mira Lesmana pernah bilang, "Penonton Indonesia itu doyan komplain." Mungkin betul, kita sering mengeluhkan film-film lokal yang kualitasnya buruk bahkan sebelum menontonnya. Lebih parah lagi, kita terbiasa menilai rata-rata film lokal buruk tanpa berusaha memberi tempat untuk film-film lain yang lebih layak. Belum lagi menjadikan label "penonton terbanyak" sebagai prestasi bergengsi, membuat persepsi bahwa genre horor esek-esek adalah stereotip film Indonesia, dan lebih senang menggaungkan "film terlaris" alih-alih menandai "film terbaik" ke dalam daftar-film-ingin-ditonton. Padahal terkadang ada kesenjangan di antara kedua label tersebut, kan?

Sebetulnya sudah bukan waktunya lagi untuk mengkhawatirkan nasib film lokal. Masa depan perfilman Indonesia baik-baik saja, kok. Selama kita melakukan tugas kita sebagai penonton, yaitu membiasakan menonton film-film Indonesia yang bermutu. Good movie will speak for itself!

Oke, cukup intermesonya. Sebenarnya butuh waktu cukup lama untuk menyusun daftar di tulisan ini. Tentu dengan pertimbangan belum begitu banyak judul film Indonesia yang kutonton dan juga perasaan bimbang, sebetulnya aku suka film tertentu karena memang suka atau cuma karena dalih film itu "karya anak bangsa" sehingga ada pemakluman. Semoga bukan yang kedua.

Omong-omong, di daftar ini aku nggak akan menyebut Petualangan Sherina (2000), Ada Apa dengan Cinta? (2002), Laskar Pelangi (2008), dan The Raid: Redemption (2011) bukan karena nggak suka, tapi semata karena deretan judul itu sudah terlalu sering dibahas di banyak forum. Semuanya film bagus, oke? Bahkan layak masuk jajaran Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa

Karena perlu merampingkan jadi 10 judul, beberapa film mesti aku tonton ulang biar nggak bias. Hasilnya, inilah 10 film Indonesia favoritku diurutkan dari yang disuka sampai yang paling suka. 



Selasa, 21 Maret 2017

Beberapa waktu lalu sempat ada berita dengan headline 'Pria Jepang Tewas Tertimpa 6 Ton Buku Porno Koleksinya' lalu langsung menuai opini dan jadi bahan diskusi di grup WhatsApp. 

"Busyet!" Shock!
"Masih aja koleksi buku? Untuk begituan mainnya udah pake file digital dong!" sahut seorang pakar dalam bidangnya.
"Aku nggak mau ngetawain orang yang meninggal walau penyebab meninggalnya agak nganu," timpal anggota lain dengan penuh welas asih.
"Wkwkwk. Share ah!" Yang ini tipe netizen reaktif.
Anggota lainnya cuma jadi silent reader, biasanya baru muncul saat mau tanya-tanya sesuatu atau minta ditransfer pulsa saat kepepet. 

Walaupun akhirnya berita yang cukup clickbait itu dikonfirmasi sebagai hoax, tapi diam-diam aku malah mengamini sebuah kutipan dari buku yang baru saja kubaca.
"Os livros mudam o destino das pessoas."
Kalau diterjemahkan dari bahasa Spanyol, kurang lebih artinya: buku mengubah takdir hidup orang-orang. Diambil dari buku berjudul Rumah Kertas.



Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos María Domínguez
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun terbit : Oktober 2016
Cetakan : Kedua
Tebal : 76 hlm 
ISBN : 9789791260626



Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

Minggu, 29 Januari 2017

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar tentang penjara? Tindak kriminal, kejahatan, narapidana, kurungan, sel, jeruji, apa pun yang pasti jarang berkonotasi positif. Ada banyak fakta-fakta tentang penjara yang mungkin belum banyak diketahui. Misalnya, sebutan penjara yang asal mulanya adalah penjera—tempat untuk membuat orang jera. Tentang penjara yang disebut dengan istilah hotel prodeokarena fasilitas di penjara kadang disamakan dengan hotel, sedangkan prodeo berarti gratis. Atau tentang kenapa di Indonesia, sebutan penjara diperhalus menjadi Lembaga Pemasyarakatan (LP, Lapas).

Istilah kepenjaraan di Indonesia sudah diganti menjadi pemasyarakatan sejak 27 April 1964. Kalau penjara dikenal sebagai tempat untuk membuat pelaku kriminal jera, maka Lapas ialah tempat untuk membina pelaku kriminal agar memperbaiki diri supaya bisa diterima kembali ke masyarakat. Istilah narapidana pun diganti menjadi warga binaan pemasyarakatan (WBP), dan istilah sipir diubah menjadi polisi khusus pemasyarakatan (Polsuspas). Walaupun sudah rebranding selama itu, aku yakin istilah-istilah tadi masih terdengar kurang familier bagi segelintir orang. 

Ponten negatif untuk Lapas mungkin sebagian besar datang dari pemberitaan media massa, media elektronik, atau bahkan dari film-film yang kita tonton. Ada banyak sekali film yang mengambil latar penjara, mengambil tema kerusuhan atau pelarian dari penjara, yang secara nggak langsung membentuk persepsi kita terhadap citra dari lembaga satu ini. Tiap ada insiden pelarian dari penjara, wah pasti tahanan itu sering disiksa di sana makanya mau kabur karena nggak tahan. Tapi kalau di Lapas terlihat adem ayem dari dunia luar, wah pasti di sana fasilitasnya enak kayak di hotel makanya mereka betah di dalam. Serba salah, ya? Hahaha.

Kurang lebih 3 tahun bekerja di Lapas sebagai Polsuspas (nggak mau dibilang sipir, huh), entah kenapa aku jadi punya kecenderungan khusus menonton film-film berlatar penjara. Selain untuk sekadar hiburan, bisa jadi panduan menarik untuk belajar problem solving juga, ya kan? Dari apa-apa yang digambarkan di dalam film dengan latar penjara, aku nggak bisa membantah isu yang coba dijual kepada penonton sekaligus nggak akan mengamini semuanya juga. Karena namanya film sebagai media hiburan, pengadaan konflik itu perlu. Jadi, kalau ada adegan-adegan yang kurang bisa diterima akal sehat, salahkan sutradaranya saja, ya. (Pentingtahanan yang kabur dari penjara itu selalu punya alasan kenapa dia ingin kabur, oke?)


Nah, di bawah ini aku sudah bikin daftar film berlatar penjara yang aku suka. Saat menonton semuanya, aku tetap memosisikan diri sebagai penonton awam kok, jadi nggak akan bias. Daftarnya diurutkan dari film yang disuka sampai yang paling disuka. Tenang, nggak bakal spoilerHere we go~