Kamis, 30 Maret 2017

Di sebuah wawancara, Mira Lesmana pernah bilang, "Penonton Indonesia itu doyan komplain." Mungkin betul, kita sering mengeluhkan film-film lokal yang kualitasnya buruk bahkan sebelum menontonnya. Lebih parah lagi, kita terbiasa menilai rata-rata film lokal buruk tanpa berusaha memberi tempat untuk film-film lain yang lebih layak. Belum lagi menjadikan label "penonton terbanyak" sebagai prestasi bergengsi, membuat persepsi bahwa genre horor esek-esek adalah stereotip film Indonesia, dan lebih senang menggaungkan "film terlaris" alih-alih menandai "film terbaik" ke dalam daftar-film-ingin-ditonton. Padahal terkadang ada kesenjangan di antara kedua label tersebut, kan?

Sebetulnya sudah bukan waktunya lagi untuk mengkhawatirkan nasib film lokal. Masa depan perfilman Indonesia baik-baik saja, kok. Selama kita melakukan tugas kita sebagai penonton, yaitu membiasakan menonton film-film Indonesia yang bermutu. Good movie will speak for itself!

Oke, cukup intermesonya. Sebenarnya butuh waktu cukup lama untuk menyusun daftar di tulisan ini. Tentu dengan pertimbangan belum begitu banyak judul film Indonesia yang kutonton dan juga perasaan bimbang, sebetulnya aku suka film tertentu karena memang suka atau cuma karena dalih film itu "karya anak bangsa" sehingga ada pemakluman. Semoga bukan yang kedua.

Omong-omong, di daftar ini aku nggak akan menyebut Petualangan Sherina (2000), Ada Apa dengan Cinta? (2002), Laskar Pelangi (2008), dan The Raid: Redemption (2011) bukan karena nggak suka, tapi semata karena deretan judul itu sudah terlalu sering dibahas di banyak forum. Semuanya film bagus, oke? Bahkan layak masuk jajaran Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa

Karena perlu merampingkan jadi 10 judul, beberapa film mesti aku tonton ulang biar nggak bias. Hasilnya, inilah 10 film Indonesia favoritku diurutkan dari yang disuka sampai yang paling suka. 



Selasa, 21 Maret 2017

Beberapa waktu lalu sempat ada berita dengan headline 'Pria Jepang Tewas Tertimpa 6 Ton Buku Porno Koleksinya' lalu langsung menuai opini dan jadi bahan diskusi di grup WhatsApp. 

"Busyet!" Shock!
"Masih aja koleksi buku? Untuk begituan mainnya udah pake file digital dong!" sahut seorang pakar dalam bidangnya.
"Aku nggak mau ngetawain orang yang meninggal walau penyebab meninggalnya agak nganu," timpal anggota lain dengan penuh welas asih.
"Wkwkwk. Share ah!" Yang ini tipe netizen reaktif.
Anggota lainnya cuma jadi silent reader, biasanya baru muncul saat mau tanya-tanya sesuatu atau minta ditransfer pulsa saat kepepet. 

Walaupun akhirnya berita yang cukup clickbait itu dikonfirmasi sebagai hoax, tapi diam-diam aku malah mengamini sebuah kutipan dari buku yang baru saja kubaca.
"Os livros mudam o destino das pessoas."
Kalau diterjemahkan dari bahasa Spanyol, kurang lebih artinya: buku mengubah takdir hidup orang-orang. Diambil dari buku berjudul Rumah Kertas.



Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos María Domínguez
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun terbit : Oktober 2016
Cetakan : Kedua
Tebal : 76 hlm 
ISBN : 9789791260626



Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!