10 Film Jepang Favorit

Sebagai penikmat hiburan Jepang setengah matang yang cuma punya seujung kuku pengetahuan tentang manga, anime, tokusatsu, atau dorama, rasanya memang nggak pantas diri ini mengoceh panjang lebar tentang hal-hal berbau Negeri Sakura ini. Referensiku tentang J-movie alias film Jepang juga nggak banyak-banyak amat. Dulu kukira film Jepang itu kebanyakan cerita tentang pendekar samurai atau kejahatan kelompok Yakuza—yang bukan prioritas tontonanku. Kenal Takiya Genji aja udah syukur. Haha.

Jadi, sebelum melanjutkan, aku harus mengakui kalau belum banyak film Jepang yang kutonton, tapi jelas sudah ada sederet judul yang masuk antrean untuk ditonton atas rekomendasi teman-teman weeaboo-ku.


Yang jelas, sejauh ini aku punya sentimen positif untuk film produksi Jepang. Drama dengan alur lambat, iya. Film live action dengan adegan kaku ala anime, iya. Hingga film remaja berlatar sekolah dengan dominasi murid berambut harazuku, yang bikin bergumam, "Ini anak-anak mau sekolah atau parade cosplay, sih?" Tapi entah kenapa film Jepang seperti memberi nyawa tersendiri setiap habis menontonnya, apalagi kalau untuk selingan di antara tontonan film-film barat. 


Akhirnya, setelah bertapa cukup lama, sementara inilah daftar 10 film Jepang favoritku. Diurutkan dari yang suka sampai paling suka.


Disclaimer: film-film anime sengaja nggak dimasukkan, mungkin nanti akan dibikin daftar yang lain






Still Walking (2008)
Film ini berjudul asli Aruitemo Aruitemo, berkisah tentang reuni keluarga setelah beberapa tahun berpisah dan hidup masing-masing. Reuni keluarga tiga generasi itu seperti reuni pada umumnya yang diisi dengan berkumpul, mengobrol, dan acara makan-makan. Namun, ternyata di sana ada kecanggungan yang terjadi antara seorang ayah dan anak keduanya, yang sama-sama menyimpan kekecewaan di masa lalu. Sang ayah yang kecewa karena anaknya nggak mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter, dan sang anak yang kecewa karena ayahnya nggak pernah berusaha memahami keinginannya bahkan hingga ia dewasa. Selain drama dingin ayah-anak, film yang terkesan sepi ini juga menyorot sisi lain dalam keluarga, tentang pemenuhan ekspektasi tiap-tiap anggotanya.

Ringu (1998)
Bercerita tentang Reiko, seorang reporter yang menyelidiki kasus kematian serentak beberapa remaja akibat menonton sebuah video misterius. Salah satu korban adalah keponakan Reiko sendiri. Karena penasaran, Reiko pun meminta bantuan mantan suaminya untuk menemukan penyebab video kutukan tersebut. Selain judulnya, mungkin banyak orang yang lebih mengenal hantu populer dalam filmnya, yaitu Sadako. Hantu perempuan yang mukanya tertutupi rambut hitam panjang, jalan merangkak dari dalam sumur tua, dan dengan luwesnya bisa keluar dari dalam kotak televisi. Kalau mau nonton film horor tanpa efek jumpscare, tapi tetap bikin merinding, film ini jelas boleh ditonton. Saking fenomenal, film ini sampai diadaptasi ulang hollywood dengan judul The Ring (2002).

Rentaneko (2012)
Film drama yang berjudul lain Rent-a-Cat ini bercerita tentang gadis sebatang kara bernama Sayoko, yang memiliki usaha unik, yaitu Rental Kucing. Sayoko mempunyai target menikah, tapi belum pernah ada pria yang menghampirinya, melainkan hanya kucing-kucing. Makanya, ia membuka jasa penyewaan kucing untuk mereka yang merasa kesepian, untuk menutupi kesepiannya sendiri. Sayoko menghabiskan hari-harinya dengan menarik gerobak berisi kucing-kucing lucu dan berteriak lewat megafon. Kendati dipandang aneh, Sayoko yakin kucing-kucingnya bisa jadi penawar kesepian untuk orang-orang yang merasa sendiri. Terbukti ketika ia didatangi oleh beberapa penyewa kucing, mulai dari nenek uzur yang hidup sendiri, seorang suami berbadan bau yang dijauhi anak dan istirnya, sampai gadis penjaga rental mobil yang juga kesepian. Film yang cocok ditonton oleh para pencinta kucing, terutama yang juga merasa kesepian. Huhu.


Fireworks (1997)
Seorang polisi detektif bernama Yoshitaka Nishi mengundurkan diri dari kepolisian setelah sebuah insiden mengerikan terjadi. Rekan kerja sekaligus sahabatnya, Horibe, terluka dan harus memakai kursi roda, sedangkan rekan polisi lainnya meninggal karena tertembak. Selagi dihantui bayang-bayang insiden itu, Nishi juga dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa istrinya mengidap leukemia. Merasa harus menacari solusi untuk masalah yang dihadapinya, ia pun membuat keputusan yang dipertanyakan. Walaupun bergenre kriminal, film yang berjudul asli Hana-bi ini justru minim aksi. Adegan tembak-tembakan pun hanya seperti simbolis karena fokusnya adalah keadaan batin karakter Nishi, serta alasan yang mendorongnya melakukan kejahatan.

I Am a Hero (2015)
Menceritakan tentang virus ZQN yang menyebar di negara Jepang, yang dapat menyebabkan seseorang bertendensi haus darah seperti zombie. Ketika terjadi wabah zombie, Hideo Suzuki, seorang mangaka (komikus) yang nggak terlalu beruntung dalam kariernya, harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Saat berupaya menjauh dari kejaran para zombie, ia bertemu dengan gadis bernama Hiromi, yang kemudian sempat menyelamatkan nyawanya. Namun, diketahui kemudian ternyata Hiromi sudah menjadi setengah zombie akibat tergigit oleh seorang bayi yang terkena virus ZQN. Di situasi yang kacau itu, Hideo berusaha untuk melindungi Hiromi, dan saat itulah pertama kalinya ia merasa menjadi tokoh utama atau karakter hero dalam hidupnya—persis cerita dalam komik yang ia tulis. Sebetulnya aku agak aneh tiap menonton film live action yang diadaptasi dari anime atau manga karena biasanya karakter di film jadi kaku dan terlalu komikal. Tapi film horor zombie apocalypse ini harus jadi pengecualian.

Our Little Sister (2015)
Drama keluarga yang bercerita tentang kehidupan tiga kakak-beradik yang tinggal di rumah peninggalan neneknya setelah perceraian kedua orang tua mereka, disebut-sebut karena ayah mereka jatuh cinta pada wanita lain. Puluhan tahun berganti, tanpa pernah dikunjungi sang ayah dan tinggal jauh dari sang ibu, tiga bersaudara itu tumbuh dewasa; Sachi Kouda (29 tahun), Yoshino Kouda (22 tahun), dan Chika Kouda (19 tahun). Suatu hari mereka mendengar kabar bahwa sang ayah meninggal dunia dan sebagai bentuk penghormatan, ketiganya harus datang ke pemakaman ayah mereka yang nggak pernah mereka lihat lagi sejak 15 tahun terakhir. Di acara pemakaman itulah mereka bertemu dengan Suzu, putri tunggal dari ayah mereka dengan istri keduanya yang juga sudah meninggal. Drama dimulai ketika Sachi sebagai anak tertua, tahu-tahu mengajak Suzu untuk ikut tinggal bersama mereka, padahal gadis-gadis itu sadar kalau Suzu ialah anak dari wanita 'perusak rumah tangga' orang tua mereka. Film yang sangat kontemplatif, mengajak kita untuk belajar memaafkan keadaan.

Confessions (2010)
Diangkat dari novel berjudul sama atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan Kokuhaku. Seorang guru SMP yang notabene single-mother, Yuko Moriguchi, suatu hari mengumumkan kabar pengunduran dirinya di sebuah kelas. Di hari terakhirnya mengajar, Moriguchi memberikan pengakuan mengejutkan tentang adanya dua orang murid di kelas tersebut yang telah membunuh putri tunggalnya, Minami. Kedua murid yang diberi inisial A dan B itu kemungkinan besar nggak akan mendapat ganjaran setimpal karena hukum yang berlaku di sana cenderung mengampuni kejahatan yang pelakunya ialah anak sekolah yang belum cukup umur. Jadi, setelah pengakuan tersebut, Moriguchi menyusun rencana balas dendam dengan caranya sendiri untuk memberi pelajaran kepada dua muridnya tentang arti penting kehidupan. Walaupun terdengar sadis dan melihat target pembalasan dendam-nya (anak SMP) membuat film ini kurang layak dikonsumsi penonton muda, tapi di luar itu film ini sangat patut diapresiasi. Dengan konflik yang kompleks, plot dengan banyak twist, dan konklusi akhir film yang epik, rasanya film ini harus ditonton terutama bagi pencinta film thriller dan misteri.

Hachi-ko (1987)
Judul lainnya Hachiko Monogatari, film yang diangkat dari kisah nyata legendaris di Jepang. Hachi-ko adalah seekor anjing keturunan jenis Akita Inu, yang dipelihara sejak kecil oleh Hidesaburo Ueno, seorang profesor ahli pertanian. Anjing yang diberi nama Hachi itu merupakan pemberian dari seorang mantan murid Profesor Ueno. Sebetulnya beliau sempat trauma memelihara anjing karena beberapa kali sebelumnya ia juga pernah memiliki anjing, tapi selalu berakhir kematian. Namun, karena telanjur sayang pada Hachi, Profesor Ueno pun terbiasa merawat anjing tersebut. Profesor Ueno yang dikenal baik dan ramah itu sering mengajak Hachi untuk mengantarnya ke stasiun, saat ia berangkat untuk mengajar, dan ketika ia pulang, Hachi pun selalu menjemput dan menunggunya di peron. Hal menyedihkan terjadi ketika suatu hari Profesor Ueno meninggal dunia. Hachi yang selalu setia pada tuannya itu, ternyata nggak berhenti datang ke stasiun, menunggu Profesor Ueno setiap hari di jam dan waktu yang sama, seolah-olah tuannya itu masih hidup dan akan menemuinya. Memang nggak salah kalau banyak yang bilang ini film drama supersedih, soalnya aku juga mewek pas nonton. Apalagi melihat kesetiaan Hachi yang bertahan bertahun-tahun. Aduh...

Like Father, Like Son (2013)
Ryota ialah seorang arsitek sukses yang jarang menghabiskan waktunya di rumah bersama istrinya, Midori, dan anaknya yang berumur 6 tahun, Keita. Ryota yang pekerja keras memiliki ambisi besar untuk mendidik anaknya agar mandiri sejak dini dan kelak bisa mengikuti jejak kesuksesannya. Suatu hari Midori mendapat telepon dari pihak rumah sakit tempat ia dulu mengurus persalinannya, yang mengabarkan bahwa putra dari Ryota-Midori telah tertukar 6 tahun yang lalu. Ternyata Keita telah tertukar dengan Ryusei, anak dari pasangan pemilik toko elektronik, Yudai-Yukari. Mungkin premisnya bukan hal baru di kalangan film drama, tapi sepertinya ini satu-satunya film bertema sejenis yang membuatku peduli dan bersimpati pada tokoh-tokohnya. Terutama bagian yang mengharuskan kedua keluarga tersebut melakukan pertukaran kembali anak mereka, peran Ryota sebagai ayah yang ambisius seketika diuji. Salah satu film sentimental yang bikin penonton mengembuskan napas berat sepanjang film.

Departures (2008)
Film yang berjudul asli Okuribito ini pernah memenangkan kategori Best Foreign Language Film di ajang bergengsi Oscar. Bercerita tentang Daigo Kobayashi, seorang pemain selo di sebuah kelompok orkestra yang harus menerima kenyataan bahwa orkestra tempat ia bergabung tersebut dibubarkan secara tiba-tiba. Seolah sadar diri bahwa kemampuannya bermain selo juga termasuk biasa-biasa saja, ia pun memutuskan pensiun dari bermain musik, dan mengajak istrinya untuk pulang ke kampung halamannya di Yamagata. Suatu hari usai makan bersama istrinya di rumah peninggalan milik ibunya, Daigo melihat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Karena kadung tergiur dengan syarat "tanpa pengalaman" walaupun spesifikasi pekerjaannya nggak begitu jelas, ia memutuskan untuk mendatangi alamat yang tertera di sana, yaitu NK Agent.  Alangkah kagetnya Daigo ketika ia bertemu Sasaki Ikuei, yang ia kira pemilik usaha biro perjalanan, langsung menerimanya bekerja bahkan sudah memberinya gaji di muka. Ketika diwawancara, Daigo baru sadar kalau perusahaan tersebut ternyata bergerak di bidang pemakaman, yang mana mengharuskan ia memandikan dan merias jenazah sebelum diantar ke tempat peristirahatan terakhir. Tak ayal, pekerjaan baru Daigo tersebut langsung menuai gunjingan dari kerabat bahkan istrinya sendiri pun merasa malu. Menonton film ini, membuat kita merenungkan kembali makna sebuah pekerjaan, juga makna kehidupan dan kematian. Adegan paling emosional menurutku ketika Daigo ingin membuktikan ke istrinya bahwa pekerjaannya juga manusiawi karena sejatinya setiap manusia pasti akan menghadapi kematian. Film bertema sensitif yang dikemas dengan indah!


Selain daftar film di atas, ada beberapa film lain yang cukup membekas dan layak ditonton: Cyborg Girl (2008), Orange (2015), Dark Water (2002), Time Traveller (2010), Midnight Sun (2006), Bakuman (2015), Tag (2015)


Nah, kalau ada rekomendasi film Jepang bagus lainnya, silakan tulis di kolom komentar ya, teman-teman weeaboo-ku!



UPDATE!
—————
Battle Royale (2000)
Nobody Knows (2004)
Wood Job! (2014)
Next
Previous
Click here for Comments

27 komentar:

avatar

Lho, Inuyasha, Doraemon sama Sinchan nggak masuk? Parah. REVISI!

avatar

hachi ini, dari sinopsisnya saja udah bikin sedih yah.. huhu

avatar

KOMEN DI ATASKU! 😂

Seujung kuku. Kalau aku sebiji ketumbar kali yak. Butiran ketumbar yang udah ditumbuk maksudnya. Huhuhuhuhu. Penasaran sama Rentaneko deh. Trus yang I Am a Hero sering denger tapi belum nonton. Confessions, aku suka nontonnya. Di beberapa adegan bikin ngerasa kayak lagi nonton music video. Trus Our Little Sister.... hayah, belum nonton nih. Udah bahas bakal segera nonton itu padahal :(

Dan yuhuuuuuu Departures! Iya filmnya bertema sensitif yang dikemas dengan indah. Setujuuu. Setuju juga itu jadi yang paling disukain. Bukannya film Gang Rape yang juga bertema sensitif dan juga dikemas dengan indah. Hehehe. Sensitif dan indah ndasmu!

avatar

Kok nggak ada live action Bakuman sih?

Confessio kalau diremake Sinema Pintu Taubat, judulnya jadi: "Dendam Seorang Guru".

avatar

Wah banyak yang udah masuk list tontonan tapi belum ditonton hiks.. Terakhir nonton Our Little Sister, walaupun terasa lambat tapi filmnya heart warming banget. Sama Midnight Sun itu juga kesukaan banget, berapa kali nonton tetep mewek :(( Udah pernah nonton Beck dan Solanin belum? Dua-duanya berlatar musik, dan baguuuss :D

avatar

Grave of the Fireflies, anime.

avatar

seven samurai!

avatar

Mohican Comes Home, Sweet Bean, Kabukicho Love Hotel, The Kirishima Thing, Moteki atau film-filmnya Sono Sion. Kalo ada yang belom ditonton, segera masukin ke daftar tontonan :)

avatar

flying colors

avatar

Departures itu favorit banget. Sisanya ntar copy yak hehehe

omnduut.com

avatar

"Film live action dengan adegan kaku ala anime.." ha ha ha dipikir-pikir ini bener juga. Beberapa kali nonton live action, suka ada adegan/dialog yang kaku. Jadi kesannya maksa pengen persis anime gitu.

Dark Water serem ya Allah. Jadi inget nonton itu pas SD/SMP, tayang tengah malem di sctv. Setannya bocah TK.

Oiya, kenapa Battle Royale gak masuk 10 besar anjis?

avatar

Wah, belum ada satu pun yg aku tonton, salam kenal sesama wong Palembang

avatar

5cm dan film2 animenya karya makoto shinkai T. O. p

avatar

(menahan diri untuk tidak berkata kasar)

avatar

Iya, sedih. Di universe lain, Hachi si lebah kecil yang mencari ibunya juga sedih. Huhu.

avatar

Departures itu memang bagus ampun-ampunan. Kalau kamu suka film yang family oriented, kamu mesti nonton Our Little Sister dan filmnya Kore-eda yang lain, Cha.

avatar

Lupa nyebut Bakuman, tapi itu udah diedit. Haha. I Am a Hero juga setipa Bakuman, tokoh sentralnya mangaka.

avatar

Iya, film Jepang memang kebanyakan alurnya lambat, jadi memang butuh energi lebih nontonnya.

Solanin dan Beck belum nonton, tapi sudah masuk watchlist.

avatar

Sudah nonton, bagus. Salah satu anime Studio Ghibli favoritku.

avatar

Waduh, ini belum nonton semua. Oke, dicatat. Terima kasih.

avatar

Betul kan, film live action itu kadang jadi nggak manusiawi karena 'dituntut' harus persis versi aslinya. Biasanya kejadian kalau tokohnya mulai bilang "Haik!" sambil nunduk tegas. Haha

Battle Royale belum sempat nonton nih. :/

avatar

Salam kenal juga, Mbak.

avatar

Oh, itu sudah nonton. Anime karya Makoto Shinkai favoritku:
5 Centimeters Per Second
Your Name
The Garden of Words

avatar

wah aaku malah belum pernah lihat film jepang, padahal anak2ku pada suka

avatar

Hachiko dan departures sih masih favorit. Selain itu belum ada film jepang yang ngebuat bena pingin nonton oake bangetttt..

avatar

Aku masa taunya cuma Hachiko doang Kang Rido ._. selebihnya lebih suka nonton filmnya Sora Aoi sama semi-semi gitu macam Sex and Zen - Extreem Ecztasy, Young Mother, dan lain sebagainya ._.

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!