Jumat, 21 Juli 2017

Alan Tuvache dan Orang-Orang yang Bunuh Diri

Salah satu hal yang aku takutkan dalam hidup adalah ketika membayangkan dengan cara apa aku akan mati kelak. Beberapa waktu lalu, aku mengalami dua kali kecelakaan motor dalam rentang kurang dari seminggu. Setelah kecelakaan terakhir, aku menuangkan keresahan diri kepada seorang teman dekat. "Kamu tahu nggak, dari sekian banyak faktor penyebab manusia meninggal dunia, aku paling nggak mau meninggal karena kecelakaan di jalan raya."

Aku belum siap ketika temanku menimpali, "Kalau aku, nggak mau meninggal karena bunuh diri." Saat selesai membahas itu, kami tertawa. Memang terkadang lucu membicarakan kematian pada saat kita baik-baik saja.

Bunuh diri bukan hal yang baru, memang. Namun, belakangan topik mengenai hal krusial ini kembali mencongol, layaknya sebuah film lawas terkenal yang akan diproduksi ulang dan ditangani oleh sutradara yang sedang naik daun. Masih segar dalam ingatan kita, berita tentang seorang pria yang merekam video langsung di akun Facebook-nya sebelum ia melakukan aksi gantung diri. Atau berita heboh tentang bunuh dirinya mantan vokalis band Audioslave, Chris Cornell. Belum hilang kabut kedukaan, dua bulan kemudian Chester Bennington vokalis Linkin Park pun turut bunuh diri menyusul Chris, sahabatnya.

Apakah bunuh diri itu menular?

Gambar diambil dari sini

Setiap ada peristiwa bunuh diri, pasti ada pikiran spontan kita untuk bertanya kenapa. Alasan yang paling sering kita dengar adalah akibat depresi, frustrasi, atau perasaan sakit hati yang sudah nggak terbendung.

Aku jadi ingat dalam The Virgin Suicides (1999), ada sekumpulan gadis muda kakak-beradik yang memutuskan untuk mengakhiri hidup berjemaah karena nggak tahan dengan perilaku orang tua mereka yang terlalu protektif dan mengekang. Hannah Baker dalam drama seri 13 Reasons Why (2017) mengalami perundungan baik fisik maupun psikis di lingkungan sekolahnya, ia pun memutuskan bunuh diri karena merasa nggak ada yang bisa menolongnya keluar dari masalah. Bahkan ada faktor lain yang nggak boleh dinihilkan, seperti apa yang dilakukan keempat pria slebor di Four Lions (2010) yang terobsesi bunuh diri demi jihad fi sabilillah. Oke, yang terakhir jangan dihitung.

Kita nggak pernah tahu, di saat kita sibuk bekerja dan memupuk diri dengan makanan untuk bertahan hidup, ada segelintir orang yang sibuk memilih metode apa yang ingin mereka gunakan untuk mengakhiri hidup. Pernah juga ada yang bilang, sebetulnya mereka yang bunuh diri itu bukan untuk mengakhiri hidup, tapi untuk mengakhiri penderitaan.  

Ada yang menarik dalam film apokaliptik asal Perancis berjudul The Suicide Shop (2012), di mana tragedi bunuh diri seperti bukan lagi fenomena, melainkan budaya. Film animasi untuk orang dewasa itu menceritakan tentang sebuah toko yang menjual perlengkapan bunuh diri, mulai dari berbagai jenis racun, tali gantung, hingga benda-benda tajam yang berpotensi melukai tubuh. Masalah timbul ketika pasangan suami-istri pemilik toko tersebut melahirkan bayi laki-laki yang tumbuh menjadi bocah periang, dan suka berbagi salam keceriaan kepada para pengunjung yang sedang memilih pernak-pernik bunuh diri.

Gambar diambil dari sini

Namanya Alan Tuvache, bocah yang bertendensi membuat usaha orang tuanya bangkrut lantaran nyeleneh menjadi satu-satunya penduduk kota yang nggak berjiwa muram. Kendati berupaya mengajak orang-orang untuk bunuh diri, pasangan Mishima Tuvache dan Lucrèce Tuvache melarang ketiga anaknya untuk bunuh diri karena kelak merekalah yang akan meneruskan bisnis keluarga Tuvache. Namun dengan kehadiran Alan, cita-cita visioner mereka berubah. The Suicide Shop harus ditutup. Tingginya kasus bunuh diri di kota tersebut harus diakhiri.

Boleh jadi, Alan ialah potret yang bisa kita jadikan 'junjungan'. Berusaha menebar kebaikan di muka bumi, agar orang-orang di sekeliling kita nggak sempat terpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri, serta membiarkan kematian tetap menjadi kehendak sang Mahapencipta.
"Life is appalling. But we must fight." — Lucrèce Tuvache

12 komentar:

  1. Akkkkkkkkkkk jadi pengin nonton!

    BalasHapus
  2. Wow. The Virgin Suicides itu aku suka banget. Ngerasa relate sama lima bersaudara dan bagaimana mereka dikekangnya. Dan itu film animasinya keren yak, Kang. Temanya kelam tapi tokoh utamanya (si Alan itu jelas tokoh utamanya kan ya?) nggak kelam. :')

    BalasHapus
  3. Hmm, setiap kali kecelakaan motor gue juga takut, Do. Terus pasti merenung. Nggak pengin sampai meninggal. Penginnya pas lagi tidur aja gitu, biar nggak berasa. Kalau perlu pas lagi mimpi indah dan tersenyum. :) Duh, tapi ya Wallahu a'lam.

    Dari semuanya, cuma tahu 13 RW dari yang disebutin. Hahaha. Referensi film masih cupu. Etapi kemarinan habis nonton "Last Live in the Universe", tentang orang yang pengin bunuh diri. Alasannya dia mau bunuh diri karena ketenangan. Terus sehabis film itu berakhir, gue malah bingung. Mungkin suatu hari kudu nonton ulang biar paham. :|

    BalasHapus
  4. Wah, harus salaman nih sama Alan Tuvache. Hehehe. Keluar dari kebiasaan di lingkungannya gitu.

    Oh iya, tentang bunuh diri gitu cuma tau Kizuki di film Norwegian Wood. Baru sekali nonton film yang ada bunuh dirinya. Itu pun nggak jelas kenapa alasannya bunuh diri. :')

    BalasHapus
  5. Wah kayaknya menarik nih filmnya, pengin kenalan sama Alan Tuvache :D

    BalasHapus
  6. Lo terus gimana itu kecelakaan motor ya ampun. Gue sekali aja langsung traumanya sampe sekarang. ._.

    Serem gue euy kalo ngomongin bunuh diri bunuh dirian begini gue. Ini pas pertama ngeliat kartunnya kirain happy three friend. Muahahaha. Tenang do. Dunia ini akan aman selama ada aku! *ditoyor

    BalasHapus
  7. kang rido emang junjungan. kecelakaan 2x dalam seminggu dan gak merasa apa-apa. gue kecelakaan sekali aja sampe sekarang gak berani ngebut lagi. selalu di 40-50 km/jam doang.

    lah keren tuh filmnya, apaan coba toko yang nyediain perlengkapan bunuh diri xD

    BalasHapus
  8. berbicara soal kecelakaan, saya uda 2kali kecelakaan naek motor alhasil saya sampe sekarang masih ae trauma jadi kalau naek motor itu behh pasti langsung mikir safety first, takut ngebut dah

    widih keknya filmnya keren banget tuh, coba search google ahk wtwtwtwtwt.

    BalasHapus
  9. Gue kira dulu kartun soal bunuh diri dan pembunuhan paling sadis itu Happy Tree Friends, eh ternyata ada yang lain ya, kang?

    Makanya kang Rido jangan kebanyakan mikir biar nggak stress ya. Nggak usahlah itu dipikirin napi yang kabur, biarin aja mereka kang. Kang Rido fokus berkarir menjadi sipir maco aja. Mantab kan saran ini.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. mau mau nonton pilemnya kakak..
    kayaknya seru seru lucuuuuu

    aku kira apaan, aku kira kamu yang bakal bahas vokalis linkin park dan pasti aku bakal seneb banget karena semua bahas itu. kayak bosen gitu.
    eh tapi malah jadi kayak review film dan yang kayaknya lucu

    BalasHapus
  12. Dari judul film yang lu sebutin, cuma tau 13 RW.
    Sepertinya film The Suicide Shop harus banget di tonton, nih. Kedengarannya menarik :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!