Jumat, 20 Oktober 2017

[Interview] Roy Saputra dan Ikan-Ikan Mati

Ada yang pernah menonton Black Mirror? Serial TV berupa film antologi yang menceritakan kisah fiktif dengan tema gelap dan satire mengenai masyarakat modern, terutama dampak buruk teknologi canggih. Di Indonesia rasanya belum ada film atau cerita fiksi lain yang mengangkat tema serupa. Makanya, aku senang sekali waktu diberi titah oleh Roy Saputra untuk jadi pembaca draf novel terbarunya. Black Mirror-nya novel lokal, yang kemudian terbit dengan judul Ikan-Ikan Mati.

instagram.com/aenigmapicture

Ikan-Ikan Mati menceritakan kisah pria kantoran bernama Gilang, dengan segala polemik hidupnya di tengah arus teknologi yang semakin canggih. Walaupun mengambil latar kota Jakarta di masa depan, sebetulnya tokoh Gilang di novel ini secara definitif mewakili potret kaum millennial di era teknologi seperti sekarang. Yang serba up-to-date, getol mengunjungi kafe yang sedang hits, rutin menonton film di hari pertama penayangan, atau yang ada di baris terdepan tiap ada info diskonan.
Menilik dari tema yang diangkat, mungkin Ikan-Ikan Mati dapat dikelompokkan ke dalam novel bergenre punk sibernetika (cyberpunk). Cyberpunk masih bagian dari subgenre fiksi sains (sci-fi), yaitu cerita berlatar masa depan yang fokus pada kehidupan masyarakat kelas rendah dengan segala kerusakan sistem dan tatanan sosial yang dihadapkan pada teknologi kelas tinggi. Sama seperti tulisan-tulisan Roy Saputra sebelumnya yang sarat komedi, Ikan-Ikan Mati pun dibumbui selipan humor yang menghibur. Karakterisasi, dialog, dan atmosfer ceritanya mengingatkan pada Gege Mengejar Cinta-nya Adhitya Mulya; kisah percintaan pegawai kantoran dengan ending yang epik. 

Jadi, kebetulan beberapa waktu lalu aku berkesempatan melakukan interviu  singkat dengan penulisnya terkait proses di balik novel ini.

Roy Saputra

Halo, Kak Roy!
Boleh diceritain nggak awal mula kepikiran nulis Ikan-Ikan Mati? Padahal temanya kan nggak pasaran tuh.
Ide awal cerita ini sudah lumayan lama sebetulnya. Sejak tahun 2015 kurang lebih. Berawal dari pengamatan perilaku kita dalam menggunakan media sosial, yang makin lama makin ngambil peran penting di keseharian. Awalnya cuma sebatas ide dan belum dieksekusi karena sibuk kerjaan kantor, dan malah sempat nawarin ide ini buat ditulis orang lain. Tapi setelah diskusi sama Sarah (istri), akhirnya memberanikan diri untuk nulis lagi di awal 2017.

Berarti konsepnya sudah matang ya makanya cuma butuh beberapa bulan buat nulis. Kalau risetnya dari mana? Media sosial?
Riset untuk pengembangan ceritanya justru banyak datang dari luar layar 7 inci. Dari diskusi dengan Sarah dan teman-teman. Diperkuat dengan beberapa artikel terkait perilaku pengguna media sosial, dan juga film sebagai tambahan referensi dan acuan.

Waktu nulis Ikan-Ikan Mati katanya sempat khawatir novelnya susah diterima pasar. Apa karena toko buku sedang digempur novel cecintaan Wattpad? 
Hahaha. pertanyaan menarik nih. Memang, awalnya sempat khawatir bagaimana pasar akan menerima cerita ini. Karena agak menyentil dan mungkin nggak semua bisa terima ya. Yang namanya kompetisi pasti ada, baik dengan novel Wattpad ataupun lainnya. Ya, mudah-mudahan dengan beda, jadi menonjol dan menarik perhatian. Sangat berterima kasih kepada penerbit Mediakita yang mau menerbitkan dan mendukung pemasaran Ikan-Ikan Mati.

Nah, menurutku yang bikin novel ini menarik justru karena temanya beda dan terbilang baru untuk genre novel lokal. Apalagi kontennya relatable. Terus, sebetulnya hal apa sih yang mau disampaikan lewat Ikan-Ikan Mati? 
Yang ingin disampaikan lewat Ikan-Ikan Mati sebetulnya sederhana, yaitu ngajak berpikir. Berpikirlah dan putuskan sendiri. Banyak orang mengurasi hidupnya di media sosial, hanya karena nggak ingin ketinggalan. Kalau dirinya memang begitu sih nggak apa-apa sebetulnya, asal mikir.

Oke, mikir! Yang kutangkap sih, Ikan-Ikan Mati ditulis bukan cuma untuk nyindir, tapi sekaligus ngajak mikir biar kita nggak terlalu ikut arus. Biar kita nggak jadi 'ikan-ikan mati'.
Betul! Semoga kita nggak tenggelam di peradaban.



Dalam novel ini ada satu kutipan yang kuingat. "Why do we have to be the same?" Pertanyaan ini kurang lebih mewakili pesan yang ingin disampaikan lewat novel ini. Hadirnya Ikan-Ikan Mati di toko buku pun kurasa begitu. Novel ini boleh jadi semacam oasis di antara gempuran novel cecintaan picisan ala Wattpad-lit.

6 komentar:

  1. Saya senang karena dalam beberapa hal, saya bukanlah ikan-ikan mati. Itu saja poin yang saya dapat saat membaca buku ini. Saya suka dengan tokoh Citra.

    BalasHapus
  2. Perlu didukung novel non-Wattpad-lit macam ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku "The Putih Abu-Abu" kalau diterbitkan ulang sepertinya juga bisa menonjol karena beda banget sama novel Wattpad.

      Hapus
  3. Dari interview ini menarik kesimpulan bahwa... Harus baca bukunya.

    BalasHapus
  4. kemarin saya ke gramedia, tapi naas, bukunya sedang habis. baru restock besok Senin. sepertinya disini bang Roy memang menjadi pujaan para penggemar novel. kalau boleh jujur, saya juga bosan dengan novel cinta-cintaan ala wattpad.

    nice interview, kang Rido.

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!