Senin, 27 Agustus 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Spanyol, Lebanon, dan Indonesia.


Timecrimes (2007)

Film berbahasa Spanyol dengan judul asli Los Cronocrímenes, dibuka dengan adegan sepasang suami-istri yang baru saja pindah ke rumah baru. Pada suatu sore, saat Hector (Karra Elejalde) sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan di belakang rumahnya lewat teropong, ia melihat penampakan seorang perempuan di dalam hutan. Ketika sosok perempuan itu tampak perlahan-lahan melepas bajunya, Hector makin penasaran. Ia berniat masuk ke hutan untuk menemui perempuan tersebut.
Setibanya di hutan, Hector mendapati perempuan itu sudah tergeletak pingsan dalam kondisi tanpa busana. Saat ia hendak mendekat, tiba-tiba ada yang menusuk tangannya dari belakang. Diketahui kemudian, pelakunya ialah sosok misterius yang wajahnya dibalut perban berwarna merah muda.
Dalam debut film panjang pertamanya ini, Nacho Vigalondo berhasil membuat film thriller bertema time-travel dengan set yang sederhana, tapi tidak dengan naskah ceritanya. Walaupun motif tokoh Hector masuk ke dalam mesin waktu setelah aksi kejar-kejaran sebetulnya agak absurd, lamun yang terjadi di babak berikutnya jelas sangat mind-blowing.
Timecrimes tak perlu narasi serumit Predestination (2014) untuk membuat pikiran penonton kusut. Hanya dengan ide mengulang waktu sekian jam ke belakang, konflik film ini bisa jadi begitu kompleks.
Timecrimes lebih seperti film independen yang jarang disebut dalam daftar film-film terbaik bertema perjalanan waktu karena tak diperankan oleh aktor dan aktris ternama, padahal film ini sangat layak mendapat atensi lebih.

Selasa, 07 Agustus 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Prancis, Jepang, dan Malaysia.


Genre: Action, Comedy, Crime
MICMACS (2009)

Seorang pria bernama Bazil (Dany Boon) mengalami dua insiden merugikan dalam hidupnya. Saat masih kecil, ayahnya meninggal akibat menginjak ranjau darat. Ketika Bazil dewasa, sebuah peluru nyasar mengenai kepalanya, dan membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Saat kondisinya pulih (dengan peluru masih bersarang di kepala), ia berencana untuk membalas dendam terhadap dua perusahaan amunisi, dengan dibantu oleh sekelompok pengungsi yang tinggal di rumah 'rongsokan'.
Di tangan sutradara lain, mungkin film ini akan berakhir sebagai film aksi balas dendam tipikal John Wick (2014). Namun, Jean-Pierre Jeunet tampaknya lebih senang mengambil sudut pandang lain. Senjata adalah tema mayor film ini, tapi di sini Bazil, dkk. justru melakukan aksi balas dendam tanpa menggunakan senjata—secara harfiah. Cara mereka menginvasi target musuh pun rasanya tak kalah cerdas dengan aksi rombongan Danny Ocean di Ocean's Eleven (2001).
Sebelumnya, Jeunet sudah lebih dulu menampilkan gambar-gambar cantik di filmnya seperti Amelié (2001) dan A Very Long Engagement (2004). Dalam teknis sinematografi, Micmacs pun tak mau kalah. Film ini tetap punya visual genial yang memanjakan mata.
Micmacs bukan hanya sekadar film action-crime yang ingin menyindir industri senjata nan korup, tapi juga jadi film komedi level tinggi kendati mengusung lawakan slapstick. Salah satu film Prancis yang underrated!