Senin, 03 September 2018

[Review] Seira & Tongkat Lumimuut — Anastasye Natanel

Alkisah seorang guru yang mengajar tentang Mitologi Yunani di satu sekolah di San Antonia, California, juga senang bercerita kepada anaknya. Setelah bosan dengan cerita yang itu-itu saja, suatu hari sang anak menantang ayahnya untuk merekayasa kisah para dewa-dewi Yunani dengan pendekatan kehidupan masa kini. Itulah asal mula lahirnya novel-novel fantasi dari tangan seorang Russel Richard ‘Rick’ Riordan.

Anastasye Natanel ialah pembaca setia karya-karya "sang guru" tersebut. Jika Rick Riordan berhenti dari profesi guru lantaran ingin fokus menulis novel, Anastasye Natanel tak perlu menghentikan apa-apa sebab ia seorang ibu rumah tangga. Dengan bermodal kecintaan pada tanah kelahirannya di Sulawesi Utara dan terobsesi berat dengan Mitologi Minahasa, novel fantasi berjudul Seira & Tongkat Lumimuut ini pun lahir. 


Judul : Seira & Tongkat Lumimuut
Penulis : Anastasye Natanel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Juli 2018
Cetakan : Pertama
Tebal : 244 hlm
ISBN : 9786020387673

Begitu sembuh dari sakitnya, Seira merasakan perubahan pada dirinya. Dia mendapati ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak bertemu perempuan aneh dalam mimpinya.

Menjadi sehat secara mendadak dan kemunculan orang-orang asing di sekitarnya menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya: pertama, dua anak kembar di kampusnya, Mikaela dan Manasye, yang tiba-tiba menjadi sahabatnya; kedua, Siow Kurur, laki-laki tampan yang mengaku sebagai pelindungnya; ketiga, kumpulan orang yang mengenakan pakaian ala penari Kabasaran yang datang memburunya.

Bukan hanya itu, Papa juga tampak bersikap aneh. Bahkan Giddy, teman kecil Seira yang ia kenal luar-dalam, rupanya menyembunyikan rahasia besar darinya.

Hidup Seira telah berubah, ia bukan lagi manusia biasa.

Mungkin banyak yang menganggap novel fantasi adalah genre paling tak masuk akal, oleh karena itu pembacanya agak segmental. Padahal genre inilah yang membuat banyak kemustahilan jadi masuk akal.

Gadis bernama Seira itu sudah tiga hari jatuh sakit, sejak kepulangannya mendaki Gunung Soputan bersama rombongan mahasiswa pencinta alam. Suatu saat ia bermimpi aneh, bertemu dengan seorang perempuan yang mengenakan pakaian tipis dari daun kering.

Sesaat setelah sadar dari mimpinya, Seira sontak merasa sehat. Bahkan matanya yang minus seketika kembali normal. Teman masa kecil sekaligus tetangganya, Gideon alias Giddy, sampai heran melihat penampilan baru Seira yang jauh dari kesan 'penyakitan' seperti biasanya.
"Halo Seira, senang berjumpa dirimu."
Sesuai dengan sasaran pembaca yaitu kalangan dewasa muda, novel ini kelihatan sekali sengaja ditulis dengan gaya penceritaan yang ringan. Setelah dibuka dengan prolog yang menarik, bab awalnya pun langsung disuguhi konflik.

Sebelum membaca novel ini, jujur saja aku begitu awam dengan segala hal menyangkut Minahasa—yang konon merupakan suku bangsa terbesar di Sulawesi Utara. Petualangan Seira mencari tahu jati dirinya dengan didampingi Siow Kurur, dua teman baru yang kembar, serta empat puluh roh Opo, menjelaskan sedikit demi sedikit trivia menarik terkait legenda Toar dan Lumimuut.

Meski kita sedang membicarakan novel dengan pondasi legenda kuno, tapi unsur modernisasi dalam novel ini sangat terasa. Terlihat dari penokohan setiap karakternya yang sangat kontemporer. Misalnya, hubungan Lokon dengan teknologi masa kini bernama drone, atau komunikasi para roh Opo lengkap dengan jargon yang up-to-date hingga mengidolakan Ivan Lanin.
"Mitos itu fleksibel, Sayang."
Menurutku, kehadiran para roh Opo di kepala Seira adalah hal yang unik dan komikal, tapi kecerewetan mereka sekaligus jadi blunder. Upaya penulis untuk menghadirkan dagelan lewat celetukan para Opo terkadang malah bikin meringis. Ini salah satu minus.

Selain itu, masih banyak ihwal menarik yang kurang dieksplorasi dalam novel ini, termasuk latar belakang Lumimuut dan pasangannya, Toar. Aku juga bingung kenapa sedikit sekali disinggung soal Tongkat Lumimuut, padahal itu poin dari judul novelnya. Lalu, ending yang ditutup dengan frasa "singkat cerita" jelas sangat disayangkan.

Walaupun demikian, kehadiran Seira & Tongkat Lumimuut di tengah kemarau novel bergenre fantasi dengan muatan lokal, patut sekali diapresiasi. Mengemasnya dalam kategori young-adult pun bisa dibilang keputusan yang percaya diri. Pada akhirnya, novel ini sudah berhasil mengangkat kisah dari konsepsi Mitologi Minahasa dalam cerita remaja yang mudah dicerna.

Angkat topi!

2 komentar:

  1. Masih belum bisa membayangkan cerita tentang legenda kuno yang ada drone-nya. XD Dibandingkan genre fantasi, saya kayaknya lebih sering baca yang surealis. Padahal sebelumnya pernah bingung membedakannya. Wqwq.

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!