Rabu, 28 November 2018

[Review] Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat — Mark Manson

Perkenalkan, Mark Manson ialah seorang pengusaha di Amerika dan bloger penuh waktu di blog pribadinya MarkManson.net. The Subtle Art of Not Giving a F*ck merupakan buku self improvement pertamanya yang sudah dialihbahasakan menjadi Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.


Judul : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : Februari 2018 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 256 hlm 
ISBN : 9786024526986

"Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson—melalui blognya yang sangat populer—telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. Ia kini menuangkan buah pikirnya yang keren itu di dalam buku hebat ini.

“Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.” Manson menciptakan momen perbincangan yang serius dan mendalam, dibungkus dengan cerita-cerita yang menghibur dan “kekinian”, serta humor yang cadas. Buku ini merupakan tamparan di wajah yang menyegarkan untuk kita semua, supaya kita bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya."

Mark Manson menulis buku ini atas keresahannya tentang bagaimana cara orang-orang memaknai masalah hidup. Menurut Mark, "masalah hidup" sesungguhnya hanya efek samping dari tidak adanya sesuatu yang lebih penting untuk dipedulikan.

"Kunci untuk kehidupan yang baik, bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting."
Jadi, term ‘bodo amat’ yang dimaksud Mark di buku ini bukan anjuran untuk tidak peduli atau bersikap cuek terhadap semua hal, tapi soal memilih apa yang ingin kita pedulikan. Sebab jika kita tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian kita akan tercurah untuk hal-hal tanpa makna dan sembrono.
Untuk bisa mengatakan ‘bodo amat’ pada kesulitan, pertama-tama kita harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan itu. Kenapa kita kesulitan? Demi tujuan apa? Kalau indikatornya adalah kesuksesan, kenapa kita menganggap sesuatu sebagai kesuksesan atau kegagalan? Dengan standar apa kita menilai diri sendiri dan orang lain?
Menurut Mark, satu hal yang penting untuk kita miliki, yaitu NILAI. Ada nilai baik, ada nilai buruk. Nilai yang baik: berdasarkan pada kenyataan, membangun secara sosial, segera dan dapati dikendalikan. Nilai-nilai yang buruk: tahayul, merusak secara sosial, tidak segera dan tidak dapat dikendalikan.
Terkadang, suatu masalah muncul karena nilai dari tujuan kita yang keliru dan standar kita yang salah. Kita berbuat baik, bukan semata untuk dipandang baik, tapi karena kita menilai itu hal yang benar untuk dilakukan. Berharap dianggap baik oleh setiap orang hanyalah bentuk kesia-siaan.
Ketika kita menonton film di bioskop sendirian, ada teman yang menganggap itu hal yang janggal? Saat itulah seni ‘bodo amat’ harus dipakai. Sebab kita membeli dan membayar tiket kita sendiri, tanpa merugikan orang lain. Mereka tidak paham kalau kita datang ke bioskop karena memang tujuan kita ingin menonton, bukan karena ingin berdua-duaan.
Jadi, berhenti melibatkan tujuan eksternal seperti "ingin dipandang baik oleh orang lain". We can't please everyone. Do what you think is RIGHT for you.

2 komentar:

  1. Saya berpikir hal yang sama. Terima kasih, Mark Arbain.

    BalasHapus
  2. Buku ini bikin aku mikir tentang kematian, Do. Pait dan banyak perenungan. Pas lah dibaca kalau hujan :')

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!