Rabu, 19 Desember 2018

Videografi Unsri, Organisasi Alternatif di Kampus

Film merupakan karya seni yang tidak mengenal batasan-batasan sosial karena dapat dibuat dan ditonton oleh semua kalangan, termasuk mahasiswa kampus. Pernahkah kita berpikir, apa yang dilakukan oleh bibit-bibit sineas muda pada saat mereka butuh tontonan, tetapi sulit menemukan film yang menarik untuk ditonton? Mungkin dengan kasual mereka menjawab, “Kami akan membuat film itu!” Keresahan-keresahan inilah yang mungkin muncul di benak sekumpulan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) ketika membentuk komunitas Videografi Unsri.



Videografi Unsri—selanjutnya disingkat "VU"—adalah komunitas yang mewadahi setiap mahasiswa yang memiliki ketertarikan dan minat dalam bidang videografi (seni atau praktik penggunaan kamera video untuk membuat film). Pada mulanya, embrio VU lahir dari sekumpulan mahasiswa yang sama-sama menyukai proses pembuatan film. Dengan fasilitas seadanya, para mahasiswa ini coba membuat film pendek yang kemudian diikutkan ke beberapa kompetisi film. Semangat untuk mempelajari hal ihwal tentang videografi mulai bertumbuh ketika mereka mengajak rekan-rekan dekat untuk bergabung. Saat anggotanya semakin banyak, mereka memutuskan untuk mengubah status VU dari komunitas elementer menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM). 

Pada tahun 2016, VU pernah membuat film pendek yang diberi judul "Hilang", bercerita tentang perubahan zaman dari circa 2000-an awal saat anak-anak masih memainkan permainan tradisional, lalu bagaimana kontrasnya dengan permainan anak zaman sekarang yang terkontaminasi gadget. Film-film lainnya bisa dicek di situs website videografi.unsri.ac.id


Saat ini, VU bergerak di bawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sriwijaya. Membawa label kampus, ternyata tidak berpengaruh pada batasan karya yang ingin VU buat, tetapi malah menjadi acuan untuk membuat karya paling sadu. Belum lagi, kehadiran VU sebagai komunitas internal begitu disokong oleh Rektorat Unsri di bidang kemahasiswaan, yang siap pasang badan dalam membiayai produksi film VU, terutama yang akan diikutsertakan dalam festival. 

Hadirnya VU sebagai organisasi alternatif di kampus seolah menjadi respons atas absennya lembaga, sekolah, bahkan kelas pembuatan film di Palembang atau dalam lingkup luas di Sumatera Selatan. Apakah ini jadi pertanda baik akan lahirnya sineas-sineas muda lokal? Kita tunggu saja.


________
() ditulis dari hasil interviu dengan Muhammad Ridho — Ketua Umum Videografi Unsri periode 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!