Selasa, 30 Juli 2019

[Review] Senyap yang Lebih Nyaring — Eka Kurniawan

Membicarakan Eka Kurniawan tentu tidak akan terlepas dari profesinya sebagai penulis yang melahirkan novel-novel bergengsi sekaliber Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dll.—yang setidaknya kita akan familier dengan salah satu judul tersebut kendati belum pernah membacanya. 

Jauh sebelum berkenalan dengan karya-karya fiksinya, aku lebih dulu mengenal Eka Kurniawan sebagai penulis blog yang produktif. Bahkan saat ia masih aktif hingga hengkang dari keriaan media sosial (meski sekarang masih aktif di Facebook), aku masih cukup sering mengintip jurnal pribadinya di laman ekakurniawan.com untuk sekadar membaca beberapa esai dan opininya tentang buku-buku yang baru selesai ia baca.⁣⁣
⁣⁣
Senyap yang Lebih Nyaring pun diterbitkan sebagai manifestasi dari tulisan-tulisannya di blog dalam rentang tahun 2012-2014. Berisi 107 esai yang sebagian besar membahas buku-buku bacaan, kritik, hingga pandangannya perihal wajah kesusastraan dunia; topik yang jarang kita temui dalam medium novel fiksi.⁣⁣


Judul : Senyap yang Lebih Nyaring
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Circa
Tahun terbit : April 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 352 hlm
ISBN : 978-623-90087-7-2

Setelah beberapa tahun mencoba, saya menemukan sejenis medium berkelamin ganda, pada bentuk yang kemudian berkembang: blog, sebuah ungkapan ringkas dari weblog. Di satu sisi, seperti tulisan di media cetak, ia bersifat publik. Terbuka untuk dibaca siapa saja.

Di sisi lain, seperti catatan harian atau surat, bisa juga bersifat pribadi dan personal. Apalagi mengingat bentuk ini nyaris tak memiliki sekat antara ketika ditulis dan diterbitkan: tak ada otoritas media, tak ada saringan editorial. Saya bisa memilih sendiri buku yang saya baca dan menulis sesuatu dengan cara yang saya inginkan.

Di sini saya bisa menebarkan remah-remah roti Hansel dan Gretel untuk melacak jejak-jejak bacaan saya, juga pikiran, agar mudah kembali ke sana, sekaligus memungkinkan untuk dibaca siapa pun. Siapa tahu dalam perjalanan ini saya tersesat dalam labirin bacaan tak berujung, dan kita dipertemukan di suatu tempat, untuk memulai perbincangan yang lain.


Rasanya menyenangkan bisa berpetualang dalam labirin pikiran seorang Eka Kurniawan. Dalam setiap 'kebiasaan anehnya' menulis paragraf panjang tanpa jeda, entah kenapa ia selalu berhasil menyampaikan perspektif yang berbeda. Misalnya, di saat para penulis senior seolah-olah mengabaikan kehadiran para penulis muda, ia malah berpikir sebaliknya dengan mengatakan, "Semua penulis terkenal dan tua, berawal dari penulis muda dan pemula."⁣⁣

Ketika membicarakan tentang selera, secara terang-terangan Eka ingin menyindir perilaku kita dalam menilai sebuah karya. Menurutnya, kita tidak bisa mengatakan sebuah karya buruk hanya atas dasar selera, tanpa ada argumen. "Suka tidak suka, itu soal selera. Tapi, soal bagus dan jelek, Anda harus punya ukuran. Belajarlah bertanggung jawab pada apa yang dikerjakan oleh otak Anda."⁣⁣
Bagian paling menarik dalam buku ini ketika pembaca ditanya, "Apakah bacaan kita tumbuh dengan semestinya?" Memang, terkadang kita dengan mudahnya mendikte sebuah teks bacaan dengan dalih bahasanya terlalu tinggi atau kurang membumi, padahal disiplin berpikir kita yang lambat bertumbuh. Aku jadi bertanya-tanya, ketika kita menyadari betapa timpangnya gaya menulis Raditya Dika dalam Kambing Jantan dan Ubur-ubur Lembur, apakah itu artinya bacaan kita bertumbuh?⁣⁣

"Sebab pembaca yang tumbuh, pembaca yang dewasa, merupakan pembaca yang memelihara roh anak-anak di dalam kepalanya. Roh rasa ingin tahu."⁣

1 komentar:

  1. Dari smua karya Eka Kurniawan yg sy baca, saya baru tahu kalo dia juga punya 'Senyap yang lebih nyaring'. Trnyata terbitnya juga masih baru. Sy jga trmasuk pngagum analisa Eka Kurniawan dalam mengkritik karya sastra. Trima kasih sdah mereview buku ini kang rido.

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!